Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
70. Pemuda Pengganggu


__ADS_3

Mereka telah sampai di University of Cambridge di mana Lyla akan belajar selama beberapa tahun di sini. Lyla melihat tempat itu dari dalam mobil dan melihat betapa ramainya orang-orang yang ada di sana, tempat itu juga sangat besar dan megah sekali. Tidak dia sangka jika dia akan menjadi salah satu pelajar di tempat ini.


"Kenapa kau diam saja? Ayo kita turun," ucap Morgan menyadarkan kekaguman dan keresahan Lyla.


"Tuan, aku jadi takut." Kaki Lyla kini bergetar lemas.


Morgan tertawa kecil sambil membuka sabuk pengaman miliknya. "Apa yang kau takutkan? Mereka sama-sama manusia, bukan hantu."


"Aku tahu. Aku hanya tiba-tiba merasa gugup saja, dan takut bagaimana jika aku tidak diterima di sini," ucap Lyla akhirnya.


"Kau akan diterima di sini, aku akan pastikan untuk itu," ucap Morgan. Akan tetapi, tetap saja Lyla tidak bisa tenang dan dia masih merasakan resah di dalam hatinya.


"Ayo, tidak apa-apa," ucap Morgan lagi. "Hari ini kau hanya harus mengikuti ku saja, kita lihat bagaimana nanti. Apakah kau bisa ikut kelas hari ini atau besok," ucap laki-laki itu lagi. Akhirnya Lyla mengangguk dan mengikuti Morgan turun dari mobil.


Beberapa orang yang ada di sana terpana saat melihat mobil hitam mewah terparkir di depan mata mereka. Kilauannya membuat mata itu tidak teralihkan dan ingin tahu siapa gerangan orang yang memilikinya. Apalagi saat Morgan baru saja keluar dari sana, mata para wanita berbinar dengan senyuman lebar pada wajah masing-masing. Berbeda dengan para wanita, pemuda yang ada di sana menatap Morgan dengan pandangan mengancam. Jangan sampai laki-laki itu mengalihkan minat para wanita dari mereka.


Morgan keluar dari dalam mobil tersebut dan berputar untuk membukakan pintu mobil bagi Lyla, tapi sebelum dia akan membukanya, Lyla sudah melangkah keluar dengan kepala yang tertunduk malu.


"Kau sudah siap?" tanya Morgan, terpaksa Lyla mengangguk saja.


"Ayo." Kini morgan memimpin langkah kakinya menuju ke suatu ruangan.


Para pemuda yang ada di sana menatap penuh minat pada Lyla, gadis itu mungil, manis dengan kulit yang tidak terlalu pucat seperti kebanyakan dari mereka, rambutnya juga hitam legam dengan manik mata coklat indah.


Lyla semakin menundukkan kepalanya saat dia yakin jika tatapan itu tertuju kepadanya, bayangan di masa lalu saat dia masih ada di panti asuhan berputar kembali di dalam ingatan. Hinaan dan juga ejekan kerap dia dapatkan dari orang lain.

__ADS_1


"Hei, gadis manis. Bolehkah kita berkenalan? Boleh aku tahu nomormu?" tanya seseorang yang nekat mengikuti langkah kaki Lyla. Lyla terkejut dan melangkah dengan cepat agar bisa sampai pada Morgan yang berjalan tiga meter di depannya.


Morgan mendengar suara di belakangnya, dia berhenti dan berbalik sehingga membuat Lyla dan pemuda yang tadi berhenti melangkahkan kaki mereka.


"Apa ada sesuatu, Bung?" tanya Morgan pada laki-laki itu. Pemuda tersebut cukup tampan dengan penampilan yang sedikit berantakan, tapi dia yakin jika dia masih jauh lebih tampan dari pemuda ini.


"Oh, apakah ini adikmu, Tuan?" tanya pemuda tersebut. Melihat Morgan dengan pakaian rapi membuat pemuda itu menghormatinya.


"Aku hanya ingin berkenalan dengannya saja. Sepertinya aku baru melihatnya di sini. Aku tahu banyak tempat dan aku juga kenal dengan banyak orang di sini. Anda tidak perlu khawatir jika adik Anda berada di sini, aku akan membantu Anda menjaganya dengan sangat baik," ucapnya lagi.


Lyla seakan mengkerut mendengar laki-laki itu. Dia merasa sedikit tidak nyaman dengan sambutan dari pemuda itu. Terlalu berani.


"Oh, ya. Aku belum memperkenalkan diriku dengan baik. Aku Markian. Markian Lenon. Panggil saja aku Mark. Dan ... siapa namamu, Nona?" tanya Mark seraya mengulurkan tangannya kepada Lyla dengan nada bicara yang sangat sopan sekali.


Melihat hal itu morgan menjadi tidak senang hati. Berani-berani sekali laki-laki ini mengulurkan tangannya kepada Lyla.


"Senang juga berkenalan denganmu. Aku sangat senang sekali dengan tawaranmu, Tuan Lenon. Tapi aku rasa tidak perlu. Terima kasih," ucap Morgan seraya menggerakkan tangannya naik dan turun.


Markian merasa sakit pada tangannya, dia menahan ringisan agar tidak keluar dari dalam mulutnya.


"Oh, Tuan Morgan. Aku juga senang berkenalan dengan pria tampan seperti Anda. Kalian adik kakak yang sangat mempesona," ucap Markian, tapi saat mengatakan kata terakhir dia tujukan kata itu untuk Lyla.


"Terima kasih atas pujian Anda Tuan Lenon. Bisakah kau bantu kami untuk pergi ke ruangan administrasi?" tanya Morgan meminta.


"Oh, tentu saja, Tuan. Dengan senang hati aku akan mengantarmu ke sana, silakan Anda sebagai seorang yang aku hormati berjalan terlebih dahulu," ucap Mark mempersilakan, tapi Morgan menarik tangan laki-laki itu dan menyuruhnya untuk jalan di depan mereka berdua.

__ADS_1


"Baiknya Tuan Muda Lenon yang memimpin jalan, bagaimana bisa pemandu jalan berada di belakang? Suatu kehormatan untuk kami bisa Anda antar ke sana," ucap Morgan dengan senyuman mengancam sehingga Mark tidak tahu dan merasa jika dirinya ada di dalam bahaya sekarang ini, jadi sekarang dia berada di depan dan memimpin jalan mereka berdua.


"Baiklah Tuan Lenon, terima kasih karena Anda dengan sangat baik hati mengantar kami hingga sampai ke sini. Kami sangat menghargai bantuanmu," ucap Morgan saat mereka sudah sampai di ruangan administrasi dengan sedikit senyuman di bibirnya. Namun, hal itu tidak menjadikan Mark senang, dia malah sedikit merinding melihat senyuman itu.


"Ya, tentu saja, Tuan. Tentu saja. Kapan pun, jika aku bisa aku kaan membantu Anda dan ... siapa namamu, Nona? Aku belum mendengar namamu," ucap Markian.


"Kami sudah harus masuk ke dalam. Tolong sampaikan salamku kepada Tuan Devis Lenon jika beliau sudah pulang nanti, tentunya."


Markian bingung karena ternyata laki-laki ini ahu dengan nama ayahnya, dia balas tersenyum meski dengan terpaksa, demi agar dia bisa mendapatkan izin untuk mendekati gadis manis yang ada di depannya ini.


"Tentu saja, Tuan Morgan. Pasti akan aku sampaikan. Akan aku sampaikan pada Ayahku."


"Ya, tentu saja kau harus menyampaikannya. Sampaikan salam dari aku juga untuk ibumu. Sampaikan saja Tuan Castanov memberi salam baik untuk mereka berdua."


"Ya, tentu saja Tuan Muda Cas ... Castanov?" tanya Markian dengan tak percaya. Dia melihat Morgan dengan tatapan yang bingung, menatap laki-laki itu dari atas hingga ke bawah dan sebaliknya, yang dia tahu teman bisnis ayahnya adalah Tuan Castanov, inikah orangnya? Bukan laki-laki tua seusia ayahnya?


"Ada apa Tuan Muda? Apakah ada yang salah?" tanya Morgan lagi. Mark menggelengkan kepalanya dengan cepat seraya tersenyum kaku, wajahnya seketika langsung pucat. Tuan muda ini lah yang menaungi perusahaan ayahnya, bisa gawat jika dia melakukan sesuatu hal yang bisa membuat laki-laki ini marah.


"Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma tidak menyangka saja bisa bertemu dengan Anda, Tuan," ucap laki-laki itu lagi.


Morgan menepuk pundak Mark pelan, tak lupa senyuman dan juga tatapan dari laki-laki itu yang ditanggapi senyum kaku oleh Mark.


"Kami masuk dulu, silakan jika Tuan Muda Lenon akan kembali ke tempatnya," ucap Morgan kemudian mengajak Lyla masuk ke dalam sana. Akan tetapi, sebelum Morgan masuk ke dalam ruangan itu dia kembali memanggil Markian.


"Oh, ya, Tuan Muda. Karena tadi kau bilang kau akan membantu menjaga adikku, jadi aku akan sangat senang sekali untuk menerima tawaran itu. Aku akan bicara dengan ayahmu bahwa kau adalah anak yang baik," ucap Morgan yang membuat Markian menelan ludahnya dengan susah payah. Morgan masuk ke dalam ruangan itu meninggalkan Markian yang kini terdiam bagai patung.

__ADS_1


"Astaga! Semoga saja aku tidak melakukan kesalahan yang fatal," ucap pemuda itu kemudian memilih pergi dari sana.


__ADS_2