Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
212


__ADS_3

Koki ternama asal Prancis telah datang setelah mengudara selama kurang lebih hampir sebelas jam lamanya pada tengah malam. Robinson telah mengatur tempat yang baik untuk sang koki yang ternyata adalah sahabat Robinson sendiri.


"Kau harus membayar mahal untuk ini, Robinson!" geram pria itu yang berjalan sambil menyeret koper miliknya sendiri. Koper yang tidak boleh dibawa oleh orang lain berisi barang keramat miliknya. Sebenarnya hanya alat masak kesayangannya dan beberapa benda lain.


"Tidak masalah, kau seperti tidak tahu aku saja, Bung."


"Apakah istrimu sedang mengidam? Kau bisa mencari orang lain, tapi kenapa harus aku? Aku sedang sibuk dan akan menyambut kedatangan ratu dan raja Inggris dua hari lagi. gara-gara kau, aku meninggalkan persiapan itu." Kesal Loris Moreau, seorang koki senior ternama yang sudah terkenal di seantero Prancis.


"Bukankah kau tidak perlu khawatir? Aku tahu jika kau memiliki anak buah yang sangat baik dan kompeten. Jadi, diamlah di sini sampai besok. Putraku yang sedang mengandung dan kau yang harus memberikan yang terbaik untuknya.


Loris tertawa mendesis dan merasa kesal sekali. "Cih, jadi benar yang aku dengar, ternyata kau sudah mendapatkan putramu lagi? Selamat! Hanya saja kenapa aku juga yang repot, aku tidak ikut membuat bayi dengannya," ujar Loris lagi.


Robinson tidak berbicara, tangannya sibuk membukakan pintu yang lebar untuk Loris masuk ke dalam kamarnya yang mewah.


"Ayolah, Sahabatku. Kapan lagi kau berkesempatan untuk bertemu secara langsung dengan putraku dan mendapatkan kehormatan ini. Dia bukan orang yang mudah untuk didekati. Lagipula, jika anaknya lahir bukankah dia juga akan jadi cucumu?"


Loris melemparkan topinya ke atas kasur. Menatap sinis sahabatnya. "Kau selalu saja tidak bisa aku bantahkan. Jadi, bagaimana putramu? Apakah dia tampan? Pasti mirip Sarah."


"Oh, tentu saja dia mirip aku. Hanya saja memang keras kepalanya yang mirip Sarah."


"Hah, kau lebih keras kepala dari wanita itu. Maaf, aku tidak bisa pergi ke pernikahanmu waktu itu." Sesal Loris.


"Tidak apa-apa, Kawan. Aku tahu kau adalah pria yang sangat sibuk sekali, aku paham jika kaku tidak bisa datang ke pernikahanku. Lagipula, itu adalah pernikahan dadakan, kau juga pasti banyak schedule yang harus dikerjakan."


"Hem, ya. Robinson, apa kau bisa membantuku?" tanya Loris kepada Robinson.


"Hem, apa yang bisa aku bantu. Aku pasti akan membantumu, Kawan."


Loris sedikit ragu untuk mengatakannya, tapi dia hanya ingin mendengar pendapat Robinson.


"Aku sedang menyukai seseorang. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Loris malu.


Robinson tertawa sangat keras sehingga ingin sekali Loris menghajarnya.


"Tentu saja kau harus mendekatinya dan katakan saja jika kau suka dengannya."


Loris mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Masalahnya, aku tidak pernah berbicara dengan dia."


"Tidak pernah berbicara? Oh, ayolah. Kau ini laki-laki, seharusnya kau bisa lebih berani lagi mengatakan perasaanmu kepadanya."

__ADS_1


"Maka dari itu, tolong bantu aku." Loris, di usianya yang hampir enam puluh tahun baru merasakan jatuh cinta kepada seorang wanita muda berusia tiga puluh tahunan yang sering berkunjung di restorannya. Dia tidak percaya diri untuk berbicara dengan wanita yang jelas usianya setengah hidupnya.


"Aku akan membantumu. Tapi kau juga harus membantuku untuk membuat Foie Grass untuk Morgan."


"Baiklah. Aku setuju!"


***


Loris menggunakan restoran hotel milik Robinson untuk membuat hidangan Foie Grass. Semua bahan dia bawa dari Prancis dan terjaga kesegarannya. Loris juga sudah bertemu dengan Morgan pagi ini, dan pria itu menunggu di meja makan untuk bisa menikmati hidangan tersebut.


Sementara itu, Lyla memperhatikan bagaimana Loris mengeksekusi bahan makanan yang ada di sana. Tangannya lihai sekali memegang pisau dan mengolah masakan sehingga Lyla terpana.


Menunggu hingga beberapa menit lamanya, akhirnya Loris membawakan makanan yang Morgan inginkan. Hidangan tersebut sangat menggiurkan sekali dan aromanya membuat Morgan senang.


"Makanlah ini. Kau pasti akan menyukainya," ucap Loris kemudian menunggu Morgan mencicipinya. Loris bukan hanya membuat satu hidangan saja, tapi juga beberapa hidangan lain andalannya yang terkenal di restoran miliknya.


Beberapa saat lamanya Morgan memandang makanan tersebut sehingga membuat kening Loris dan Robinson mengerut.


"Kenapa? Apakah ada yang salah?" tanya Loris bingung.


"Tidak. Ini sesuai dengan inginku, tapi aku sudah cukup," ucap Morgan sambil mendorong piring miliknya setelah sekali lagi mencium aromanya.


Hal itu membuat Loris menjadi emosi, tatapannya marah kepada Morgan. "Apa? Jauh-jauh aku terbang ke sini dan kau hanya mencium asapnya saja?" Loris hampir menarik kerah kemeja Morgan, tapi segera ditahan oleh Robinson yang memeluknya dari belakang.


"Kawanku, jangan emosi. Kau tahu kan bagaimana orang yang sedang mengidam? Mungkin--"


"Tapi dia keterlaluan. Apa dia tidak tahu apa yang aku korbankan di sana hanya untuk pergi ke sini?" geram pria itu lagi.


Morgan sekali lagi membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf. "Maaf, Paman. Aku sangat ingin sekali, tapi rasanya dengan mencium aromanya saja aku sudah merasa puas dan tidak menginginkannya lagi. Tapi, aku hargai kehadiranmu di sini dan membuat permintaan pria yang sedang mengidam ini terpenuhi. Aku akan mengingatnya sampai akhir hayatku."


Mendengar kalimat terakhir Morgan membuat Loris mengesampingkan amarahnya.


Loris melepaskan diri dari Robinson dan merapikan kembali pakaiannya yang berantakan.


"Huh, kalau saja kau bukan anak dari sahabatku, aku pasti akan menggantungmu terbalik dan mengambil hatimu untuk dimasak!"


Lyla sudah tidak aneh lagi dengan kata-kata tersebut, hanya tertawa kecil melihat para pria itu sedang berdebat.


"Maafkan kami, Paman. Dan terima kasih untuk ini. Aku sangat menyukai masakanmu," ucap Lyla sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Loris memang keras, tapi dia bisa luluh dengan melihat wajah berseri dan permintaan tulus dari Lyla.

__ADS_1


"Aku akan memaafkan dia kali ini, tapi tidak lagi untuk lain kali. Kepalaku sakit, aku baru saja ditolak. Penolakan ini terlalu kejam," ucap Loris kemudian pergi dari ruangan itu.


Loris, seorang koki handal yang sudah terjun selama hampir empat puluh tahun di bidang perdapuran, orang yang tidak pernah ditolak masakannya oleh raja dan ratu atau petinggi negara sekali pun, kini dia sedang patah hati karena makanan yang dia buat ditolak oleh seorang anak muda.


"Andai bukan anak dari Robinson, pasti sudah aku ledakkan tempat ini!" geram Loris.


Sementara itu di meja makan, Lyla masih menikmati makanan yang dibuat oleh Loris tadi. Steak Tartare adalah hidangan yang ditawarkan oleh Loris kepada Lyla tadi.


"Sayang, kau keterlaluan. Tuan Loris sudah susah payah datang kemari," ucap Lyla melirik suaminya. Sementara Morgan sedang minum hanya memasang wajah datar saja.


"Maaf, tapi entah kenapa aku sudah puas dan tidak ingin memakannya lagi." Bahkan Robinson saja sampai kesal dibuatnya oleh Morgan.


"Untung kau adalah putraku, jika bukan dia pasti akan mengamuk," ucap Robinson. Masakan di atas meja memang sangat lezat sekali, tidak mungkin dia akan melewatkannya. "Ini sangat enak sekali, Morgan. Apa kau yakin tidak mau?" tanya Robinson menawarkan makanan yang Morgan tolak tadi.


Melihat bentuknya untuk kedua kali, entah kenapa perut Morgan rasanya menjadi tidak nyaman. Sesuatu serasa mendesak ke tenggorokannya.


"Ayah, tolong jauhkan benda itu dariku." Morgan menutup mulutnya, menahan sesuatu keluar dari sana.


"Kenapa?"


Morgan tidak bisa menjawab, hanya menggelengkan kepalanya kemudian berlari menjauh ke area toilet. Takeda dengan setia mengikuti tuannya tanpa diperintah dan masuk ke dalam toilet khusus pria.


"Morgan--" Lyla hendak menyusul suaminya, tapi Robinson melarang.


"Duduklah, Laura. Dia tidak akan apa-apa. Bukankah itu biasa terjadi kepadanya?"


"Iya, memang, tapi aku khawatir," ujar Lyla.


"Makanlah, biar aku yang lihat keadaan Morgan."


Lyla menuruti ucapan mertuanya dan kembali duduk, tapi dia masih belum melanjutkan makannya lagi karena khawatir terhadap Morgan.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" Takeda meminta izin dan membantu menepuk pundak Morgan dengan sedikit keras sementara Morgan masih terbatuk dan mengeluarkan cairan perutnya.


"Sial!" desis Morgan. "Sampai kapan ini akan berakhir?" Morgan tidak tahan lagi, sudah beberapa minggu pola makannya terganggu akibat sindrom ini.


"Sampai tiba waktunya, Tuan. Anda harus bersabar."


"Iya. Kau harus bersabar, Putraku. Atau, kau ingin Laura yang mengalami morning sickness ini? Kasihan dia jika mengalami mual muntah yang parah. Bagaimana cucuku akan mendapatkan asupan gizi jika ibunya tidak bisa makan?" ujar Robinson.

__ADS_1


Morgan menatap wajahnya di cermin, sudah berwarna merah akibat muntah tadi. Semoga saja, sindrom ini tidak akan lama.


__ADS_2