Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
124. Wanita Keras Kepala


__ADS_3

Margareth menatap ke sekeliling, dia merasa risih dengan tatapan yang didapatkannya dari orang lain di sana. Mereka tersenyum mengerikan, memperlihatkan gigi-gigi yang kuning. Juga seakan hampir meneteskan air liur seperti yang pernah dia lihat film di saat dia kecil dulu, bedanya tidak ada hidung b4bi di sana. Rasanya dia ingin memaki semua orang yang menatapnya seperti itu.


“Ah, lumayan juga tempat ini, ya,” ucap Morgan mengalihkan tatapan Margareth padanya. “Aku pikir pernah masuk ke tempat yang lain yang lebih menyedihkan dari ini,” ucap Morgan mengingat masa lalunya, entah yang mana, tapi dia merasa ini lebih baik dari tempat sebelumnya.


Margareth ingin mengumpat sebenarnya, tapi dia urungkan. Dia hanya tersenyum saja tanpa berkata apa-apa.


“Kau pernah datang ke tempat seperti ini?” tanya Morgan.


“Tidak, ini pengalamanku yang pertama,” jawab Margareth cepat.


“Oh, benarkah? Apa aku sudah membuatmu tidak nyaman?” tanya Morgan merasa bersalah.


“Oh, tidak. Selama itu denganmu, aku tidak masalah di mana pun.”


“Syukurlah. Aku minta maaf jika mungkin tempat ini tidak sesuai dengan ekspektasimu, tapi aku senang bisa menghabiskan malam ini denganmu, Margie,” ucap Morgan sambil tersenyum senang. Lagi-lagi panggilan Margie membuat Margareth melupakan kekesalannya, padahal tadi dia ingin sekali mencolok atau merekatkan mata pria-pria itu dengan menggunakan lem atau lakban.


“Tidak apa-apa. Jika lain kali kau ingin pergi ke mana, kau bisa menghubungiku. Aku akan dengan senang hati menemanimu, Tuan Castanov,” ucap Margareth meski di dalam hatinya dia berdoa, jangan sampai hal seperti ini terulang kembali. Margareth takut jika dirinya jujur akan membuat Morgan tidak mau lagi dekat dengannya.


“Oh, bagus lah jika begitu. Aku akan dengan senang hati mengajakmu pergi lain kali.”


Makanan yang dipesan sudah sampai, hanya dua mangkok mie, dan juga minuman jeruk hangat yang ada di sana, sangat cocok dimakan saat udara di luar dingin seperti sekarang ini.


Tampilan mie tersebut sanga menggugah selera Morgan, juga dengan aroma yang menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Morgan sudah tidak sabar ingin memakan lembaran mie itu. Berbeda dengan Margareth, wanita itu menatap enggan makanan tersebut seperti melihat sesuatu yang menjijikkan saja.


“Ayo, makanlah.” Morgan bersiap untuk memakan mie tersebut, Margareth menatap laki-laki itu dengan tidak percaya. Sejak kapan Morgan mau makan di tempat menyedihkan seperti ini? Suara mulut Morgan terdengar dengan sangat jelas saat menyeruput lembaran mie tersebut.


“Emh, ini sangat enak sekali. Kau harus mencobanya, Margie,” ucap Morgan sambil menunjuk mangkok yang ada di depan Margareth dengan garpu yang ada di tangan.


“Oh, ya. Tentu saja.” Margareth bersiap untuk mengangkat lembaran mie itu dengan garpunya.

__ADS_1


“Morgan, bukankah di rumahmu koki juga bisa membuat mie yang lebih enak dari ini? Fredy pernah berkata jika dia pernah dijamu makan mie enak di rumahmu,” ujar Margareth kembali menyimpan garpu ke dalam mangkok.


“Oh, ya. Benar sekali. Koki di rumahku juga pandai membuat mie.”


“Lalu, kenapa kau ingin makan mie di sini?” tanya Margareth lagi.


Morgan tidak mengalihkan tatapannya dari makanan miliknya. “Entahlah, ku pikir aku hanya ingin suasana baru saja,” ujar Morgan sambil menatap ke luar jendela. Suasana malam di luar sana tampak indah dengan banyaknya kendaraan yang masih berlalu lalang. Duduk di dekat jendela membuat hatinya serasa kosong.


“Oh, ya. Bagaimana dengan bisnis kakakmu? Apa berjalan dengan lancar?” tanya Morgan pada Margareth.


“Ya, cukup lancar menurutku, aku tidak terlalu tahu dengan pekerjaan Fredy. Dunia bisnis tidak menarik buatku,” ucap Margareth. Morgan hanya menganggukkan kepalanya.


“Apa sepupumu juga masih ikut dengan Fredy?” tanya Morgan.


“Sepupuku? Siapa?” tanya Margareth balik dengan kening yang berlipat-lipat.


“Jonathan,” jawab Morgan.


“Aku dengar dia sedang menjalankan proyek lain, tapi aku tidak tahu proyek apa. Aku sudah lama tidak bertemu dengan dia,” jawab Margareth lagi.


“Oh, ya? Syukurlah jika begitu.”


Morgan dan Margareth berbicara banyak tentang Jonathan, sebenarnya Margareth tidak terlalu suka dengan pembahasan ini, tapi dia hanya mengikuti saja pembicaraan ini. Hanya karena Morgan. Hanya karena Morgan!


Makanan yang ada di mangkok Morgan sudah habis, sementara Margareth sama sekali tidak menyentuh makanannya, hanya membolak balikan makanan tersebut di dalam mangkok. Jangan sampai dia menjadi radang tenggorokan karena makan benda itu.


"Kau tidak memakannya?" tanya Morgan saat melihat mangkok Margareth masih terdapat makanan.


"Aku sudah memakannya, apa kau tidak lihat tadi?" tanya Margareth berdusta. "Aku tidak bisa menghabiskannya karena aku sedang diet. Padahal ini adalah mie yang enak," ucap Margareth lagi.

__ADS_1


"Oh, begitu rupanya. Oke, lain kali aku akan mengajakmu lagi ke sini jika kau tidak sedang diet. Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Morgan, Margareth tentu senang dengan ajakan itu yang berarti jika dia akan lepas dari tatapan aneh orang-orang yang ada di sana.


Dalam perjalanan pulang, Margareth hanya diam saja. Dia sangat bosan karena Morgan berkata akan mengantarnya pulang ke rumah.


"Apa kau tidak mau aku temani lagi ke suatu tempat yang lain?" tanya Margareth penuh harap agar dia bisa lebih lama bersama dengan Morgan.


"Oh, tidak. Malam ini aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Berkat kau, aku kembali bersemangat lagi. Terima kasih banyak, Margie," ujar Morgan sambil tersenyum dan menyentuh punggung tangan Margareth, membuat wanita itu tersenyum sumringah.


"Sama-sama. Aku sangat senang sekali malam ini bisa pergi ke luar denganmu."


Perjalanan terasa sangat singkat sekali untuk Margareth, tak sadar mereka sudah sampai saja ke rumah.


"Terima kasih atas malam ini. Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke dalam," ucap Morgan sambil melambaikan tangannya pada Margareth. Pun juga dengan Margareth yang melakukan hal yang sama dari depan pintu gerbang.


"Berhati-hatilah di jalan. Hubungi aku jika kau sudah sampai ke rumah," ucapnya. Morgan menganggukkan kepalanya dan kembali menyalakan mobilnya, kemudian pergi dari sana dengan kecepatan yang sedang.


Senyum Margareth pudar seketika saat mobil yang Morgan kendarai sudah mulai menjauh. Dia berjala ke dalam rumah dengan langkah yang kasar. Sepatunya mengeluarkan suara berisik dan membuat Fredy menolehkan kepalanya dan terheran melihat sang adik sudah ada di rumah.


"Kau sudah kembali?" tanya Fredy, tapi Margareth tidak menjawab, dia melangkah menaiki anak tangga.


"Hei, kau kenapa? Apa makan malammu tidak menyenangkan? Mana Morgan? Kenapa dia tidak masuk ke dalam sini?" tanya Fredy lagi. Margareth dengan cepat sudah sampai di lantai atas, terdengar bunyi pintu yang dibanting dengan keras dari sana.


"Ada apa dengan dia? Apa dia ditolak lagi?" gumam Fredy sambil menggelengkan kepalanya. Hal yang sudah biasa didapatkan oleh adiknya.


Di dalam kamar, Margareth menjatuhkan dirinya dengan kasar di atas kasur. Dia kesal dan berteriak sambil melemparkan bantal ke udara.


"Aku kesal!" jeritnya keras. Morgan! Kau menyebalkan!"


Fredy menghentikan ketikan jemarinya pada laptop dan terdiam sebentar mendengar jeritan dan teriakan sang adik dari lantai atas.

__ADS_1


"Huh, sudah ku bilang jika Morgan bukan laki-laki yang gampangan, dia tidak mau mendengarkan. Ya sudah lah," ucapnya, kemudian kembali lagi ke laptopnya.


__ADS_2