Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
30. Ucapan Yang Menyakitkan


__ADS_3

"Apa dia memang sedang terburu-buru seperti itu? Kenapa tidak diantarkan terlebih dahulu makanan ini?" gumam Lyla menatap nampan yang ada di depannya.


Rasanya enggan untuk masuk ke dalam kamar itu lagi. Semalam saja dia tidak mengucapkan kata terima kasih sama sekali membuat moodnya turun seketika.


Lyla mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah. Sial, tidak ada satupun asisten yang dia lihat berada di sana. Rumah tampak sepi sekali padahal biasanya ramai oleh asisten yang masih bertugas.


Akhirnya mau tidak mau Lyla harus membawa nampan tersebut ke kamar Morgan.


Pintu itu tertutup rapat. Lyla menarik dan membuang nafasnya kasar sebelum membuka pintu itu.


"Tuan permisi. Apakah kau sudah tidur?" tanya Lyla sebelum masuk ke dalam ruangan itu. Di dalam kamar tersebut lampu menyala dengan sangat terang dan terlihat Morgan tengah berbaring melintang di ranjangnya.


Melihat seseorang yang masuk ke dalam kamar, Morgan segera bangun dan duduk dengan tangan di belakang yang menahan bobot tubuhnya.


"Kenapa kau beraninya masuk ke dalam sini?" tanya Morgan.


"Aku hanya mengantarkan makanan ini. Tuan Gerald sedang ada perlu dan menyuruhku untuk menggantikannya," ucap Lyla, kemudian dia memberanikan diri untuk masuk lebih dalam ke ruangan tersebut.


Sebenarnya tangannya terasa sakit karena menahan berat dari nampan itu, meskipun isinya tidak banyak tapi sedikit membuatnya merasa tidak nyaman. Jadi, dia segera berjalan dengan cepat ke samping tempat tidur Morgan dan menyimpan nampan berisi makanan tersebut di atas nakas.


"Aku akan kembali lagi," pamit Lyla.


Morgan menatap wanita itu dengan tatapan yang jijik. Wanita yang telah berhasil membuat Gerald yang dingin terhadap wanita berubah. Setelah sekian tahun lamanya, baru kali ini dia melihat Gerald yang tampak hangat kepada seorang wanita.


"Apa ada yang salah?" tanya Lila saat Morgan membuatnya tidak nyaman.


Morgan mengalihkan tatapannya dan berkata, "Kau yang salah kenapa masih berada di sini. Apa kau sedang berusaha menggoda asistenku?"

__ADS_1


Mendengar ucapan Morgan yang seperti itu Lyla menjadi marah padanya. "Apa maksud anda?"


Morgan tertawa kecil. "Kau tidak bodoh untuk mengartikan apa yang telah aku ucapkan tadi."


Lyla kesal, anggap saja ini adalah omongan dari seorang yang lelah dan lapar. Berbicara dengan tak karuan.


Lyla hendak berbalik dan memilih untuk kembali saja ke kamarnya.


"Dia dekat denganmu karena tidak tahu saja bagaimana sifatmu. Jika dia sudah tahu yang kau inginkan hanyalah kedudukan, maka dia akan meninggalkanmu," ucap Morgan dengan tawa kecil yang menghentikan langkah kaki Lyla.


Lyla merasa marah dengan ucapan itu. Dia sama sekali tidak memiliki niatan apa-apa terhadap siapa pun.


"Tolong jaga ucapanmu, Tuan Muda Morgan. Apapun yang kau sangka terhadapku itu salah besar. Aku tidak pernah berusaha untuk menggoda siapapun di rumah ini. Jika menurutmu aku salah berada di sini, oke aku akan pergi sekarang juga. Memang seharusnya dari kemarin aku pergi dari sini, tapi siapa yang menahanku, hah? Aku justru senang akan bebas darimu!" ucap Lyla marah kemudian dia benar-benar meninggalkan kamar tersebut dengan langkahnya yang lebar.


Morgan tidak peduli terhadap kemarahan Lyla, juga tidak peduli terhadap makanan yang dia bawa. Dia kembali merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kosong yang bisa dia buat sebagai kanvas dari gambar-gambar yang ada di dalam imajinasinya.


Eh!


"Apa yang aku pikirkan? Aku akan membuka kedokmu agar Gerald tahu siapa dirimu yang sebenarnya," gumam Morgan dengan senyuman jahat.


Lyla berjalan dengan kasar sehingga suara sandalnya terdengar dengan sangat jelas di rumah yang besar itu. Siapa yang tidak akan marah jika ada seseorang yang berkata seperti itu.


"Menjijikan! Siapa dia yang berani mengatakan hal seperti itu padaku. Tuan muda arogan! Seenaknya saja dia berkata, dasar otak ayam!" Kesal Lyla sambil terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu.


Dia segera masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dengan sedikit kasar dan menyandarkan dirinya di sana. Satu bulir air mata turun dari mata cantiknya dan segera dia hapuskan.


"Aku akan pergi dari rumah ini!" ucap Lyla dengan marah dan dengan bibir yang bergetar. Sudah cukup beberapa penghinaan yang terlontar dari mulut jahat Morgan, dan dia tidak akan menunggu untuk mendapatkan kalimat jahat itu lagi.

__ADS_1


Lyla mengambil beberapa barang miliknya yang tentu saja tidak banyak. Hanya baju lama dan juga kalung yang dia simpan di dalam laci nakas. Tidak lupa dengan semua obat-obatan yang ada di sana.


Beberapa kali dia mengusap air matanya. Entah kesalahan apa yang dia lakukan di kehidupannya yang dulu sampai dia mendapatkan hal buruk yang seperti ini. Jika dia boleh memilih dia akan hidup menjadi seekor kucing saja, mungkin akan banyak orang yang menyayanginya. Setidaknya jika pun harus menjadi kucing jalanan, dia akan bebas dan tidak harus memikirkan perkataan jelek dari orang-orang yang tidak menyukainya.


Langkah kaki Lyla cepat turun menuruni anak tangga. Melewati beberapa asisten yang berpapasan dengannya, dia tidak peduli dan terus melangkahkan kaki. Panggilan dari yang lain pun tidak dihiraukan. Lyla melangkahkan kakinya dengan cepat hingga dia sampai di pintu gerbang.


"Anda mau ke mana nona?" tanya seorang security yang menjaga gerbang.


Lyla tersenyum manis. "Tuan muda sudah mengizinkanku untuk kembali ke panti asuhan," ucap Lyla setengah berdusta. Ya, tidak sepenuhnya dia berbohong karena memang Morgan telah menyuruhnya pergi.


"Malam-malam seperti ini?"


"Iya. Malam ini juga aku akan kembali ke panti asuhan."


Security itu mengerutkan keningnya tidak percaya, menatap penuh selidik pada wanita ini.


"Jika tuan muda sudah berkehendak aku mana bisa melawan perintahnya," ucap Lyla yang akhirnya membuat security tersebut membukakan pintu gerbang yang tinggi untuknya.


Lyla tersenyum senang, dia mengucapkan kata terima kasih kepada laki-laki itu.


Kakinya lelah karena telah berjalan cepat dari rumah utama menuju gerbang yang jaraknya lumayan jauh. Sial sekali, bagaimana bisa ada orang yang membuat rumah sebesar dan seluas itu.


"Apa dulu dia membeli hutan dan menjadikannya rumah?" Gumam Lyla kesel merasakan kakinya yang sakit. Dia memang terbiasa bekerja berdiri setiap hari, tapi semenjak dia disekap di rumah ini hanya sebatas kamar dan dapur dan juga teras rumah yang dia sambangi.


Untuk terakhir kalinya Lyla menatap pintu gerbang rumah tersebut dan tersenyum senang. Meskipun dia tidak tahu akan pergi ke mana dan akan tinggal di mana, tapi setidaknya hatinya akan senang karena telah keluar dari rumah yang seperti penjara ini.


...****************...

__ADS_1


Jempol, mana jempol. Like, komen, vote. Biar besok semangat buat up lagi. 🥺


__ADS_2