Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
60. Tawaran Morgan


__ADS_3

"Memangnya kenapa kalau bekas? Bahkan kita pernah melakukan lebih dari sekedar ini!" Morgan mengatakannya dengan sangat santai, tanpa dia ketahui jika Lyla terkejut mendengar ucapan ambigu itu.


"Kenapa diam?" tanya Morgan saat tak mendengar pembelaan atau ucapan penolakan dari Lyla.


"Ah, aku tidak apa-apa. Apa maksudmu mengatakan kalimat tadi?" tanya Lyla.


"Yang mana?" Morgan berbicara, tak sadar dengan apa yang dia katakan tadi. Dia berbicara sambil menikmati bola daging yang sangat enak sekali.


"Kita ... pernah melakukan hal yang lebih," ucap Lyla pelan. Morgan masih saja santai memakan bola daging itu.


"Apa aku salah mengatakannya? Kita memang pernah melakukan yang lebih bukan?" ucapnya. Pikiran Lyla membayang pada waktu hari itu, hari di mana Morgan memperk0sanya.


"Saat-saat di rumah sakit juga kita berbagi makanan," ucap Morgan, kali ini menyadarkan Lyla jika bukan 'itu' yang dimaksud Morgan. "Aku rasa kita juga lebih dekat sekarang ini."


Lyla menjadi malu sendiri, pikirannya terlalu jauh. "Kau berpikir begitu?"


"Iya, aku pikir begitu. Bukankah kita lebih dekat? Kau dan aku sering bersama sekarang kan?" ucap Morgan sambil mencoba mengingat.


"Iya." Lyla setuju dengan ucapan Morgan jika memang ini yang dia pikirkan.


Mereka kini hanya diam menikmati malam yang dingin, Lyla meminum coklat panasnya pelan-pelan.


"Apa kau betah di sini?" tanya Morgan tiba-tiba.


"Awalnya tidak, tapi saat aku berpikir jika aku tidak akan terlalu baik sebelum sembuh, aku harus betah di sini. Toh, sebentar lagi jika sembuh aku akan pergi jauh dan bisa bekerja lagi seperti biasanya," ucap Lyla. Morgan kini tertegun mendengarnya.


"Kau akan pergi kemana?"


"Mungkin ke luar kota untuk mencari peruntungan," ucap Lyla sambil tersenyum. Morgan terpana melihat senyuman Lyla yang seperti tanpa beban.


"Kau sudah tahu akan bekerja apa?"


"Tidak tahu. Tapi aku cukup cekatan dalam bekerja. Aku yakin jika aku tidak akan menganggur lama nantinya. Pekerjaan apa pun akan aku lakukan."


Detik jam berjalan dengan sangat lambat, angin dingin berembus membuat kulit meremang.

__ADS_1


"Apa kau mau bekerja di perusahaanku?" tanya Morgan.


"Hah? Perusahaanmu?"


"Iya. Daripada pergi ke luar kota yang kau sendiri tidak tahu apakah kau akan mendapatkan pekerjaan dengan cepat atau tidak, dan kau juga tidak tahu akan tinggal di mana, bukan?"


Lyla terdiam. Morgan menganggap itu adalah jawaban 'iya' dari Lyla.


"Bukankah lebih baik kau bekerja denganku saja? Aku bisa siapkan posisi yang baik untukmu. Kau ingin jadi manager, aku akan berikan untukmu," ucap Morgan dengan mudahnya.


Lyla tertawa cukup keras mendengar ucapan Morgan, sehingga laki-laki itu menatapnya heran.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Morgan.


"Kau ini lucu, Tuan. Jabatan manager terlalu tinggi buatku yang hanya berpendidikan rendah. Kau tahu, aku ... tidak lulus kuliah," ucap Lyla menghentikan tawanya dam berkata dengan lirih.


"Kenapa? Kau di DO?" tanya Morgan. Mangkuk yang ada di tangan sudah habis dimakan, dia simpan di atas meja dan mengalihkan tatapannya ke wajah Lyla yang berubah sendu.


"Aku mengundurkan diri dari universitas. Mengalah demi adik-adik panti yang lebih membutuhkan," ucap Lyla.


Morgan terpana, kagum dengan apa yang dialami oleh wanita ini. Ternyata ada wanita yang tidak egois dan memikirkan orang lain.


"Apa kau ingin mengejekku?" tanya Lyla sebal.


"Tidak, siapa bilang aku mengejekmu? Aku hanya ingin tertawa saja, entah kau itu bodoh atau apa?"


Lyla cemberut mendengar kalimat itu, memang ejekan yang ditujukan kepadanya.


"Kau mengejekku, Tuan."


Morgan terdiam sejenak dan berkata, "Iya, aku memang mengejekmu, tapi bukan karena kau berpendidikan rendah, tapi karena aku kira kau sangat bodoh memberikan kesempatanmu untuk yang lainnya," ucap Morgan. "Kau seharusnya lebih memikirkan masa depanmu agar hidupmu nyaman. Jadi, kau bisa membantu yang lain jika hidupmu sudah terjamin."


Tubuh Lyla terbungkuk lemah mendengar ucapan itu. "Iya, sih. Tapi aku tidak bisa egois. Kami hidup bersama, harus mengerti keadaan satu dengan yang lainnya, tidak boleh egois hanya memikirkan nasib diri sendiri." Lyla menghela napasnya cukup panjang, asap tipis terlihat keluar dari dalam mulutnya.


"Waktu itu aku memang sudah bekerja, part time. Cukup untuk biaya kuliahku sendiri, tapi ... ada beberapa anak yang ditinggalkan di panti, cukup banyak waktu itu sedangkan yang kami dapatkan dari donatur tetap tidak bisa mencukupi kebutuhan kami semua. Terpaksa beberapa dari kami mengalah untuk kelangsungan hidup yang lainnya."

__ADS_1


Lyla menyandarkan punggungnya pada kursi santai, sedikit merebahkan diri dan membuat nyaman.


"Kami yang sudah dewasa ada yang memutuskan untuk bekerja dan masih tinggal di panti. Pendapatan yang kami dapatkan sebagian untuk diserahkan guna kebutuhan adik panti, sebagian lagi ada yang sudah bekerja dan memilih untuk memisahkan diri di luar. Aku kadang heran kepada mereka, memang tidak semua, tapi ada beberapa yang seakan lupa jika pernah tinggal dan dibesarkan di panti asuhan. Mereka hilang dan tidak pernah kembali," ucap Lyla.


"Mungkin mereka sedang mengalami hal yang sulit," ucap Morgan.


"Hem, benar. Tapi juga ada beberapa dari mereka yang hidupnya sudah lebih baik. Aku pernah pergi menemui mereka, meminta bantuan saat anak-anak terancam kelaparan dan kami harus memakan lobak untuk mengganjal perut. Mereka menolak ingat dengan tempat di mana mereka dibesarkan!" ucap Lyla dengan nada yang kesal.


Morgan menatap Lyla iba, wajah itu tampak marah dengan rahang yang sedikit mengeras.


"Kalau begitu terima tawaranku. Bekerjalah di perusahaanku."


Lyla mengalihkan tatapannya dari langit yang masih saja menurunkan butiran salju.


"Aku ingin, Tuan. Tapi jika jadi manager aku tidak bisa! Haha, posisi itu terlalu bagus untukku!" Lyla tertawa dengan renyah, lucu rasanya jika membayangkan dirinya menjadi manager, apa yang akan dia lakukan? Dia tidak paham dengan pekerjaan-pekerjaan itu.


"Begini saja, jika kau mau bekerja di perusahaanku. Aku tidak akan membayarmu, tapi sebagai gantinya, kau akan aku biayaimu untuk kembali belajar di universitas. Bagaimana?" tanya Morgan yang sukses membuat Lyla menghentikan tawanya seketika.


"Eh, maksudnya?" tanya Lyla menatap Morgan tajam dan tidak menyangka.


"Kau bukan gadis yang bodoh yang tidak mengerti ucapanku!" ujar Morgan kesal.


"Bukan itu, aku mengerti, tapi---"


"Daripada bekerja di tempat lain, lebih baik kau bekerja di tempatku saja. Jika kau bekerja di tempat lain aku yakin gajimu tidak akan cukup untuk melanjutkan kuliahmu, bukan? Kau harus membaginya untuk panti asuhan dan juga kebutuhanmu sehari-hari. Jadi, jika kau terima tawaranku, kau bisa melanjutkan lagi kuliah dan kau juga akan punya pengalaman jika suatu saat kau ingin mandiri. Setidaknya peluang untuk membantu ibu panti lebih besar daripada kau bekerja di luar dan mengirimkan gaji yang tak seberapa. Bayangkan jika kau bisa sukses, mempunyai jabatan yang tinggi. Bukankah peluang untuk membantu mereka akan lebih tinggi?" tanya Morgan seraya melirik ke arah Lyla. Tampak gadis itu tengah berpikir, terlihat kelopak matanya yang bergerak cukup cepat.


"Benar juga, sih. Tapi aku tetap saja harus memikirkan biaya hidupku sehari-hari. Aku harus menyewa tempat untukku tinggal---"


"Tinggal saja di sini. Kau tidak perlu lagi memikirkan biaya hidupmu selama itu," ucap Morgan. Lyla menganggukkan kepalanya, membuat Morgan menyunggingkan senyumnya tanpa sadar.


"Aku akan pikirkan lagi," ucap Lyla. Senyum yang ada di bibir Morgan kini menjadi datar. Panjang lebar dia berbicara dia kira akan membuat wanita ini setuju. Apa lagi?


"Aku akan kembali ke kamar!" ucap Morgan kesal dan tanpa menunggu ucapan dari wanita itu, dia berjalan dengan cepat ke arah kamarnya.


Cih, memang semua wanita sok jual mahal!

__ADS_1


Sementara itu di tepi kolam renang, Lyla masih saja berpikir setelah kepergian Morgan.


"Itu memang tawaran yang baik. Apakah aku harus menerimanya?" gumam Lyla dengan pelan.


__ADS_2