Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
75. Lian Marah


__ADS_3

"Oke. Aku akan ikut, tapi jika untuk berkuda aku tidak bisa janji. Sepertinya aku akan takut dengan hewan itu."


"Kenapa?" tanya Morgan bingung. Lyla mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak mengerti, tapi rasa-rasanya dia takut saja dengan kuda.


"Kuda milikku sangat jinak sekali. Kau akan suka dengan dia." Morgan masih mencoba untuk meyakinkan.


"Oke, kita lihat nanti saja. Ingat untuk tidak berbaring saat kau baru saja menyelesaikan makanmu, Tuan," peringat Lyla. Morgan tersenyum dan mengangguk saja.


Lyla ke luar dari kamar Morgan dengan membawa nampan berisi piring kotor itu. Dia tertawa kecil, merasa geli dengan apa yang tadi mereka lakukan. Keduanya seperti kakak dan adik saja di sana. Seorang kakak yang menyuapi adiknya yang sedang merajuk dan tidak ingin makan.


"Astaga! Padahal usianya lebih tua dariku." Lagi-lagi Lyla tertawa dengan geli.


Lian baru saja keluar dari dalam kamarnya, dia bersiap untuk makan siang saat melihat di depan wastafel ada Lyla sedang mencuci piring kotor sambil tersenyum sendiri dengan tidak jelas.


"Kau kenapa?" senggol Lian pada pinggang Lyla, membuatnya terkejut. Hampir saja piring yang ada di tangannya terjatuh. Beruntung tidak sampai lepas.


"Seperti apa yang kau lihat, Adik," ucap Lyla dengan kesal seraya mengangkat sedikit piring yang ada di tangannya. Lian selalu saja sering membuatnya terkejut.


"Aku bukan hanya bertanya itu saja, aku hanya ingin tahu kenapa kau tersenyum-senyum sendiri?" ucap Lian ingin tahu. Lyla tersenyum malu, dengan wajah yang kini berbah dengan merah. Dia tidak mungkin menceritakan hal yang tadi, kan?


"Kau tidak mau memberitahuku?" Lian mulai kesal saat Lyla menggelengkan kepalanya. "Apa ada hubungannya dengan universitas?" tanya Lian lagi. Lyla hanya memberikan senyuman dan lirikan matanya saja.


"OMG. Aku yakin kuliah sangat menyenangkan. Apa di sana banyak pria tampan?" tanya gadis itu lagi dengan penasaran. "Ceritakan padaku, bagaimana hari pertama mu di sana?" tanya Lian dengan menuntut.


"Iya, lumayan lah. Tapi aku masih malu berada di sana."


"Kenapa?"


"Aku rasa mereka semua anak orang kaya. Aku sedikit minder berada di sana," ucap Lyla.


Lian sadar dengan kesedihan Lyla karena dia juga pernah merasakannya dulu.


"Kau tenang saja, Kakak. Tidak akan lama juga kau tidak akan merasa seperti itu lagi. Aku juga pernah merasakannya dulu. Kau tahu kan, aku ini hanyalah anak dari seorang asisten?" ucap Lian dengan sedih, tapi dia segera mengubah raut wajahnya dengan cepat dengan senyuman.


"Tapi sekarang ini aku sudah tidak apa-apa, karena di sini aku sudah dijamin dan hidupku juga tidka jauh dengan mereka. Aku tinggal di rumah yang besar, sesekali aku juga turun dari mobil mewah. Hehe," ujar gadis itu sambil tertawa kecil.


"Kau sudah makan?" tanya Lian lagi.


"Ya, aku sudah makan tadi."


"Ah, aku belum makan." Lian mengeluarkan sesuatu yang ada di balik pakaiannya.


"Kau akan makan itu lagi?" tanya Lyla saat melihat Lian mengeluarkan mie instan dari sana.


"Iya. Shhtttt, jangan katakan pada ibu aku makan ini," ucap Lian sambil menyimpan telunjuk di depan mulutnya. Lyla hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak kecil itu.


"Aku sudah selesai. Aku akan ke atas dulu untuk membereskan kamarku," ucap Lyla.


"Oke, jangan selesaikan sebelum aku selesai makan. Aku juga ingin membantumu," ucap Lian meminta.


"Oke." Lyla pergi dari sana meninggalkan Lian yang kini sedang memasak mie instan dari toko Asia dengan tulisan Ind*mie Goreng di sana.


Lian baru saja selesai membuat mie instan dengan wangi yang sangat membuatnya lapar, dia memang sering menyelundupkan makanan itu dari pandangan orang lain. Satu alasannya karena Tuan Muda Morgan dan Tuan Gerald tidak suka jika ada makanan instan di sana. Tidak sehat!

__ADS_1


Lian segera menikmati makanan tersebut, tak lupa dia menambahkan sedikit nasi di piringnya. "Ummm, yummy! Belum kenyang kalau belum makan nasi," ucap gadis kecil itu menirukan jargon yang sering dia lihat dari laman YouTube yang sering dia lihat.


Di tengah makannya, Gerald yang juga lapar baru saja keluar dari kamarnya, dia melihat Lian yang sedang duduk di sana dan menikmati makanan sambil sesekali memejamkan matanya. Kaki gadis kecil itu bergoyang ke depan dan ke belakang bak anak kecil yang menikmati makanan enak.


Gerald mendekat dan melihat makanan di piring Lian. Dia melotot saat mendapati makanan tersebut di sana.


"Kau makan itu?" tanya Gerald membuat Lian terkejut dan tersedak hebat, lembaran mie yang ada di mulutnya keluar lagi hingga mengotori meja makan.


"Uhuk!" Lian terbatuk sehingga lehernya terasa sakit sekali.


"Apa kau tidak tahu larangan membawa makanan instan ke rumah ini?" tuding Gerald dengan lantang menunjuk Lian.


Sakit tenggorokannya sehingga Lian berlari untuk mengambil air. Dia menenggak air yang ada di gelas dengan sangat rakus.


Lian menyimpan gelas itu dengan kasar di atas meja kompor dan menatap Gerald dengan marah.


"Kenapa Anda mengagetkanku?" tuding Lian dengan beraninya. Sakit rasanya dan ini sangat menyebalkan sekali!


"Aku tidak mengagetkanmu," ucap laki-laki itu dengan santai, membalikkan ucapan Lian tadi membuat gadis kecil itu merasa kesal.


"Aku lapar, ambilkan aku makanan," ucap Gerald kemudian duduk dengan santai di sana.


Kesal memang, tapi Lian tidak bisa mengabaikan permintaan majikannya ini. Dia kemudian mengambilkan Gerald makanan dan memberikannya. Akan tetapi, wajah Lian kini berubah marah saat mengetahui piringnya kini sudah berpindah tempat.


"Hei, apa yang kau lakukan, Tuan. Ini milikku!" ucap Lian menarik piring miliknya.


"Oh, milikmu? Ini sudah jadi milikku sejak kau meninggalkannya di meja tadi," ujar Gerald dengan santai seraya menarik kembali piring tersebut. Enak rasanya saat dia mencobanya barusan.


Lian tidak tahan dengan apa yang Gerald katakan tadi. Dia tidak rela membaginya dengan orang lain, apa lagi itu adalah stok terakhir di toko Asia yang tadi dia datangi bersama dengan temannya. Perjuangan sekali mendapatkan makanan ini karena hanya tinggal beberapa dan dia telah berhasil memohon dan meminta satu dari orang lain. Itu pun dia harus membayar dua kali lipat dari harga yang ada di toko pada pemuda itu. Dasar pria menyebalkan!


"Makananku," ratapnya.


Kesal, Lian segera mengambil piring kotor tersebut dan membawanya ke wastafel. Setengah yang dia makan tidak membuatnya kenyang dan puas.


Lian terisak saat mengingat perjuangannya tadi berdebat dengan pemuda itu. Dia sangat ingin menangis sekarang ini.


Bahu Lian turun naik, matanya kini terasa panas.


"Hei, kau lupa tidak membawakan air minum!" teriak Gerald dari tempat duduknya.


"Kau ambil saja sendiri!" tukas Lian.


Gerald yang mendengar itu mengerutkan keningnya, dia menebak jika Lian pasti marah karena mie instannya sudah dia makan.


"Kau marah?" tanya Gerald santai memakan makanannya.


Lian hanya diam, tapi terisak pelan dan mengusap sudut matanya dengan punggung tangannya.


"Aku haus. Kau bisa ambilkan air untukku?" pinta Gerald lagi.


Lian dengan segera mengambilkan air dan menyerahkannya dengan kasar di depan Gerald, hingga air itu tumpah sedikit di atas meja. Akan tetapi, Lian tidak peduli. Dia kembali ke wastafel dan menyimpan piringnya ke dalam laci.


Gerald melihat Lian yang pergi begitu saja dengan muka yang cemberut. Tiba-tiba saja dia menjadi tidak enak hati terhadap gadis kecil itu.

__ADS_1


"Eh, hanya karena mie dia marah seperti itu? Dia tidak perlu marah, bukan? Bahkan, dia bisa membuat yang lebih enak daripada ini," gumam Gerald masih bingung.


Selesai makan Gerald mencuci piringnya sendiri. Dia terkadang memang melakukan itu. Tanpa sengaja dia melihat bungkus mie yang ada di tempat sampah, Lian tadi lupa menyembunyikannya. Biasanya gadis itu membawanya setelah makan dan dia masukkan ke dalam tas sekolahnya untuk dibuang besok di sekolah.


"Apa ini miliknya tadi?" gumam Gerald pelan.


...*...


Lian masuk ke dalam kamar Lyla tanpa mengetuk pintu seperti biasanya. Langkah kakinya kasar masuk ke dalam sana dan langsung dia merebahkan diri di atas kasur.


"Kau kenapa?" tanya Lyla menangkap hal yang tidak baik dari adik angkatnya ini.


"Aku kesal!" teriak Lian membuat Lyla yang tengah menggantungkan pakaiannya menatap heran.


"Kenapa?"


"Mie ku!"


"Mie. Kenapa? Tumpah?" tanya Lyla penasaran.


"Tidak. Tuan Gerald memakannya," ucap Lian dengan sebal.


"Hah! Jadi dia tahu kau makan mie instan?"


Lian menganggukkan kepalanya.


"Apakah dia menghukummu?" tanya Lyla kini mendekat dan duduk di samping Lian.


"Tidak. Itu lebih daripada hukuman!" Lian berguling kesal, tengkurap dan menggerakkan kakinya hingga menendang udara di belakangnya, tangannya memukul-mukul kasur dengan cukup keras.


"Eh, dia menghukummu apa? Apa kau tidak akan diberi uang jajan?" Lyla masih penasaran karena Lian tidak juga berbicara dengan jelas ke intinya.


"Dia memakan mie ku, itu hukuman terberat dalam hidupku!" teriak Lian lagi.


"Kau tahu, Kak. Mie itu aku dapatkan dengan susah payah. Aku sudah berjuang untuk mendapatkan mie itu. Stok di toko habis dan aku memohon dari orang yang telah membelinya. Aku membayar dua kali lipat untuk itu. Dan apa yang aku dapatkan saat di rumah, setengahnya dia yang memakannya. Bukankah itu hukuman yang lebih keji?" tanya Lian dengan emosi. Wajahnya merah menandakan jika dia tengah marah.


Lyla tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa mengusap punggung Lian dengan lembut dan memerintahkannya untuk bersabar.


"Apa seenak itu rasanya sampai kau ketagihan?" tanya Lyla.


"Ya, meski aku bisa membuat mie sendiri, tapi aku juga suka dengan rasanya. Aku suka sampai-sampai aku gila jika tidak mendapatkannya!" ungkap gadis itu dengan gemas.


"Kau sudah kecanduan."


"Iya, aku sudah kecanduan!" seru gadis itu dengan kesal. Dia ingin menangis saja sekarang ini jika mengingat miliknya tadi telah di klaim oleh orang lain. Dasar kejam!


...****************...


...Sudah puas ya. Banyak ya 🤭...


...Selamat tahun baru 2023 buat semua🥳...


...Othor mau malam mingguan+malam tahun baruan sama ayang n bocil. 😘...

__ADS_1


...Selamat menikmati malam pergantian tahun, hati-hati di jalan ya....


__ADS_2