
Morgan tidak bisa pergi jauh, dikarenakan dokter tidak memperbolehkan Lyla bepergian dengan pesawat apa lagi dengan jarak yang jauh. Amerika-Prancis, sudah pasti akan membuat wanita hamil itu kelelahan. Robinson melarangnya pergi demi kesehatan Lyla.
Kini Morgan hanya duduk dengan sebal di ruangan kantornya dan hanya menatap sang ayah yang tadi dihubunginya.
"Sudahlah, Anakku. Mana yang lebih penting? Makanan itu? Atau istri dan anakmu?" tanya Robinson yang memasukkan kembali rokok yang ada di tangannya, hampir saja lupa jika Lyla ada di sana dan dia tengah mengandung.
"Tapi aku ingin makanan itu."
"Aku sudah menghubungi koki ternama dari Prancis dan menyuruhnya datang kemari, kau tinggal menunggu saja dengan sabar, Nak." Robinson menggelengkan kepalanya karena keinginan Morgan yang sangat besar. Padahal, saat Sarah mengandung Morgan dulu, dia tidak mengidam sampai separah ini. Hanya mual muntah biasa dan tidak ingin beranjak dari kasur sehingga kantornya berpindah ke dalam kamar.
"Cih, tidak akan sama rasanya."
"Apa yang tidak akan sama? Hanya suasana saja kan?" tanya Robinson. "Kau bisa pergi, tapi tanpa menantuku. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya."
Morgan juga tahu akan hal itu, andai dokter memberikan izin dia pasti sudah akan ada di dalam pesawat sekarang ini bersama dengan Lyla.
"Sana. Pergilah sendiri. Biar menantuku aku yang akan urus."
Lagi-lagi Morgan berdecak kesal mendengar ucapan sang ayah. "Cih, aku tidak akan meninggalkan istriku. Kau pikir hanya karena makanan itu aku akan meninggalkannya di sini sendiri? Aku bukan pria yang egois sepertimu!"
__ADS_1
Robinson tidak ingin menggubris ucapan putranya. Andai dulu dia egois, pasti akan dia lakukan tanpa harus diperintah. Sayang, Sarah terlalu cinta dengan pria tersebut sehingga memintanya untuk mundur.
"Jangan bahas itu, kau tahu ibumu adalah wanita yang keras kepala!"
Lyla tidak tahu masa lalu ayahnya, tapi mendengar percakapan keduanya barusan, dia sedang menyimpulkan sesuatu.
"Ayah, Morgan, sudah lah. Aku tidak apa-apa. Kenapa kalian jadi berdebat? Apakah kalian tidak memikirkan keberadaanku?" tanya Lyla sambil mengaduk tehnya.
"Maafkan aku, Menantu. Suamimu yang selalu ingin berdebat denganku. Kau didengar sendiri kan dia tadi bagaimana? Dia memang selalu mencari kesalahanku," keluh Robinson.
"Aku tidak mencari kesalahanmu, aku hanya berkata tentang sebuah fakta."
"Astaga. Apakah kalian mau membuat wanita hamil ini stress memikirkan kalian?" geram Lyla, dua orang pria itu terdiam mendengar ucapan Lyla. Takeda yang mendengarnya hanya diam memperhatikan.
Nyonya memang wanita terbaik! batinnya sambil tersenyum tipis sekali. Ikut dengan Robinson hampir sepuluh tahun lamanya, dia baru melihat tuannya tunduk dengan wanita selain Selvi.
"Diam dan makanlah yang ada, Morgan. Kau harus makan. Itu masakanku!" perintah Lyla. Morgan tidak bisa protes lagi, meski perutnya sedang enggan untuk menerima makanan tersebut. Namun, karena Lyla yang memasak, jadi dia harus makan juga. "Tolong habiskan makanan ya, Suamiku. Dan jangan kau muntahkan!" desisnya sambil melotot tajam kepada suaminya.
"Baiklah." Morgan tunduk pada perintah istrinya.
__ADS_1
"Ayah, apa kau juga mau makan? Aku membawa cukup banyak. Takeda juga, ambil ini," ucap Lyla membagikan makanan yang dia bawa ke perusahaan.
"Terima kasih, Nyonya." Takeda menerima makanan tersebut.
"Jangan sungkan. Duduklah di samping ayah, kita makan bersama."
Takeda melirik Robinson segan.
"Duduklah." Robinson memberi perintah, segera Takeda duduk sedikit lebih jauh dari tuannya. Baru kali ini Takeda bersanding dengan tuannya makan siang, selain di sebuah pertemuan penting untuk menemani Robinson.
"Ayo cepat makan, mungkin sudah sedikit dingin karena kita pergi ke rumah sakit tadi."
Empat orang itu makan dengan tenang, sedangkan Takeda makan dengan sangat hati-hati sekali dan terharu karena Lyla juga memperhatikannya dan tak segan menambahkan makanan ke dalam piringnya. Kehangatan sebuah keluarga terasa di sana, dan membuat Takeda iri. Tiga puluh empat tahun melajang, karena hidupnya diserahkan kepada Robinson, tapi melihat kemesraan Morgan dan Robinson yang setiap hari semakin bucin, membuat Takeda kini memikirkan masa depannya juga.
Tadi, Morgan pulang untung menyusul Lyla. Menghubungi Robinson dan Selvi, ternyata Selvi menyuruh Lyla untuk memeriksakan diri terlebih dahulu dan meminta persetujuan dari dokter untuk perjalanan jauh. Dokter melarang, mengingat Lyla sedang mengandung di trisemester pertama dan tidak ingin terjadi hal yang buruk. Apalagi saat Lyla berkata jika pinggangnya sedikit sakit hari ini, efek dari terlalu banyak bermain di atas tubuh suaminya.
"Aku ingin Foie Grass," rengek Morgan saat Lyla permisi ke toilet. Makanan Lyla memang enak, tapi dia sedang memikirkan hati angsa penuh lemak dan enak yang tertata rapi dan cantik di piringnya.
"Sudahlah, Tuan. Makanlah ini. Nyonya pasti akan mengamuk jika kau tidak menghabiskan makanannya," bisik Takeda
__ADS_1
"Benar. Ingat apa kata Mom. Wanita hamil tidak boleh dibuat emosi. Lagi pula, ini enak." Robinson menambahkan. Akan tetapi, pikiran Morgan tetap saja mengingat hati angsa gendut dan penuh lemak itu yang bisa dia makan sambil menikmati makan malam di bawah lampu Menara Eiffel.