
Sampai di perusahaan, Morgan keluar dari dalam lift sambil bersiul-siul dan melangkahkan kakinya dengan ringan menuju ke arah ruangannya. Sekretaris sampai terheran melihat Morgan yang seperti itu, tidak biasanya sang atasan melakukan hal yang dulu pernah dia bilang konyol. KONYOL!
"Selamat pagi, Tuan. Apa kabar Anda hari ini?"
"Aku baik. Dan bagaimana kabarmu, Nona?" tanya Morgan yang membuat sekretaris itu menjatuhkan rahangnya ke bawah.
"Saya baik," jawab wanita itu dengan terbata.
"Semoga harimu menyenangkan, Nona," ucap Morgan, kemudian membuka pintu ruangannya dan masuk ke dalam sana. Sementara sekretaris tersebut masih terdiam bak patung melihat hal aneh yang terjadi pada diri Morgan.
"Sepertinya dia kerasukan sesuatu lagi," ucap wanita itu.
Gerald keluar dari ruangannya sambil membawa berkas-berkas yang akan dia simpan di ruangan Morgan
"Tuan Morgan telah sampai," lapor sekretaris kepada saat laki-laki itu akan membuka pintu ruangan Morgan.
"Oh, ya. Terima kasih," ucapnya kemudian masuk ke dalam.
Di dalam sana Gerald menemukan jika Morgan kini tengah berdiri menatap ke arah luar di depan jendela. Laki-laki itu tersenyum dengan lebar dan menanggalkan jasnya di atas sandaran kursi. Hal yang sangat jarang sekali Morgan lakukan karena dia itu tipikal laki-laki yang sangat suka dengan kerapihan. Akan tetapi, hari ini yang Gerald lihat, dia tampak lebih santai dengan menggulung lengan jasnya hingga hampir ke siku.
"Aku kira kau akan datang siang nanti," ucap Gerald sambil menyimpan berkas yang dia bawa di atas meja.
"Bagaimana pesta semalam? Apakah menyenangkan? Aku menyesal karena tidak bisa datang ke sana," ucap Gerald.
"Ya, cukup menyenangkan," jawab Morgan singkat.
"Aku akan kembali ke ruanganku. Jangan lupa setelah makan siang nanti kita harus pergi untuk bertemu dengan Tuan Gilbert."
"Hem, ya. Tentu saja."
Gerald hendak berbalik untuk pergi.
"Bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Morgan menghentikan langkah kaki sepupunya itu.
Gerald batal melangkah dan kembali memutar tubuhnya menghadap Morgan.
"Ada apa?"
Morgan kini berbalik dan duduk di kursi kebesarannya. Duduk seraya menyilangkan kakinya di atas kaki yang lain dan menautkan jari-jemarinya di atas pangkuan.
"Kau tahu jika Renee sudah kembali, kan?" ujar Morgan.
Gerald tidak menyangka akhirnya tiba juga saat Morgan menanyakan ini.
"Iya, aku tahu."
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" ujar Morgan dengan nada yang dingin.
Gerald menghela napasnya sedikit berat sehingga Morgan bisa mendengarnya dengan jelas.
"Apa kau ingin memilikinya lagi sehingga kau tidak mengatakan tentang kedatangannya?" ujar Morgan.
"Tidak. Tentu saja tidak seperti itu. Untuk apa aku menginginkan wanita yang jelas saja memilihmu." Gerald terdengar sendu.
"Lalu? Kau tahu kan aku mencarinya sejak sangat lama?"
"Ya."
"Dan kau menyembunyikan fakta itu?"
"Aku punya alasannya," kilah Gerald.
"Apa?" tanya Morgan.
Lagi-lagi Gerald menghela napasnya dan mencoba untuk mengendalikan situasi di dalam hatinya. Gerald sedikit ragu, apakah Morgan akan terima jika Renee adalah salah satu orang yang ada di daftar atas meninggalnya adiknya itu?
"Katakan!" desak Morgan.
Gerald akhirnya mengambil ponselnya di dalam saku pakaian dan menyerahkannya kepada Morgan. Tak lama terdengar percakapan antara Renee dengan seseorang yang Morgan sangat hapal sekali dengan suara itu. Suara Marcel!
Morgan diam dan mendengarkan percakapan mereka dengan seksama, tampak dari wajah laki-laki itu rahangnya mengeras dengan kilatan mata yang marah. Hingga hampir sepuluh menit dia mendengarkan dialog tersebut dan akhirnya percakapan mereka telah selesai.
"Ini adalah percakapan terakhir mereka," ucap Gerald seraya menyimpan ponsel tersebut ke dalam saku pakaiannya kembali.
"Jika kau berpikir aku akan kembali kepadanya, terserah kau saja. Yang jelas, yang aku lakukan padamu untuk kebaikanmu selama ini, Morgan."
Gerald menatap sepupunya, tapi sepertinya Morgan tidak akan bereaksi apa-apa. Dia hanya diam sambil menggigit ujung ibu jarinya.
"Aku akan ada di dalam ruanganku jika kau mencari," ucap Gerald, kemudian benar-benar pergi dari ruangan tersebut.
Sepeninggal Gerald, Morgan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap langit-langit kamarnya. Seketika kepalanya sangat pusing sekali dengan percakapan yang tadi dia dengarkan antara Renee dan adiknya.
"Kenapa mereka tega sekali melakukan itu?" gumam Morgan dengan lirih. Dia benar-benar tidak tahu jika ternyata dua orang itu telah mengkhianatinya.
Morgan menatap jam yang ada di tangannya, dia kemudian mengambil jasnya dan keluar dari ruangannya.
"Tuan, Anda mau kemana? Sebentar lagi akan ada rapat jajaran direksi," ucap sekretaris cepat saat melihat Morgan yang keluar dari ruangan tersebut.
Morgan tidak menjawab, dia hanya melirik sekilas pada sekretarisnya dan mengancingkan jasnya sambil berjalan menuju ke arah lift.
"Astaga. Apa yang harus aku lakukan?" gumam wanita itu setelah melihat Morgan menghilang di balik pintu lift. Gegas dia pergi ke ruangan Gerald untuk membicarakan ini.
"Morgan pergi?" tanya Gerald.
"Iya, Tuan. Aku sudah berbicara dengan dia, tapi Tuan Muda tidak mendengarkanku dan pergi begitu saja," ucap wanita tersebut tampak bingung. Dia bisa saja menjadi sasaran kemarahan para direktur jika sampai rapat ini dibatalkan.
"Tidak apa-apa. Kembali saja ke ruanganmu. Biar aku yang akan mengatasi ini," ucap Gerald.
"Baik!" Wanita itu kemudian pergi dari sana sambil bergumam kesal terhadap sikap Morgan yang arogan dan seenaknya seperti itu. Untung saja masih ada Gerald yang membantunya, bagaimana dia akan menghadapi yang lainnya jika tidak ada laki-laki itu?
***
Morgan mengendarai kendaraannya dengan kecepatan yang cukup tinggi hingga dia tak butuh waktu lama untuk sampai di depan universitas. Keadaan di sana sangat ramai, banyak pelajar yang masih berlalu lalang keluar masuk ke dalam sana.
Morgan menunggu dengan sabar di depan sana, padahal dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya di sini sementara Lyla pastinya sedang ada di dalam kelasnya.
Ponsel Morgan mainkan di ujung jarinya, dia putar-putarkan beberapa saat lamanya. Ragu, tapi dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia hanya ingin ada seseorang yang bisa menemaninya, meski hanya duduk saja di sampingnya.
Tiba-tiba saja, suara ketukan dari luar jendela mobil terdengar dengan sangat jelas diketuk oleh seseorang. Morgan mengalihkan tatapannya dan tiba-tiba saja senyumnya mengembang dengan sempurna. Gegas Morgan membuka kunci mobilnya dan membiarkan Lyla masuk ke dalam sana.
__ADS_1
"Sedang apa kau di sini, Tuan?" tanya Lyla setelah duduk di samping Morgan.
"Kau yang sedang apa di sini?" Kenapa tidak belajar di kelasmu" tanya Morgan kepada Lyla.
"Aku sedang tidak ada kelas, Tuan Mayer tidak hadir. Rencananya aku akan pulang, tapi aku melihat mobilmu di sini. Jadi, apa yang kau lakukan?" tanya Lyla sekali lagi kepada Morgan.
"Bukankah tadi sudah aku bilang aku akan menjemputmu untuk makan siang dan di sinilah aku sekarang," kilah Morgan.
"Di jam sekarang ini? Ini masih jam sepuluh pagi," ujar Lyla seraya melihat jam yang ada di ponselnya.
Morgan tersenyum meringis. "Ya, memangnya kenapa jika aku datang di jam sepuluh pagi? Tidak ada orang yang melarangku untuk menjemputmu makan siang di jam seperti ini bukan?" ujar Morgan salah tingkah, tidak mungkin dia akan mengatakan jika dia merasa marah tadi dan sekarang ini ingin ditemani seseorang.
"Memang tidak ada yang melarang, tapi kau ini aneh, Tuan," ucap Lyla dengan tidak peduli akan perkataannya itu.
"Apa nanti kau tidak ada kelas lagi?" tanya Morgan, Lyla menggelengkan kepalanya.
"Jadwalku hari ini hanya satu kelas dan aku rasa tidak akan ada kelas lain hari ini selain Tuan Mayer. Aku pikir juga tidak ada penggantinya, rencanaku memang hari ini akan pulang saja ke rumah," ucap Lyla panjang lebar, Morgan tersenyum senang.
"Apa kau sudah lapar?"
"Kau yakin akan membawaku makan siang di jam seperti ini? Aku rasa, aku tidak akan bisa menghabiskan makananku banyak-banyak, karena perutku masih terasa penuh," ujar Lyla. Morgan sedikit kecewa karena itu.
"Kalau begitu bagaimana jika kita pergi dulu. Kita em ... jalan-jalan sebentar," ucap Morgan. Lyla terdiam dan mungkin itu bukan ide yang buruk juga. Dia juga butuh bersenang-senang di tengah aktivitasnya yang lumayan membuat sakit kepala. Pelajaran yang diberikan oleh dosen pembimbingnya cukup membuatnya pusing selama beberapa hari ini.
"Oke aku akan ikuti ucapanmu, memangnya kau akan membawaku ke mana?" tanya Lyla dengan senang.
"Entahlah, aku masih belum memikirkannya. Mungkin kau yang mempunyai ide kemana kau ingin pergi?" tanya Morgan juga merasa bingung. Ini benar-benar hal yang tidak direncanakan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Kau tahu sendiri kan, aku tidak pernah main ke mana-mana. Bahkan aku juga sudah lama sekali tidak menonton film."
Morgan tersenyum senang mungkin menonton film bukanlah ide yang buruk juga. " Bagaimana jika sekarang ini kita menonton film saja? Apakah ada film yang ingin kau tonton di bioskop?" tanya Morgan sambil mengerutkan keningnya, mencoba untuk mengingat-ingat film apa saja yang ada di bioskop. Akan tetapi, dia yang sangat sibuk dengan pekerjaannya mana tahu film yang sedang diputar di sana. Dia hanya sekilas melihat dari internet dan juga mendengar orang-orang menyebutkan sebuah judul yang katanya menarik.
"Kau bertanya padaku, lalu aku bertanya pada siapa? Kau tahu sendiri aku tidak pernah melihat yang seperti itu. Kehidupanku sekarang hanya belajar dan juga diam di rumahmu, aku mana tahu film apa yang sedang diputar di dalam bioskop, Tuan!" tegas Lyla.
"Coba kau lihat di internet, mungkin ada satu film yang seru yang bisa kita lihat."
Lyla menuruti apa kata Morgan. Dia mencari-cari di internet tentang film-film yang kini sedang ramai di pasaran, sementara Morgan melajukan mobilnya meninggalkan universitas. Dia bahkan tidak peduli jika Lyla memiliki kelas sekalipun, yang terpenting dia merasa senang hari ini karena ada seseorang yang menemaninya.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Morgan.
"Ya, aku sudah menemukan beberapa yang akan diputarkan di bioskop, tapi film yang diputar kebanyakan romance dan hanya satu film tentang perang di masa depan. Kau mau menonton film yang mana?" tanya Lyla.
"Terserah kau saja."
Lyla mengernyitkan keningnya. Dia merasa bingung dengan laki-laki ini. "Kenapa kau hanya pasrah saja?" tanya Lyla ingin tahu.
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin menghabiskan waktu agar tidak bosan saja sampai makan siang nanti. Jika kau tidak mau menonton film, ya sudah. Kita cari tempat lain saja." Morgan mulai merasa kesal dengan Lyla, tidak punya pendirian sama sekali.
"Ah tidak, aku pikir nonton film juga baik untuk menghabiskan waktu sampai makan siang nanti. Ayo kita pergi ke sana," ujar Lyla.
Morgan kemudian melajukan mobil tersebut ke tempat yang tadi Lyla sebutkan.
"Tuan, apa kau yakin akan mengenakan pakaian itu masuk ke dalam sana?" tanya Lila menunjuk pakaian Morgan.
Morgan tertegun sebentar. "Memangnya ada apa dengan pakaianku? Apa salah memakai pakaian seperti ini?"
"Sebenarnya tidak juga, tapi aku rasa bukankah citramu akan tidak baik jika kau memakai jas kantoran seperti itu ke dalam mall? Apalagi menonton film, bagaimana jika ada orang lain yang mengenalimu? Kau bukannya bekerja malah di sini menonton film denganku," ucap Lyla yang membuat Morgan mengganggukan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh wanita itu.
Morgan kemudian membuka jasnya dan kembali menggulung kemeja yang dia pakai hingga ke hingga hampir sampai ke siku. Dia juga melepaskan dasinya membuka kancing di bagian atas serta mengacak-ngacak rambutnya. Kaca spion yang ada di bagian depan dia geserkan, melihat dirinya di kaca tersebut dan kembali mengacak rambut itu serta menatanya sedemikian rupa.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Morgan kepada Lyla yang sedari tadi hanya melongo saja. Dia tidak mengira jika Morgan akan melakukan hal itu. Dia mengira Morgan akan mengganti pakaiannya dengan baju yang lain, tapi ternyata tidak.
"Aku pikir kau akan mengganti bajumu," ucap Lyla.
"Aku tidak membawa baju ganti," jawab Morgan.
"Apakah seperti ini menurutmu masih terlalu formal untuk pergi ke bioskop?" tanya Morgan sekali lagi. Lyla menggelengkan kepalanya.
"Aku pikir tidak. Banyak juga anak muda yang seperti ini," ujar Lyla.
Morgan mencebikan bibirnya.
Kenapa harus disamakan dengan anak muda lainnya? jelas-jelas dia sudah tidak muda lagi, tapi dia sudah matang.
"Sebentar, aku mencari masker dulu," ucap Morgan. Dia membuka bagian yang ada di dashboardnya dan mencari masker yang dia ingat pernah dia simpan di dalam sana. Akan tetapi, dia tidak menemukannya.
"Aku tidak bisa menemukannya," ucap Morgan.
Lyla kemudian mengeluarkan masker yang dia miliki di dalam tasnya. "Pakai ini saja, tapi maaf. Masker milikku tidak sebagus milikmu. Mungkin," ucap Lyla.
Tanpa banyak berpikir lagi dan tanpa banyak bicara Morgan mengambil masker tersebut dan memakainya. Lyla menatap kagum pada laki-laki tersebut. Dengan mata yang sedikit sipit membuat pria itu seperti laki-laki Korea yang pernah dia lihat di dalam ponselnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Morgan seraya membenarkan rambutnya yang menjuntai menutupi mata.
"Kau mirip seperti Oppa Korea."
Morgan menatap Lyla tak suka.
"Cih, kau menyamakanku dengan orang-orang itu? Kenapa kau tidak menyebutku seperti artis Hollywood saja?" ujar Morgan tidak suka.
"Kau tidak pantas seperti artis-artis Hollywood, Tuan. Matamu kecil, lebih sipit, dan kau tidak cocok jika disamakan dengan artis Hollywood." Lyla tertawa cukup keras membuat Morgan menjadi sedikit jengkel.
"Ayo, turunlah,” ajak Morgan
Dia dan Lyla kemudian masuk ke dalam mall itu dan langsung menuju ke lantai atas.
Morgan melihat film-film yang dipajang di sana. Tidak ada yang membuatnya tertarik sama sekali. Jadi, dia hanya menunggu Lyla yang akan memilih film yang akan mereka tonton.
"Apa yang akan kau lihat?" tanya Morgan.
"Aku tidak tahu terserah padamu saja."
"Kenapa terserah padaku?" Morgan mengerutkan keningnya. Jika biasanya wanita yang suka memilih-milih, kenapa Lyla ingin dia yang memilihkannya?
"Karena kau yang mengajakku pergi ke sini," ucap wanita itu, kemudian duduk di deretan bangku yang ada di sana.
"Kenapa kau malah duduk? Pergilah untuk membeli tiket dan juga cemilan," titah Morgan.
Lyla menatap laki-laki itu dengan aneh.
__ADS_1
"Apa kau tidak salah bicara, Tuan? Aku yang harus memesankan tiket? Yang benar saja. Lihat orang lain, para laki-laki yang memesankan tiket untuk wanita dan kami menunggu mereka di sini." Tunjuk Lyla di depan kasir dan juga ke arah orang-orang yang sama menunggu seperti dirinya duduk di sana.
"Jadi kau menyuruhku untuk mengantri di sana?" tanya Morgan enggan. Masih ada sekitar lima orang yang berdiri di depan kasir untuk mendapatkan giliran.
"Ya, tentu saja."
"Kenapa tidak wanita saja? Bukankah sekarang ini laki-laki dan wanita itu sudah setara?" ujar Morgan yang membuat Lyla menjadi sedikit kesal.
"Ya, memang benar wanita kini setara dengan laki-laki, tapi kau tahu kan dengan harga diri laki-laki? Mereka melakukan itu karena merasa harga diri mereka tinggi, mereka tidak mau dianggap rendah oleh pasangannya jadi mereka yang melakukan itu semua," ucap Lyla.
"Hei, kau ingatkan kau adalah kekasihku. Kau bilang aku adalah kekasihmu, bukan? Ayolah, Sayang. Kau tidak akan membiarkan aku untuk mengantri di sana dengan yang lainnya, kan? Kau tidak akan tega membiarkan aku berdiri di sana dan menunggu yang lain selesai bukan? Hem?" Lyla menggerakkan matanya berkedip-kedip beberapa kali.
Morgan mengembuskan nafasnya mendengar ucapan dari wanita ini. Keterlaluan memang.
Dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya, mengingat jika dia menonton bersama dengan yang lain Gerald akan mengurusi semua yang dia perlukan termasuk tiket dan segala macam yang dia butuhkan. Bahkan, baru kali ini dia pergi tanpa pengawal atau tanpa sepupunya itu.
"Baiklah, aku akan mengantri membeli tiket," ujar Morgan setelah melihat yang lain melirik ke arah mereka.
"Jangan lupa untuk membeli cemilannya juga. Kau tidak mau kan merasa bosan di dalam sana?"
Morgan menatap malas Lyla, seharusnya memang tadi dia tidak pergi ke sini mengingat jika dia harus seperti orang lain yang mengantri tiket dan juga mengantri untuk membeli popcorn.
"Ayolah. Ayolah. Ayolah! Aku mohon. Aku sering mengantuk di dalam bioskop. Jadi, aku membutuhkan cemilan dan juga minuman," ucap Lyla merengek seperti anak kecil.
"Oke, baiklah. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan kau tunggu di sini dan jangan pergi kemana-mana," ucapnya, kemudian Lyla menganggukan kepalanya dengan bersemangat dan tersenyum senang. Akhirnya setelah beberapa saat lamanya dia belajar dan belajar hari ini dia akan menikmati siangnya dengan menonton bioskop. Beruntung sekali hari ini Tuan Mayer tidak datang sehingga dia bisa bersama dengan Morgan.
Saat menunggu suara dering telepon terdengar dengan sangat jelas menghubunginya. Lyla melirik ke arah Morganyang masih berada di sana. Jangan sampai laki-laki itu tahu jika Gerald menghubungi nomornya. Dia mematikan panggilan dari Gerald kemudian mengubah ponselnya menjadi silent.
Lyla bergegeas mendekat ke arah Morgan.
"Tuan, aku sudah tidak tahan. Aku ingin ke toilet sekarang. Kau bisa kan memesannya sendiri? Kau bisa kan mengurusnya sendiri? Aku sangat-sangat tidak tahan," ucap Lyla.
Morgan hendak berkata jika dia tidak mengerti dengan cara memesan semua ini, tapi saat dia akan bertanya Lyla sudah berlari menjauh ke toilet.
"Apa yang ingin anda pesan, Tuan?" tanya kasir tersebut.
Morgan tidak tahu apa yang harus dia tonton sehingga dia menunjuk sebuah film dengan random. Dia lupa tidak bertanya dulu kepada Lyla tadi apa yang ingin mereka tonton.
Petugas kasir tersenyum melihat dan menganggukkan kepalanya. Tampak wanita itu tersenyum malu-malu saat melihat Morgan dan penasaran akan wajah laki-laki yang tertutup dengan masker tersebut.
"Baiklah. Kursi mana yang ingin Anda pesan?"
"Terserah kau saja. Tolong. Berikan kursi mana yang paling nyaman untuk kami," pinta Morgan asal.
Wanita tersebut mengangguk dan memberikan tempat yang terbaik untuk laki-laki itu. Dia berpikir jika mungkin Morgan dan Lyla ingin bermesra-mesraan di dalam sana sehingga dia menunjukkan kursi yang paling belakang, di mana orang lain tidak akan banyak memperhatikan mereka berdua.
Morgan sempat mengerutkan keningnya bingung. "Kau yakin di kursi paling belakang?" tanya Morgan kepada wanita itu.
"Ya, ini tempat yang banyak orang inginkan. Ini tempat favorit anak-anak muda yang akan membuat mereka semakin dekat dan juga mesra," bisik wanita itu seraya mencondongkan tubuhnya ke arah depan.
"Oke aku akan mengambil untuk dua tiket."
"Baiklah. Dua tiket untuk Tuan siapa?" tanya wanita tersebut.
"Morgan ... Lee. Namaku Morgan Lee," ucap Morgan. Dia tidak mungkin menyebutkan nama Castanov pada wanita itu.
Sementara itu di dalam toilet Lyla sedang duduk di atas toilet yang tertutup dan berbisik menjawab telepon dari Gerald.
"Dia ada bersama denganku sekarang. Kau tidak perlu khawatir, Tuan. Kami hanya sedang menonton di bioskop," jawab Lyla, terdengar suara decak kesal dari laki-laki itu.
"Astaga! Baiklah, jangan lupa jika kalian sudah selesai suruh dia untuk segera kembali ke kantor. Bisa-bisanya di saat seperti ini kalian menonton film," ucap Gerald.
Lyla tertawa kecil, dia bisa membayangkan wajah Gerald yang mungkin sedang marah di sana.
"Ya sudah, aku akan kembali bekerja. Ingatkan dia dengan pekerjaannya yang menggunung," ucap Gerald.
"Hem. Ya, aku akan selalu mengingatkan dia, Tuan."
Gerald mematikan panggilan teleponnya dan kembali mengerjakan tugas yang seharusnya Morgan kerjakan.
"Awas saja kalau sampai nanti siang kau tidak kembali, aku akan hancurkan meja kerjamu!" ancam laki-laki itu kesal.
Selesai dengan pembicaraannya dengan Gerald, Lyla kemudian keluar dari toilet dan mencuci tangannya di wastafel.
"Apa dia sedang ada masalah, ya?" gumam Lyla sambil menatap wajahnya di cermin. Dia merapikan sedikit rambutnya yang berantakan, kemudian keluar dari toilet dan menemui Morgan
Morgan duduk di tempat Lyla tadi dengan memangku dua bungkus popcorn ukuran besar dan juga minuman cola berukuran paling besar di sampingnya. Lila sampai membuka mulutnya melihat ukuran besar dari makanan yang dibawa Morgan.
"Untuk siapa semua makanan dan minuman ini?" tanya Lyla kepada Morgan.
"Tentu saja untuk kita berdua."
Lyla sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal. Laki-laki ini seperti yang tidak pernah membeli popcorn saja.
"Ini terlalu banyak, Tuan. Aku pikir satu saja cukup untuk kita berdua," ucap Lyla.
Ya, bagaimana tidak. Meskipun itu hanya popcorn saja, tapi jika dengan bungkusan yang besar hanya untuk dirinya sendiri dia yakin perutnya akan penuh seketika.
"Apa aku salah memesannya?" tanya laki-laki itu.
Lyla menggelengkan kepala. "Tidak salah."
Dia kemudian duduk dan mendekat pada Morgan. "Apa penjualnya yang menyuruhmu membeli ukuran besar seperti ini?" tanyanya sambil berbisik.
"Ya, kau benar. Dia mengatakan jika lebih baik dengan ukuran yang besar agar pasanganmu bahagia. Itu yang dia katakan."
Lyla menepuk keningnya. "Astaga kau sedang dibohongi oleh mereka," ucap Lyla
"Apa maksudnya?" tanya Morgan.
"Itu adalah cara marketing mereka agar kau membeli dengan ukuran yang besar. Kau tahu ini sangat mahal. Coba kau lihat orang-orang yang ada di sana mereka memesannya dengan ukuran yang sedang," tunjuk Lyla kepada salah satu pasangan yang duduk tidak jauh dari mereka.
Morgan juga ikut menatapnya dan merasa kesal karena telah dibohongi. Dia hendak berdiri. Akan tetapi, Lyla menahan tangannya. "Eh, kau mau ke mana?"
"Aku akan protes dengan petugas yang menjual popcorn," ucap laki-laki itu. Lyla tentu saja tidak akan membiarkan Morgan melakukan itu karena dia pasti akan merasa malu juga.
"Sudahlah jangan lakukan itu Tuan. Yang sudah biarlah berlalu. Aku hanya ingin mengatakannya saja kepadamu, jika lain kali kau datang bersama dengan pacarmu yang sesungguhnya, kau harus tahu apa yang harus kau lakukan," ujar Lyla.
Morgan benar-benar payah dalam hal ini.
__ADS_1
Sebenarnya dia laki-laki atau bukan sih? Apakah dia tidak pernah pergi berdua bersama pacarnya menonton ke bioskop? pikir Lyla.