
"Ya, benar itu adalah dia," jawab George. "Dan kau?" tanya laki-laki itu lagi.
"Seperti yang tadi aku bilang, aku adalah kekasih dari Tuan Morgan," ucap Lyla. Salahkan saja Morgan jika mungkin dia tidak menghendaki kata-kata itu saat berada di depan Renee. Toh, dia yang menyuruhnya untuk mengakui jika mereka adalah pasangan kekasih di malam ini. Jadi, dia tidak berhak menuntut jika mungkin Renee akan marah dengan pengakuannya.
"Kau mau?" tanya Lyla menawarkan makanan yang sedang dipegangnya. George menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak makan makanan manis."
"Ooh, padahal ini sangat enak sekali," ucap Lyla seraya memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
Lyla makan dengan santai, dia mengambil makanan yang lain setelah yang ada di piringnya habis. Sementara George memperhatikan wanita itu. Rasanya menarik sekali karena dia berbeda dengan wanita lain dari cara makannya.
Dia bahkan tidak peduli jika orang lain menatapnya, gumam George merasa lucu melihat Lyla dengan pipi yang menggembung seperti itu.
"Kau siapanya wanita itu?" tanya Lyla penasaran.
"Aku adalah sepupunya."
"Ooh, sepupu," ucap Lyla mengulang.
"Kau yakin jika kau adalah pacarnya?" George bertanya karena masih merasa tidak yakin dengan apa yang tadi dia dengar. Terutama karena dia tahu dengan sifat Morgan.
Lyla menganggukkan kepalanya. "Ya tentu saja. Anda bisa bertanya kepada Tuan Morgan," jawab Lyla cuek.
"Ooh, ini sangat enak sekali. Sayang sekali, kenapa kau tidak suka makanan manis? Makanan manis bisa membuatmu bahagia," ujar Lyla meracau sebenarnya kepada dirinya sendiri.
George mengambil minuman yang ada di meja dan menyesapnya seraya memperhatikan Lyla.
"Makanan manis membuatku sakit gigi. Ibuku melarangnya."
"Benar juga sih, mungkin karena kau tidak rajin menggosok gigi di saat kecil."
Lyla tidak lagi berbicara, dia hanya ingin fokus dengan makanannya saja. Biarkan saja jika Morgan masih betah berbicara dengan Rene, beruntung untuknya karena bisa makan sebanyak yang dia mau.
"Kau tidak cemburu kekasihmu berbicara dengan wanita lain?" George bertanya lagi kepada Lyla.
"Tidak," jawab Lyla singkat.
"Kenapa? Kau tidak takut jika dia akan kembali lagi dengan mantannya?" George memperhatikan raut wajah Lyla yang tampak biasa saja.
"Kenapa aku harus takut jika dia sangat mencintaiku?" jawab Lyla sekenanya.
"Benarkah? Seberapa besar dia mencintaimu?" tanya George semakin penasaran.
"Aku tidak tahu pasti. Kau harus bertanya padanya jika ingin tahu seberapa banyak dia mencintaiku. Tapi aku yakin, untuk saat ini dia sangat, sangat, sangat mencintaiku," ucap Lyla dengan begitu pedenya.
__ADS_1
George sebenarnya ingin tertawa dengan sikap Lyla yang sangat percaya diri seperti ini. "Apa kau tidak tahu jika Morgan adalah laki-laki yang tidak benar? Dia suka bermalam dan mempermainkan wanita." George mencoba memancing kebencian dari Lyla.
"Aku tahu dia seperti apa. Dan aku juga tidak keberatan dulunya dia seperti apa. Dia sudah berubah."
"Benarkah itu?"
Lyla menganggukan kepalanya lagi.
"Bagaimana jika dia berbohong padamu? Mungkin saja dia masih bertemu dengan para wanita lain di belakangmu." George melirik Lyla dengan ujung matanya.
"Aku tidak masalah dia dengan siapa, atau dia akan pergi dengan siapa. Yang terpenting dia adalah kekasihku sekarang ini," ucap Lyla yang membuat George menjadi terheran. Jika wanita lain, tentu saja dia akan cemburu, tapi kenapa tidak ada pandangan cemburu dari wanita ini?
George menyandarkan dirinya pada tepian meja, dia menyesap kembali minumannya dengan santai.
"Apa kau punya tujuan lain terhadap Tuan Castanov?" tanya George ingin tahu.
"Tujuan tak baik maksudmu?" Lyla kini menghentikan makannya.
George tidak menjawab, hanya diam dan tersenyum tipis terhadap Lyla.
"Aku tidak punya tujuan lain. Aku hanya sedang merasa bosan saja, jadi ku mencoba untuk menjalin hubungan dengan dia."
Terkejut George mendengar ucapan Lyla barusan. Apakah dia punya dendam kepada laki-laki itu sehingga menyebutkan kata bosan? Atau, memang dia sedang gila sengaja bermain dengan singa?
Lyla tertawa kecil.
Heh, ternyata begini rasanya menjadi wanita kaya yang sombong, gumam Lyla di dalam hatinya seraya tersenyum jumawa. Kapan lagi dia bisa berbicara dengan orang asing dan menyombongkan dirinya. Haha!
Tiba-tiba saja, Lyla teringat akan sesuatu. Dia ingat jika Morgan tidak mengizinkannya untuk bicara dengan orang asing, terutama laki-laki.
"Eh, aku lupa. Maaf, aku tidak bisa berbicara lagi denganmu."
"Kenapa?" tanya George bingung sehingga keningnya mengerut.
"Kekasihku melarangku untuk berbicara dengan orang asing," jawab Lyla, kemudian memasukkan satu makanan terakhir sebelum pergi dari sana dan menyusul Morgan.
Tepat bersamaan dengan itu, seorang laki-laki melihat Lyla dari kejauhan, dia yakin sekali jika pernah bertemu dengan wanita ini. Dengan langkahnya yang lebar dia mendekat dan menarik tangan Lyla.
Lyla terkejut, sontak mengalihkan tatapannya dan membulatkan mata.
"Hei, kau!" Tunjuk laki-laki tersebut.
"Kau---"
"Sedang apa kau di sini, huh? Kau wanita barbar! Ingat denganku, hah?" tanya pemuda tersebut yang ternyata dia adalah Louis.
__ADS_1
Lyla mencoba menarik tangannya. Akan tetapi, dia sulit melepaskan diri karena Louis mencengkeram tangannya dengan cukup keras.
"Aku ingat denganmu, tapi lepaskan aku. Kalau tidak, aku akan berteriak," ancam Lyla, beberapa orang menatap mereka dengan heran.
"Teriak saja. Apa kau tahu aku siapa?" tanya Louis dengan menatap Lyla tajam.
"Kau laki-laki yang telah tidak sopan mengambil barang yang bukan milikmu!" ucap Lyla dengan berani.
"Dan kau adalah wanita yang tidak tahu mengucapkan kata maaf setelah membuat ponselku rusak," ucap Louis dengan kesal.
"Maaf? Kau yang salah, Tuan."
George tidak tahu di antara mereka ada permasalahan apa, tapi rasanya sedikit tidak nyaman karena para tamu menatap ke arah dua orang itu di mana dia juga ada di dekatnya. George maju dan melerai tangan Louis dari Lyla.
"Hei, Louis. Jangan bersikap kasar dengan seorang wanita. Apa kata orang lain jika Tuan Muda kedua dari Keluarga Maguire adalah laki-laki yang kasar?" ucap George, Louis berdecak dengan kesal. Gara-gara ponselnya jatuh tempo hari membuatnya ketinggalan informasi yang penting. Juga karena kakinya sakit akibat injakan kaki Lyla yang keras. Sementara itu Lyla membulatkan matanya saat mendengar jika Louis adalah putra kedua keluarga ini.
Jadi, ini adalah rumahnya? gumam Lyla di dalam hati. Tahu jika ini adalah rumah dari pemuda yng pernah dia injak kakinya, tidak akan dia mau datang menggantikan Tante Selvi.
Leo baru saja sampai. Dia melihat apa yang tadi telah terjadi, niat ingin bertemu dengan kedua orang tuanya dia abaikan terlebih dahulu dan memilih untuk mendekat pada adiknya dan seorang wanita cantik di sebelah meja hidangan.
"Ada apa ini?" tanya Leo. Louis mengalihkan tatapannya.
"Kakak. Kau sudah datang?" tanya Louis.
Lyla menatap pemuda tersebut dan tercengang. "Kakak?" gumamnya pelan.
Leo mengalihkan tatapannya pada wanita yang ada di samping Louis, dia sedikit terkejut, kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Lyla.
"Lyla, apa kabarmu?" tanya Leo menggulurkan tangannya pada Lyla. Louis membulatkan mulutnya, tak menyangka jika ternyata sang kakak mengenal Lyla.
Lyla serasa lupa, tapi semakin dilihat, dia semakin ingat jika laki-laki ini adalah dokter yang pernah datang ke rumah Morgan waktu itu, waktu setelah kejadian nahas itu.
"Aku baik," jawab Lyla seraya menerima uluran tangan Leo. "Anda---"
"Aku juga baik," potong Leo.
"Ah, bukan itu. Anda ada di sini?" tanya Lyla.
"Ya, aku ada di sini. Tentu saja aku ada di sini untuk mengucapkan selamat kepada kedua orang tuaku untuk perayaan ulang tahun pernikahan mereka."
Terkejut? Ya. Lyla terkejut karena dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan dua orang laki-laki yang sangat tidak dia duga sebelumnya.
Diam-diam George memperhatikan Lyla, dia unik. Sangat unik apalagi dengan wajah kebingungan seperti itu.
Menarik sekali!
__ADS_1