
Tamu yang hadir di gereja besar itu tidak banyak. Tidak sampai lima puluh orang. Pernikahan Morgan dan Lyla juga tidak dipublikasikan dengan alasan keamanan. Begitu juga dengan undangan di pesta resepsi nanti. Hanya ada orang terdekat dan terpercaya yang diundang, tentu saja dengan keamanan yang sangat ketat sekali. Pesta yang bersifat privasi dan hanya pihak Morgan yang bisa mempublikasikan acara itu nantinya. Suatu saat Morgan pasti akan mempublish Lyla pada saatnya nanti.
Semua tamu yang ada di sana menunggu dengan tidak sabar atas kehadiran kedua pasang mempelai. Mereka penasaran akan wajah wanita yang bersanding dengan Morgan meski beberapa orang yang datang di pesta Gerald sudah melihat siapa pasangan Morgan. Begitu juga dengan calon suami Selvi yang sebagian orang sudah tahu saat dua hari kemarin melamarnya di acara pernikahan Gerald.
"Anu ... apa kemarin kau juga merasa gugup?" tanya Lyla kepada Lian yang sedang membantu merapikan gaunnya.
Gaun putih dengan desain sederhana menempel di tubuh Lyla yang putih, tampak cantik sekali. Gaun itu persis seperti yang dia inginkan, sederhana bentuknya, tapi juga sangat indah dan tampak mewah dengan beberapa batu swarovski buatan tangan dengan kualitas terbaik. Morgan telah membuat beberapa orang sangat sibuk untuk membuat benda indah tersebut dan gaun yang sangat sedap di pandang mata dalam waktu yang sangat singkat sekali.
Lyla tidak bisa menolak maupun berbuat apa-apa lagi dengan gaun ini. Toh, jika dia menolak, bukannya itu berarti dia tidak menghargai usaha Morgan untuk membahagiakannya? Untuk memberikannya yang terbaik?
Lian tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak gugup sama sekali."
"Benarkah? Ah, kenapa aku sangat gugup? Tanganku terasa dingin dan berkeringat."
"Awalnya memang gugup, tapi kau tidak perlu khawatir. Saat di ruangan nanti, kau tidak akan gugup lagi." Lian mencoba untuk menenangkan Lyla.
"Benar, Nona. Anda tidak perlu khawatir. Wajar jika seseorang gugup di hari pernikahannya. Itu adalah hal yang biasa," celetuk penata rias yang telah hampir selesai merapikan pakaian Lyla.
Lyla mencoba untuk tenang, tapi tetap saja dia tidak bisa lebih baik lagi.
"Kau cantik sekali, Kakak. Seperti seorang malaikat," ujar Lyla memandang takjub pada gaun pengantin milik Lyla.
"Kau juga sangat cantik sekali kemarin."
Dua orang itu saling melempar pujian satu sama lain, sehingga jika diteruskan tidak akan ada habisnya.
"Kau sudah siap? Ayo kita pergi. Tuan Morgan pasti sudah menunggumu di sana."
"Iya."
"Kita juga harus menyusul Tante Selvi. Dia juga pasti sedang gugup di ruangannya."
Lyla hampir lupa dengan wanita itu yang sama akan menikah dengannya di hari ini.
"Ayo. Semoga saja dia lebih tenang daripada aku."
Dua wanita itu pergi ke ruangan Selvi yang berada tak jauh dari ruangan Lyla tadi, ditemani beberapa orang yang mengawal mereka berdua.
Sampai di ruangan Selvi, mereka melihat wanita itu masih berusaha untuk memakai gaunnya dengan dibantu dua orang lain, terlihat susah payah sekali.
"Apa yang terjadi? Aku pikir, aku sudah memilih gaun yang pas dengan ukuranku?" ujar wanita itu tidak mengerti.
"Sepertinya Anda terlalu bahagia sehingga mempengaruhi berat badan Anda." Wanita itu berbicara sambil terus berusaha untuk menarik resletingnya ke atas.
"Iya, mungkin saja. Padahal aku sudah berusaha untuk makan sedikit, tapi tinggal bersama dengan orang yang dicintai ternyata tidak lah mudah dan berpengaruh kepada berat badanku. Apa kau tidak membawa pakaian ganti yang lain?" tanya Selvi, perutnya sudah terasa sesak dan dia hampir sulit bernapas.
"Tidak. Karena aku pikir, tubuh Anda akan seperti belut licin."
Selvi menyadari kedatangan kedua wanita yang lain di dalam ruangannya dan menyapa mereka dengan malu.
"Jika kalian ingin pergi, pergi saja duluan. Aku masih sibuk di sini. Ah ... tolong sedikit berhati-hati," ucap Selvi pada Lian dan Lyla.
"Ah, tenang saja. Masih ada beberapa menit lagi untuk bersiap," ucap Lyla. Kasihan sekali melihat Selvi yang susah payah memakai gaunnya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit dan besarnya usaha untuk menarik resleting di punggung wanita itu, akhirnya resleting itu terpasang dengan rapi.
"Huh. Sesak sekali. Aku tidak boleh pingsan di dala sana." Selvi menarik napasnya yang sedikit sesak, dadanya sampai menyembul penuh dan hampir tumpah dari balik gaun putih tersebut.
"Apa kau baik-baik saja, Tante?" tanya Lyla sekali lagi.
"Aku baik. Ini hari bahagiaku, tidak seharusnya aku membuat masalah di hari ini kan? Oh, harusnya aku tidak boleh banyak makan beberapa hari terakhir. Ah, semua itu karena ulah ayah mertuamu, Lyla. Dia yang terus memaksaku untuk makan."
Lyla hanya tertawa kecil mendengar ucapan Selvi, Robinson memang sangat baik sekali dan dia yakin jika Selvi akan hidup berbahagia dengan pria yang usianya jauh di atasnya itu.
"Tunggu sebentar, rambutku berantakan lagi."
Dua orang yang membantu Selvi segera merapikan kembali rambut dan riasannya. Tidak perlu banyak riasan, hanya riasan tipis saja karena Selvi sudah cantik sedari lahir. Hanya lima menit, dia telah selesai dan ketiga orang itu kini berjalan menuju ke ruangan acara pemberkatan.
Morgan dan Robinson telah berdiri di depan mimbar dengan gugup, berbeda dengan Robinson yang sangat tenang sekali dengan wajah yang sumringah.
"Kau harus menarik napasmu, Morgan. Dan jangan lupa untuk membuangnya dari hidung, jangan dari lubang yang lain. Haha." Robinson mencoba untuk mencairkan suasana Morgan yang tampak kaku.
"Jaga bicaramu, Pak Tua. Kau tidak sopan!"
"Aku hanya ingin kau menjadi rileks. Apa kau butuh minum?"
"Tidak. Aku ... hanya ingin acara hari ini segera berakhir dan bisa berduaan dengan pengantinku."
Robinson tertawa kecil mendengar ucapan sang ayah. Sama seperti putranya, dia juga ingin segera menyelesaikan acara ini dan segera membopong sang istri untuk masuk ke dalam kamar pengantin yang telah dia minta kepada Cedrik untuk mengaturnya dengan sangat baik.
"Ah, aku juga ingin sekali berduaan dengan istriku. Rasanya lucu ya, bibimu akan menjadi ibumu sebentar lagi. Dan ... apakah ini artinya aku turun pangkat menjadi pamanmu?" ujar Robinson tiba-tiba. Morgan melirik sang ayah dan memandang aneh pria itu. Rasanya dia ingin kekentalan darah dan asal usulnya.
"Mana ada ayah yang turun pangkat menjadi paman, tapi ... tidak buruk juga sih, jika kau memang ingin aku memanggilmu uncle."
"Hei. Awas saja kau--" Robinson tentu tidak terima jika sebutan 'ayah' kepadanya berubah menjadi 'uncle'. "Enak saja. Aku tidak mau!"
“Cantik sekali mereka,” gumam salah seorang dan disetujui oleh yang lainnya. Tidak sia-sia mereka datang ke upacara yang suci ini dan bisa melihat dua wanita beruntung yang baru saja memasuki ruangan.
Wajah Lyla memanas, mengingat jika hari ini dia akan menjadi seorang istri. Antara senang dan sedih mengingat dia hanya sendirian dan Alex masih belum hadir juga saat dia cari di antara para tamu yang hadir.
‘Dia tidak datang,’ batin Lyla sedih. Orang yang diharapkan untuk datang, ternyata tidak ada hari ini. Padahal Alex sudah berjanji untuk datang di hari pentingnya ini.
“Kau baik-baik saja?” tanya Selvi membuat kesadaran Lyla kembali.
“Iya, aku baik.”
“Ayo, suami kita sudah menunggu,” ajak wanita itu lagi.
“Iya.”
Suara alunan musik terdengar indah saat dua orang itu mulai berjalan masuk. Tidak ada seseorang yang mengiringi langkah mereka menuju ke depan altar dan hal itu membuat keduanya menjadi sedih.
Senyum terpancar di bibir keduanya, menatap kedua calon suami mereka yang berdiri dengan gagah di depan meja pemberkatan.
Morgan masih menatap sang calon istri yang sangat cantik sekali di balik veil yang menutupi wajahnya. Dia tidak menyangka jika kecantikan wanita itu melebihi ekspektasinya.
“Sungguh cantik sekali,” gumam Morgan tanpa sadar.
“Istriku juga cantik sekali,” celetuk Robinson mengganggu kekaguman sang putra.
__ADS_1
Langkah kaki keduanya lambat laun mendekati ke arah calon suami masing-masing, diiringi tatapan kagum dari para tamu yang tidak ada habis-habisnya. Lyla malu, tapi lebih merasakan senang saat ini karena sebentar lagi dia akan menjadi istri Morgan Castanov.
Kedua wanita itu telah sampai di samping pasangan masing-masing, Morgan menyambut tangan Lyla dan mencium punggung tangan sang wanita. Seketika riuh suara iri yang terucap dari beberapa orang yang ada di sana.
Tidak menunggu lama, acara berlanjut dengan khidmat. Lyla benar-benar ingin menangis saat Morgan mengucapkan ikrar pernikahan. Akan tetapi, dia sudah berjanji untuk tidak menangis meski ini adalah tangisan bahagia.
“Nona Laura ....” Pastur beralih kepada Lyla dan bertanya. Semua orang menahan napasnya, ingin mendengar jawaban dari sang mempelai wanita.
“Aku bersedia.” Akhirnya sesuatu yang mengganjal di hati Lyla selama ini sirna sudah. Hari ini, setelah mengucap ikrar janji pernikahan, dia telah resmi menjadi istri dari Morgan Castanov.
“Silakan pengantin pria mencium pengantin wanita.”
Lyla jelas malu jika melakukan ciuman di depan umum, tidak biasa baginya. Akan tetapi, Morgan menggenggam tangan Lyla dan menatap wanita itu. Setelah menyematkan cincin pernikahan, dia mendekat, membuka veil, dan mencium Lyla dengan lembut sehingga menciptakan suara riuh dari para tamu yang hadir.
“Ah, rasanya aku bersalah sekali.”
Robinson melirik calon istrinya yang berdiri di sampingnya. “Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Seharusnya ini menjadi hari bahagia mereka.”
“Iya, tapi aku tidak rela jika kau ingin menunda hari bahagia ini. Kau sudah sangat cantik dengan gaun pernikahan dan aku tidak rela kau melepasnya lagi.”
Robinson menggenggam tangan Selvi dengan erat.
Pintu ruangan terdengar terbuka, seluruh tamu yang hadir mengalihkan tatapannya dari kedua mempelai yang ada di altar. Seorang laki-laki tampan terlihat sedikit terengah-engah seakan telah berlari dengan jarak jauh.
Lyla pun melihat pria itu dan tersenyum lebar, senang akan kehadiran sang paman yang tiba-tiba. “Uncle!”
Mengalahkan ego dan kekecewaannya, Alex datang untuk menyaksikan pernikahan sang keponakan. Tatapannya melirik pada wanita yang ada di sebelah Robinson, wanita yang sempat menjadikan detak jantungnya berdetak cepat, tapi dia mencoba untuk menerima kenyataan jika wanita itu bukanlah jodohnya.
“Maaf, apakah aku terlambat?” Suara Alex terdengar dengan jelas di keheningan ruangan tersebut.
Para tamu takjub dengan kehadiran pria tampan sekali lagi meski mereka tidak tahu siapa pria tersebut. Seketika suasana semakin hening sehingga suara langkah kaki Alex terdengar di atas karpet merah yang terbentang.
“Pergilah,” ucap Morgan melonggarkan genggaman tangannya dari sang istri, melihat mata berkaca-kaca Lyla, jelas Morgan tahu jika wanitanya itu merindukan sang paman dan mengharap kehadirannya.
Tanpa menunggu Morgan berbicara sekali lagi, Lyla bergegas berlari ke arah Alex dan mengabaikan tatapan penuh tanda tanya dari para tamu. Lyla memeluk sang paman dengan erat dan menangis tersedu.
“Aku kira kau tidak akan datang,” ucap Lyla sambil memukul dada Alex cukup keras. Lyla sempat mengira jika Alex tidak ingin datang karena Selvi akan menikah dengan Robinson. Alex tersenyum dan mengusap kepala Lyla yang tertutup veil.
“Aku pasti datang untuk menyaksikan pernikahanmu. Aku punya kejutan untukmu.”
Lyla menarik kepalanya dan menatap mata sang paman.
“Kejutan apa?” tanya Lyla.
Alex menunjuk ke arah pintu yang terbuka dan membuat Lyla membulatkan kedua matanya lebar-lebar.
“I-ibu? Apakah dia ibuku?” ucap Lyla tidak percaya. Wanita cantik dengan wajah yang sama itu terdiam bak patung, kemudian tersenyum lebar memperlihatkan senyumannya yang sangat menawan.
Bak ada sebuah magnet besar yang menariknya, Lyla dan wanita itu saling mendekat dan bertatapan.
“Apakah kau ibuku?” tanya Lyla saat jarak mereka hanya satu meter.
“Putriku.”
__ADS_1
Keduanya berpelukan dan kini Lyla tidak bisa menahan lagi tangisan yang telah dia tahan semenjak beberapa jam yang lalu. Tangis bahagia karena dia mendapatkan banyak hal baik dalam hidupnya selama satu tahun belakangan ini.
“Kau ... cantik sekali. Aku senang bisa melihatmu lagi.” Tangis dua orang itu semakin deras dan membuat para tamu undangan yang ada di sana juga ikut menitikkan air matanya.