Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
61. Jadikan Kau Layak


__ADS_3

Sudah dua hari Morgan menunggu, tapi tidak ada jawaban yang Lyla berikan kepadanya.


Ruangan kerja itu kini sepi, hanya ada detak jam yang terdengar dengan sangat jelas di telinga. Berjalan perlahan sehingga membuat waktu terasa sangat lambat sekali.


Morgan beberapa kali melirik jam dinding di hadapannya.


"Huft, lama sekali!" gumamnya pelan, kesal rasanya karena tidak seperti hari kemarin yang bisa dia lewati sehingga dengan cepat bisa pulang ke rumah.


Pintu terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu, Gerald masuk ke dalam sana dengan membawa beberapa map di tangannya.


"Kau sudah dapatkan?" tanya Morgan tidak sabar. Gerald memberikan apa yang dia bawa pada Morgan.


"Kau ingin masuk universitas lagi?" tanya Gerald bingung, pasalnya Morgan memintanya untuk mencarikan universitas yang bagus. Morgan tidak menjawab, hanya membaca satu persatu pamflet yang ada di tangannya.


"Kau bisa belajar di luar negeri untuk melanjutkan mendapat gelar doktor," ucap Gerald.


"Ini bukan untukku."


"Lalu?" Gerald tengah berpikir untuk siapa pamflet ini, apakah untuk anak asistennya? Akan tetapi, Lian masih satu tahun lagi untuk masuk ke dalam universitas.


"Ini masih terlalu cepat untuk memasukkan dia ke universitas. Lagi pula tidak biasanya kau menyibukkan dirimu sendiri untuk hal yang seperti ini."


Morgan menghentikan gerakan tangannya, menatap sepupunya. "Dia akan aku masukkan minggu ini."


"Dia belum ujian, mana bisa masuk ke universitas."


"Dia tidak perlu menjalankan ujian."


"Eh, jika tidak menjalani ujian terlebih dahulu mana ada universitas yang akan menerimanya," ucap Gerald semakin bingung.


"Kenapa harus ujian? Lyla tidak perlu melakukannya," ucap Morgan.


"Lyla?"


"Ya, kau pikir ini untuk siapa?" Morgan mengangkat pamflet itu di samping wajahnya.


"Aku pikir itu untuk Lian."


"Lian? Siapa dia?" tanya Morgan tak tahu.


Gerald melongo mendengar penuturan sepupunya itu. "Astaga! Kau tidak tahu dengan asistenmu sendiri? Dia gadis kecil yang kau sekolahkan," ucap Gerald, barulah Morgan mengerti gadis kecil yang dimaksudkan.


"Kau mau memasukkan Lyla ke dalam universitas?"


Morgan menganggukkan kepalanya.


"Ada angin apa kau peduli dengan orang lain?" Ucapan Gerald membuat Morgan menatapnya sebal.


"Aku tidak peduli dengannya. Aku hanya berpikir jika dia terlalu bodoh sehingga setiap kali aku berbicara dia selalu menanyakannya lagi. Aku pusing jika mendapatkan pertanyaan yang sama," ucap Morgan.


Alis Gerald terangkat satu, bingung dengan makhluk di depannya ini. Tidak mungkin rasanya dengan alasan yang seperti itu dia menyuruhnya untuk mencarikan universitas yang bagus. Tidak masuk akal.


"Apakah di perusahaan ini ada posisi yang kosong?" tanya Morgan membuat Gerald kembali fokus pada laki-laki itu.


"Ada, kepala gudang baru saja resign dari pekerjaannya." Morgan kembali menatap Gerald tak suka.


"Lyla tidak mungkin bekerja menjadi kepala gudang. Terlalu berat jika dia ditempatkan di sana," ucap Morgan. Gerald membentuk mulutnya menjadi 'o'.

__ADS_1


Astaga, apa lagi yang akan dia lakukan? gumam Gerald di dalam hatinya.


Morgan menggerakkan tangannya. "Pergilah, aku akan mempelajari ini," ucap Morgan mengusir. Gerald berdecak kesal mendengar pengusiran itu. Sungguh terlalu sekali karena dia tidak mengucapkan kata terima kasih kepadanya.


"Apa lagi yang kau tunggu?" tanya Morgan.


"Tidak ada. Aku akan pergi untuk melanjutkan perkerjaanku," ucap Gerald.


Sepeninggal Gerald dari ruangannya, Morgan membaca semua pamflet yang ada dengan seksama, dia tidak ingin salah pilih.


"Ini saja!" ucap Morgan sambil tersenyum.


...***...


Gerald baru saja duduk di kursinya, dia teringat akan wajah Morgan yang dia lihat tadi. Rasanya terlalu aneh dengan wajah itu, tersenyum saat melihat pamflet di tangannya.


"Aku yakin ada yang tak beres dengan dia. Semoga saja dia tidak sedang demam," gumam Gerald.


...***...


Suara ketukan di pintu terdengar beberapa kali dari luar ruangan kerja Morgan.


"Tuan, bolehkah aku masuk?" Suara Lyla terdengar dari luar.


"Ya, masuklah!" perintah Morgan. Lyla membuka pintu tersebut dan mendekat, lantas duduk dengan pelan di kursi depan meja Morgan.


"Ada apa kau memanggilku?" tanya Lyla bingung.


Morgan mengeluarkan pamflet yang dia bawa tadi dan menyimpannya di atas meja agar Lyla bisa melihatnya.


"Tempat di mana kau akan belajar," ucap Morgan.


Mata Lyla menatap kagum dengan apa yang ada di sana, megah sekali melihat bangunan universitas itu. Itu adalah salah satu universitas ternama di negara ini yang dulu pernah sangat ingin dia belajar di tempat itu.


"Ini ... apa tidak terlalu berlebihan, ini tempat yang mahal untukku belajar," ucap Lyla.


Morgan menatap wanita itu tidak mengerti.


"Tentu aja mahal. Kau tidak yakin aku bisa membayarnya?" ucap Morgan menatap tajam Lyla.


"Eh, tidak. Bukan seperti itu, tapi aku pikir ini tidak layak untukku."


"Kenapa?"


Lyla terdiam, menatap pamflet tersebut lalu menatap dirinya sendiri.


"Katakan!" ujar Morgan.


"Em ... anu. Aku hanyalah wanita miskin, rasanya tidak pantas untuk belajar di sana. Apakah ada universitas lain yang bisa menerimaku dengan aku yang seperti ini? Maksudku yang layak untukku," tanya Lyla malu.


"Kenapa kau bilang tidak layak?" tanya Morgan.


"A-aku ... aku hanya takut jika nantinya ada seseorang yang tahu dari mana asalku dan mengejekku. Aku takut aku dikucilkan, dibully. Aku hanya anak yang dibesarkan di panti asuhan. Mereka pasti anak-anak dari keluarga yang berada, anak dari orang-orang kaya. Aku---"


Tiba-tiba saja Morgan bangkit dari duduknya dan menarik tangan Lyla. Lyla menatap bingung pada Morgan yang berdiri menjulang di sampingnya.


"Akan aku jadikan kau layak dan setara dengan mereka. Ayo!"

__ADS_1


"Eh?" Lyla masih bingung, tapi dia juga mengikuti langkah kaki Morgan yang mengajaknya keluar dari ruangan itu.


"Kita akan kemana?" tanya Lyla saat Morgan tidak juga melepaskan tangannya.


"Jangan banyak bicara. Cukup ikut saja!" ujar laki-laki dingin itu. Lyla menurut saja.


Gerald baru saja masuk ke dalam rumah, dia terheran saat melihat Morgan yang menggandeng tangan Lyla.


"Kalian mau kemana?" tanya Gerald. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari Morgan, sedangkan Lyla hanya menggerakkan bahunya tanda dia juga tidak tahu.


Morgan dan Lyla telah menghilang dari pandangan.


"Tuan!" Suara dengan nada melengking itu menyadarkan Gerald dari lamunan. "Sedang apa Anda di dini?" tanya Lian.


"Apa tidak bisa kau bicara dengan pelan?" Gerald mengusap telinganya yang terasa pengang.


"Hehe, maaf. Aku hanya ingin bertanya saja. Kemana Tuan Muda Morgan akan pergi membawa Kak Lyla?" tanya Lian masih penasaran.


"Aku tidak tahu." Gerald melangkah meninggalkan Lian. Akan tetapi, Lian tidak percaya begitu saja sehingga dia mengikuti langkah kaki laki-laki itu.


"Kau bohong. Mana mungkin Anda tidak tahu. Anda kan asisten Tuan Morgan!" ucap Lian.


"Aku memang asistennya, tapi aku tidak tahu semua hal tentang dia."


"Masa?" tanya Lian tidak percaya. "Anda kan sepupunya juga."


Gerald berhenti melangkah hingga membuat Lian menabrak punggungnya, tidak menyangka jika laki-laki itu akan mendadak berhenti.


"Aww!" ringis Lian, mengusap hidungnya yang sedikit linu akibat kejadian tiba-tiba itu.


Gerald membalikkan tubuhnya, menatap gadis kecil yang tengah mengusap hidungnya yang merah.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Gerald.


"Aku tidak melakukan apa-apa."


"Kau mengikutiku?"


"Tidak."


"Lalu sedang apa kau sampai di dekat kamarku?" tanya Gerald menunjuk pintu kamarnya yang hanya berjarak tiga langkah lagi. Lian melihat pintu kamar itu, gara-gara ingin tahu kemana perginya dua orang itu dia jadi tidak sadar jika sudah sejauh itu mengikuti Gerald.


"Eh, hehe. Iya, ternyata. Jika begitu, aku akan pergi untuk menyelesaikan pekerjaanku lagi," ucap Lian sambil terkekeh malu. "Tuan, kau benar tidak tahu kemana mereka akan pergi?" tanya Lian masih gigih bertanya. Akan tetapi, tatapan tajam Gerald membuatnya kalah dan tidak mau lagi bertanya.


"Aku akan pergi. Benar-benar akan pergi sekarang," ucap Lian. Namun, saat dia telah membalikkan badannya dan akan melangkah, belakang bajunya ditarik Gerald dan memaksanya masuk ke dalam kamar. Lian berteriak berusaha untuk melawan, tapi Gerald tak peduli akan teriakan itu.


...****************...


...😱...


...Gerald, kamu mau ngapain?...


...********...


Mampir sini dulu, yuk. Sambil tunggu kelanjutannya. Ngetik dulu 🤭


__ADS_1


__ADS_2