
Makan malam telah selesai, Alex mengajak Lyla dan Morgan ke ruang pesta. Sebuah ruangan yang cukup luas dengan interior yang mengagumkan untuk Lyla. Alex duduk di sofa dengan satu botol anggur mahal di meja di hadapannya. Sementara Lyla sedang menatap foto berukuran besar yang ada di sana.
"Apakah ini orang tuaku?" tanya Lyla menatap foto yang terpajang di dinding ruangan itu. Baru kali ini dia menemukan foto yang besar dan ada dua orang berdiri di sana dengan sang wanita sedang memegang perutnya yang buncit.
"Iya, dia adalah ibumu."
Morgan juga melihat foto tersebut dan dia kini tahu jika ternyata kecantikan yang Lyla miliki menurun dari ibunya.
"Kau beruntung memiliki wajah yang mirip dengan ibumu," ucap Morgan.
"Iya, aku juga merasa jika aku beruntung sekarang."
Lyla tersenyum seraya menatap foto yang terpajang tersebut. Ternyata dia memiliki wajah yang mirip dengan ibunya, hanya saja bibirnya yang mirip dengan ayahnya.
"Uncle, apakah kau bisa membawaku ke pada mereka? Apakah kau sudah mencari tahu di mana mereka? Atau, kau akan membawaku menemui keluarga yang lain?" tanya Lyla penuh harap.
Alex menarik napasnya dan hal tersebut diartikan lain oleh Lyla. Sepertinya ada hal lain yang Alex pikirkan sekarang ini.
"Aku tidak tahu, Laura. Apakah kau akan kuat menghadapi mereka? Aku tidak rela jika ada sesuatu yang akan membuatmu sakit hati."
Lyla menundukkan kepalanya. "Apakah memang seburuk itu kehadiranku di dunia ini?" gumam Lyla, terdengar jelas di telinga Morgan dan Alex. Morgan mendekat dan mengusap pundak Lyla lembut.
"Tidak, kau tidak seburuk itu. Justru aku sangat berterima kasih kepada mereka karena melahirkanmu. Karena kau telah membuat hidupku yang membosankan kini menjadi penuh warna."
Lyla hanya tersenyum mendengar ucapan Morgan, hatinya menjadi hangat.
__ADS_1
"Aku akan kuat jika bertemu mereka. Kau tahu, Uncle. Aku terlatih untuk menjadi kuat, dan aku sudah membuktikannya semenjak aku masih bayi, kan?" ujar Lyla.
Alex bangga mendengar penuturan keponakannya.
"Iya, tapi jika kau ingin bertemu dengan mereka, aku juga butuh waktu untuk merealisasikannya. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu, Laura."
Lyla mengangguk. "Terserah padamu, Uncle. Aku percayakan semuanya kepadamu," ujar Lyla.
"Sekarang kau pergilah ke kamar. Masih ada yang ingin aku bicarakan dengan laki-laki ini. Paman Will, bawa Laura ke kamar," titah Alex. Paman Will yang menunggu sedari tadi di sudut ruangan segera mendekat dan mengajak Lyla untuk mengikutinya ke lantai atas.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Morgan setelah menyesap minumannya.
"Kau sudah mendapatkannya?"
"Kau pencuri ulung, Kawan."
"Hah, kau sudah membuat kekasihku dalam bahaya. Paman macam apa kau ini."
"Pergilah. Keponakanku tidak akan bisa tidur di tempat asing. Tapi ingat untuk tidak melampaui batasanmu!"
"Semua terserah pada keponakanmu. Jika dia yang melampaui batas, apakah aku bisa menolak?" Morgan terkekeh kecil, puas melihat wajah kesal sang paman.
"Kau-- jangan kurang ajar dengan keponakanku!"
Alex tidak bisa menghentikan langkah Morgan karena laki-laki itu sudah pergi dan menyusul Lyla ke kamarnya.
__ADS_1
"Ah, sialan! Seharusnya aku tidak menyuruhnya untuk pergi ke kamar yang sama.," decak kesal Alex.
Morgan tidak akan menunggu diperintahkan dua kali oleh laki-laki licik itu.
Ya, bagaimana tidak licik jika dia juga menggunakan keponakannya untuk memancing seseorang keluar. Nyatanya bukan hanya pria tua itu saja, tapi Morgan juga sudah mengurus yang lainnya demi keselamatan Lyla.
"Morgan?" Lyla terkejut ketika pintu terbuka dan terlihat Morgan yang baru saja menutup pintu, pasalnya Lyla baru saja mengenakan pakaian tidur saat Morgan masuk. "Sedang apa kau di sini?" Lyla takut jika Alex akan marah andai tahu Morgan ada di dalam sini.
"Aku diperintahkan oleh pamanmu untuk menemanimu di sini."
"Apa?"
Morgan terkekeh dan segera mendekat serta memeluk Lyla erat.
"Eh, apa yang kau lakukan?"
Morgan tidak menjawab dengan kata-kata, tapi menjawab dengan aksi bibirnya. Sebuah lum4tan lembut dan hangat serta manis membuat Lyla terkejut.
Beberapa detik kemudian, Lyla bisa menguasai dirinya dan mengimbangi ciuman Morgan.
"Aku merindukanmu, Honey." Tatap mata Morgan ke dalam mata Lyla.
"Aku juga merindukanmu."
Morgan kembali *****4* bibir Lyla dan mendorong tubuh Lyla ke kasur.
__ADS_1