
Alex dan Theresia telah lama kembali ke negara mereka setelah Lyla dan Morgan selesai melakukan resepsi pernikahan itu. Alex membawa Theresia tinggal di mansionnya yang dijaga dengan ketat. Dia tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi kepada kakak sepupunya itu lagi. Sudah cukup untuk Theresia berada di dalam kesulitannya selama ini dan terpisah lama dari putrinya. Alex juga mencari tahu tentang keberadaan kakek dan nenek Lyla, tapi setelah ditelusuri keberadaannya, mereka memang sudah tiada.
Alex juga tidak pernah membiarkan Theresia untuk keluar sendirian. Setidaknya akan ada minimal lima orang yang menjaga wanita itu di daerah mereka, dan Alex akan mengerahkan lebih banyak lagi pengawalan jika Theresia ingin pergi keluar rumah.
"Aku ingin pergi ke makam suamiku." Theresia berbicara kepada Alex saat mereka sedang melakukan sarapan.
"Aku akan menemanimu pergi."
"Bukankah kau memiliki pekerjaan yang penting hari ini?"
"Iya. Tapi tidak ada lagi hal penting bagiku selain dirimu sekarang."
Theresia tersenyum senang mendengar ucapan dari adik sepupunya ini. "Kau tidak perlu terlalu berlebihan seperti ini padaku, Alex. Aku baik-baik saja meski pergi sendirian.
"Aku tidak berlebihan. Aku hanya sedang berjaga-jaga saja. Jangan sampai ada penyesalan untuk kedua kalinya. Apalagi aku masih belum bisa membunuh pria itu." Alex mengepalkan kedua tangannya yang memegang garpu dan pisau. Dia sangat menyesal sekali saat hari itu tidak membunuhnya karena permintaan dari Theresia. Padahal pria tersebut yang sudah menyekap Theresia selama ini.
"Aku tidak ingin kau menjadi pembunuh. Semua pasti ada karmanya, dan aku percaya dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas kejahatan yang pernah dia lakukan kepada orang lain."
Alex tidak bisa lagi membantah. Ucapan dari Theresia seperti perintah baginya. Dia sangat menyayangi kakaknya ini karena semenjak kecil Theresia lah yang hanya menyayanginya. Bahkan kedua orang tuanya sekali pun, tidak menganggapnya ada di dunia ini. Hanya Theresia yang menyayanginya semenjak dia masih kecil hingga sekarang.
"Aku akan ikut denganmu ke pusara. Kau tidak bisa membantahku soal ini."
"Baiklah. Aku akan mengikuti permintaanmu." Theresia mengalah karena melihat kesungguhan dari Alex yang sangat mengkhawatirkannya.
Menjelang siang mereka pergi ke sebuah pemakaman yang ternyata tidak jauh dari kota tersebut. Di sebuah kota kecil tepatnya, di tepi kota kecil itu terdapat sebuah pemakaman umum yang kecil ,tapi sangat terawat. Theresia berjalan membawa Alex hingga mereka sampai di sebuah makam dengan tulisan nama David di batu nisannya.
"Jadi memang benar dia sudah meninggal?" Alex menatap batu nisan tersebut dengan mata yang sendu. Sedih rasanya melihat nama itu tertera di sana. David adalah salah seorang pria yang telah membantu membentuk karakternya yang menjadi kuat seperti ini. Dia juga sudah menganggap David sebagai kakaknya yang lain.
"Iya. Dia meninggal karena ditipu oleh seseorang."
"Bagaimana bisa terjadi hal seperti itu?"
"Seseorang menghubungi kami, dan mengatakan jika Laura akan dibawa pergi, tapi rupanya itu hanya sebagai pancingan agar kami keluar dari tempat persembunyian. Seseorang mengikuti mobil kami, dan menabrakkan mobilnya mendorong kami masuk ke dalam jurang. Waktu itu David masih selamat, tapi dua hari kemudian dia menghembuskan nafas terakhirnya saat kami berada di kota kecil ini. Upaya kami bersembunyi sudah tercium oleh musuh dan mereka memancing kami seperti itu. Apalagi mereka juga memiliki foto Laura."
"Apa kau yakin foto yang mereka perlihatkan adalah foto Laura?"
"Aku juga tidak tahu, wajah itu terlalu mirip denganku sampai-sampai Aku dan David yakin jika dia adalah Laura. Kami memang bodoh waktu itu, tidak mencari tahu dulu apakah itu sebuah kebenaran atau bukan."
"Apa kau tahu siapa orang yang telah mengejar kalian?"
Theresia menggelengkan kepalanya. Meski keluarganya tidak menyukai David menikahinya, tapi ibu dan ayahnya tidak akan sekejam itu untuk membunuh David. Mereka hanya mengusirnya dan mengancam jika akan mencelakai Laura, tapi pada kenyataannya orang tuanya tidak pernah melakukan hal tersebut. Mereka mengancam seperti itu demi untuk keselamatan dirinya dan juga Laura.
Theresia masih bertanya-tanya ada teka-teki apa yang terjadi di balik kehidupannya selama ini. Selama lebih dari dua puluh tahun teka-teki itu masih belum juga terjawab. Semua orang telah pergi meninggalkannya, sehingga dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa.
"Aku akan mencari tahu siapa yang telah mengganggu hidupmu selama ini."
Namun, Theresia menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku sudah lelah dengan hidupku selama ini. Dan aku tidak mau kau bersama nasib sama seperti ayah, ibu, dan juga David. Cukup mereka saja yang pergi meninggalkanku, tapi jangan denganmu."
Alex luluh akan ucapan dari Theresia. Meski dia tidak tahu akan kembali mencari orang tersebut atau tidak, tapi untuk saat ini janji yang ada di dalam hatinya dia akan melindungi Theresia dari siapapun orang yang ingin jahat kepada mereka.
Hampir tiga puluh menit lamanya Theresia dan Alex berada di sana, mereka memutuskan untuk pulang karena hari juga semakin panas. Beberapa anak buah Alex sudah menunggu di tepian jalan dan berjaga. Tidak sedikitpun mereka lengah akan keselamatan kedua tuannya tersebut.
Tepat saat Alex dan Theresia akan masuk ke dalam mobil, mereka mendengar suara kekesalan seorang wanita yang berada tidak jauh darinya. Refleks Alex menolehkan kepalanya dan melihat seseorang yang sepertinya dia kenali sebelumnya. Kali ini wanita itu tidak membawa motornya, melainkan sebuah mobil tua.
"Jane!" teriak Theresia sambil melambaikan tangan kepada wanita itu. Alex baru ingat nama wanita yang dia tolong beberapa waktu yang lalu bersama dengan Theresia saat setelah menghadiri pernikahan Morgan dan Lyla.
"Ternyata gadis itu. Apa yang dia lakukan di sini?" gumam Alex berasa heran dengan kehadiran wanita itu.
Jane yang mendengar seseorang memanggilnya mengangkat kepala dan terkejut melihat Theresia dan Alex yang ada di sana.
"Nyonya?" Jane setengah berlari mendekat ke arah Theresia dan Alex. "Tuan, Nyonya, apa kabar?" tanya Jane sambil membukukan setengah tubuhnya dengan sangat sopan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Theresia balik bertanya kepada wanita muda itu.
"Aku sudah mengunjungi makam kakekku"
"Kakekmu dimakamkan di sini? Waw, ini sangat mengejutkan sekali! Aku tidak tahu ternyata kita berasal dari negara yang sama."
"Benarkah itu? Apakah ini negara asalmu? Ini tidak bisa dipercaya sama sekali. Ini suatu kebetulan."
"Ya, sangat kebetulan sekali kita bisa bertemu lagi di sini."
Jane menganggukan kepalanya dan tersenyum malu. Dia benar-benar tidak menyangka telah menemukan orang yang sangat baik seperti Theresia dan Alex.
__ADS_1
"Apakah kendaraanmu mogok?"
Jane semakin malu dan sekali lagi menganggukkan kepalanya.
"Itu mobil mendiang kakekku, mobilnya sudah sangat tua dan sudah sering mogok. Aku belum bisa menemukan sparepart yang cocok untuk mengganti kerusakannya."
"Oh, jadi begitu rupanya. Di mana rumahmu? Kami bisa mengantarmu pulang. Ya kan, Alex?" Theresia menyenggol lengan adiknya.
"Hemm, tentu saja boleh. Ikutlah bersama kami lagi dan kami akan mengantarmu pulang ke rumah."
Jane mengangguk malu dan akhirnya mereka pergi bersama dari pemakaman umum tersebut.
"Di mana rumahmu?"
Jane menyebutkan sebuah alamat dan Alex segera melajukan kendaraannya ke alamat tersebut. Lagi-lagi rumah Jane berada di dalam kawasan kumuh dan kali ini Alex tidak bisa membawa mobilnya masuk ke dalam sana. Arah rumah Jane tidak terlalu jauh dari area pemakaman tersebut.
"Terima kasih karena Anda berdua telah mengantarkanku pulang. Tapi maaf, kali ini kalian tidak bisa pengantarku sampai ke rumah."
"Tidak apa-apa. Apa kau perlu dikawal sampai ke dalam? Aku bisa memerintahkan seseorang untuk mengantarkanmu sampai ke depan rumah."
"Ah, tidak perlu, Nyonya. Di sini cukup aman karena ini adalah kampung halamanku saat kecil. Aku banyak memiliki teman di sini. Anda tidak perlu khawatir," ucap Jane.
"Baiklah kalau begitu. Kami pamit dulu karena masih banyak yang harus kami lakukan. Aku akan memberikan alamat tempat bengkel yang akan memperbaiki mobil mendiang kakekmu."
Jane terdiam dan tampak bingung.
"Kau tidak perlu khawatir. Biar kami yang akan menanggung biaya perbaikan mobil itu."
Jane tersenyum senang dan sekali lagi menundukkan tubuhnya dan berterima kasih kepada Theresia.
"Terima kasih banyak, Nyonya, Tuan. Anda berdua sangat baik sekali."
Theresia berpamitan kepada Jane, kemudian Alex membawa kendaraannya tersebut pergi dari area itu.
"Sangat kebetulan sekali kita bisa bertemu dengannya lagi."
"Iya, sangat kebetulan sekali." Alex mengulangi ucapan dari Theresia. Rasanya sedikit malas bertemu dengan wanita itu lagi, mengingat saat terakhir kali mereka bertemu gadis berkacamata itu sedikit menyebalkan.
"Siapa? Aku? Kau salah membaca ekspresi wajahku. Aku baik-baik saja. Dan aku tidak memiliki masalah dengannya."
Jelas apa yang dikatakan Alex adalah kebohongan.
"Benarkah?" Theresia meledek Alex dan menggoda pemuda itu. "Aku memang baru bertemu lagi denganmu beberapa hari, tapi aku juga hebat untuk bisa mengenali dan tahu apa yang terjadi denganmu. Apakah kamu mau cerita?" Theresia tidak mau menyerah begitu saja. Dia sangat yakin sekali jika ada sesuatu hal yang terjadi terhadap Alex dan juga gadis berkacamata itu.
"Apa yang harus aku ceritakan? Tidak ada yang terjadi di antara kami."
"Hem? Aku sedikit meragukan itu. Bukankah waktu itu kau yang mengantar sendiri motornya?"
"Iya, itu memang benar sekali. Dan hanya itu saja, Kakak. Tidak ada yang aneh."
"Baiklah. Aku menyerah dan tidak akan bertanya lagi kepadamu, karena aku yakin suatu saat aku bisa menemukan fakta yang mengejutkan tentang adik sepupu tercinta ini."
Alex berdecak kesal mendengar ucapan dari Theresia. Semenjak dulu memang Kakak sepupunya ini terkenal kekepoannya. Dia harus bisa menutup mulutnya dengan rapat agar tidak mendengar ocehan dari kakaknya ini.
Alex melirik sang kakak yang masih memasang wajah riangnya. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh Theresia sekarang ini, tapi jujur saja itu sangat mengganggunya.
"Kenapa kau sangat menyebalkan sekali, Kakak?"
"Bukankah wajar jika seorang kakak memperhatikan adiknya?"
"Terserah kau saja lah. Setelah ini kita akan pergi ke mana?" tanya Alex kepada Theresia. Dia tidak ingin lagi mendengar godaan dan gangguan dari kakaknya itu.
"Aku akan pulang saja dan beristirahat. Lebih baik aku mulai menyibukkan diriku dengan sesuatu yang bermanfaat. Bolehkah aku minta sesuatu padamu?" tanya Theresia saat Alex mulai melajukan mobil itu kembali.
"Apa yang kau inginkan?"
"Berikan aku sebuah laptop. Yang tidak kau pakai juga tidak apa-apa."
"Laptop untuk apa? Aku bisa membelikanmu yang baru."
"Tidak perlu yang baru. Aku hanya ingin menggunakannya untuk iseng saja. Aku sedikit bosan di rumah."
"Baiklah kalau begitu, hari ini aku akan mencari sebuah laptop yang bagus untukmu. Sementara pakai saja yang ada di ruang kerjaku."
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih, adikku. Kau memang baik sekali." Theresia mencubit pipi Alex, sama seperti saat dulu dia mencubit pipinya saat Alex masih kecil.
"Aku sudah bukan anak kecil lagi. Kau tidak boleh sembarangan mencubit pipi seorang pria dewasa." Kesal Alex terhadap kakaknya ini, tapi di dalam hati dia juga merasa senang karena perlakuan sang kakak kepadanya.
"Kau memang sudah bukan anak kecil lagi, tapi bagiku kau tetap adikku yang selalu kecil. Kau hanya terjebak di tubuh yang besar ini." Sekali lagi Theresia menyentuh Alex dengan mengacak rambutnya. Alex kali ini tidak menolak atau menjauhkan tangan Theresia darinya. Diam diam dia tersenyum senang akan perlakuan khusus yang dia terima dari kakaknya ini.
*
"Untuk sementara kau bisa menggunakan laptop yang ada di ruang kerjaku. Aku akan memberikannya saat pulang nanti."
"Iya."
Theresia keluar dari mobil milik Alex dan masuk ke dalam rumah, sementara Alex melajukan kembali mobilnya menuju ke perusahaan.
Di dalam ruangan kerja Alex, Theresia mencari laptop yang disebutkan oleh adiknya itu. Baru kali ini dia masuk ke dalam ruang kerja ini. Banyak sekali buku yang ada di jejeran rak yang tinggi hingga berdebu.
Seharusnya Theresia mengatakan keinginannya semenjak beberapa hari yang lalu saat mereka baru saja datang. Jadi, dia tidak akan merasa kesepian dan bosan di dalam rumah ini.
"Banyak sekali debu yang ada di sini." Theresia menutup hidungnya dan terbatuk kecil karena tersedak debu halus yang berterbangan saat dia mengambil salah satu buku dari rak yang ada di sana. Hidungnya menjadi tidak nyaman dan sedikit panas.
"Ini buku lama. Kenapa dia masih menyimpan buku-buku ini?" gumam Theresia sambil membaca judul buku yang ada di tangannya. Buku yang dia baca adalah buku untuk anak-anak, jika dilihat dari tahun pembuatannya, jelas buku ini sudah sangat lama sekali. Lembaran-lembarannya sudah menguning dan sampulnya sudah memudar warnanya.
Tiba-tiba saja Theresia penasaran dengan buku-buku yang lainnya, dia menarik kembali satu buku dan yang ditemukan adalah buku anak-anak lainnya.
Melihat buku yang ada di sana, Theresia menjadi sedih. Dia sedang membayangkan saat Alex sedang membaca buku ini dan dia menangis dalam diam. Sebab, ada jejak basah seperti air mata yang dia lihat di beberapa halaman pertama pada buku ini.
"Dia pasti sangat kesepian sekali."
Tidak ingin larut dengan pemikirannya, Theresia segera mengambil laptop yang ada di atas meja kerja Alex. Dia segera membuka laptop itu dan mengetikkan sesuatu di laman pencarian. Berdiam diri di dalam rumah tersebut dan tidak melakukan apa-apa membuatnya bosan, mungkin jika dia mulai menekuni hobinya lagi dia tidak akan merasa bosan tinggal di rumah itu.
Theresia ingin kembali mengembangkan bakatnya yang sempat terpendam akibat dia tidak bisa terhubung dengan dunia luar. Pada masa mudanya, Theresia adalah seseorang yang aktif dalam menuliskan berita di internet. Dia sering membuat sebuah artikel, baik itu sebuah berita penting, atau hanya untuk hiburan semata. Tentunya berita tersebut sudah sesuai fakta di lapangan dan tidak dibuat-buat olehnya sendiri.
"Ah aku sampai lupa apa nama emailku sendiri." Theresia mencoba mengingat nama email dan sandinya. Sudah dua puluh tahun lebih dia berhenti menekuni bidang tersebut, dan itu bukan hal yang mudah untuk mengingat nama email dan sandi untuk kembali masuk ke alamat yang dia miliki di masa dulu.
"Kenapa aku harus meminta bantuan kepada Alex?" gumam Theresia, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya dan akan melakukan hal itu andai dia tidak juga bisa mengingat alamat emailnya dulu.
Saat iseng membuka-buka laman pencarian yang lain, Theresia tidak sengaja membaca sebuah artikel tentang menulis sebuah novel. Dia menjadi penasaran dan akhirnya membaca keseluruhan dari artikel tersebut. Kepalanya bergerak naik dan turun dengan satu alis terangkat.
"Mungkin untuk sementara aku bisa melakukan ini. Aku pikir tidak ada bedanya dengan menulis artikel. Hanya saja menulis sebuah novel tidak didasari oleh sebuah fakta. Aku hanya perlu memainkan imajinasiku."
Theresia kemudian menutup laman tersebut dan mulai mencoba untuk menulis sebuah cerita. Tiba-tiba saja di otaknya tergambar sebuah narasi yang telah terbentuk seperti gambar-gambar potongan dalam sebuah adegan film, dan potongan-potongan gambar itu tidak berhenti melintas di otaknya. Tangan dan pikiran Theresia berjalan bersamaan sehingga dalam waktu yang cukup singkat dia telah selesai menuliskan suatu rancangan dari sebuah cerita yang akan dia tulis nantinya.
"Ah, sepertinya aku akan menyukai hobiku yang baru ini."
***
Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan Alex. Alex yang sedang sibuk dengan pekerjaannya menulis sebentar dan menyuruh seseorang itu untuk masuk.
"Permisi, Tuan." Seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan tersebut dan hanya berdiri di depan pintu.
"Ada apa?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda."
Alex menyimpan pulpen yang ada di tangannya. "Bukankah hari ini tidak ada jadwal untuk pertemuan dengan orang lain?" ujar Alex kesal.
"Iya, Tuan. Tapi ... Tuan Pierre datang hari ini."
Alex berdiri dan mau tidak mau keluar dari ruangan tersebut.
"Biarkan dia masuk."
Wanita itu menundukkan tubuhnya sekali lagi, kemudian pergi dari sana untuk segera menggiring tamu yang datang ke ruang pertemuan.
Saat Alex masuk ke dalam ruang pertemuan, dia melihat seorang pria tua yang rambutnya sudah banyak memutih. Pria itu duduk sambil menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain.
"Tuan Alex. Duduklah di dekatku," perintah Tuan Pierre saat melihat Alex masuk ke dalam ruangan.
Alex adalah tuan rumah di perusahaan ini, tapi entah kenapa pria tua itu malah seenaknya saja terhadap dirinya.
"Apa yang membuat Tuan Pierre mengunjungi tempatku yang kecil ini?"
"Aku hanya ingin sekedar berkunjung saja. Duduklah dan kita berbicara sebentar."
__ADS_1