Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
56. Ucapkan Terima Kasih Dengan Benar


__ADS_3

Gerald merasa aneh melihat Morgan yang masuk sendirian saja, padahal tadi dia mendapatkan kabar dari Selvi jika Morgan telah berada di dalam perjalanan pulang bersama dengan Lyla.


"Hei, kenapa kau hanya sendirian saja? Kemana Lyla?" tanya Gerald saat Morgan masih bisa dia lihat dari pandangannya.


"Dia ada di mobil, kau urus lah dia sendiri!" ucap Morgan.


"Dia di mobil? Kenapa tidak turun? Apakah dia masih sakit?" tanya Gerald khawatir. Dia bangun segera dari duduknya.


Sadar dengan pertanyaan dari Gerald membuat langkah kaki Morgan terhenti dan dia membalikkan langkah kakinya dengan cepat.


"Kau duduklah kembali, nikmati makananmu. Aku baru ingat ada yang tertinggal di mobil, sekalian aku akan bawa dan bangunkan dia," ucap Morgan dengan cepat. Gerald akan bicara, tapi laki-laki itu sudah menjauh dan kini sudah berada di ambang pintu utama.


"Hei, ada apa dengan dia?" tanya Gerald pada dirinya sendiri. Dia kembali duduk dan menikmati cemilan yang baru saja dibuat oleh asisten.


Morgan telah sampai di mobil, dia melihat Lyla yang kini tertidur dengan berbaring di sana, terlihat sangat nyaman sekali sampai-sampai wanita itu tidak bangun juga saat Morgan menggoyangkan kakinya.


"Hei, apa kau tidak akan bangun? Astaga! Kau pemalas sekali, kau ini b4bi atau apa sih?" gumam Morgan kesal.


"Hei, apa kau tidak mau bangun? Darahmu akan habis jika tetap tidur di sini!" Akan tetapi, Lyla yang mengantuk berat tidak tetap tidak menggubris ucapan Morgan, bahkan dia menggerakkan kakinya untuk menghalau tangan kekar laki-laki itu dengan cukup keras.


Morgan yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Lyla merasa kesal. Akhirnya dia menarik paksa tangan Lyla hingga wanita itu terbangun dari tidurnya.


"Ah, kau ini. Apa-apaan, sih?" kesal Lyla menatap Morgan masih dengan mata yang sangat mengantuk.


"Ini sudah di rumah, apakah kau akan tidur di sini semalaman?" tanya Morgan sama kesalnya. Lyla mengedarkan tatapannya ke sekeliling, ternyata memang ini sudah sampai di rumah kediaman Morgan.


"Eh, kapan kita sampai di sini?"


"Dari satu jam yang lalu. Dan aku sudah membangunkan mu selama itu, dasar b4bi pemalas!" ucap Morgan asal, lalu kembali menarik tangan Lyla untuk keluar dari dalam mobil tersebut. Lyla merasa kesal, lagi-lagi ucapan laki-laki itu tidak bisa disaringnya, terpaksa dia keluar dari dalam mobil dan berjalan dengan lunglai, lemas karena masih mengantuk saja.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Gerald yang baru saja keluar dari dalam rumah.


Lyla menyibak rambutnya yang menutupi mata, melihat Gerald mendekat.


"Hem, aku tidak apa-apa, Tuan. Apakah kau bisa mengatakan kepadanya untuk sedikit saja lembut terhadap wanita?" tunjuk Lyla ke arah Morgan. "Dia tidak ada baik-baiknya kepada wanita." Morgan mendengkus sebal saat mendengar ucapan Lyla yang mulai melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Apa kau perlu bantuanku?" tanya Gerald lagi seraya mengikuti langkah kaki wanita tersebut. Lyla menatap lemas Gerald.


"Hem, tidak perlu, Tuan. Terima kasih atas niat baikmu, aku hanya perlu air hangat untuk mandi dan kasur empuk untuk tidur," jawab Lyla sambil menguap lebar.


Morgan yang mengikuti langkah kaki kedua orang di depannya mendecih sebal.


Pada Gerald yang tidak melakukan apa-apa saja dia mengucapkan terima kasih, kenapa tidak kepadaku? batin Morgan kesal.


"Hei, kau melupakan sesuatu di sini," ucap Morgan tiba-tiba yang membuat Lyla dan Gerald menghentikan langkah kakinya.


"Apa?" tanya wanita itu.


"Aku."


Lyla dan Gerald menatap bingung pada sosok Morgan yang menunjuk dirinya sendiri. "Aku yang sudah menolongmu, membawa ke rumah sakit, lalu membawamu kembali ke rumah ini. Apakah kau tidak akan mengucapkan terima kasih kepadaku?" tanya Morgan kesal.


"Oh, iya. Kau yang telah membawaku ke rumah sakit, ya. untung saja kau ingatkan aku. Terima kasih atas bantuanmu telah membawaku ke rumah sakit, Tuan." Lyla mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum, tapi hal itu membuat Morgan kesal, seakan terpaksa Lyla berkata seperti itu sebab dia menegurnya.


"Kau tidak tulus mengucapkan maaf," ucap laki-laki itu kesal dan berjalan dengan sangat cepat meninggalkan keduanya. Lyla menatap Gerald dengan bingung, dia tidak tahu apa yang Morgan maksudkan dengan permintaan maafnya yang tulus, mereka berdua hanya bisa melihat morgan yang berjalan dengan kasar hingga dia masuk ke dalam kamarnya.


Ya, aku yakin dia memang sedang merajuk, batin Gerald melanjutkan langkah kakinya memasuki rumah mewah tersebut.


"Istirahatlah dulu. Apa perlu aku suruh seseorang untuk membantumu mandi?" tanya Gerald kepada Lyla.


"Ah, tidak usah. Aku masih bisa melakukannya sendiri. Aku masih sehat hanya untuk mandi saja, Tuan. Bahkan aku juga bisa melakukan apa pun sendirian," jawab wanita itu.


"Aku tidak akan izinkan kau untuk melakukan tugas rumah seringan apa pun itu," ujar Gerald. "Kau harus ingat dengan kondisi tangan dan kakimu. Apa yang terjadi dengan kakimu? katanya bengkak?" tanya Gerald. Lyla mengangguk dan tersenyum.


"Iya, memang sedikit bengkak."


"Apa Morgan yang melakukannya?"


"Tidak, bukan dia. Aku yang kurang hati-hati saat malam itu, di jalanan gelap dan aku tidak tahu jika aku berdiri terlalu ke tepi, sampai akhirnya aku terjatuh dan kakiku terkilir," jawab Lyla. Gerald hanya mengangguk saja, semoga saja apa yang Lyla katakan ini benar dan bukan kebohongan.


"Kau yakin memang seperti itu?" tanya Gerald sekali lagi.

__ADS_1


"Iya, memang seperti itu. Apa aku harus bersumpah agar kau percaya aku tidak bohong? Menurutku Tuan Morgan baik juga, kadang-kadang," ralat wanita itu dengan cepat. Mereka berdua telah hampir sampai di ruang santai.


"Malam itu aku pergi, apa kau benar cari aku?" tanya Lyla.


"Iya, aku mencarimu. Aku khawatir karena kau sedang sakit. Apa dia mengatakan hal yang buruk padamu sampai kau pergi?" tanya Gerald lagi.


Lyla hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Sedih rasanya saat ingat Morgan berkata jika dia menggoda laki-laki yang nyatanya tidak dia lakukan sama sekali.


"Ya seperti itulah, aku pergi karena dia juga yang bilang andai aku tidak ada di sini, tapi dia juga yang datang menemukanku dan membawaku pulang. Apakah mungkin jika dia juga peduli kepadaku?" tanya Lyla, kemudian dia menggelengkan kepalanya, tertawa kecil akan hal mustahil yang dia pikirkan.


"Eh, maaf. Dia mungkin hanya kebetulan saja menemukanku di jalanan, aku belum bertanya kepadanya dan rasanya aku memang belum bilang terima kasih yang benar pada Tuan Muda Morgan," ucap Lyla merasa bersalah.


Lyla menghentikan langkah kakinya sehingga Gerald pun sama berhenti melangkah. "Oh, ya. Apa yang Tuan Muda suka? Makanan sepertinya yang mungkin aku bisa buatkan, sebagai permohonan maafku terhadapnya?" tanya Lyla.


"Dia suka dengan kue tart. Atau makanan yang manis."


"Ha?" Lyla terkejut dan tidak menyangka jika laki-laki yang dingin seperti itu ternyata suka dengan makanan manis.


"Kenapa kau terkejut?" tanya Gerald, Lyla menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada, hanya tidak menyangka jika dia ternyata suka makanan manis."


Gerald tertawa kecil. "Semenjak kecil dia suka makanan manis, tapi semenjak kekasihnya pergi dia tidak suka lagi."


"Loh, apa hubungannya?" tanya Lyla bingung.


Gerald mendekat pada Lyla dan menyentuh bibrinya sendiri dengan ujung telunjuknya. "Jangan sampai terdengar olah orang lain," ucap Gerald dengan suara yang pelan. "Dia ...."


Tanpa kedua orang itu tahu ada seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar dan memperhatikan mereka.


"Cih, apa mereka tidak bisa melakukan itu di tempat lain?" gumam Morgan lalu kembali ke dalam kamarnya, lapar melanda, tapi dia urung melanjutkan langkah kaki saat melihat dua orang itu terlihat sedang menempelkan bibir satu sama lain.


...**********...


mampir sini dulu, nanti akan ada bab selanjutnya, masih review

__ADS_1



__ADS_2