Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
209


__ADS_3

Langit masih sangat gelap di luar, udara masih dingin membuat orang enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Akan tetapi, aktivitas yang sangat sibuk sudah terlihat di dapur mansion kediaman Morgan dan Lyla. Para pelayan tengah sibuk mempersiapkan makanan yang Morgan minta.


"Cepat potong semua bahan ini!" Perintah chef kepada bawahannya.


"Baik."


Chef memberi perintah lain, sementara tangannya sedang sibuk untuk mengaduk kuah kari yang ada di dalam panci. Jam tiga dini hari, dia dibangunkan oleh Morgan dan memintanya memasak kari daging. Morgan tidak bisa tidur karena semalam dia bersama sang istri telah menonton sebuah vlog kuliner dari sebuah negara. Makanan yang mungkin tampak tidak higienis di pandang mata karena diolah dengan menggunakan tangan kosong baik makanan biasa atau kuah. Akan tetapi, Morgan malah ingin mencicipi makanan tersebut.


Sementara chef dan asisten tengah sibuk, Morgan sedang bergelung di pelukan istrinya di dalam selimut yang hangat. Dia sedang bermanja-manja dengan kepala yang dielus lembut oleh Lyla.


"Sayang, kau keterlaluan sekali. Ini masih malam dan kau telah membuat mereka sangat sibuk," ucap Lyla masih mengelus rambut tebal suaminya.


"Biarkan saja. Mereka aku bayar untuk melakukan tugasnya."


Morgan tidak peduli lagi apa yang Lyla ucapkan, dia lebih senang memeluk pinggang Lyla dan menciumi perut rata sang istri.


"Kau harus memberi bonus untuk itu," celetuk Lyla, mengingat bagaimana mereka sangat sibuk sehingga suaranya terdengar sampah ke kamar.


"Hemm. Tentu saja. Jika rasanya tidak mengecewakan, aku akan memberi mereka hari libur."


Lyla tidak lagi berbicara, masih sibuk mengelus dan memandangi wajah suaminya dari samping. Hingga tibalah pintu kamar diketuk dari luar beberapa kali.


"Mungkin itu chef. Aku akan lihat," ucap Lyla. Morgan membiarkan istrinya bangun, kemudian dia menyusulnya di belakang.


"Nyonya, Tuan. Makanan telah selesai." Lapor chef sambil menunduk beberapa derajat.


"Baiklah, kami akan keluar."


Morgan dan Lyla pergi ke ruang makan dan melihat beberapa hidangan tersedia di atas meja makan yang besar. Aroma wangi khas kari tercium di hidung Morgan dan membuat perutnya keroncongan.


"Sepertinya ini enak," cetus Lyla. Seorang kepala pelayan maju dan membalikkan piring, kemudian melayani keduanya. Chef dan para pelayan yang bertugas memasak menahan napasnya di belakang kursi Morgan. Mereka sedang cemas menunggu kata-kata Morgan. Seringkali Morgan berkata kecewa dengan mereka, padahal sebelumnya tidak ada masalah dengan masakan yang mereka buat.


Perasaan di dalam hatinya takut, pasalnya beberapa saat yang lalu, Morgan melemparkan piringnya pada koki karena masakan yang dia buat tidak sesuai dengan keinginannya, sehingga Morgan marah-marah. Hanya Lyla yang bisa membuat pria itu luluh dan membawanya ke dalam kamar.


"Ini enak, Morgan. Cobalah. Aku suka," ucap Lyla setelah mencicip makanan tersebut tanpa nasi. Ini terlalu pagi untuk sarapan sehingga dia hanya mencicip kuah dan sedikit daging yang ada di sana.


Morgan menghirup aromanya, memang wangi. Akan tetapi, saat baru memasukkan suapan pertama perut Morgan serasa diaduk dari dalam.


Huekk!


Morgan menutup mulutnya yang ingin muntah, tenggorokannya tidak enak, perutnya juga tidak nyaman.

__ADS_1


Para pelayan sampai memandang satu sama lain, takut jika tuannya ini marah seperti hari kemarin.


Tiba-tiba saja, Morgan mendorong kasar piringnya ke depan.


"Makanan apa ini?" tanya Morgan masih menutupi mulutnya.


Koki maju satu langkah. "Seperti yang Anda minta, Tuan."


Morgan kesal mendengarnya, yang dia inginkan persis seperti yang ada di vlog itu. Mereka bisa menikmati makanannya, kenapa dia tidak?


"Yang aku minta? Ini tidak sama. Makanlah!" titah Morgan. Chef ragu, tapi setelah melihat tatapan tajam tuannya itu, dia mengambil sendok di laci dan kembali untuk mencicipinya.


"Katakan rasanya!"


"Ini ...." Chef sendiri ragu, kata-kata apa yang akan dia ucapkan, sementara tatapan tuan muda ini seakan ingin membunuhnya. "Maaf, ini salahku." Hanya itu yang bisa dia katakan, daripada membuat tuan mudanya ini semakin murka, lebih baik dia mengalah. Nasib bawahan.


"Kau bilang kau adalah chef terbaik di negara ini? Lalu apa yang kau buat? Makanan ini tidak layak untuk dimakan!" bentak Morgan marah. Semalaman menunggu, tapi dia tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.


Chef dan beberapa pelayan menunduk semakin dalam. Tidak berani mengangkat pandangannya.


"Sayang. Apa maksudmu? Makanan ini enak. Aku saja memakannya," ucap Lyla. Namun, hal itu tidak bisa membuat amarah di dalam hati Morgan mereda. Semenjak istrinya hamil, Morgan menjadi sangat sensitif sekali.


Mereka tidak berani membantah maupun membela diri, Morgan atau Robinson adalah dua orang yang mirip, sama-sama tidak ada toleransi. Mereka hanya menunduk saat Morgan melanjutkan amarahnya.


Lyla merasa pusing mendengar Morgan berteriak di pagi buta. Telinganya mendadak sakit karena suara keras itu. Moodnya tiba-tiba saja turun melihat suaminya akhir-akhir ini tidak bisa menahan marah.


Lyla berdiri, menarik tangan Morgan yang menunjuk-nunjuk pada chef. Chef dan pelayan lain hanya menunduk, hanya berharap keajaiban akan datang untuk meredakan amarah orang ini. Jangan sampai pistol mengenai kepala mereka seperti yang terjadi kepada seorang pelayan seminggu yang lalu. Hanya karena menyinggung nama istrinya yang hanya orang biasa, Morgan sampai berani menembak kepala pelayan itu di tempat. Sayang, sang nyonya tidak ada di sana untuk menyaksikan keganasan suaminya itu.


"Sayang. Ayo kita ke kamar, jika kau tidak mau lanjut makan." Lyla tidak ingin menunggu penolakan Morgan, menarik lengan lelaki itu untuk kembali ke kamarnya. Chef dan pelayan menghela napas lega saat melihat istrinya menarik suaminya yang sedang diliputi amarah.


"Sayang, aku belum selesai." Morgan menolak, tapi kakinya tidak kuasa untuk melawan.


"Sudah selesai, Tuan. Amarahmu harus diredakan!" Lyla menjadi emosi, tapi tetap menjaga nada suaranya agar sang suami tidak turun harga diri di depan bawahannya.


Para pelayan menatap dua orang itu hingga masuk ke dalam kamarnya


"Apakah kami akan dipecat?" tanya chef kepada kepala pelayan cemas, sedangkan pelayan yang lain memburu makanan yang telah mereka buat.


"Apa yang salah dengan ini? Ini enak," celetuk salah seorang setelah mencicipi kuah kari yang chef buat.


"Ingat, Tuan Muda sedang menghadapi masa sulit. Jadi, aku berharap kalian membantunya untuk melewati masa sulit ini. Mengenai kejadian ini, aku akan membantu agar kalian bisa bertahan di rumah ini. Paham?" ujar kepala pelayan kemudian pergi dari sana.

__ADS_1


Semua orang masih belum bisa menghela napasnya lega. Ini belum berakhir dan mereka tidak tahu bagaimana kabar selanjutnya nanti.


...***...


Lyla mengunci pintu kamar dan membuat Morgan tidak terima, dia masih mengomel karena kemarahannya masih belum tersalurkan kepada para pelayan itu.


"Sayang, kenapa kau menarikku ke sini? Aku masih belum selesai!" Morgan masih marah. Akan tetapi, Lyla tidak ingin mendengarkan dan menatap kesal suaminya.


"Kau sangat ribut sekali, Morgan. Aku benci itu."


Lyla menarik Morgan dan mendorongnya hingga terjatuh ke atas ranjang. Kimono yang melekat ditubuhnya ditarik talinya, kini Lyla tengah membukanya lebar sehingga Morgan menelan salivanya saat melihat isi yang ada di dalam sana. Semua hal yang dilihat adalah hal yang disukainya.


"Kau tidak menikmati makanan itu?" Lyla melepaskan kimono dan melemparnya asal ke lantai. Kakinya perlahan naik dan merangkak di atas tubuh suaminya. Tali kimono milik Morgan juga dia tarik, roti sobek yang terlihat dia sedap dengan bibirnya yang tipis. Tak lupa, dengan hal lain yang dia mainkan sehingga Morgan melenguh antara nikmat dan resah.


Dua bola dimainkan di telapak tangannya, sementara lidah Lyla menelusuri perut itu dan bermain di sekeliling pusar.


"Ah, Honey ...." Morgan sudah melupakan kemarahannya tadi. Bagaimana dia akan lanjut marah jika suhu panas tubuhnya telah disiram dengan ciuman yang membabi buta di bawah sana. Hingga pucuk miliknya juga dimanjakan oleh lidah sang istri.


"Sshhh. Ahh ...." Lenguhan itu tidak bisa dia tahan, lidah itu menusuk lubang miliknya seakan ingin masuk lebih dalam lagi.


"Oughh, f*ck me, Babe!" Morgan tidak tahan lagi, matanya terpejam dan terbuka bergantian merasakan kenikmatan itu.


Lyla tersenyum bak iblis, melihat sang suami yang keenakan. Senyum devil-nya semakin lebar tatkala melihat tubuh Morgan melengkung ke atas, tangannya menyentuh rambut Lyla dan memaju mundurkan kepalanya.


"Tolong, cepat selesaikan!" pinta Morgan. Akan tetapi, Lyla masih ingin mempermainkan pria itu dan masih melakukan aktifitas kesukaannya.


"Babe. My Cherry, come on." Mohonnya.


"Katakan kau menyesal, Morgan." Gerakan tangan Lyla tidak berhenti, bergerak naik dan turun di batang keras suaminya, sedangkan lidahnya memutari topi batang itu.


"Yeah, aku menyesal." Morgan tidak tahan.


Sudah cukup mendengar kata menyesal dari Morgan, maka dari itu Lyla berhenti dan naik ke atas tubuh suaminya.


"Kau nakal!" ucap Morgan dengan napas yang menderu kencang.


"Kau yang membuatku nakal, Sayang."


Lyla memegang bagian tubuh yang berurat di bawah sana, kemudian perlahan menuntunnya ke jalan yang benar.


"Ahh!" Morgan menutup matanya dengan mulut yang terbuka. Kenikmatan yang selalu dia rindukan kini dia dapatkan lagi dari istrinya. Padahal mereka telah melakukannya dua kali malam tadi.

__ADS_1


__ADS_2