Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
158. Rumah


__ADS_3

Lyla terkejut ketika melihat wajah yang selama ini sudah sangat lama sekali tidak dia lihat. Di balik kaca mata yang bulat, dia melihat tatapan lembut dari laki-laki itu.


"Morgan?" Tapi hanya gumaman kecil yang bisa dia ucapkan di mulutnya, nyatanya Lyla tidak bisa berkata apa-apa selain itu.


“Apakah ada hal lain yang bisa aku bantu lagi? Jika tidak aku akan undur diri,” ucap laki-laki itu tersenyum ramah. Belum Lyla berbicara lagi, dia sudah pergi dari hadapan keduanya.


“Apakah itu Morgan, Uncle?” Lyla bertanya kepada Alex, tangannya tidak sengaja menunjuk laki-laki yang kini telah menjauh darinya.


“Kita harus pergi.”


“Eh, kemana?”


Gelas yang ada di tangan Lyla, Alex ambil dan dia simpan di atas meja. Dia membawa Lyla keluar dari tempat itu.


“Ada apa ini?” tanya Lyla.


“Ikut saja denganku, jangan cerewet!”


Alex tetap membawa keponakannya pergi, tapi sebelum mereka sampai ke dalam mobil, sebuah suara tembakan terdengar hingga memaksa Alex menarik tangan Lyla untuk menunduk.

__ADS_1


“Akh! Ada apa ini?”


Lyla butuh jawaban sekarang, tapi Alex masih menariknya sehingga mereka sampai di mobil.


“Morgan!” seru Lyla tidak percaya jika laki-laki itu adalah Morgan, dia ingin sekali memeluknya, tapi mobil yang tiba-tiba saja melaju membuat tubuh Lyla tersentak ke belakang dan ditangkap oleh pamannya agar tidak terjatuh.


“Rendahkan kepalamu!” perintah Alex.


“Ada apa ini?”


Tidak ada yang menjawab. Mobil melaju meninggalkan tempat tersebut dengan rentetan tembakan yang terus terdengar dan membuat kaca mobil Alex retak. Beruntung Alex sudah antisipasi dengan memakai mobil yang dibuat khusus anti peluru.


“Tidak apa-apa, kita hanya mereka hanya bersenang-senang.” Alex mengeluarkan pistol yang ada di bawah kakinya. Dia memberikannya kepada Morgan satu buah.


“Kalian gila! Apa yang sudah kalian lakukan? Apa kalian membuat ulah?” Lyla masih menutup kedua telinganya, mengintip ke arah belakang di mana ada dua mobil yang mengikuti mereka. Tangan Alex menarik kepala Lyla untuk tetap menunduk. Meskipun ini adalah mobil anti peluru, tapi dia tidak mau sesuatu hal buruk terjadi kepada Laura.


“Kami memang gila, Keponakanku. Kami sudah lama tidak bersenang-senang.” Alex tertawa lagi, tapi itu sama sekali tidak lucu untuk Lyla. Dia sangat takut sekarang ini.


Melirik ke depan, laki-laki yang mengemudi membuatnya senang bukan kepalang. Apakah ini sebuah mimpi sehingga dia bida melihat Morgan lagi? Apa yang dia lakukan di sini? Kenapa dia ada di mobil ini sekarang?

__ADS_1


Mobil hitam yang ada di belakang memacu kendaraannya dengan kencang, hendak menyusul mobil yang dikendarai Morgan dan dua lainnya. Akan tetapi, Morgan menjejakkan kakinya dengan kuat ke pedal gas dan mobil tersebut semakin laju meninggalkan dua mobil itu.


Tepat di persimpangan jalan, saat mobil Morgan sudah lewat, beberapa mobil mendekat dan memblokir dua mobil tersebut. Kendaraan mereka telah berhasil meninggalkan dua mobil itu.


“Kita ada di mana?” tanya Lyla saat mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam sebuah area rumah yang besar. Ini adalah sebuah rumah, bukan mansion seperti tempat tinggal Alex dan Lyla sekarang ini.


“Ini adalah rumah orang tuamu,” jelas Alex.


“Hah?”


Lyla tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat, meski ukurannya tidak sebesar tempat tinggal Alex dan Morgan, tapi jelas lebih besar dari panti asuhan tempatnya dibesarkan.


“Masuklah, kita harus beristirahat sekarang.”


Seorang laki-laki tua menyambut kedatangan tiga orang itu dengan ramah, membukakan pintu untuk mereka bertiga. Lyla sampai terpana melihat betapa besar rumah itu dan rapi dengan banyak barang antik yang terdapat di sana. Dia sampai lupa jika di sampingnya ada Morgan dan tertawa malu saat akan menggenggam tangan Lyla, tapi wanita itu tidak sadar dan terus melangkah masuk ke dalam rumah.


“Waaahh.” Decak kagum wanita itu. Alex tertawa geli melihat wajah keponakannya yang lagi-lagi terlihat lucu.


“Selamat datang di rumah.”

__ADS_1


__ADS_2