Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
138


__ADS_3

Udara sangat dingin di malam ini sehingga Lyla mengeratkan jaket tebalnya di depan dada. Langit malam sedikit gelap, hanya terlihat cahaya temaram berasal dari bulan yang sedikit tertutup awan hitam. Suasana di luar sangat tenang, daun dari ranting pohon melambai-lambai seiring dengan pergerakan angin yang berembus pelan.


Lyla tak bisa tidur sama sekali di malam ini, memikirkan si dia yang ada di tempat yang jauh. Setelah urusannya dengan Alex selesai, dia berjanji akan kembali kepada Morgan baik Selvi setuju atau tidak. Kerinduan terhadap laki-laki itu tidak bisa dia tampung sama sekali.


Mengenai keluarganya, entahlah, Lyla tak berharap banyak sekarang ini. Beberapa bulan dia sudah mencari mereka, tapi keberadaan keluarganya belum ditemukan juga.


"Fuhhh!" Helaan napas terdengar dengan sangat jelas di bawah hidung Lyla. Selain dingin, dia juga ingin agar rasa sesak yang selama ini ada di dalam dirinya ikut terbuang dengan hawa panas yang keluar dari tubuhnya.


Lyla memutuskan untuk pergi ke dapur, mungkin jika setelah meminum coklat panas dia akan bisa tidur dengan nyenyak. Membayangkan besok dirinya akan pergi menikmati suasana desa membuat Lyla ingin segera tidur secepat mungkin.


"Anda perlu sesuatu, Nona?" tanya seorang maid yang mengurus rumah ini.


Lyla tak menyangka di dapur masih ada asisten tersebut.


"Oh, anu ... aku rasa aku akan bisa tidur jika minum coklat panas. Apa kau punya minuman coklat?" tanya Lyla pada wanita berusia setengah abad tersebut.


"Ya, tentu saja. Kami punya serbuk coklat yang sangat lezat di sini. Tunggulah sebentar, aku akan buatkan," ucap wanita itu. Lyla menganggukkan kepalanya, tak sengaja dia melihat ke arah luar dan melihat seseorang di halaman dengan api unggun di depannya.


"Apa itu Tuan Alex?" tanya Lyla menyingkirkan tirai di jendela.


"Ya, itu Tuan Alex."

__ADS_1


Lyla tidak lagi bertanya, dia memutuskan untuk menemui Alex sebelum minumannya jadi.


Langkah kakinya perlahan menuruni anak tangga satu persatu sehingga dia berhenti tepat di samping laki-laki tampan itu.


"Kau belum tidur?" tanya Alex membuat Lyla yang akan berbicara mengatupkan mulutnya lagi. Dia juga ingin bertanya hal yang sama pada pria itu.


"Aku tidak bisa tidur, mungkin karena ini adalah tempat yang asing bagiku," ujar Lyla.


Alex memainkan ranting yang dia pegang, mengatur kayu bakar hingga apinya semakin besar dan membuat hangat suasana yang ada di sana.


"Aam, Tuan. Bisakah aku bertanya sesuatu?" tanya Lyla lagi.


"Kapan aku bisa pergi darimu? Aku juga ingin bebas," ucap Lyla yang kini ditatap seketika oleh Alex.


Alex tertawa kecil dan melemparkan ranting kayu yang dia pegang hingga masuk ke dalam api.


"Kau ingin bebas?"


Lyla menatap mata Alex yang menatapnya dengan sorot mengerikan. Akan tetapi, dia tidak akan takut sama sekali dengannya. Tak salah kan menanyakan hal itu?


"Iya, tentu saja aku ingin bebas. Memangnya kau ingin aku ada di sini sampai aku mati?" tanya Lyla.

__ADS_1


"Ya, jika kau memang menginginkannya aku dengan senang hati akan bersanding di samping makammu jika aku mati," ujar laki-laki itu membuat Lyla berdecak dengan kesal.


"Astaga! Entah apa kesalahanku di masa lalu yang membuat aku ditawan dua kali dalam hidupku. Eh, aku pikir tiga kali dengan saat ini," ujar wanita itu mengenang keadaan hidupnya yang amat sangat menyedihkan.


"Tiga kali?" tanya Alex menatap Lyla bingung.


"Hem, tiga kali. Waktu pertama teman di panti asuhan yang menculikku dan meninggalkanku di gudang yang dingin, itu kejadian lama saat aku masih kecil. Dan kedua kali ...." Lyla terdiam, mengingat hidup dirinya yang sangat menyedihkan. Tiba-tiba saja dia bangun dari samping Alex.


"Kenapa tidak melanjutkan ceritamu?" tanya Alex.


"Aku ingat, aku sedang menunggu minuman panasku."


Lyla memilih kembali ke dalam rumah daripada mengingat kejadian masa lalu yang membuatnya sakit hati, tapi juga sangat indah.


"Hei," panggil Alex saat Lyla membuka pintu rumah. "Kau ingin cepat pergi dariku, kan? Aku akan mengantarmu pergi pada kekasihmu jika kau sudah melakukan apa inginku," ujar laki-laki itu membuat senyum terbit di bibir Lyla. Akan tetapi, senyum yang dia lihat dari wanita itu adalah senyum penuh kesedihan.


"Ya, lakukan saja apa yang kau mau. Bukankah sekarang ini aku tidak punya pilihan?" gumam Lyla kemudian masuk ke dalam rumah.


Alex tertegun melihat kepergian wanita itu.


"Laura, andai kau tau ...."

__ADS_1


__ADS_2