
Tidak lama Lyla kembali ke tempat di mana Morgan sedang menunggu. Wanita itu tampak sangat berhati-hati sekali membawa nampan di tangannya dengan nampan pada bagian tangan kiri dia tempatkan di atas lengan. Morgan mengira tangan Lyla pasti sakit membawanya. Dengan cepat dia berdiri dan mendekati Lyla, mengambil alih nampan itu.
“Terima kasih,” ucap Lyla kemudian mengikuti langkah kaki Morgan ke meja mereka tadi.
Martin melihat makanan yang ada di hadapannya, dia terdiam karena tidak terbiasa makan yang seperti itu.
“Makanan apa ini?” tanya Morgan dengan kening yang mengkerut.
“Tentu saja seperti apa yang kau lihat. Apa kau tidak pernah melihat makanan ini sebelumnya? Bahkan banyak orang sudah tahu,” ucap Lyla seraya memindahkan piring untuk Morgan dan juga untuk dirinya.
“Aku tidak pernah makan yang seperti ini,” ucap laki-laki itu membuat Lyla terperangah.
“Serius kau tidak pernah memakannya? Ini makanan favorit kebanyakan orang.”
“Benarkah? Aku tidak tahu,” ucap Morgan.
“Kau itu terlalu sibuk atau terlalu pemilih dalam makanan, yang seperti ini saja tidak tahu. Jangan-jangan kau juga tidak tahu kalau di luar sana banyak makanan yang enak-enak meski harganya sangat murah,” ucap Lyla kemudian mengambil makanannya dan memasukkannya ke dalam mulut. Morgan masih diam memikirkan ucapan dari wanita itu. Memang benar jika dirinya jarang sekali makan di luar jika tidak di restoran ternama.
“Ayo cepatlah makan, bukankah tempat ini akan ditutup sebentar lagi?”
Morgan menatap Lyla yang makan dengan lahap, sepertinya wanita itu memang benar kelaparan. Akhirnya setelah menimbang beberapa saat dia mengambil makanan itu juga. Pada suapan pertama dia serasa enggan mengunyah, lalu pada suapan berikutnya dia mulai menikmatinya hingga menghabiskannya lebih cepat daripada wanita itu.
Tanpa sengaja Lyla bersendawa karena gas yang tersedak ke atas, dia menutup mulutnya. “Uups!” Lyla melirik ke sekelilingnya dengan malu, takut jika suaranya tadi terdengar oleh orang lain.
“Kau tidak sopan sekali!” gumam Morgan pelan seraya membersihkan mulutnya dengan tisu.
“Hehe, aku tidak bisa menahannya. Itu sesuatu yang sangat nikmat jika bisa kau keluarkan dengan baik, jangan kau tahan karena rasanya tidak enak,” ucap Lyla malu. Morgan memutar bola matanya malas.
“Kau sudah selesai makan?” tanya Lyla saat melihat piring Morgan sudah bersih tidak bersisa, bahkan sausnya pun sudah tidak ada.
“Aku tidak biasa makan dengan waktu yang lama,” jawab Morgan.
Lyla menyelidik laki-laki itu dengan memiringkan kepalanya dan tersenyum.
“Apa yang kau lihat?”
“Kau hanya beralasan saja.”
“Alasan apa?”
“Kenapa tidak bilang saja kalau makanan ini enak?”
“Lebih enak masakan koki di rumah,” ucap Morgan menyangkal.
“Jangan samakan dia dengan koki di tempat ini. Mereka tidak bersekolah untuk menjadi koki, mereka hanya bekerja dan memperhatikan saja,” ucap Lyla gemas. Akan tetapi, dia sadar jika selama ini Morgan tidak pernah menyebutkan makanan yang dimakannya ‘enak’. Dia tidak pernah mendengarnya. Tiba-tiba saja Lyla teringat akan sesuatu, tapi dia merasa yakin jika di dalam hatinya Morgan menyukai makanan ini.
“Tuan, aku ingin meminta maaf soal waktu itu,” ucap Lyla membuat pandangan Morgan kini tertuju kepadanya.
“Waktu kapan?”
Lyla menjadi malu dan menundukkan kepala. “Waktu aku membuatkanmu makan siang. Aku merasa sebal waktu itu dan sengaja memberikan garam yang banyak pada nasi goreng yang aku buat. Maafkan aku,” ucap Lyla menyesal, apalagi setelah dia tahu jika Morgan bukanlah laki-laki yang jahat meski dia sendiri tidak tahu dengan pasti apa alasan laki-laki itu menculiknya.
__ADS_1
Morgan menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar membuat Lyla menundukkan kepalanya semakin dalam. “Aku sudah melupakannya.”
“Hah? Kau tidak marah lagi?” tanya Lyla menatap Morgan.
“Tentu saja aku marah.”
“Apakah sekarang kau masih marah? Aku meminta maaf untuk itu. Kau boleh menghukumku,” ucap Lyla pasrah.
Lagi-lagi Morgan menghela nafasnya dan melihat wajah Lyla yang benar-benar menyesal. “Baiklah. Tentu saja aku akan menghukummu mulai besok.”
Lyla mengkerut di tempatnya, memainkan jari jemarinya memikirkan hukuman apa yang akan Morgan berikan kepadanya. Jangan sampai jika dia harus membersihkan kamar mandi dengan menggunakan sikat gigi, atau membersihkan kaca dengan cotton bud.
“Selama kau belajar di universitas, aku ingin kau mendapatkan nilai yang baik untukku. Itu hukumanmu.” Lyla mengangkat kepalanya tidak percaya dengan apa yang Morgan ucapkan. Dia tidak menyangka jika Morgan laki-laki yang sebaik itu.
“Tapi ….” Morgan menjeda ucapannya membuat Lyla menurunkan lengkungan senyumnya.
“Jika kau tidak bisa mendapatkannya, kau harus Mengembalikan semua biaya yang sudah aku keluarkan dengan menjadi tukang cuci di rumah sampai semua itu lunas,” ucap Morgan dengan telunjuk yang terarah pada wajah Lyla. Lyla lesu mendengar hal itu, dia sadar kepintarannya pas-pasan jika menghadapi pelajaran. Butuh usaha keras untuk mendapatkan nilai yang baik, itu sebabnya dia juga mundur dari kuliahnya waktu itu.
“Bagaimana?” tanya Morgan saat melihat Lyla hanya diam saja.
“Aku … aku tidak pintar dalam pelajaran.” Lyla kini menjadi ragu.
“Kau bisa kalau berusaha.”
Lyla masih terdiam, memikirkan jika dia memang harus sangat berusaha keras untuk itu.
“Kau boleh menemuiku jika tidak mengerti dengan pelajaranmu,” ucap Morgan. Lyla kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum senang. Pemikirannya tentang laki-laki ini ternyata memang salah, Morgan adalah laki-laki yang sangat baik.
“Baiklah. Aku akan berusaha keras untuk itu. Semoga saja aku bisa melewatinya,” ucap Lyla dengan bersemangat.
“Tentu saja kau harus bisa. Ingat saja hukumanmu, kau tidak boleh keluar dari rumahku jika hutangmu itu belum lunas,” ucap Morgan yang kembali membuat semangat Lyla luntur.
“Ah, aku belum kuliah tapi kau sudah membuatku tertekan.”
“Ayo kita pulang,” ucap Morgan kemudian bangkit dari duduknya.
Lyla teringat sesuatu dan memberikan sisa kembalian uang kepada Morgan.
“Ini uang kembalian makanan ini.”
Morgan batal berdiri dan kembali duduk melihat uang yang Lyla sodorkan di atas meja. Terlihat bingung laki-laki itu karena biasanya jika ada wanita yang mengambil uangnya, maka tidak akan kembali lagi barang satu sen pun.
“Kenapa kau mengembalikannya?” tanya Morgan bingung.
“Itu uangmu. Tentu saja harus dikembalikan.” Lyla juga merasa bingung dengan Morgan yang kini terdiam.
“Kenapa Anda hanya diam saja? Apakah Anda tidak mau menerima uang itu lagi? Apakah tanganku kotor sudah memegangnya?” ucap Lyla sedikit kecewa.
“Tidak.” Morgan mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam saku pakaian. “Selama ini tidak ada wanita yang memberikan uang kembalian meski dia membeli dengan uangku,” jelas Morgan.
Lyla tertawa kecil mendengarnya. “Aku bukan mereka. Aku tidak pernah mengambil apa yang bukan milikku, kecuali memang orang itu telah memberikannya kepadaku,” jawab Lyla kemudian mengambil tasnya dan berdiri.
__ADS_1
“Ayo kita pulang, Tuan. Aku harus sudah mulai membuat planning untuk masa depanku.”
Mereka turun ke lantai bawah dengan menggunakan eskalator. Saat melewati sebuah toko, Morgan mendapat Lyla yang berjalan dengan cukup pelan. Dia merasa sebal karena lagi-lagi harus menunggu wanita itu, ingin berbicara tapi mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara karena tatapan Lyla tertuju pada sesuatu yang ada di sana. Morgan kemudian mendekat dan bertanya kepada Lyla. "Apa yang kau lihat?" tanya Morgan membuat Lyla terkejut.
"Eh, aku tidak melihat apa-apa." Lyla menggelengkan kepalanya dengan cepat. Morgan melihat sebuah tas berwarna merah yang ada di depan mereka.
"Ayo kita masuk," ucapnya kemudian menarik tangan Lyla masuk ke dalam toko tersebut.
"Eh, Tuan. Kita mau apa ke sini?" Lyla terkejut dan bertanya, tapi Morgan tidak menjawabnya. Dia membawa Lyla ke arah benda yang tadi bila lihat tanpa berkedip. Morgan mengambil paper bag yang ada di tangan Lyla dan memberikan tas merah tersebut kepadanya, melihat wanita itu dan menggerakkan kepalanya miring ke kanan dan ke kiri seakan tengah berpikir.
"Eh apa ini?"
"Apa kau mau tas ini?" tanya Morgan. Lyla dengan cepat mengembalikan tas itu ke tempat semula.
"Tidak, Tuan, aku hanya melihatnya saja. Tidak menginginkannya," ucap Lyla. Dia ingin, tapi nanti saja dia akan mengumpulkan uang untuk membelinya.
"Kenapa kau tidak menginginkannya?"
"Karena aku sudah mendapatkan yang aku butuhkan," ucap Lyla sambil menunjuk ke tas yang Morgan bawa.
Morgan menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dia kembali mengambil tas merah itu dan memperhatikan bentuk serta detailnya. Tiba-tiba saja pas itu terjatuh.
"Ups!" ucap Morgan. Lyla terkejut melihatnya dan panik kemudian mengambil tas itu dengan cepat dari lantai.
"Tuan, apa yang kau lakukan? Untung saja tidak ada pelayan yang melihat," ucap Lyla sambil menolehkan kepala ke arah sekitar, dengan pakaian di ujung tangannya dia membersihkan tas itu dari debu tipis yang menempel.
"Hah, untung saja tas ini tidak rusak. kita bisa dimarahi," ucap Lyla khawatir kemudian hendak mengembalikan tas itu ke tempat semula, tapi Morgan merebutnya membuat dia terkejut.
"Sepertinya tas itu sudah rusak. Aku tidak bisa membuat orang lain rugi," ujar Morgan kemudian membawa tas itu ke arah kasir. Lyla berdecak kesal, padahal tidak ada yang melihat dan mereka bisa keluar dari toko itu dengan selamat.
Morgan kembali berjalan ke arah Lyla dan memberikan tas itu kepadanya.
"Ini untukmu saja. Aku tidak memakai tas wanita. Lagi pula jika ada di kamarku juga hanya akan menjadi pajangan saja," ucap Morgan kemudian pergi meninggalkan Lyla keluar dari toko itu.
"Tuan, tunggu!" Lyla berlari ke arah luar menyusul Morgan dan mengimbangi langkahnya.
"Ada apa?" tanya Morgan.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah membelikanku tas ini." Morgan mengalihkan tatapannya kepada Lyla.
"Aku tidak membelikanmu. Aku hanya bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan," ucap Morgan dingin lalu kembali mengalihkan tatapannya ke arah depan dan berjalan dengan cepat. Dadanya berdebar ketika melihat wajah Lyla yang tersenyum dan berseri.
Sial ada apa denganku ini? padahal aku juga sering membelikan wanita lain barang-barang.
Morgan juga berhenti di sebuah tempat yang menjual topi. Dia mengambilnya secara random dan membayarnya. Lyla juga berhenti dan hanya melihat-lihat di sana, tidak dia sangka jika Morgan datang dan memasangkan topi itu di kepalanya. Tentu saja hal tersebut membuat Lyla lagi-lagi terkejut. Laki-laki ini tidak bisa ditebak.
"Pakai topi itu, kepalamu bisa membeku di udara yang dingin."
...********************...
...Hayooo, siapa lagi yang mau dibucinin sama Babang Morgan?...
__ADS_1
...🤭...