
"Kau boleh menikmati hidangan yang ada di sini."
"Baik."
Alex meninggalkan Jane di ruangan itu sendirian dan dia pergi ke kamarnya.
Sementara itu dari ruang kerja Alex, Theresia keluar karena tadi sempat mendengar suara pintu tertutup dari luar ruangan itu. Ruang kerja Alex berada tepat di samping kamar Alex dan ada sebuah pintu yang terhubung ke dalam kamarnya.
"Eh, siapa kau? Apakah kau teman Alex?" tanya Theresia dengan tak sengaja menunjuk ke arah Jane.
Jane berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya. "Nyonya."
Mendengar panggilan itu membuat Theresia membulatkan matanya. Dia mengenal panggilan tersebut dan dia juga mengingat suara itu.
"Apakah kau Jane?"
Jane memberikan senyumannya dan menganggukan.
"Astaga. Kau sangat cantik sekali dan aku hampir tidak mengenalimu. Ini benar kau? Aku hampir tidak mengenalimu karena kau tidak memakai kacamata." Theresia tidak menyangka sama sekali jika wanita yang ada di hadapannya ini adalah Jane, gadis berkacamata yang dua kali dia bantu.
Jane tersenyum malu atas apa yang diucapkan oleh Theresia. Jangankan orang lain dia sendiri saja tidak mengenali siapa dirinya saat ini di balik pakaian cantik dan juga make up yang ada di wajahnya.
"Apakah kau dan Alex akan menghadiri suatu acara?"
"Iya. Kami kebetulan sekali akan menghadiri acara yang sama, dan kami kebetulan bertemu di suatu tempat."
"Apa mobilmu mogok lagi?"
Jane tersenyum dan mengangguk saja. Apa yang akan Teresia pikirkan jika dia datang bersama Alex karena agar hutang-hutangnya sirna?
"Ya seperti itulah. Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk memiliki kendaraan."
Jane dan Theresia berbincang sementara Alex sedang bersiap-siap di kamarnya.
"Kakak?"
"Alex?" Panggil Theresia dengan nada yang sama. Theresia menatap Alex dari atas hingga ke bawah. Sepeda itu sangat rapi sekali dengan setelan jas berwarna hitam dan dasi berwarna maroon, sangat serasi sekali dengan gaun yang dipakai oleh Jane.
Theresia mengerti kali ini, sepertinya mereka pergi bersama bukan karena suatu kebetulan semata.
"Kakak, kami harus pergi. Jangan menungguku untuk kembali nanti. Kau tidurlah terlebih dahulu," ucap Alex menyuruh kepada kakaknya.
"Baiklah. Aku yakin nanti malam akan tidur dengan. Sangat nyenyak sekali." Theresia berdiri dan meninggalkan dua orang itu. Sedangkan Alex berdecak kesal mendengar ucapan dari kakaknya tersebut. Itu jelas sebuah ucapan untuk menggoda dirinya.
"Ayo kita pergi." Alex tanpa sengaja menggandeng tangan Jane. Baru saja dua langkah, Alex tersadar dan meminta maaf kepada Jane.
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Kau jalan di depanku."
Jane tidak bisa bergerak saat ini, karena tiba-tiba dadanya berdebar dengan cukup kencang dan lututnya serasa lemas.
"Lebih baik anda duluan saja yang berjalan di depanku."
"Oh, baiklah."
Alex mendahului Jane berjalan hingga mereka sampai di mobil. Pria itu memperhatikan cara berjalan Jane yang cukup mahir dengan menggunakan high heels.
"Kau tidak memiliki masalah dengan sepatu heels-mu?" tanya Alex. Jane menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah cukup terbiasa dengan benda ini. Anda jangan khawatir, aku tidak akan mempermalukanmu."
"Syukurlah jika begitu. Ayo masuk."
Jane masuk ke dalam mobil dan duduk di tempat yang tadi. Suasana menjadi canggung kembali karena mereka hanya berdua di dalam mobil itu.
"Tuan, apa yang aku harus aku lakukan di dalam pesta itu?"
"Kau tidak pernah datang ke pesta sebelumnya?"
"Aku tidak pernah. Mungkin pesta antara kalangan kami dan kalangan atas berbeda, aku takut jika aku mempermalukanmu di sana."
"Kau tidak perlu banyak berbicara. Jika ada yang bertanya jawab saja sebisamu, sisanya biar aku yang bicara."
"Baiklah."
"Dan satu lagi. Aku membawamu ke acara tersebut sebagai pacarku. Jadi, jika ada yang bertanya nanti tentang pernikahan, kau jawab saja kita sudah merencanakannya."
"Hah? Kenapa harus seperti itu?" Jane bertanya karena dia masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh Alex.
"Ya, aku tidak memiliki maksud apa-apa. Sebenarnya ini demi masa depanku juga. Kau tahu kan, jika pria yang tampan, pintar, dan sudah mapan sepertiku, akan ada banyak sekali wanita yang mengantri, dan juga akan ada banyak sekali orang-orang yang menginginkan akan aku jadi menantunya. Aku masih mencari seseorang yang cocok denganku, Aku tidak mau sembarangan menerima lamaran atau menerima tawaran dari orang lain. Bagaimana jika aku menjadi duda di usiaku yang sangat muda?"
Jane ingin tertawa mendengar curhatan dari laki-laki itu. Dia menahannya sehingga terdengar suara itu oleh Alex.
"Tidak ada yang lucu."
Jane menutup mulutnya dengan sebelah tangan, dan akhirnya dia tidak bisa menahannya sehingga tertawa kecil. Namun, alih-alih untuk marah, Alex malah terpana dengan tawa dari gadis itu. Sebelumnya dia tidak pernah mendengar atau melihat Jane tertawa. Malah kemarin saatnya bertemu dengan wanita ini, dia terlihat ketakutan terhadapnya.
"Memang tidak ada yang lucu, Tuan. Aku juga sedang menertawakan diriku sendiri. Ternyata bukan hanya aku saja yang mengalami hal seperti itu. Kau juga sebagai seorang yang tampan, mapan, masih saja di jodoh jodohkan oleh orang lain.
Alex ikut tertawa mendengar Jane meski dia sendiri heran karena tidak ada yang lucu akan ucapan dari wanita tersebut.
"Menjadi seorang sepertiku tidaklah mudah."
"Oh, begitu rupanya."
"Iya, begitulah."
Dua orang itu terdiam dan menikmati jalanan malam yang lumayan sepi di malam ini. Mereka terlarut dalam pikirannya masing-masing. Jane sedang memikirkan nasib dirinya yang tergantung-kantung tanpa pekerjaan karena dia telah dipecat dari restoran beberapa saat yang lalu. Seseorang telah melecehkannya, dan saat dia melapor tentang pelecehan tersebut, dia malah dipecat dari tempat itu.
Mengingat hal tersebut, Jane kembali bersedih atas nasib dirinya. Dia mencoba menahan rasa panas yang keluar dari matanya. Namun, dia tidak bisa menahannya lagi sehingga dia mengambil tisu yang ada di atas dashboard dan mengusap sudut matanya yang basah.
"Kenapa hari ini kau banyak menangis?"
Alex melirik pada gadis yang ada di sampingnya. Dia sangat suka melihat Jane tertawa seperti tadi, tapi melihatnya menangis lagi kali ini hatinya ikut merasakan sedih.
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
"Apa masalahmu lebih gawat dariku?"
Jane terdiam. Tidak mungkin dia akan mengatakan kepada pria ini jika dia baru saja dipecat dari restoran tempatnya bekerja.
"Sebenarnya tidak terlalu gawat, aku hanya belum terbiasa menggunakan softlens. Ini sedikit tidak nyaman," ucap Jane sedikit berbohong.
"Oh, bukan karena kau dipecat dari restoran?"
Jane terhenyak mendengar perkataan dari Alex.
"Ti-tidak juga."
"Kau yakin bukan itu masalahmu? Atau karena kau sedang memiliki konflik dengan mantan kekasihmu?"
Jane lagi-lagi dibuat tidak percaya dengan ucapan dari Alex. Seakan pria ini tahu segala hal tentang dirinya.
"Bagaimana kau tahu tentang itu?" Jane merasa penasaran dan memutuskan untuk bertanya.
"Katakan saja jika aku memiliki banyak mata. Aku hanya sedikit tahu tentangmu, dan karena ada acara ini aku mencari tahu lebih banyak tentangmu."
Jane menundukkan kepalanya dan tidak berani mengalihkannya dari sana. Dia terlalu malu untuk berbicara yang sejujurnya kepada pria ini.
"Jika kau membutuhkan pekerjaan, datanglah ke perusahaanku. Aku akan memberikanmu pekerjaan sesuai dengan yang kau bisa."
Mendengar ucapan dari Alex tersebut barulah Jane mengangkat kepalanya dan menatap tidak percaya kepada Alex.
"Benarkah itu? Kau akan memberiku pekerjaan?"
"Iya, tentu saja. Kau bisa memegang ucapan seorang laki-laki sepertiku," ucap Alex dengan bangga. Dia tidak ingin menipu Jane, dia berkata yang sesungguhnya kepada wanita itu dan akan memberinya pekerjaan jika memang dia mau.
"Aku pasti akan datang ke sana. Asalkan security yang ada di sana tidak mengusirku."
Alex tertawa kecil mendengar ucapan pesimis dari wanita itu.
"Jika mereka sampai berani mengusirmu, aku akan memecat mereka semua. Kau bisa menggantikan tugas mereka."
Jane tertawa cukup keras mendengar Alex berbicara seperti itu. Ternyata pria kaku seperti Alex bisa melawak juga.
Alex bangga dan senang melihat Jane kembali tertawa seperti itu. Dia berkali-kali lipat jauh lebih cantik daripada saat melihatnya murung.
Perjalanan mereka menjadi singkat karena mereka saling berbicara satu sama lain. Suatu pembahasan yang sebenarnya tidak berfaedah sama sekali, tapi bisa membuat keduanya menjadi akrab. Jane tidak lagi merasa takut kepada Alex. Begitu juga dengan Alex yang senang bisa membuat wanita itu tersenyum dan tertawa.
Mobil Alex berhenti di depan sebuah rumah yang cukup megah. Setelah dia mengeluarkan sebuah undangan para penjaga membukakan pintu gerbang itu lebar-lebar untuk Alex masuk ke dalam rumah itu.
Jane lagi-lagi terkesima dengan apa yang dia lihat di depannya. Rumah ini tiga kali lipat lebih besar daripada rumah Alex yang dia datangi tadi.
"Apakah ini sebuah istana?" celetuk Jane tanpa sadar sambil mencoba untuk menetap bagian teratas dari mansion tersebut.
"Bukan. Di sana jauh lebih besar daripada ini. Apakah kau tidak pernah melihat sebuah istana?"
Jane dengan polosnya menggelengkan kepala. "Aku tidak pernah punya waktu untuk pergi ke banyak tempat yang aku mau. Aku juga tidak memiliki uang untuk itu." Jane sudah mulai bisa jujur kepada Alex.
Jane ikut turun bersama dengan Alex dan masuk melewati pintu utama mansion tersebut. Dia kembali dibuat takjub oleh isi yang ada di dalam sana. Sangat indah dan tampak seluruh perabotan yang ada di dalam sini mahal sepertinya. Jane harus lebih berhati-hati agar dia tidak membuat kesalahan atau memecahkan barang yang ada di rumah ini. Vas dan patung, serta lukisan indah terdapat menghiasi ruangan tersebut.
"Ayo kita bertemu si pemilik acara."
Jane hanya menurut saja dan mengikuti ke mana Alex membawanya. Melewati beberapa orang yang telah hadir di sana Jane merasa minder karena menyadari siapa dirinya. Hal tersebut disadari oleh Alex karena rangkulan tangan Jane di lengannya semakin mengerat.
"Kau baik-baik saja?" Alex bertanya dan Jane menganggukkan kepalanya.
"Aku sedikit takut dengan tatapan mereka." Sentuhan tangan Alex di punggung tangan Jane membuat wanita itu menjadi sedikit lebih tenang.
"Jangan jauh-jauh dariku. Okay?"
"Okay." Saat ini Jane hanya harus berlindung di balik tubuh Alex. Dia tidak ingin melepaskan pria itu dan berakhir membuat kesalahan yang bisa saja membuat dirinya mengulangi kejadian yang tidak menyenangkan seperti tadi siang.
Alex terus berjalan mendekat ke arah Tuan Pierre yang masih dikerubungi oleh para tamu yang memberinya selamat. Begitu juga dengan Alex yang ingin melakukan hal yang sama.
"Tuan Pierre, selamat ulang tahun." Alex menyadarkan tangannya untuk bersalaman dengan pria tua itu. Namun, Tuan Pierre tidak segera menyambut tangan Alex dan tatapannya tidak teralihkan dari wanita yang ada di samping pria muda ini.
"Jane?"
Alex terheran karena Tuan Pierre menyebut nama gadis yang ada di sampingnya. Jane sendiri merasa bingung akan panggilan dari pria tua itu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri karena dia tidak merasa mengenalinya.
"Jane, kau kah ini?" Tuan Pierre mendekat kepada Jane dan menarik tangannya dari lengan Alex. "Oh, cucuku. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu." Dipeluknya Jane sehingga membuat semua orang yang ada di sana menatap tidak percaya kepada pria tua tersebut. Tentu saja mereka sangat kaget sekali atas apa yang dilakukan olehnya. Apalagi anak-anaknya, dan cucu-cucu dari Tuan Pierre. Mereka tidak tahu siapa wanita muda yang dipeluk oleh kakeknya.
"Cucuku! Kau datang ke pestaku."
Alex terperangah mendengar Tuan Pierre menyebut Jane sebagai cucunya.
"Apakah aku tidak salah dengar? Jane ... cucunya?" Alex bergumam tanpa sadar. Dia masih mencoba untuk mencerna hal yang terjadi di hadapannya ini.
Apa yang akan terjadi setelah ini? Dia hanya berpura-pura membawa Jane untuk menjadi pasangannya agar terhindar dari perjodohan dengan cucu Tuan Pierre, tapi kenapa sangat kebetulan sekali jika Jane adalah cucunya.
"Kau telah membawa cucuku kembali. Terima kasih banyak, Anak Muda. Apa dia adalah kekasihmu? Ini adalah rencana Tuhan yang sangat indah. Aku pernah memintamu untuk menjadi pasangan dari cucuku, dan Tuhan telah mengabulkannya. Terima kasih Tuhan. Kau telah mengabulkan semua doaku."
Tuan Pierre menangis dengan haru. Akhirnya doa-doanya yang telah dia panjatkan selama bertahun-tahun terkabul hari ini. Di hari ulang tahunnya yang mungkin akan menjadi tahun terakhirnya.
"Apa maksudnya ini?" Jane akhirnya bisa membuka suara. Dia tidak mengerti sama sekali kenapa pria tua ini bisa memeluk dan menangis di hadapannya.
"Kau adalah cucuku. Isabella Connie, putriku. Isabella Connie Pierre."
Mata Jane membulat sempurna mendengar nama yang disebutkan oleh pria tersebut. Itu memang nama ibunya, tapi Isabella Connie Abigail.
"Raymond, nama ayahmu, kan? Chris Raymond Abigail?"
Jane benar-benar tidak menyangka dengan dua nama yang disebutkan oleh pria itu. Itu memang nama ayah dan ibunya, tapi Jane sama sekali tidak mengenal orang-orang ini.
"Tapi aku tidak mengenal Anda."
"Tapi kau adalah cucuku. Madeline, cucuku telah kembali!"
__ADS_1
Wanita yang dipanggil Madeline mendekat ke arah sang ayah. Dia terkejut melihat wajah Jane yang sangat mirip dengan adiknya.
"Apakah ini Jane?"
Tuan Pierre menganggukan kepalanya. Madeline memeluk Jane dengan penuh emosi dan kebahagiaan.
Para tamu yang lain yang mendengar hal tersebut ikut merasa senang juga meski mereka masih bertanya-tanya akan apa yang terjadi dengan keluarga ini.
"Aku akan menikahkanmu dengan cucuku!" seru Tuan Pierre sambil berjingkrak senang. Dia melemparkan tongkat yang biasanya membantunya untuk berjalan ke sembarang arah dan dia melompat-lompat bak anak kecil saja. Dia sangat senang hari ini dan mengabaikan orang-orang yang khawatir akan kesehatannya.
"Aku sehat. Aku akan menyaksikan cucuku menikah!"
Jane mendapati kejutan yang bertubi-tubi. Ada beberapa hal yang terjadi hari ini dan pada puncaknya dia mengetahui jika dirinya adalah seorang cucu dari seorang pengusaha ternama. Kenapa ibunya tidak pernah mengatakan hal apapun kepadanya mengenai ini? Dia tidak tahu apa-apa tentang keluarganya. Dia juga tidak tahu siapa saja keluarganya dan di mana mereka berada.
***
Setelah acara selesai Alex kembali ke rumahnya hanya sendirian saja. Jane dipaksa untuk menginap di rumah Tuan Pierre.
Theresia sedari tadi menunggu kepulangan Alex dan ingin bertanya lebih lanjut kepadanya, tapi dia melihat wajah adiknya itu terlihat tidak baik-baik saja.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi di sana? Ada apa dengan wajahmu? Kau bersenang-senang bersama dengan Jane?"
Setelah mendengar nama itu disebutkan barulah Alex menatap sang kakak.
"Kakak, aku akan menikah."
Senyum Theresia mengembang sempurna.
"Benarkah itu? Aku sangat senang sekali kau telah menemukan gadis yang kau sukai. Siapa dia? Perkenalkan kepadaku! Kapan kau akan membawanya ke sini?"
Alex berjalan dengan gontai dan duduk di atas sofa dengan tubuh yang sedikit lunglai. Dia masih belum percaya dengan apa yang terjadi malam ini. Semua ini di luar dari prediksinya.
"Jane, cucu Tuan Pierre."
"Hah? Siapa?"
"Tuan Pierre. Pria tua yang pernah aku ceritakan kepadamu."
"Waah, ternyata kau memang berjodoh dengannya. Aku ikut senang karena kalian akan menikah. Kapan pesta itu dilaksanakan? Kita harus segera bersiap-siap."
Theresia sangat antusias sekali mendengar kabar berita dari adiknya tersebut. Dia akan membantu sebisa mungkin untuk pesta pernikahan adiknya ini.
"Aku tidak perlu membawa apa-apa. Mereka akan mempersiapkan segalanya."
"Wah, Kau sangat beruntung sekali. Tidak aku sangka jika kau akan menikahi cucu dari seorang pengusaha yang terkenal di negara ini."
"Kakak, apakah aku harus kabur ke negara lain?"
"Ke mana kau akan kabur? Bukankah sebelumnya kau ingin sekali menikah? Kenapa sekarang saat kau sudah menemukan calonmu, kau ingin pergi ke negara lain?" tanya Theresia dengan bingung.
"Aku pun tidak tahu. Rasanya aku menjadi tidak siap jika menikah dadakan seperti ini. Ini aneh sekali."
Theresia tertawa terbahak-bahak dengan tangannya yang melayangkan beberapa pukulan kepada bahu adiknya tersebut.
"Kau harus sadar, Alex. Semua ini sudah digariskan Tuhan untukmu. Tuhan sudah memberikan jalan yang terbaik, dan wanita yang terbaik untukmu. Aku yakin jika Jane memang benar-benar jodohmu."
Alex juga ingin menerima kenyataan tersebut, tapi semua ini membuat dia shock. Siapa yang tidak akan terkejut dengan semua yang terjadi secara tiba-tiba.
***
Pesta pernikahan Alex dan Jane akhirnya akan digelar mewah di salah satu hotel ternama yang ada di negara ini pada malam nanti. Jane menjadi pengantin yang sangat cantik di hari ini, juga Alex yang sangat tampan dengan balutan tuxedo berwarna putih membuat dia menjadi seorang yang gagah dan berdiri menunggu pengantinnya untuk datang. Gereja terbesar dan terkenal yang ada di negara ini menjadi tempat mereka untuk melakukan pemberkatan pernikahan.
Lyla, Morgan, Robinson dan Selvi juga ada di sana untuk menyaksikan pemberkatan mereka. Lyla dan Theresia yang paling senang dengan acara pernikahan ini. Akhirnya anggota keluarga mereka yang paling mereka sayangi akan melepaskan masalahnya dengan wanita yang tidak disangka sebelumnya. Lyla mendengar cerita tentang pamannya ini dari sang ibu, dan dia juga sama tergelak dan merasa lucu dengan cerita yang didengarnya. Jodoh memang tidak bisa ditebak sama sekali, apa yang telah Tuhan gariskan untuk mereka adalah hal yang terbaik pada akhirnya.
Pemberkatan pernikahan Alex dan Jane berjalan dengan lancar. Lyla dan yang lainnya menyaksikan mobil pengantin itu pergi meninggalkan gereja. Para tamu yang masih ada di sana tersenyum bahagia melihat dua insan di hari ini telah resmi menjadi sepasang suami istri.
"Kau sudah tidak khawatir lagi dengan pamanmu kan? Dia sudah bisa hidup bahagia dengan istrinya."
Lyla mengangguk dan menanggapi ucapan Morgan. "Iya aku sangat senang sekali dengan pernikahan Uncle Alex. Aku senang dia telah menemukan jodohnya sendiri. Semoga saja dia tidak pernah melirik wanita lain lagi."
"Dia memang Playboy pada masanya."
"Kau juga sama."
"Ya. Aku juga Playboy, tapi saat ini aku tidak pernah lagi karena aku sudah memiliki istri secantik dan sebaik dirimu. Kita pulang sekarang?" tanya Morgan kepada istrinya.
"Kalian akan pulang sekarang?" Theresia yang mendengar itu bertanya sekali lagi kepada Morgan.
"Iya, Bu. Laura harus banyak beristirahat sekarang. Dia tidak boleh lelah."
Theresia menyelidik pada wajah putrinya yang terlihat sedikit berbeda. Ada suatu pancaran cahaya yang terdapat di sana, dan pipi Lyla sedikit berisi dari sebelumnya.
"Sayang, apa kau sudah memeriksakan diri ke dokter? Apa kau sedang mengandung?" tanya Theresia. Dia menyelidik sekali lagi pada pinggang putrinya yang tampak mengembang.
Lyla terdiam dan memberikan tatapan tajam pada suaminya. "Apa kau memberitahu ibu?"
"Tidak. Aku tidak memberitahunya." Morgan sampai bersumpah karena dia benar-benar tidak mengatakannya kepada siapapun.
"Morgan tidak pernah memberitahuku. Tapi aku ini adalah seorang wanita yang pernah mengandung dan melahirkanmu. Apa kau benar sedang mengandung sekarang?"
"Bagaimana Ibu tahu?" Lyla akhirnya mengakui jika beberapa hari yang lalu dia baru memeriksakan diri dari rumah sakit saat dia merasa tidak enak pada tubuhnya. Tidak dia sangka jika dokter menyatakan jika dirinya sedang mengandung dan janin yang ada di perutnya sudah berusia sembilan Minggu. Sebelumnya Lyla tidak tahu jika dia tengah mengandung, karena tidak ada gejala-gejala yang membuatnya merasa aneh. Bahkan tidak ada mual dan muntah. Hanya saja akhir-akhir ini dia sering sekali makan dan mood-nya sedikit tidak stabil.
Beberapa hari yang lalu Lila merasa tidak nyaman pada tubuhnya dan pusing mendera selama beberapa hari, Morgan khawatir dan membawa Lyla ke rumah sakit, tapi dokter memberikan kejutan untuk mereka.
"Pipimu lebih berisi. Apa kau banyak makan sekarang?" Theresia senang bukan kepalang karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang nenek.
Lila menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan ibunya tentang napsu makannya yang sangat besar.
"Aku memang banyak makan. Dan sekarang aku sangat lapar."
Morgan mengeluarkan makanan yang telah dia siapkan dari rumah, untuk berjaga-jaga karena sang istri sedang suka ngemil belakangan ini.
Theresia memeluk putrinya dengan erat, di hari ini dia memiliki dua kebahagiaan yang sangat berarti baginya.
__ADS_1
"Aku akan menjadi seorang nenek."