Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
90. Pesan Jeff


__ADS_3

Lyla tidak terima Morgan berkata seperti itu, gemuk tidak cocok untuknya. Wajah bulat akan membuatnya aneh di cermin.


Morgan membayar makanan yang dia ambil dan menyerahkan kantong plastik tersebut pada Lyla.


"Bawa ini!" ucap Morgan yang disambut Lyla dengan tangkapannya, hampir saja kantong plastik itu terjatuh ke lantai.


"Ayo!" Morgan berjalan lebih dulu meninggalkan Lyla.


"Makanlah sebelum kita sampai ke sana," ucap Morgan saat setelah keduanya telah masuk ke dalam mobil. Lyla segera menikmati makanan yang ada di pangkuannya dengan perlahan, juga menikmati susu putih yang Morgan pilihkan untuknya.


"Apa kau mau?" tanya Lyla menawarkan.


"Tidak."


"Tapi aku tidak nyaman makan sendirian," ucap Lyla tidak enak hati.


"Kalau begitu suapi aku."


"Heh?"


"Aku sedang menyetir, butuh konsentrasi tinggi. Jadi, jika kau suruh aku untuk makan, kau harus suapi aku," ucap Morgan.


Lyla berdecak dengan kesal, tapi dia lakukan juga apa yang Morgan katakan barusan. "Baiklah. Kau manja sekali!" ucap Lyla kemudian membuka satu potong roti yang lain.


"Aku mau roti yang kau makan," ucap Morgan membuat Lyla terperangah dan rasanya tak percaya.


"Tapi ...."


"Sepertinya enak, tadi aku hanya ambil satu setiap varian kan?" tanya Morgan.


"Ya."


"Suapi aku!" ucap Morgan lagi. Lyla tidak bisa menolak, dia menyobek rotinya bagian lain dan memberikannya pada Morgan.


"Hem, enak sekali," ucap Morgan seraya mengunyah makanannya.


"Seenak itu?" Kening Lyla mengerut, padahal yang dia rasakan roti tersebut biasa saja menurutnya.


"Hem, enak. Apa lidahmu mati rasa? Ini sangat enak sekali," ucap Morgan.

__ADS_1


Lyla merasa heran, dia memakan roti itu lagi, tapi apa yang dia rasakan adalah sama, tidak mungkin dia salah karena memang tidak terlalu enak. Ada yang lebih enak dari roti yang ada di tangannya.


Dia yang lidahnya mati rasa, gumam Lyla.


Perjalanan mereka berakhir dengan tiga bungkus roti. Nyatanya lebih banyak yang Morgan habiskan daripada Lyla. Laki-laki itu selalu ingin makan lagi dan lagi dengan makanan yang ada di tangan Lyla.


"Terima kasih, Tuan. Sudah mengantarku ke sini," ucap Lyla seraya membuka seatbelt di depan tubuhnya.


"Ini." Morgan menyodorkan beberapa lembar uang untuk Lyla.


"Eh, apa ini?" tanya Lyla bingung.


"Uang jajan. Untuk membeli makan siang nanti."


Lyla menatap Morgan, dia segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak perlu, Tuan. Kau tidak perlu memberikan uang untukku. Aku ada roti yang bisa aku makan untuk siang nanti," tolak Lyla. Akan tetapi, Morgan mengambil tangan Lyla dan menyimpan uang tersebut di telapak tangan wanita itu.


"Ambil ini dan pakailah. Aku tidak mau citraku sebagai kakakmu buruk di mata yang lainnya," ucap Morgan.


Lyla tersenyum dan mengangguk.


"Kenapa kau hanya mengambil satu lembar?" tanya Morgan bingung.


"Karena aku rasa, aku cukup dengan hanya uang satu lembar ini."


"Kau tidak akan cukup," ucap Morgan.


"Jika tidak cukup, besok aku akan mengambil dua lembar," ucap Lyla sambil tersenyum. Morgan lagi-lagi tertegun menatap Lyla, kemudian tersenyum sangat tipis sekali.


"Syukurlah jika begitu, aku tidak akan cepat kehabisan uang jika kau irit," ujar Morgan kembali memasukkan uang tersebut ke dalam sakunya.


"Hah, kau itu CEO, apa mungkin kau akan kehabisan uang dengan hanya memberikan uang jajan untukku."


"Lalu kenapa kau mengambil hanya sedikit?" tanya Morgan.


"Karena aku mengambil apa yang aku butuhkan, bukan aku inginkan. Terima kasih, Tuan. Aku akan masuk ke dalam. Kau berhati-hatilah di jalan. Dan jangan lupa untuk makan siang," ucap Lyla.


Morgan tersenyum dan membalas lambaian tangan Lyla yang kini ada di luar mobil. Segera dia melajukan mobilnya pergi dari sana.

__ADS_1


Lyla mulai melangkah dengan kepala tertunduk, menghindari tatapan banyak orang melihat ke arahnya. Rasanya sedikit aneh baginya yang tidak pernah berada di lingkungan dengan banyak orang.


"Angkat kepalamu. Sebagai adik dari Tuan Muda Castanov kau tidak boleh menundukkan pandangan dari orang lain," ujar seseorang mengiringi langkah kaki Lyla.


Lyla segera mengangkat pandangannya dan menemukan Jeff ada di sampingnya.n berjalan dan menatap lurus ke depan.


"Jeff."


"Jik akau menundukkan pandanganmu, maka jangan salahkan jika suatu saat ada yang membully-mu," ucap Jeff lagi kemudian berjalan dengan lebih cepat meninggalkan Lyla.


Lyla terpaku dengan ucapan Jeff, dia kira laki-laki itu akan berbuat jahat padanya, tapi ternyata tidak.


"Lyla!" teriak Markian mendekat pada Lyla. Dia baru saja datang dan segera berlari saat melihat Jeff bersama dengan Lyla.


"Markian."


"Tadi Jeff bersama denganmu? Apa yang dia lakukan? Dia tidak membuat ulah kan?" tanya Markian.


"Tidak. Dia tidak berbuat apa-apa, hanya berjalan melewatiku saja."


"Kau tidak bohong, kan?" tanya Markian memastikan.


"Iya, dia hanya melewatiku saja," ucap Lyla.


"Syukurlah, aku takut jika dia berulah dan mengganggumu."


Lyla tersenyum kecil, mereka berjalan menuju ke kelas.


Di luar area universitas, sebuah mobil masih berada di sana bersama Angel, Sarah, dan Eve.


"Terima kasih, Kakak. Lain kali aku akan merepotkanmu lagi!" ucap Angel keluar dari dalam mobil diikuti oleh yang lainnya dan melangkah masuk bersamaan.


Wanita itu masih belum mengemudikan mobilnya, dia menatap punggung Lyla dari kejauhan.


"Siapa wanita yang bersama dengan Morgan?" gumamnya pelan.


Suara dering telepon terdengar dengan sangat jelas, dia melihat nama di layar ponselnya dan segera mengangkat panggilan tersebut.


"Haruskah sekarang?" tanya wanita itu.

__ADS_1


"Iya, baik lah. Aku akan pergi sekarang juga," ucapnya kemudian dia menyalakan mobil dan pergi dari sana.


__ADS_2