
Lyla telah terbaring beberapa hari lamanya di rumah sakit, tapi keadaannya cukup buruk dan dia belum sadarkan diri. Di tubuhnya terpasang alat kesehatan yang menunjang pernapasannya. Zat yang ada pada racun itu sangat berbahaya dan dokter masih belum menemukan obat untuk bisa menyembuhkan Lyla. Beberapa kali napasnya terhenti sehingga selama dua puluh empat jam dokter dan perawat memperhatikan kondisi Lyla dan memprioritaskan Lyla atas permintaan Robinson.
"Kau bisa pulang. Sudah tiga hari kau di sini. Istirahatlah dulu," titah Robinson sambil menepuk pundak sang putra.
"Aku akan tinggal di sini."
Robinson tidak bisa lama di rumah sakit, banyak pekerjaan yang harus dia lakukan di luaran sana.
"Aku akan ke markas. Jika kau ingin pulang, Cedrik akan membawamu."
"Tidak perlu, aku akan tetap berada di sini."
Robinson tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dia pergi dan berhenti di dekat Gerald yang ada di dekat pintu.
"Bujuk dia untuk pulang."
Gerald menundukkan kepalanya sedikit. Robinson pergi dari ruangan itu.
"Morgan--"
"Aku ingin tetap di sini."
Gerald tertawa kecil melihat sifat Morgan yang keras kepala. "Aku tidak mau memaksamu untuk pulang. Tapi, setidaknya kau harus mandi. Lyla bisa muntah jika mencium aroma tubuhmu," ujar Gerald sambil menutup lubang hidungnya dengan jari telunjuk.
Morgan mendengkus sebal, tapi dia tidak mengelak maupun menolak saat Gerald memberikan handuk serta pakaian baru untuknya.
"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkan dia di sini."
Barulah Morgan tenang meninggalkan Gerald dengan Lyla, meskipun sebenarnya di luar ada enam orang yang menjaga tempat tersebut yang terdiri dari empat orang utusan Robinson dan dua orang bawahan Gerald.
Tidak sampai sepuluh menit, Morgan sudah keluar dari kamar mandi dan kembali ke dekat Lyla. Gerald melihat sepupunya ini yang sudah segar dan tersenyum kecil. Pria yang dia sangka sepupu, ternyata tidak memiliki setitik darah pun dengannya. Dia bukan putra dari pamannya, tapi Gerald tidak mengurangi rasa segan dan kagumnya kepada Morgan terlepas dari siapa sebenarnya pria ini. Baginya, Morgan adalah penyelamatnya di masa itu. Anda tidak ada Morgan di dekat sana, pasti namanya saat ini tertera di atas batu nisan.
"Apakah kau tidak ingin kembali sekarang? Aku bisa menyuruh Tante Selvi untuk datang kemari dan melihat keadaan Lyla, itu jika kau tidak percaya dengan dokter di sini," bisik Gerald.
__ADS_1
"Tidak. Dia sudah cukup lelah dengan pekerjaannya, jangan kau repotkan dengan hal yang bisa membuatnya semakin lelah. Dokter di sini juga cukup kompeten."
Morgan duduk di samping Lyla, membenarkan rambutnya yang menutupi matanya.
"Bisa aku meminta tolong kepadamu?"
Gerald menatap Morgan dengan diam.
"Ahli waris yang sebenarnya adalah kau. Aku tidak berhak untuk segala yang aku miliki sekarang ini. Siapkan konferensi pers dalam beberapa hari. Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan."
Gerald tersentak mendengar ucapan Morgan. Bukan ini yang dia harapkan, dan dia tidak keberatan jika Morgan masih ingin memegang tampuk perusahaan. Memang benar apa yang Morgan katakan, pamannya memiliki satu putera, tapi jika putranya ini ternyata bukan anaknya, seharusnya adik atau keponakanlah yang berhak mewarisi semua kekayaannya.
"Jadi, kau menyerahkan semuanya kepadaku?" Gerald menarik kursi yang ada di sisi lain ranjang Lyla. "Sebenarnya aku tidak keberatan. Toh, perusahaan semakin besar juga berkat kau. Kau tahu kan, aku tidak suka direpotkan dengan urusan perusahaan."
Morgan terdiam, tidak mengalihkan tatapannya dari Lyla yang masih pucat wajahnya.
"Haaahh. Kau selalu membuatku repot. Padahal aku sudah merencanakan untuk melamar seseorang setelah kembali dari sini. Kau akan membuatku berpikir lagi untuk melamarnya karena aku akan sangat sibuk nanti. Menyebalkan!" Nada suaranya terdengar kesal dengan derit kursi yang terdengar saat Gerald menyandarkan punggungnya di sana.
"Bukan. Seseorang yang menyebalkan!" Gerald berdiri dari duduknya dan tanpa sepatah dua patah kata pergi dari sana.
Morgan tersenyum kecil dan menggenggam tangan Lyla yang pucat. "Kau dengar? Dia membuatku penasaran. Siapa yang akan dilamarnya? Kau juga penasaran, kan? Ayo, cepatlah bangun dan kau tanyakan kepadanya. Aku tidak yakin dia akan menjawab jika aku yang bertanya kepadanya. Kuu tahu kan dia seperti apa jika denganku. Aku sebal karena terlalu banyak yang dia tutupi dariku. Apa lagi masalah percintaannya. Dia menyebalkan sekali," Morgan merebahkan kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat di samping tubuh Lyla. "tapi aku yakin jika kau yang bertanya dia pasti akan menjawabnya."
Tangan Morgan mengelus telapak tangan Lyla dengan lembut. Helaan napasnya terdengar dengan halus mengeluarkan rasa hampa yang dia rasakan di dalam hatinya. Kapan Lyla akan bangun? Kapan mereka akan kembali? Kapan mereka akan bisa bersama lagi?
"Kau tahu siapa yang Gerald maksud? Siapa wanita yang bisa menggantikan Renee di hatinya? Apakah dia wanita yang baik? Tapi dia bilang menyebalkan."
Morgan merasa percuma bertanya seperti itu kepada Lyla, wanita itu jelas tidak menjawabnya sama sekali. Mata Morgan memanas. Rindunya dengan Lyla masih belum terobati sepenuhnya, kenapa kejadian ini malah menimpanya? Andai dia lebih cepat mengingat dan membawa Lyla kembali, semua hal buruk ini pasti tidak akan terjadi.
"Nanti ... akan aku tanyakan jika dia kembali."
"Ya, kau harus--"
Seketika tubuh Morgan menegang mendengar suara parau nan pelan itu. Morgan mengangkat kepalanya dan menatap sosok cantik meski dengan wajah pucat, tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Mulut Morgan terbuka, tertawa tanpa suara dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air mata yang telah ditahannya sedari tadi kini mengalir sudah membasah melewati pipinya.
"Ly-- Sayang. Kau ...."
"Kau sudah mandi? Aroma mu wangi," ucap Lyla sambil tersenyum dan melepaskan alat pernapasannya ke bawah dagu.
Morgan berdiri dan segera memeluk Lyla, menindih wanita itu tanpa sadar dan memeluk erat. Tidak ingin rasanya melepaskan pelukannya tersebut.
"Morgan-- Hati-hati."
Morgan tersadar dan menjauhkan dirinya. Namun, masih tidak ingin berjauhan sehingga jarak mereka kini hanya sebatas satu jengkal.
"Kau ... aku senang. Kau sudah sadar?" Tangis itu semakin deras sehingga meluncur membasahi pakaian Lyla. Anggukkan halus diberikan Lyla sebagai jawaban kepada pria itu.
"Iya, tapi aku haus."
"Akan aku ambilkan air." Morgan segera berdiri dan mengambil air yang tersedia di samping tempat tidur Lyla, tidak lupa dengan sendok untuk menyuapi kekasihnya karena tidak ada media lain untuk Lyla bisa minum.
"Aku akan panggilkan dokter."
Morgan hendak melangkah, tapi Lyla menarik baju Morgan.
"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Temani aku di sini."
Morgan mengangguk. "Aku harus meminta Gerald untuk memanggil dokter."
Akhirnya Lyla setuju dan membiarkan Morgan untuk menghubungi Gerald, padahal di samping ranjang Lyla ada sebuah tombol yang berfungsi untuk memanggil dokter maupun perawat.
Setelah selesai menghubungi Gerald, Morgan kembali memeluk Lyla dengan erat dan kali ini tidak akan dia lepaskan lagi.
"I love you." Morgan tersenyum senang seraya melirik kekasihnya dari bawah dagu Lyla.
"I love you more, Morgan."
__ADS_1