Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
122. Ajakan Makan Malam


__ADS_3

Setelah hampir satu jam lamanya mengendarai perahu, akhirnya Lyla telah sampai pada sebuah dermaga yang lainnya. Di sana sudah menunggu seorang laki-laki yang tersenyum di ujung dermaga menyambut kedatangannya. Perlahan perahu itu menepi, tali tambang yang ada di sana dia tautkan pada pasak tiang yang ada di sana, dibantu oleh seseorang yang ada di belakangnya.


"Selamat datang, Nona. Hati-hati," ucap laki-laki itu seraya mengulurkan tangannya pada Lyla. Perlahan Lyla melangkahkan kakinya dan berpegangan erat pada tangan laki-laki tersebut.


"Bagaimana perjalanan Anda. Maafkan dengan segala kekurangan yang kami miliki," ucapnya lagi kemudian menggerakkan tangannya menyuruh Lyla untuk berjalan di sampingnya.


"Tidak apa-apa, meski ini adalah pengalaman pertamaku naik perahu," ujar Lyla.


"Mari." Laki-laki itu membawa Lyla berjalan di tengah hujan salju yang turun lumayan lebat, tak lupa dengan seseorang yang menaunginya dengan payung, padahal seharusnya ini sudah memasuki musim gugur.


Lyla mengikuti langkah kaki laki-laki itu dengan diam, banyak hal yang dia pikirkan di dalam kepalanya. Mengapa hidupnya tampak rumit seperti ini, seakan dia di lempar ke sana dan kemari hanya karena ingin mengetahui siapa kedua orang tuanya saja.


Dua orang penjaga membukakan pintu gerbang besar yang ternyata menghubungkan ke dalam halaman sebuah rumah yang tampak megah. Lyla terkagum berjalan menuju ke dalam sana. Rumah itu tampak kuno, tapi justru itu adalah yang membuatnya terlihat sangat indah. Gaya Mediterania klasik dengan taman-taman indah di luarnya.


"Silakan, Nona. Kami akan mengantar Anda ke kamar Anda," ucap laki-laki itu mempersilakan Lyla untuk naik ke lantai atas terlebih dahulu.


Satu persatu tangga telah Lyla naiki, dia memperhatikan dekorasi rumah ini dengan seksama, sungguh sangat mempesona dan memanjakan matanya.


"Ini kamar Anda, jika Anda butuh sesuatu Anda bisa mencari saya di lantai bawah. Apakah Anda ingin sesuatu sebelum saya turun?" tanyanya. Lyla menggelengkan kepalanya.


"Tidak, terima kasih," ucap Lyla. Laki-laki tersebut mengundurkan diri dari sana dan turun ke lantai bawah, sementara Lyla melihat sekeliling kamarnya yang sangat indah sekali, dan membandingkan jika di kamar ini jauh lebih indah dari kamarnya di rumah kediaman Morgan.


Lyla mendes*h pelan, ingat Morgan rindunya jadi membuncah dan membuatnya sedih, segera dia membaringkan dirinya dan menatap langit-langit kamarnya yang terdapat lampu hias besar menggantung di sana.


"Morgan, kau sedang apa?" tanya Lyla, tentunya tidak ada yang menjawabnya karena 'dia' telah jauh di negara yang berbeda dengannya.


...***...


"Uhuk!"


Morgan terbatuk saat tengah memakan kue buatan Margareth. Segera wanita cantik itu beralih duduknya mengambilkan minuman untuk Morgan.


"Hati-hati," ucapnya lembut seraya mengelus pundak Morgan dengan pelan.

__ADS_1


Morgan menyodorkan gelas minuman tersebut dan memberikannya kembali pada Margareth.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Margareth.


"Ya, aku baik saja." Morgan menyodorkan piring berisi kue tart itu pada Margareth.


"Kau sudah tidak mau lagi?" tanyanya kecewa.


"Maaf, tapi tenggorokanku tidak nyaman. Aku akan memakannya nanti," ucap Morgan. Margareth sungguh kecewa, dia sudah susah payah belajar untuk membuat kue yang enak untuk Morgan, tapi baru dua suapan laki-laki ini sudah tidak mau lagi memakannya.


"Oh, baiklah. Akan aku simpan ini untuk nanti."


Gerald baru saja masuk ke dalam rumah dan melihat Margareth ada di sana. Dia mendekat pada mereka berdua dan langsung saja mengambil kue tersebut untuk dia makan.


"Eh, apa yang kau lakukan? Itu untuk Morgan!" ujar Margareth tidak terima. Gerald tidak peduli, dia memakan semuanya dalam dua suapan.


"Oh, apakah tidak ada jatah untukku? Kau tahu kan jika aku dan Morgan adalah satu paket, seharusnya kau membuat lebih banyak," ucap Gerald dengan tidak peduli. Margareth merasa tidak suka, dia mendengkus sebal saat melihat Gerald pergi dengan tanpa meminta maaf sama sekali.


"Sudahlah, Margie. Gerald itu saudaraku, lain kali kau bisa membuatkannya lagi kan untukku?" tanya Morgan membuat Margareth tersenyum senang.


"Oh, ya. Apakah besok malam kau ada acara? Aku sedang bosan, aku ingin makan malam di luar."


Mendengar Morgan mengajaknya tentu saja membuat Margareth senang, dia tersenyum dengan sangat lebar sekali dan menganggukkan kepalanya.


"Ya, baiklah. Aku akan pergi denganmu."


"Kau tidak ada acara, kan?"


"Tidak. Aku tidak ada acara. Aku memiliki banyak waktu luang besok," ucapnya cepat.


Margareth berpikir jika dia harus bersiap-siap untuk besok, dia harus tampil dengan cantik dan juga dengan pakaian yang bagus untuk membuat Morgan menjadi senang.


"Oh, ya. Maafkan aku. Aku harus pergi ke kantor sebentar lagi, apa kau ingin aku mengantarmu pulang?" tanya Morgan menawarkan diri.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa pulang dengan memakai taksi, kau berangkatlah ke kantor setelah ini. Aku juga ada urusan sebentar di luar," tolak Margareth.


"Baiklah."


Margareth bersiap-siap untuk pergi dari sana, bersamaan dengan itu Gerald keluar dari kamarnya dan berjalan bersisian dengan wanita itu.


"Kau masih belum kapok juga dekat dengan saudaraku?" tanya Gerald sinis.


"Apa aku mengenalmu, Tuan?" ujar Margareth tak kalah sinisnya.


"Aku akan pastikan kau tidak akan bisa dekat dengan saudaraku lagi."


"Oh, yeah? Cobalah jika kau bisa. Morgan sudah luluh denganku. Apa kau tahu jika besok dia akan membawaku makan malam?" ucap Margareth sombong. Gerald hanya tertawa kecil mendengar ucapan dari wanita itu.


"Hanya makan malam biasa." Gerald meninggalkan Margareth dengan berjalan cepat.


Margareth sebal dengan ucapan laki-laki itu, dia heran apa sebab Gerald berbicara ketus terhadapnya sedari dulu. Tiba-tiba saja dia berpikir sesuatu. "Apa dia juga menyukaiku? Hahh! Jangan-jangan sikap ketusnya selama ini karena dia tidak bisa berterus terang kepadaku!" ujar wanita itu dengan pelan sambil menatap punggung Gerald yang mulai menjauh.


"Kau masih ada di sini?" tanya Morgan saat melihat Margareth terdiam di depan pintu. Margareth mengalihkan tatapannya dan tersenyum pada Morgan.


"Eh, ya. Aku merasa ada yang tertinggal, tapi setelah aku pikir ternyata tidak ada," ucap Margareth sambil tersenyum kecil.


"Oh, tak apa jika ada yang tertinggal, nanti akan aku kirimkan atau aku antarkan langsung ke sana," ucap Morgan, Margareth berjalan bersama dengan Morgan untuk ke luar dari dalam rumah.


Mobil yang membawa Morgan dan Gerald pergi dari rumah itu dengan kecepatan yang sedang.


"Dia bilang kau akan makan malam dengannya besok?" tanya Gerald.


"Hem, ya."


"Kau gila? Kenapa kau mau dengan dia?" tanya Gerald pada Morgan.


"Karena dia unik," jawab Morgan singkat. Gerald hanya menatap Morgan tidak mengerti.

__ADS_1


"Entah apa yang membuatmu mengatakan jika dia wanita yang unik," ujar Gerald. Morgan hanya tersenyum kecil mendengarnya.


__ADS_2