Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
187.


__ADS_3

Dua orang itu kini tertidur dengan sangat pulas setelah permainan mereka. Morgan memeluk Lyla dari belakang dan tidur dengan senyuman di bibirnya. Hari ini dia sangat bahagia sekali karena telah memiliki Lyla seutuhnya. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka, dan Morgan tidak akan pernah melepaskan Lyla dari sisinya.


***


Di tempat lain, di sebuah pesawat yang telah mengudara, Robinson dan Selvi sedang terbang kembali menuju ke negara asal Robinson. Mereka menggunakan pesawat jet pribadi untuk bisa sampai ke negara tujuan.


Dua orang itu tengah berada di sebuah ruang duduk yang sangat mewah dengan beberapa kursi saja di dalamnya.


Robinson dan Selvi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di mana ada waktu kosong maka yang mereka lakukan adalah melakukan permainan panas berdua. Hal yang tidak akan ditunda-tunda lagi jika memang ada kesempatan. Para kru pesawat juga sudah diperintahkan untuk tidak sembarangan masuk jika tidak ada kepentingan dan mereka memaklumi akan permintaan dari si pemilik kuasa.


Udara di pesawat itu lumayan dingin, tapi keduanya tidak merasakan hal tersebut karena mereka terus bergerak bersamaan.


"Ouchh, kau memang nakal!" ujar Robinson yang tidak kuat dan kini berada di bawah tubuh istrinya. Selvi tidak menanggapi ucapan sang suami dan terus bergerak naik dan turun. Hal yang telah dipelajarinya selama ini dia berikan yang terbaik untuk sang suami sekarang.


"Aku memang nakal, Tuan. Apakah kau baru tahu?" goda sang istri. Terbit senyuman dari Robinson dan tangan besarnya tidak diam begitu saja. Dipukulnya bok0ng Selvi cukup keras sehingga Selvi tidak sengaja menjerit, akibatnya di bagian belakang tubuhnya tercipta kulit yang berwarna merah perbuatan dari suaminya.


"Ahh, bisakah lebih lembut sedikit? Kau membuatku gila, Sayang."


Robinson kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa lembut dan tidak ingin lembut. Hidup sendirian berpuluh tahun dan kini aku memiliki seorang istri yang sangat lincah. Ayo, puaskan aku lebih dari ini." Robinson membuat sandaran kursi di belakang tubuhnya semakin rendah, memberikan akses kepada menaranya yang berdiri menjulang semakin membuat Selvi mudah untuk semakin bergerak leluasa.


Tidak ada kata malu lagi untuk mereka berdua, Selvi memberikan servis terbaik untuk suaminya ini. Robinson tidak peduli tentang keperawanan, toh sebuah keperawanan sudah bukan lagi standar untuk manusia di zaman sekarang. Semua orang sudah memaklumi jika hasrat lebih besar daripada akal sehat dan Robinson tidak peduli akan hal itu. Apa lagi Selvi yang sudah hidup hampir mendekati setengah abad dan dia yakin jika wanita itu memberikan yang terbaik untuk pria yang dicintainya terdahulu. Dan untuk sekarang, dia tidak akan melepaskan Selvi ke mana-mana.

__ADS_1


Wajah Selvi semakin bersinar tatkala cahaya matahari di luaran sana menyorot ke arah mereka. Wajah yang berkeringat itu semakin berkilau dan membuat Selvi semakin cantik saja.


"Ahh, ini gila sekali," racau Selvi masih bergerak di atas tubuh suaminya.


"Aku tidak pernah melakukannya di ketinggian, dan ini ... Ahh. Ini benar nikmat," ujar Selvi di tengah gerakan maju mundurnya.


Robinson tertawa dan menarik kepala istrinya untuk dicium. Ciuman panas terjadi di antara mereka dan membuat Selvi semakin bersemangat bergerak di atas tubuh suaminya.


"Ini juga pengalaman pertamaku. Kau sungguh nikmat, Istriku. Kau adalah wanita ketiga yang aku biarkan mencicip tubuhku, dan kau adalah wanita yang pertama setelah tiga puluh tahun aku sendirian," ucap Robinson.


Selvi jelas tidak bisa marah mendengar ucapan suaminya, bahkan dirinya baru beberapa minggu yang lalu bermain panas dengan Edward. Tidak dipungkiri jika sebelumnya, setiap dia memiliki pasangan, mereka juga melakukan hal ini berdua. Ah, bahkan dirinya lebih parah dari Robinson, bukan?


"Kau pasti sangat kesepian sekali, Tuan."


Selvi yang sebelumnya tidak suka jika ada seorang pria mengaturnya, tapi kali ini dia sangat suka sekali dengan ucapan kepemilikan dirinya dari Robinson.


"Memangnya aku bisa pergi ke mana? Aku pergi baru satu langkah saja, kau sudah menemukanku."


Robinson tidak tahan lagi, permainan panas mereka telah membuatnya ingin meledak. Servis yang diberikan sang istri membuat matanya terpejam dan terbuka bergantian. Selvi memang bukan yang pertama untuknya, tapi milik wanita ini sempit dan dia bisa merasakan kenikmatan yang ada di bawah sana.


"Jepitanmu enak sekali."

__ADS_1


"Kau suka?" tanya Selvi yang mendapat anggukkan kepala dari suaminya.


"Yeaah, aku suka. Teruslah bergerak di atasku, bunuh aku dengan cintamu, Honey."


Robinson benar-benar pasrah sekarang. Selvi menjadi orang kedua yang dia izinkan untuk membunuhnya.


Wanita itu tersenyum, tapi jelas dia tidak akan membunuh suaminya meski dengan cintanya sekalipun. Dunianya kini sudah berbeda karena Robinson.


"Jangan berbicara yang aneh-aneh. Keluarkan suara terbaikmu, Sayang!" Goyangan wanita itu semakin liar dan membuat Robinson tidak bisa lagi banyak berbicara. Hanya suara kenikmatan yang terdengar dari mulut keduanya yang meneriakkan nama satu sama lain.


Sementara itu di bagian ruangan lain, beberapa orang sedang terdiam dengan wajah yang memerah. Mendengar dua orang itu bermain panas di dalam sana membuat mereka menjadi aneh, malu, dan rasanya juga gatal. Para pramugari dan pramugara saling berpandangan satu sama lain dan tersenyum, kemudian dengan sebuah kode mereka pergi dari ruangan itu untuk mengikuti jejak Robinson dan Selvi. Hal tersebut sudah cukup biasa terjadi, apa lagi di pesawat pribadi, saat-saat seperti ini mereka tidak dibutuhkan dan bisa melakukan apa pun yang mereka mau. Akhirnya, bukan hanya di ruangan itu saja terdengar suara indah khas percintaan.


Cedrik dan beberapa pengawal Robinson juga mendengar suara itu, mereka yang tidak pernah berminat akan romansa, lama kelamaan jika melihat tuan mereka berduaan dengan istrinya, bukankah menimbulkan rasa iri juga? Mereka mulai berpikir, tidak mungkin rasanya jika mereka akan hidup sendirian saja. Akan ada waktunya untuk mereka hidup bersama pendamping.


Usai permainan panas Robinson dan Selvi, keduanya berpindah ke salah satu ruangan istirahat, di dalamnya terdapat sebuah ranjang dan lemari kecil serta kamar mandi yang cukup indah.


Bukan untuk beristirahat, tapi mereka melakukan sesi panas lainnya di sana dan tidak akan selesai sehingga mereka lelah.


...***...


Wihhh, dua part mantap-mantap doang 😂. Nggak bisa lebih dari ini, suka nggak lolos soalnya 🤣.

__ADS_1


Tanya dong, kalau sekiranya ditambahin cerita Alex di sini gimana? Pada setuju nggak nih? Soalnya kalau dibikin judul baru juga ceritanya nggak panjang sih😅. Tolong jawab di kolom komentar ya.


__ADS_2