Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
170.


__ADS_3

Jarum panjang itu semakin masuk menembus kulit lengan, Lyla meringis kesakitan akibat tusukan tersebut yang terasa kasar. Pria tua itu tidak memiliki rasa kasihan sama sekali, apa lagi kepadanya yang berstatus keponakan. Tidak peduli jika dia keponakannya.


"Akh!"


"Hahaha. Tenang saja, Sayang. Ini tidak akan menyakitkan sama sekali. Aku akan mempermudah jalanmu menuju ke pada Sang Pencipta. Kau harus berterima kasih kepadaku karena akan menemui Tuhan-mu sebentar lagi." Dia terus saja tertawa memperlihatkan wajah jeleknya.


"Bajingan! Kau tidak akan pernah bisa diampuni!"


"Aku tidak peduli! Apa yang aku pedulikan soal pengampunan? Aku puas karena sudah menyingkirkan semua orang yang telah menghambat jalanku. Termasuk kau. Jika aku tidak menyingkirkanmu, bukankah kau juga bisa saja menghalangi jalanku?"


"Aku tidak menginginkan semua itu, aku hanya ingin bertemu dengan keluargaku."


Mata pria itu melotot, senyumnya masih lebar. "Keinginanmu sudah terlaksana. Aku juga keluargamu. Sudah cukup kan? Tidak ada lagi yang bisa menghambat jalanmu menuju ke tempat-Nya yang terindah? Aku yakin kau akan sangat menyukai di atas sana berkumpul dengan orang tuamu."


"Akh!" Lyla berteriak saat merasakan dorongan yang cukup kuat dari ujung suntikan itu. Dia tidak memikirkan soal kematian sekarang ini, tapi dia memikirkan Morgan yang baru saja dia temui setelah perpisahan yang begitu panjang.


Pria itu tertawa keras melihat Lyla yang menutup matanya dengan wajah penuh ketakutan. Tubuh wanita itu bergetar karena rasa takut dan sakit.

__ADS_1


Brakkk!


Suara gaduh dari belakang pria itu terdengar keras. Pria itu menoleh ke belakang. Namun, sebelum dia sempat melihat dengan jelas, tubuhnya sudah terpental jauh dan menabrak lemari akibat tendangan yang keras.


"Morgan--" Tubuh Lyla terjatuh, matanya mulai meredup, tapi senyuman Lyla tersungging di bibirnya karena telah melihat Morgan. Setidaknya dia sudah melihat kekasihnya itu.


"Lyla!" teriak Morgan segera mendekat ke pada Lyla. Dia mencabut suntikan yang ada di lengan wanitanya dan membuangnya jauh-jauh.


Sementara itu, paman Lyla berdiri setelah merasakan kesakitan akibat punggungnya yang menubruk lemari.


"Lyla, bangun. Bangun, Sayang--" Morgan mengguncang tubuh Lyla, tapi wanita itu semakin meredup pandangannya. Tangannya yang lain terangkat untuk mengusap pipi Morgan, tapi sebelum mencapai kulit lembut pria itu, tangannya terkulai dengan lemas.


Air mata Morgan mengalir melihat Lyla yang sudah menutup matanya, napasnya kian berat sehingga membuat laki-laki itu menjadi murka.


"Apa yang kau lakukan padanya?" teriak Morgan marah. Morgan menyimpan kepala tubuh Lyla dengan hati-hati dan segera menyambar kerah baju pria kurang ajar itu. Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan dia berikan tanpa memberikan jeda untuk dia berbicara.


Tubuhnya sakit efek dari kecelakaan beberapa bulan yang lalu, daya tahan tubuhnya menurun dan tidak lagi seperti dulu. Apalagi tadi saat masuk ke dalam sini, dia sudah menghajar cukup banyak orang bawahan pria tua ini. Akan tetapi, melihat Lyla yang sedang tidak berdaya membuat Morgan terus memukul pria itu hingga terjatuh di lantai. Wajahnya sudah babak belur, berdarah di beberapa bagian, dan Morgan masih sangat ingin sekali untuk menghabisi laki-laki itu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan kepadanya?" tanya Morgan mengambil kerah bajunya.


Pria yang sudah babak belur itu hanya tersenyum dengan menyebalkan. Matanya yang bengkak hampir menutupi kelopak mata.


"Haha ... Kau tenang saja. Dia hanya aku antar untuk pergi menemui orang tuanya."


Bughhh!


Satu tinjuan mengenai rahangnya. Pria itu kembali terjatuh ke lantai dengan mulut yang mengeluarkan darah.


Morgan pergi ke dekat ranjang, mengambil suntikan yang masih terisi beberapa mili cairan yang entah apa. namun, dia yakin jika ini adalah benda berbahaya yang dia berikan.


"Dasar laknat!" Morgan mendekat dan menusukkan jarum suntik itu tepat di dadanya yang segera menghantarkan cairan obat itu tepat ke dekat jantung laki-laki tersebut.


"Akh, apa yang kau--"


Tidak sampai berapa lama, pria itu menutup mata dengan tangan yang masih menahan tangan Morgan.

__ADS_1


Morgan menghempaskan mayat itu ke lantai dan segera berlari ke arah Lyla. Wajah kekasihnya itu sudah mulai membiru.


"Lyla-- Lyla!"


__ADS_2