Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
17. Keinginan Untuk Sembuh


__ADS_3

"Kau tidak ingin seumur hidup tidak bisa menggunakan tangan kirimu, kan?"


Lyla terdiam melihat tangan kirinya yang ada di atas pangkuan.


Benar, aku harus sembuh jika ingin keluar dari sini, batin Lyla.


Dokter tersenyum melihat Lyla yang tampak tengah berpikir. Dia sudah mendengar segala sesuatunya dari Andrew dan juga Selvi atas apa yang terjadi dengan gadis ini. Sungguh miris, tapi semua sudah tidak bisa lagi sama dengan yang dulu. Dia terjebak di dalam situasi dan juga kondisi di mana kebanyakan orang mungkin akan melakukan hal yang sama jika mengalami hal yang mengerikan seperti ini.


"Aku pergi dulu, jika ada sesuatu, kau bisa menghubungiku," ucap dokter cantik tersebut dan meninggalkan kartu namanya di atas meja nakas. Dokter kemudian pergi dari kamar itu.


Lyla menunduk dalam, menatap lengannya yang kini telah berganti dengan perban baru. Luka itu tidak terlalu sakit, tapi hatinya yang kini sangat sakit mengingat seseorang mungkin telah menunggunya di luaran sana.


"Apa yang harus aku katakan pada dia?" gumam Lyla sedih.


Siang telah berganti dengan malam.


Lyla menatap dirinya di cermin. Dia sudah mandi dan membuat tubuhnya terasa segar. Wajahnya masih sembab, tampak sedikit merah pada hidungnya. Dia berpikir dengan apa yang dokter katakan tadi. Benar, dia harus sembuh jika ingin cepat keluar dari tempat ini.


Jika kau tidak memakan obatmu dengan baik, aku bisa pastikan jika kau akan lebih lama tinggal di sini, ucap dokter tersebut yang Lyla dengar tadi saat sebelum keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Lyla mengembuskan napasnya dengan lelah. Dia terlalu malas untuk makan di rumah ini, tapi juga tak mau lebih lama tinggal di sini. Dia juga teringat dengan ucapan Gerald tentang perasaan si pembuat makanan. Maka dari itu, Lyla kini akan turun dan menyapa semua orang yang sudah peduli kepadanya.


Suasana di dalam rumah tampak sibuk dengan beberapa orang yang masih menyelesaikan tugasnya. Begitu juga dengan beberapa orang yang ada di dapur, wangi aroma makanan telah menguar ke seluruh penjuru rumah dan membuat perut seketika meronta meminta di isi. Jujur saja Lyla menikmati aroma ini, membuat perutnya yang lapar semakin lapar.


"Apa akan ada tamu yang datang?" tanya Lian kepada sang ibu. Beberapa orang tengah membantunya membuat adonan mie dan juga masakan lainnya. Suara itu terdengar riang, Lyla melihat gadis kecil sedang bertanya di dapur.


"Tidak ada."


"Lalu kenapa Ibu memasak mie? Tidak biasanya kita bikin mie? Ada yang instan kenapa juga bersusah payah membuat?" tanya Lian lagi matanya mengikuti gerakan sang ibu yang tengah menggiling adonan dengan roller.


Sang ibu menghentikan gerakan tangannya yang sedang memipihkan adonan tersebut. "Kau ini cerewet sekali. Ini untuk Nona Lyla. Dia mungkin saja tidak mau makan karena tidak suka dengan hidangan kita selama ini. Seperti kau, mungkin juga dia suka makan mie," ucap sang ibu lalu meneruskan membuat adonan itu menjadi pipih di atas meja.


"Iya, sih. Tapi kenapa tidak yang instan saja? Lebih mudah, hanya berikan saja beberapa bumbu andalan seperti yang Ibu pernah buat untukku," ucap Lian lagi.


"Hehe, aku tidak mungkin kan akan merepotkan ibu dan juga yang lain jika ingin makan mie? Apa ibu mau membuatkan aku mie setiap kali aku ingin?" tanya Lian dengan berjuta alasan.


"Huh, bilang saja kalau kau malas untuk membuatnya sendiri, kan?" cecar sang ibu. Lagi-lagi Lian tertawa malu mendengarnya. Memang benar, Lian terlalu malas untuk membuat sendiri hidangan tersebut meski dia sudah pandai membuatnya.


Lyla tak tahan tertawa, mendengar interaksi antara gadis kecil itu dengan ibunya. Lucu sekali. Andai dia memiliki ibu, apakah mungkin akan seperti itu juga?

__ADS_1


Tawa kecil terdengar oleh semua pelayan dari pintu yang membuat semua orang di ruangan itu menoleh serentak. Tampak Lyla tengah mengintip dari ambang pintu, menutup mulutnya yang tertawa dengan satu tangan. Semua yang ada di dapur menghentikan pekerjaannya dan menunduk hormat kepada gadis itu.


"Selamat malam, Nona," sapa pelayan, ibu dari Lian mengucapkan salam. Tak lupa dia menyenggol lengan sang putri karena hanya menatap wanita itu dengan senyuman. "Tundukkan kepalamu. Ingat, tamu tuan muda juga harus kita hormati," bisik sang ibu sambil menundukkan paksa kepala sang putri untuk memberi hormat kepada gadis itu.


Lyla jadi tidak enak hati dengan perlakuan semua orang yang ada di sana. Terlalu berlebihan menurutnya.


"Eh, apa yang kalian lakukan? Jangan seperti itu. Berdiri lah yang benar," ucap Lyla sambil melambaikan tangan kanannya di depan tubuh. Dia menampakkan dirinya dan tidak lagi bersembunyi.


Semua orang yang ada di sana saling menatap satu sama lain, sedikit bingung dengan hadirnya wanita ini yang ada di hadapan mereka. Padahal, selama beberapa hari ini dia selalu mengurung dirinya di dalam kamar.


"Apa yang kalian masak?" tanya Lyla malu-malu saat semua sudah menegakkan tubuhnya.


"Oh, kami sedang membuat mie. Apakah Nona mau? Mie buatan Ibuku sangat eenaaaakkk sekali!" seru Lian dengan sangat bersemangat sambil mengacungkan dua jempolnya di depan dada. Sang ibu lagi-lagi menyenggol lengan putrinya dan tersenyum malu.


"Kami hanya sedang membuat mie. Mungkin saja Nona bosan dengan hidangan yang kami berikan setiap hari, mungkin jika kami membuat mie Nona akan makan," ucap ibu dari Lian.


"Ah, kalian tidak perlu repot. Aku tidak memilih makanan, hanya saja beberapa hari ini aku tidak berselera saja," ucap Lyla malu, juga merasa bersalah karena telah membuat yang lain mungkin sibuk memikirkan dirinya selama ini.


"Kami tidak repot, kami juga senang membuatnya. Lagipula, Nona, dengan begini aku juga bisa memakan mie buatan ibuku tanpa takut dimarahi olehnya," ucap Lian, lalu berlari sebelum ibunya menimpuknya dengan roller yang dia pegang. Lian berlari ke belakang tubuh Lyla dan bersembunyi. Lyla tersenyum kecil melihat betapa lucunya ibu dan anak ini. Mereka sangat akrab sekali.

__ADS_1


"Nona, tunggu lah sebentar lagi. Kami akan segera menyelesaikannya dengan cepat," ucap wanita itu lalu menunjuk ke arah ruangan lain untuk Lyla menunggu.


Lyla menunduk malu, memainkan ujung pakaiannya. "Bolehkah aku menunggu di sini? Aku ingin melihat prosesnya," ucap Lyla malu-malu.


__ADS_2