
Morgan kembali mengalihkan tatapannya ke arah depan. Dia sudah mulai bosan sekarang ini. Sepertinya dia akan lama berada di sini. Ini jalanan satu arah, kendaraannya tidak bisa lewat, apakah kecelakaan itu sangat parah?
Seseorang melewati mobil Morgan dengan membawa jaket di tangannya, berlumuran darah segar. Morgan menatap jaket tersebut hingga orang itu kemudian menghilang di belakang kendaraannya.
Dia terdiam, menatap kembali ke depan, tapi sedetik kemudian kembali menegok ke belakang saat dia teringat akan sesuatu yang dibawa laki-laki itu.
'Itu ....'
...***...
Di jalanan yang lain, Gerald terus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang pelan, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, berharap jika dia bisa menemukan Lyla di jalanan yang dia lewati. Akan tetapi, dia tidak menemukan wanita itu sama sekali.
Seseorang berjalan di tepi jalanan yang sepi. Gerald segera turun dari dalam mobilnya.
"Permisi, Bu. Apakah kau melihat seorang gadis berjalan di jalanan ini? Tingginya segini, dia memakai baju berwarna hijau, rambutnya sebahu," ucap Gerald mengira-ngira tinggi Lyla yang mungkin hanya sebahunya.
Wanita tua yang sedang menyeret karung berisi botol bekas berhenti melangkah, menarik napasnya yang mulai sesak karena udara dingin.
"Apa Anda melihatnya?" tanya Gerald sekali lagi dengan penuh harap.
"Wanita muda?" Dia tampak berpikir sejenak.
"Iya, aku sedang mencari wanita muda."
Tiba-tiba saja wanita itu menatap Gerald dengan tatapan yang kesal, lantas mengambil botol bekas yang ada di dalam karungnya dan memukul kepala Gerald dengan cukup keras.
"Dasar anak muda tak tahu diri! Kau bertanya seorang gadis padaku? Hei, tidak semua wanita bisa kau rendahkan!" ucap wanita tua itu masih memukuli Gerald beberapa kali dengan menggunakan botol bekas itu. Gerald menghalangi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hei, Bu. Apa yang kau bicarakan? Aww! Berhenti memukuliku!"
"Kau ingin seorang gadis? Aku juga wanita. Hormatilah semua wanita yang ada di muka bumi ini. Kau terlahir dari rahimnya, jangan kau rendahkan wanita hanya untuk pemuas napsumu saja!" ucap wanita tua itu kesal, lalu segera meninggalkan Gerald dengan langkahnya yang tertatih.
__ADS_1
"Dasar anak muda zaman sekarang! Seenaknya saja mencari wanita untuk bersenang-senang," ucap wanita tua yang terkadang pikun itu.
Gerald menatap wanita tua itu yang kini telah berjalan menjauh. Memang pukulan darinya tidak sesakit itu, tapi tetap saja rasanya kesal karena tidak berdaya.
"Untung saja dia hanya wanita tua!" ucap Gerald kesal. Dia kembali ke dalam mobil dan melajukannya meninggalkan jalanan sepi tersebut.
...***...
Dengan cepat Morgan keluar dari dalam mobilnya dan berlari ke arah depan, menyibak beberapa orang yang berkerumun di sana. Tampak darah berceceran di mana-mana dan satu mobil yang ada di sana terbalik. Banyak pecahan kaca di jalanan.
Morgan melihat tangan dan rambut wanita itu dan kembali berlari karena melihat kain perban yang membebat lengannya.
"Hei, berjalanlah hati-hati!" seru seseorang yang baru saja Morgan singkirkan dari sana. Tanpa mengucapkan kata maaf sama sekali laki-laki itu terus berjalan hingga sampai di depan mayat yang masih tergeletak di sana. Beberapa polisi sedang mengolah TKP dan ada seseorang yang mengambil gambar kejadian tersebut.
Morgan berdecak kesal dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa yang aku pikirkan?" ucap laki-laki itu kemudian pergi dari sana. Harusnya dia tidak terlalu khawatir, ada berapa persen kemungkinan jika gadis itu yang tertabrak? Hanya saja, kenapa dia menyangka jika dia adalah gadis gila itu.
"Dasar wanita menyebalkan!" gumam Morgan. Kesal rasanya sudah berlari dan menyibak keramaian ternyata bukan dia yg ada di sana.
"Awas saja kalau aku bertemu lagi denganmu. Kau akan terima akibatnya!"
Mobil melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Karena kejadian tadi, Morgan sampai kehilangan beberapa waktunya yang berharga.
"Huh, seharusnya aku sudah berada di sana," kesal laki-laki itu.
Di lampu merah selanjutnya, mobil terpaksa berhenti membuat Morgan lagi-lagi merasa kesal. Jika harus sering berhenti seperti ini bisa saja dia tidak akan sampai di tempat yang dia mau.
"Sialan! Gara-gara wanita itu aku jadi terlambat!" geram Morgan.
Tanpa sengaja, Morgan memutar kepalanya ke arah lain dan melihat seseorang sedang berjalan dan diikuti oleh sebuah mobil dengan beberapa pemuda di dalamnya. Dia menyipitkan matanya, di antara keremangan lampu jalanan kota.
__ADS_1
Helaan napas kasar dan decakan kesal terdengar dari mulut laki-laki itu. Ingin mengabaikannya, tapi entah kenapa mata dan kakinya tak selaras. Mobil itu melaju dengan kecepatan yang tinggi, berputar arah dan akhirnya mendapatkan teriakan dari klakson mobil yang akan melintas, hampir saja menabrak mobil yang Morgan kendarai jika saja sang sopir tidak segera menekan rem dengan cepat.
"Hei! Kau mau mati, ya!" teriak laki-laki tersebut dengan marah. Morgan mengabaikan teriakan itu dan melaju hingga berhenti di depan mobil silver yang berjalan pelan di samping gadis itu.
...***...
"Hei, My Sweetie. Come on! Ikutlah dengan kami. Kami akan mengantarkanmu pulang ke rumah dengan selamat. Apa kau tidak tahu jika kota pada tengah malam sangat berbahaya? Kami akan memastikan jika tidak ada yang berani mengganggumu," ucap pemuda yang duduk di depan dengan senyuman yang sebenarnya tampak mengerikan untuk Lyla.
"Hei, kau sombong sekali. Apa aku boleh tahu namamu?" tanya yang lain di belakang.
Lyla tidak menjawab, dia lanjut berjalan kali ini dengan cepat meski harus menahan sakit pada pergelangan kakinya.
"Sepertinya adik kecil kita ini sangat ketakutan. Apakah kita bisa berhenti sebentar untuk memberikan perlindungan?" sahut yang lain lagi sambil tertawa.
"Bukan hanya perlindungan, tapi kami juga bisa memberikan kehangatan di malam yang dingin ini."
Tawa terdengar dengan sangat renyah dari mulut para pemuda mabuk itu.
Lyla tidak ingin terpengaruh, dia harus cepat pergi dan menemukan tempat yang ramai untuk berlindung atau menghindar dari orang-orang ini.
"Hei, Gadis. Kenapa kau tidak bicara? Jawab pertanyaan kami. Kau akan pergi kemana? Biarkan kami mengantarmu. Mobil ini masih muat jika menambah satu lagi penumpang. Di atas pangkuanku! Hahaha!" Mereka lagi-lagi tertawa hingga akhirnya tersentak karena sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan mereka.
...****************...
...Siap satu bab lagi?...
......Jempol, jempol, jempol.......
...(menyanyi dengan tepuk tangan)...
...Kalau bisa dan boleh, sih. Like komen, vote, hadiah sekalian....
__ADS_1
...😂...