Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
142. Paman


__ADS_3

"Apa maksudmu? aku keponakanmu? bagaimana bisa?" tanya Lyla menatap kepada Alex dengan tatapan terkejut. Laki-laki itu menghembuskan nafasnya dan menyadarkan tubuhnya dengan tenang.


"Aku adalah saudara sepupu dari ibumu. Jadi bukankah sama saja dengan kau adalah keponakanku?" ujar laki-laki itu dengan tenang. Namun, tidak begitu dengan Lyla. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang Alex katakan. Bagaimana bisa dirinya adalah keponakan laki-laki ini sedangkan dia saja jika dilihat usianya tidak terlalu jauh darinya.


"Kalau begitu di mana ibuku? Kenapa kau tidak pernah mengajakku ke tempatnya!" seru Lyla menggoyangkan tangan Alex dan ingin mendengar cerita dari laki-laki ini dengan tidak sabar.


"Aku masih mencari keberadaan mereka. sama sepertimu. Maka dari itu untuk saat ini aku ingin meminta bantuanmu. Kita akan memancing, Dan aku harap kau bisa bekerja sama untuk itu," ucap Alex.


Lyla semakin pusing dengan kehidupan dirinya yang rumit seperti ini. Tidak dia sangka jika dari cerita Alex, jati dirinya bukanlah dari kalangan biasa. Namun, cinta kedua orang tuanya yang terhalang oleh restu dari sang kakek membuat kehidupan ayah dan ibu Lyla menjadi terancam dan memaksa mereka untuk menitipkannya di panti asuhan.


"Apa kau yakin tidak menemukan mereka di manapun?" tanya Lyla sekali lagi berharap jika Alex mengatakan hal yang sejujurnya.


"Waktu itu usiaku masih tujuh tahun saat kakakku melahirkanmu, aku adalah adik sepupu ibumu yang paling kecil. Maka dari itu usia kita tidak jauh berbeda hanya terpaut tujuh tahun saja. Aku ingat malam itu dia pergi membawamu, tapi kemudian dia kembali tanpamu. Wajahnya sembab, dan berhari-hari setelah itu dia hidup seperti orang yang hidup tanpa jiwa. Hingga kemudian insiden terjadi dan sampai saat ini kami tidak tahu di mana orang tuamu," cerita Alex.


"Insiden apa?" tanya Lyla dengan bingung. Air matanya turun dari pelupuk mata membasah pipi.


"Kabar kecelakaan. Tapi aku tidak yakin jika mereka meninggal dalam insiden itu. Aku masih mencari keberadaan mereka," ucap Alex.


Lyla kini terdiam mendengar cerita dari pamannya itu. Dia ingin tahu kelanjutannya, tapi Alex saja diam setelah bercerita.


"Apakah kita akan memancing mereka agar ditemukan?" tanya Lyla ingin tahu. Akan tetapi, Alex menggelengkan kepalanya.


"Tidak, kita akan memancing musuh yang lain untuk keluar."


Semakin pusing Lyla mendengarnya.


"Kau membuatku pusing, Paman. Kenapa kau tidak mengatakan apa saja yang sebenarnya?" ujar Lyla penuh tanda tanya.


Alex hanya menatap Lyla dan tersenyum seraya mengacak rambut gadis itu. "Nanti kau akan tahu, Keponakan Kecilku!"


Helikopter mengudara tidak lama. Tidak sampai satu jam mereka berada di atas langit kota New York. Tampak kepadatan kendaraan dan kegiatan lainnya di bawah sana menarik perhatian dari Lyla.


Ayah, Ibu. Sebenarnya di mana kalian berada? gumam Lyla di dalam hati.


"Paman, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Lyla tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan yang ada di bawah sana.


"Panggil saja aku Alex, usia kita tidak jauh berbeda."


"Tidak. Kau tetap pamanku. Aku hanya ingin bertanya, apakah keluarga besarku masih ada? Kakek? Nenek?" tanya Lyla ingin tahu.

__ADS_1


"Iya, mereka masih ada, dan masih diliputi dengan perasaan bersalah karena kehilangan ibumu."


"Lalu, di mana mereka? Apakah aku bisa bertemu dengan mereka?" tanyanya.


"Untuk saat ini, tidak."


"Kenapa?"


"Ada satu alasan yang membuatmu belum bisa bertemu dengan mereka."


"Alasan apa?"


"Aku tidak bisa mengatakannya."


"Kenapa tidak bisa?" Lyla menatap sang paman. "Aku sudah dewasa, aku bisa menerima apa pun yang terjadi, dan aku juga bisa menyiapkan diriku untuk hal yang tidak menyenangkan," ujar Lyla.


Alex membuang wajahnya menghindari tatapan Lyla.


"Karena aku masih belum mau mengatakannya.


"Kenapa?" desak Lyla sekali lagi.


Lyla kini hanya diam, entah kenapa kini dia harus bertemu lagi dengan laki-laki yang dingin dan menyebalkan.


Perjalanan mereka telah selesai, helikopter itu turun di sebuah helipad yang ada di atas mansion milik Alex. Lyla pikir ini bukan tempat yang kemarin dia datangi, rasanya berbeda karena dia tidak melihat taman bunga dengan banyak pohon mawar di belahan mana pun mansion Alex.


"Ayo, kenapa kau hanya diam saja?" ajak Alex berjalan mendahului sang keponakan.


Lyla segera mengikuti langkah kaki laki-laki itu sambil memegangi roknya yang terangkat karena hempasan angin dari helikopter.


"Paman, ini di mana?" tanya Lyla memberanikan diri. Bisa saja kan jika dia tidak tahu dengan tempat seindah ini di mansion Alex.


"Mansion ku yang lain."


"Kau punya berapa mansion?" tanya Lyla penuh kekaguman, kali ini ikut masuk ke sebuah pintu dan berjalan ke sebuah lift yang ada di ujung lorong.


"Ada beberapa."


"Waah, sekaya apa dirimu sampai memiliki banyak mansion?"

__ADS_1


"Kau bisa mati jantungan jika aku sebutkan kekayaanku," ujar Alex tidak ingin membuat Lyla shock. Andai Lyla tahu jika dia lah yang lebih kaya dari Alex, mungkin saja wanita muda ini akan shock dan melongo bak orang bodoh.


"Ish, aku kan hanya ingin tahu. Kau pelit sekali tidak ingin memberitahuku. Oh, ya. Paman. Aku ingin tahu sekali lagi--"


"Bisa kau panggil aku Alex saja? Aku merasa sangat tua jika kau memanggilku dengan sebutan itu."


"Ah, aku tidak bisa menyebut hanya nama saja. Kau jelas-jelas adalah pamanku."


Alex memutar bola mata malas mendengar panggilan itu dari keponakan kecilnya.


"Terserah kau lah, tapi di depan orang lain, jangan kau panggil aku paman," peringat Alex.


"Iya, jika aku tidak salah bicara."


"Apa yang tadi ingin kau tanyakan?"


Mereka mulai menaiki lift dan meluncur ke lantai bawah.


"Aku penasaran, bagaimana kau tahu aku ini keponakanku?" tanya Lyla.


"Setelah aku memiliki kekuasaan, aku mencarimu. Kalung yang kau miliki, itu yang aku berikan kepadamu," ucap Alex. Lyla langsung menatap sang paman dengan tidak percaya.


"Apa? Itu kau? Yang memberiku kalung itu? Tapi kenapa kau tidak membawaku serta?" tanya Lyla yang terdapat nada protes.


"Karena aku tidak mau membawamu. Sesimpel itu," ujar Alex melangkah keluar saat pintu lift sudah terbuka.


"Tidak mungkin. Apa terjadi sesuatu saat itu? Kau tidak mungkin kan meninggalkan aku, sementara kau sudah tau aku adalah keponakanmu?" tanya Lyla mempercepat langkah kakinya untuk mengejar Alex.


"Tidak ada."


"Apa? Aku tidak percaya!"


Alex menghentikan langkahnya dan seketika membalikkan tubuhnya sehingga hampir saja Lyla menubruk tubuh sang paman yang menjulang tinggi.


"Terserah kalau kau tidak percaya. Aku juga tidak memintamu untuk percaya semua kata-kataku!" ujar Alex. Ditatapnya sang keponakan yang terpaku, dia tersenyum dan sekali lagi mengacak rambut Lyla yang hanya setinggi bahunya saja.


"Kalung itu, kemana?" tanya Alex.


Lyla meraba kalungnya yang masih tertinggal di kamarnya di rumah kediaman Morgan. "Aku meninggalkannya di rumah Morgan."

__ADS_1


__ADS_2