Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
199. Alex Dan Jane (part 1)


__ADS_3

Tuan Pierre mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah permainan catur yang kemudian dia susun di atas meja yang ada di depannya.


Alex menghela nafasnya dan mengikuti permintaan dari pria tua itu. Jelas pertemuan ini tidak akan bisa singkat jika mereka sudah bermain catur. Tuan Pierre adalah seorang pria tua yang mengaku kesepian, padahal jika ditelusuri dari jejak yang ada, dia memiliki beberapa anak dan banyak cucu.


"Aku sedang banyak pekerjaan."


"Kau bisa memulai lebih dulu. Kali ini aku mengizinkanmu," wajah pria itu tidak mendengarkan keluhan Alex.


"Hanya satu sesi. Setelah itu Anda pulanglah ke rumah."


Tuan Pierre menatap sendu pada pria muda itu dan membuat Alex tidak tahan.


"Baiklah, dua sesi dan aku harap kau pulang dan minum obatmu."


Terdengar helaan nafas dari pria tua itu. Namun, Tuan Pierre kali ini tidak membantah apa yang diucapkan oleh Alex.


"Baiklah. Hari ini aku hanya akan bermain dua sesi saja."


Meski begitu Alex masih tidak yakin jika mereka akan bisa cepat menyelesaikannya. Meskipun sebenarnya bisa, tapi Tuan Pierre tidak akan begitu saja membiarkannya menang atau membiarkan permainan ini berakhir dengan cepat.


"Aku akan mulai duluan." Alex memindahkan salah satu pion anak caturnya.


"Aku selalu senang bertemu denganmu dan bermain catur di sini." Tuan Pierre berbicara sambil memindahkan pihak caturnya yang berwarna hitam.


"Aku tahu, maka dari itu kau selalu datang ke sini."


"Bagaimana kesehatanmu akhir-akhir ini?"


Dua orang itu bergantian memindahkan bidak catur miliknya.


"Aku sedang sedih." Alih-alih menjawab pertanyaan dari Alex, Tuan Pierre memilih untuk mencurahkan isi yang ada di dalam hatinya.


"Apa yang membuatmu sedih?"


"Aku ingin kau datang di hari ulang tahunku esok lusa."


"Hahh, kau sudah sangat tua untuk merayakan ulang tahun. Kue ulang tahun tidak akan mengembalikanmu usiamu yang muda."


"Aku tahu. Justru mungkin saja ini adalah ulang tahun terakhirku."


Tangan Alex terhenti saat akan memindahkan bidak catur miliknya. Dia tertegun dan menatap pria tua yang ada di depannya itu.


"Kau seperti sudah pasrah dengan malaikat maut. Apakah kali ini kau sudah menyerah dan tidak ingin melihat cucumu menikah?"


"Tentu saja aku ingin melihatnya menikah, tapi rasanya sedikit tidak mungkin mengingat kesehatanku yang sudah seperti ini dan aku sendiri sudah lama tidak melihatnya."


"Apakah dia tidak tinggal bersamamu?"


"Tidak. Dia adalah cucuku dari anak perempuanku yang pergi meninggalkan pria tua yang kesepian dan sedih ini."


Alex mengerutkan keningnya sekali lagi dan masih mencoba untuk memahami tentang apa yang diceritakan oleh Tuan Pierre.


"Bicaramu berbelit sekali. Kau bisa membuatnya lebih sederhana lagi, kan?"


"Aku memiliki seorang anak perempuan, dia ingin menikah dengan pria pilihannya, tapi aku tidak menyetujui dia dengan laki-laki itu. Dia berasal dari keluarga yang tidak setara dengan kami, dan aku pikir masa depannya tidak akan bagus jika dia menikah dengan pria itu. Jadi, aku memberinya sebuah pilihan untuk menatap bersamaku dengan segala fasilitas yang aku sediakan. Atau, dia harus pergi jika masih ingin menikah dengan pria itu. Dan pada akhirnya pria tua ini kalah, pria tua ini terlalu egois dan tidak ingin mengakui kekalahannya. Akhirnya putriku pergi bersama dengan suaminya. Kabar terakhir yang aku dengar dia memiliki seorang putri yang sangat cantik sekali. Aku sudah menemui cucuku yang satu itu, tapi aku tidak bisa muncul di hadapannya karena Aku sangat malu telah memperlakukan ibunya dengan tidak adil seperti itu."


"Jadi, apakah sampai saat ini kau belum bertemu dengannya?"


"Iya, aku masih belum berani bertemu dengan dia. Aku takut jika dia membenciku."


"Apakah kau pernah berusaha untuk menemuinya?"


"Iya, tapi perasaan bersalah ini membuatku semakin takut untuk menemui cucuku itu."


"Jadi, maksud kedatanganmu ke sini, kau ingin meminta untuk bertemu dengannya?" ujar Alex yang curiga terhadap pria tua ini.


"Kau memang pemuda yang sangat pintar sekali."


"Dan kau laki-laki tua yang sangat licik."


"Akan lebih bagus jika kau bisa membuatnya jatuh cinta padamu. Aku akan memberi banyak untukmu. Perusahaan akan semakin berkembang."


Alex sudah menebak apa yang sekiranya ada di dalam pikiran pak tua ini, dan dia jelas-jelas akan menolak permintaannya.


"Tolong maafkan aku. Jika hanya menolong untuk membawakannya kepadamu, aku bisa melakukannya. Tapi untuk rencanamu yang satu itu, mohon maafkan aku sekali lagi. Aku sudah punya kekasih."


Tangan Tuan Pierre memindahkan satu pion miliknya, terdengar helaan nafasnya sekali lagi yang terasa berat di dalam dadanya.


"Aku pikir kau belum memiliki kekasih."

__ADS_1


Alex tentu saja belum memiliki seorang kekasih, dia hanya sedang berbohong kepada pria tua ini agar tidak dijodohkan dengan cucunya. Apalagi Tuan Pierre sendiri tidak berani bertemu dengan cucunya itu.


"Bukankah terakhir kali kau mengatakan padaku bahwa kau belum memiliki kekasih?" Tuan Pierre mencoba untuk mengingat kembali ucapan Alex beberapa bulan yang lalu.


"Iya, memang benar aku belum memiliki pasangan waktu itu. Tapi, saat aku menghadiri acara pernikahan keponakanku, aku bertemu dengan seorang wanita. Meskipun dia tidak cantik, tapi dia telah berhasil membuatku memikirkannya hingga saat ini."


"Apa kalian sudah resmi berpacaran? Kalian merencanakan pernikahan?"


"I-iyaa, tentu saja kami sudah merencanakannya."


"Oh, begitu rupanya. Aku pikir kalian masih belum merencanakan soal pernikahan. Andai kalian belum merencanakannya, aku ingin meminjammu sebentar untuk menarik perhatian cucuku."


"Lalu kau akan membuatnya patah hati lagi?"


"Tidak. Andai kau tidak mengabaikan cucuku."


Alex sudah tidak bisa berkata-kata lagi jika menghadapi pria tua ini. Pria tua yang keras kepala. Entah dari apa terbuat isi kepalanya itu sehingga dia tidak bisa mendengarkan pendapat dari orang lain.


"Lebih baik kau mencari seorang pria yang bisa melakukan hal tersebut, karena jujur saja aku tidak bisa melakukannya."


Langkah bidak catur Tuan Pierre semakin gencar mengincar raja milik Alex, dan tanpa Alex sadari Tuan Pierre telah berhasil membuat langkahnya terhenti. Untuk kesekian kalinya, Alex kalah bermain dari pria tua itu.


"Kau kalah. Permainan ini sudah tidak lagi menarik. Datanglah ke pesta ulang tahunku lusa. Dan jangan lupa bawa kekasihmu untuk datang. Kau tidak perlu membawa hadiah apa-apa untukku, karena dengan menemaniku bermain catur saja itu adalah hadiah terbaik yang sangat berharga sekali di dalam hidupku."


Tuan Pierre membereskan bidak caturnya dan pergi dari ruangan itu. Sementara tetapan Alex kosong menatap pintu yang baru saja tertutup setelah kepergian dari pria tua tersebut.


"Apa yang barusan aku lakukan?"


Alex mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mengatakan memiliki kekasih hanya untuk menghindari permintaan dari Tuan Pierre. Akan tetapi, dia tidak menyangka jika pria tua itu memintanya untuk datang bersama dengan kekasihnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengajak kakak untuk pergi? Tidak!" Alex menggelengkan kepalanya dan berpikir tidak mungkin dia akan membawa Theresia untuk pergi ke pesta itu. Dia tidak ingin membuat Theresia kembali dalam kesulitan. Bisa saja seseorang masih mengincar Theresia dan Alex tidak mau hal buruk terjadi kepadanya lagi.


"Apakah aku harus meminta bantuan Laura?"


Alex lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Terakhir kalinya dia mengajak keponakannya itu pergi ke sebuah pesta, malah membuat hal buruk terjadi.


Hingga pada akhirnya dia memikirkan seorang wanita yang benar-benar menjadi alasannya berkata bahwa dia telah memiliki kekasih kepada Tuan Pierre.


"Apakah aku harus menghubunginya? Sepertinya tidak ada pilihan lain."


*


Pada sore harinya, Alex menyuruh seseorang membeli laptop keluaran terbaru untuk kakaknya. Sementara dia sendiri pergi untuk mencari gadis berkacamata yang tadi siang telah ditemuinya di area pemakaman. Beruntung tempat tersebut tidak terlalu jauh dan dia bisa pergi dalam waktu yang singkat.


Alex telah menunggu beberapa saat lamanya di bengkel tersebut, tapi hingga malam hari dia menunggu, dia tidak mendapati Jane datang ke bengkel itu.


Alex kembali ke rumah. Dia lelah dan sedikit kesal karenanya hampir dua jam menunggu dan wanita itu belum datang juga.


"Alex, terima kasih kau telah membelikannya untukku."


Theresia tersenyum senang dan segera mengambilkan makanan untuk adiknya.


"Kau menyukainya?"


"Iya, tentu saja aku sangat menyukainya. Padahal sudah cukup jika aku memiliki laptop bekasmu saja."


"Tidak. Mana mungkin aku memberikan barang bekas kepadamu. Sudah sepantasnya kau mendapatkan yang terbaik."


Wajah Alex terlihat tampak lesu sekali dan membuat Theresia menjadi bingung.


"Apa ada masalah di kantor?" tanya wanita itu.


"Tidak ada. Ini hanya masalah pekerjaan biasa."


"Oh, baiklah. Cepatlah makan sebelum nasi ini menjadi dingin."


"Terima kasih, Kakak."


Alex cukup terhibur dengan adanya sang kakak di sampingnya kini. Dia ingin berbicara tentang Jane, tapi mengingat jika sang kakak sering menggodanya seperti itu dia jadi enggan juga untuk berbicara.


***


Pada keesokan harinya, Alex kembali lagi ke bengkel di mana mobil milik Jane berada. Akan tetapi, dia tidak bisa menemukan mobil itu di sana karena ternyata mobil tersebut sudah selesai diperbaiki dan Jane telah mengambilnya.


Alex menjadi semakin kesal karena dia tidak bisa bertemu dengan wanita itu lagi.


"Kau bisa datang ke alamat ini jika kau mau. Aku pikir dia tinggal di sini." Seorang pria pemilik bengkel memberikan sebuah alamat yang tertulis pada secarik kertas.


"Apakah ini alamat rumahnya?"

__ADS_1


"Aku juga tidak yakin. Tapi tadi dia sempat meminta kepada kami jika ada sparepart mobil yang dia cari dia ingin benda tersebut diantarkan ke alamat ini dan seseorang akan membayarnya."


Alex terdiam dan mencoba mengingat alamat yang ada di dalam kertas tersebut. Itu memang jalan yang mereka lalui kemarin dan Jane memang turun di jalan tersebut.


"Baiklah. Terima kasih. Aku akan membawa benda ini."


Alex pergi dari bengkel tersebut dan segera melajukan kendaraannya ke alamat yang tertulis di kertas itu.


"Aku memang sudah gila, tapi aku akan lebih gila lagi jika pak tua itu tetap menyuruhku untuk menikahi cucunya," gumam Alex.


Setelah satu jam mencari, akhirnya Alex bisa menemukan rumah yang tertera di alamat tersebut. Ternyata jalan menuju ke rumah ini bisa dengan memutar dan kawasan ini tidak terlihat buruk seperti yang dia lihat sebelumnya.


"Aku heran kenapa kemarin dia ingin kami menurunkannya di jalan itu." Alex kembali bergumam mengutarakan kebingungannya.


Dia menunggu beberapa saat lamanya, mobil yang kemarin dia bawa ke bengkel ada di halaman rumah tersebut, tapi bukan itu yang dia cari melainkan si pemilik mobil yang kemarin bertemu dengan mereka.


"Apakah aku harus datang ke rumah itu dan mengetuk pintunya?"


Alex akan melakukannya, tapi sebelum dia keluar dari mobil tersebut seseorang keluar dari rumah itu. Jane sedang mengikat rambutnya dan membuka pintu gerbang, kemudian mobil tua yang mereka bawa kemarin ke bengkel keluar dari rumah tersebut.


Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera dia menyalakan mobilnya dan mengikuti mobil tua yang dikendarai oleh Jane.


"Aku harus bisa bicara dengan dia."


Alex sungguh bertekad hari ini. Daripada dia menjadi cucu menantu pak tua itu, yang dia sendiri tidak mengenalinya. Lebih baik dia mengajak Jane untuk bermain peranan.


Mobil yang dikendarai oleh Jane melaju di jalanan sepi dengan kecepatan yang cukup tinggi. Alex bisa melihat rambut dari wanita itu yang melambai-lambai terkena terpaan angin. Mobil tua dengan atap terbuka itu bisa membuat Alex melihat si pengendara.


Saat ada kesempatan, Alex melajukan mobilnya lebih cepat dan mencoba memblokir kendaraan milik Jane.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Jane berteriak tidak terima karena seseorang telah menghalangi jalannya. Dia keluar dari mobil tersebut dan menghampiri mobil milik Alex. Akan tetapi, baru saja dia akan mengeluarkan amarahnya, mulutnya kembali terkatup saat melihat Alex keluar dari mobil itu.


"Tuan Alex? Ah, A-anda rupanya." Jane menjadi salah tingkah saat melihat Alex.


Dia sedang berpikir apa yang dilakukan oleh pria ini di sini.


'Apakah dia ingin aku mengganti rugi?' pikir Jane. Kacamatanya sedikit merosot dan dia membenarkan benda tersebut kembali ke tempatnya.


"Aku melihat dari kejauhan, sepertinya aku kenal dengan kendaraan ini. Ternyata aku tidak salah lihat dan tidak salah ingat," ucap Alex seraya menyadarkan tubuhnya pada body mobilnya.


"Benar sekali, Tuan. Mobilku sudah selesai diperbaiki, dan aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Anda. Jika aku tidak bertemu dengan Anda dan Nyonya, mungkin saja aku sudah menginap di tempat yang menakutkan itu." Jane berbicara dengan sangat sopan sekali, dia berusaha tenang meski sebenarnya di dalam hati dia merasa takut juga.


"Mobilmu sudah nyaman untuk dipakai, bukan?"


"Iya, Tuan."


"Kau harus membayar biaya perbaikan mobil itu."


Jane terhenyak mendengar permintaan dari Alex.


"T-tapi ... Nyonya bilang dia yang akan menanggungnya." Jane mencoba mencari pembenaran atas ucapan Theresia kemarin.


"Iya memang kakakku yang mengatakan akan membayarkan perbaikan mobilmu, tapi tetap saja yang dia pakai adalah uangku. Begitu juga dengan motor milikmu, dia memakai uangku. Jadi, aku harus bagaimana sekarang? Aku ingin uangku kembali."


Jane menjadi salah tingkah dibuatnya. Dia ingin marah dengan pria itu, tapi apa yang dia katakan Jane juga tidak bisa mengelaknya. Orang kaya memang senang sekali menindas orang yang tidak punya sepertinya.


"Dan soal pakaianku ... aku juga ingin kau menggantinya."


Jane semakin ingin marah mendengar pria itu. Dia sungguh tidak sengaja saat menumpahkan kopi pada pakaian Alex sewaktu mereka masih berada di Eropa.


"Anu ... Tuan. Aku sungguh tidak sengaja melakukan itu. Bukankah aku sudah menawarkan diri untuk mencucikan pakaianmu? Aku akan mencari tempat laundry yang sangat bagus dan aku jamin jika mereka akan bisa menghilangkan nodanya, tapi kau yang tidak mau."


"Pakaianku terbuat dari bahan yang sangat bagus sekali, dan andai kau bisa membawanya ke tempat laundry, apakah kau bisa menjamin jika pakaian itu akan tetap bagus? Pakaian milikku harus dicuci dengan sabun khusus yang tidak murah harganya."


Jane ingin menangis. Membayangkan dia harus membayar dengan uang yang tidak sedikit membuatnya pusing. Apalagi pria ini juga menagih uang perbaikan motor dan mobil yang telah dia gunakan. Berapa banyak semua itu? Dan, apakah dia bisa melunasinya? Dari mana lagi dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Untuk bisa pulang ke negara ini saja dia harus menyisihkan uang hampir satu tahun untuk membeli tiket.


"Lalu bagaimana?" tanya Alex mencoba mengintimidasinya.


Jane tidak berani mengangkat kepalanya dan masih menunduk menatap sepatunya yang sudah usang.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengembalikan uangmu, Tuan. Tapi jika kau mengizinkan, tolong berikan aku nomor hp-mu dan aku akan mencicilnya sedikit demi sedikit."


Alex tidak menginginkan itu, yang diyakinkan adalah jin berpura-pura untuk menjadi kekasihnya di malam saat perayaan ulang tahun Tuan Pierre.


"Aku tidak suka kau mencicil. Memangnya kau kira aku ini apa? Aku bukan sedang menagih kreditan alat memasak."


"Aku tidak bisa menjanjikan lebih dari itu, Tuan."


"Kalau begitu Kau tidak perlu menjanjikan hal yang tidak bisa kau lakukan. Aku tidak akan menagihnya lagi tapi ...." Alex menjeda ucapannya, membuat Jane mengangkat kepala dan menatap pria itu.

__ADS_1


"Besok malam temani aku untuk pergi ke sebuah acara."


"Hah?"


__ADS_2