Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
64. Ambil Semua


__ADS_3

“Hei apa kau mau aku tinggal?" Seru Morgan dari depan sana yang membuat Lyla tersadar. Lyla segera melangkahkan kakinya dengan cepat mendekat ke arah Morgan.


"Iya, aku datang!"


"Apa yang sedang kau pikirkan?" katanya Morgan saat Lyla sudah sampai di sampingnya. Lyla menggelengkan kepalanya, percuma juga jika dia menyampaikan kesimpulannya tadi. Bisa saja Morgan akan mengelak jika dia tidak ingin membuatnya malu di hadapan pelayan toko tadi.


"Katakan padaku, apa yang kau pikirkan?" tanya Morgan sekali lagi.


"Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir dan juga mengingat kapan terakhir kalinya aku pergi ke tempat yang seperti ini," ucap Lyla, tapi dia tidak sepenuhnya berdusta karena memang sekarang dia sedang memikirkan hal tersebut.


"Kapan terakhir kali kau datang ke tempat seperti ini?"


"Eemm ... aku pikir sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu."


"Selama itu?" tanya Morgan tidak percaya.


"He-em! Aku ingat waktu itu aku bersama dengan teman sekolahku datang pusat perbelanjaan yang ada di tempat lain. Kami memilih tempat yang bisa dijangkau oleh keuangan kami. Dan rasanya menyenangkan saat mengingat waktu."


Morgan mendecih mendengar cerita dari Lyla. Ada sesuatu yang tidak dia sukai.


"Apa kau pergi dengan teman laki-lakimu?" tanya Morgan.


Lyla menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah pergi dengan teman laki-laki." Mendengar hal itu perasaannya menjadi lega.


"Kenapa?" tanya Morgan sekali lagi.


"Karena yang aku tahu laki-laki itu pemilih. Saat mereka tahu aku berasal dari panti asuhan mereka menjauh dan mengejekku. Jadi, aku malas dekat-dekat dengan mereka."

__ADS_1


"Apa mereka menghinamu?" tanya Morgan. Rasa-rasanya menjadi sebal mendengar cerita ini. Akan tetapi, Lyla hanya mengangkat kedua bahunya saja.


"Itu sudah jadi masa lalu. Sekarang aku belajar untuk mengabaikan pemikiran mereka. Aku sudah baik-baik saja," ucap Lyla dengan memberikan senyuman manis kepada Morgan.


Morgan juga menarik kedua sudut bibirnya sangat tipis, melihat Lyla dengan wajah yang ceria seperti itu membuatnya semakin terkagum. Wanita ini memang benar-benar berbeda.


"Ayo kita masuk ke toko yang ada di sana," tunjuk Morgan ke arah toko yang berada di depan mereka. Lyla menganggukkan kepalanya dan ikut berjalan bersama Morgan.


Pakaian yang ada di sini cukup cocok dirasa oleh Lyla. Meski harganya masih terbilang mahal, tapi tidak semahal harga yang ada di toko pertama tadi.


"Apakah Nona akan mengambil ini? Ini akan sangat cocok untuk tubuh Nona yang mungil," ucap pelayan tersebut. Lyla kali ini mengambilnya dan menempelkannya di tubuh. Kaca besar yang ada di depannya membuat dia bisa jelas melihat dan membayangkan jika pakaian itu cocok dia pakai. Morgan diam-diam melirik Lyla saat dia bergerak melihat kanan dan kirinya.


"Anda bisa mencobanya di ruang ganti," tawar pelayan tersebut.


"Aku bisa mencobanya?"


Di dalam ruang ganti dia segera mencoba pakaian tersebut, tampak sangat pas di tubuhnya, juga sangat nyaman meskipun dari bahan tidak sebaik kualitas yang ada di toko pertama tadi.


"Apakah Nona butuh bantuan?" tanya pelayan dari luar ruang ganti membuat lamunan Lyla buyar seketika.


"Tidak ada. Aku bisa sendiri." Lyla bergegas untuk membuka pakaian tersebut dan kembali ke luar ruang ganti. "Aku akan mengambil ini," ucap wanita itu sambil menyerahkan pakaian tersebut kepada pelayan.


"Apakah ada yang lain lagi?" tanya pelayan tersebut. Lyla menggelengkan kepalanya, dia ingin, tapi juga masih merasa bingung. tidak punya uang untuk membayar pakaian tersebut. Akhirnya dia mendekat kepada Morgan.


"Tuan, aku sudah selesai."


Morgan mengalihkan tatapannya dari ponsel yang ada di tangan, keningnya kembali berlipat saat melihat pakaian yang ada di tangan pelayan tersebut.

__ADS_1


"Hanya itu saja?" tanya Morgan dengan tangan menunjuk pada pakaian itu. Yang membuatnya terheran, gadis itu hanya mengambil satu potong pakaian saja.


"Iya, aku pikir hanya itu saja," ucap Lyla.


Morgan menghela nafasnya sedikit keras, kemudian berdiri dan menarik tangan Lyla untuk kembali ke deretan rak-rak yang ada di sana. Dia mengambil satu potong pakaian dan melihatnya di atas hingga ke bawah, kemudian memberikan pakaian tersebut kepada pelayan. Juga dengan beberapa pakaian yang dia ambil secara random.


"Apakah ada pakaian lain yang lebih baik di sini? Yang bisa digunakan untuk masuk universitas?" tanya Morgan kepada sang pelayan. Wanita itu menunjuk ke arah lain. Morgan berjalan mendahului keduanya. Dia melihat-lihat pakaian yang tergantung di sana.


"Aku ambil semua yang ada di sini," tunjuk Morgan dari ujung hingga ke ujung. Pelayan mengangguk sambil tersenyum senang, artinya bonus yang akan dia dapat lumayan besar untuk hari ini. Berbeda dengan Lyla yang melongo dengan ucapan Morgan barusan.


"Tuan, apa yang kau lakukan? Kau tidak perlu membeli semuanya ini untukku. Lagi pula aku juga tidak terlalu yakin akan bisa memakai semuanya," ucap Lyla dengan nada khawatir.


"Kau tidak perlu khawatir. Jika kau tidak mau memakainya maka tidak usah. Bungkus semua itu untuk kami," ucapnya tidak mempedulikan perkataan Lyla.


Bukan hanya pakaian saja, di dalam toko sepatu Lyla juga mendapatkan perlakuan yang sama dari Morgan, sampai-sampai dia kini hanya duduk diam melihat Morgan yang menunjuk ke sana ke sini dengan diikuti oleh beberapa pelayan yang mengambil sepatu-sepatu yang Morgan tunjuk. "Aku mau yang ini. Carikan size 37!"


"Astaga! Aku ini hanya akan kuliah, bukannya berjualan," gumam Lyla saat melihat beberapa tas berisi sepatu yang ada di hadapannya.


Lyla masih saja terdiam saat mereka berdua keluar dari toko tersebut. Jujur saja tubuhnya seperti tertampar sehingga nyawanya entah ada di mana. Terlalu banyak barang yang Morgan beli sehingga dia sendiri tidak tahu apakah bisa memakainya atau tidak.


"Kenapa kau diam saja? Biasanya kau cerewet," ujar laki-laki itu dengan santai sambil membenarkan topinya.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir berapa banyak uang yang aku habiskan untuk barang-barang itu?" ucap Lyla dengan pelan. Dia tidak mau seperti yang ada di film-film, harus membayar timbal balik untuk barang-barang itu.


Morgan mengangkat bahunya. "Entahlah aku tidak menghitungnya dengan jelas. Mungkin seharga satu buah mobil baru," ucapnya dengan sangat tenang, berbeda dengan Lyla yang semakin lemas tubuhnya mendengar jumlah perkiraan yang dihabiskan barusan.


"Tahu seperti itu aku meminta uangnya saja!" ucapnya pelan dengan penuh penyesalan. "Jika membelinya di pasar loak tentu saja aku akan bisa lebih menghemat dan memiliki tabungan yang banyak," tambahnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2