Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
203.


__ADS_3

"Kalian harus makan yang banyak. Jangan sampai menyisakan makanan di sini." Theresia menyimpan sejumlah kerang hijau di mangkuk dan memberikannya kepada Morgan.


"Terima kasih, Ibu. Aromanya sangat wangi sekali. Aku yakin jika ini enak." Morgan mencium aroma kerang hijau itu dan perutnya kini berbunyi nyaring.


"Tentu saja ini enak, ayah mertuamu saja bisa menghabiskan satu mangkuk besar sampai perutnya kekenyangan." Theresia tertawa kala mengingat kenangan itu. "Jangan malu-malu untuk menghabiskannya."


"Tentu saja aku tidak akan malu-malu." Morgan langsung menyeruput kuah dari sendoknya, tapi hanya sedetik, kemudian pria itu terdiam. Rasa mual menyerangnya tiba-tiba. Tenggorokannya serasa tak nyaman, perutnya bergejolak dan sesuatu naik di dalam sana.


Morgan langsung menutup mulutnya saat merasa semakin tidak nyaman. Hampir saja dia muntah di meja makan. Tanpa menunggu hal yang lain, dia berlari ke belakang dengan langkah cepat.


"Morgan! Ada apa?" tanya Lyla, tapi Morgan yang sudah tidak tahan tidak menggubris pertanyaan istrinya dan lanjut pergi.


"Ada apa?" tanya Theresia bingung. Lyla hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar pertanyaan ibunya.


"Aku juga tidak tahu, Bu."


Dua orang itu langsung pergi ke kamar mandi dan mengetuk pintunya.


"Morgan, apa kau tak apa?" Lyla mengetuk pintu setengah menggedornya dengan rasa khawatir. Sementara itu Morgan yang masih ada di dalam belum selesai dari aktifitasnya mengeluarkan cairan dari perutnya.


Tenggorokannya terasa perih, juga sedikit pahit, perutnya serasa diperas oleh tangan besar dan sakit sekali.

__ADS_1


"Aku tidak apa. Uhuk!" Morgan terbatuk, kemudian membasuh wajahnya dan berkumur saat sudah merasa tidak ada lagi yang bisa dia keluarkan. Wajahnya merah, matanya berair karena hal tersebut.


"Morgan, apa kau sakit?"


Morgan mengambil tisu dan mengelap wajahnya, kemudian membuka pintu. Tampak istri dan ibu mertuanya khawatir di luar sana.


"Kau baik-baik saja?" tanya Lyla sekali lagi. Wajah Morgan tampak tidak baik.


"Aku baik, hanya saja entah kenapa perutku mual sekali."


"Apa kau masuk angin?"


"Entahlah, aku tidak yakin."


"Sindrom Couvade? Apa itu?" Lyla yang bertanya.


"Gejala yang seharusnya dirasakan oleh ibu hamil, dan kau telah menggantikan putriku merasakan mual muntah."


Morgan masih awam dengan hal seperti ini sehingga dia tidak tahu apa yang dikatakan ibu mertuanya.


"Kau ini ... Ckckck." Theresia menggelengkan kepalanya melihat kerutan di kening menantunya. "Intinya, kau telah menggantikan putriku melalui masa sulitnya saat kehamilan."

__ADS_1


"Jadi, apa yang kau maksud aku akan mual muntah seperti tadi?"


"Yups! Benar sekali. Semoga saja tidak parah seperti ayah mertuamu!" ucap Theresia sekali lagi sambil menutup mulutnya dengan satu tangan dan tersenyum geli.


"Sayang, apakah aku tidak akan mati?" celetuk Morgan menatap Lyla.


Lyla tertawa mendengar ucapan suaminya itu. Begitu juga dengan Theresia.


"Hanya mual muntah seperti itu saja kau tidak akan mati, Menantuku. Kau akan merasakan indahnya masa sebelum menjadi seorang ayah!"


"Benarkah itu? Tapi rasanya tadi sangat tidak nyaman sekali." Morgan mengusap perutnya yang masih tidak nyaman.


Theresia meninggalkan Morgan dan Lyla di sana dengan tawa yang masih melekat di bibirnya.


"Kau bahkan pernah menghadapi maut di depan mata dan masih selamat sampai saat ini. Hanya karena mual muntah saja, aku pikir tidak akan sampai merenggut nyawamu, kecuali kau mengidam untuk terjun dari lantai lima belas." Theresia meninggalkan Morgan dan Lyla di sana dengan tawa yang masih melekat di bibirnya.


Glek!


Morgan sulit untuk menelan salivanya.


"Jangan dipikirkan ucapan Ibu. Kau tahu kan Ibu seperti apa?" ucap Lyla sambil mengelus lengan sang suami.

__ADS_1


"Iya, benar sekali."


__ADS_2