Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
236


__ADS_3

Di kediamannya, Morgan sedang mengurus Tiffany saat Lyla sedang mandi. Anak kecil itu belum lagi tertidur, padahal di jam tujuh malam dia biasanya sudah tertidur dengan pulas.


"Hei, Tiny. Kenapa kau belum tidur juga, ha? Ini sudah malam, anak kecil sepertimu seharusnya sudah bermimpi indah sekarang ini," ucap Morgan sambil memainkan tangan Tiffany, pipinya yang gemoy tidak luput dari elusan lembut sang ayah. Tampak gembil karena Tiffany yang meminum ASI sangat banyak.


Tiffany hanya menatap Morgan, mulutnya berdecak dan terkadang menguap. Tangan kecil itu menggenggam jari telunjuk Morgan erat.


"Kau cantik sekali, seperti ibumu. Lihat matamu, hidungmu. Kau adalah gambaran ibumu saat kecil sepertinya," ucap Morgan sekali lagi. Dia sedang membayangkan gambaran Lyla di masa lalu. Apakah memang seperti ini?


Saat itu, ponsel Morgan berbunyi nyaring. Morgan merasa kesal karena Tiffany menjadi kaget karena dering telepon miliknya itu. Wajah Morgan kesal, bertanya ke pada pria itu dengan ketus.


"Maaf, Tuan. Aku terpaksa menghubungimu. Nona Rachel pingsan, dan aku tidak bisa menghubungi Tuan Robinson saat ini. Panggilanku tidak dia jawab," ucap Weston.


"Jika tidak ada yang penting, kau akan mati!" ancam pria ini.


"Maaf, Tuan. Tapi Nona Rachel pingsan, dan aku tidak bisa menghubungi Tuan Robinson."


"Pingsan? Apa dia sakit?" tanya Morgan khawatir dan langsung beranjak dari duduknya. Saat itu bertepatan dengan Lyla yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Di mana dia sekarang?" tanya Morgan lagi.


"Aku sedang membawanya ke rumah sakit, Tuan."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pergi ke sana sekarang juga."


Panggilan itu berakhir.


"Siapa?" tanya Lyla sambil mengeringkan handuknya.


"Aku harus ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"


"Rachel. Dia pingsan dan Weston sedang membawanya ke rumah sakit. Sayang, aku harus pergi. Kau tidak apa-apa kan diam di rumah?" tanya Morgan.


"Aku ikut, Morgan."


Morgan pun pergi bersama dengan Takeda.


Sampai di rumah sakit, Morgan segera memasuki ruangan di mana pasien yang hanya sendirian di tempatkan. Di dalam sana Rachel sudah ditangani oleh dokter dengan baik.


"Apa yang terjadi? Apa yang membuat Rachel pingsan?" tanya Morgan setelah bertemu dengan Weston.


"Nona sedang tidak enak badan dan dokter berkata jika dia kelelahan."

__ADS_1


"Mana ayah dan Mom? Apakah mereka tidak tau jika Rachel pingsan?" Selain itu Morgan juga memberondong pertanyaan ke pada Weston.


"Tuan dan Nyonya sudah aku hubungi, tapi mereka masih belum membuka pesanku," ucap Weston seraya melihat chat darinya yang belum dibaca oleh Robinson maupun Selvi.


Morgan menjadi kesal, tapi dia lega karena Rachel sudah ditangani dengan baik.


"Pulanglah. Aku yang akan menunggui Rachel di sini," perintah Morgan. Weston memiliki kewajiban untuk keselamatan tuan dan keluarganya.


"Maaf, Tuan. Tapi aku tidak bisa pergi dari sini. Aku akan ikut menjaga Nona Rachel di ruangan ini."


Morgan tidak ingin mengusir Weston lagi, tapi dia kembali kedekatan Rachel dan duduk bersandar sambil melipat kedua tangan di depan dada.


Akibat rasa mengantuk yang teramat sangat, Morgan sampai terkantuk-kantuk di kursi itu.


Saat Morgan sedang setengah sadar, Rachel terbangun dari tidurnya.


"Kakak. Pulanglah dan tidur di rumah. Aku sudah tidak apa-apa," ucap Rachel dengan nada yang terdengar lirih.


Mendengar suara Rachel, Morgan langsung bangun dan mendekat.


"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?" tanya Morgan dan dijawab dengan gelengan kepalanya.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Kak. Jangan khawatir." Rachel melirik ke arah belakang Morgan dan menatapnya tidak suka ke pada Weston. "Weston. aku hanya.butuh istirahat saja, kenapa kau menghubungi kakakku segala?" ujar Rachel marah.


"Maaf, Nona. Aku panik. Tolong maafkan aku." Weston menundukkan kepalanya, tapi saat itu memang dia tidak memikirkan hal lain selain menghubungi Morgan.


__ADS_2