Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
156.


__ADS_3

Alex membawa keponakannya ke dalam ruangan lain. Dia membiarkan Lyla untuk duduk dan melepaskan sepatunya. Kakinya sedikit merah di bagian belakang.


"Apa ini sakit?" tanya Alex kasihan.


"Iya, tentu saja ini sakit. Kau tidak.pernah tahu rasanya memakai high heels kan?" tanya wanita itu sambil mencibir Alex.


Alex memalingkan wajahnya ke arah lain dan berdecak kesal dan bergumam lirih. "Aku juga pernah mengenakannya."


"Hah? Apa?" tanya Lyla saat hanya gumaman halus yang dia dengar dari pamannya.


"Tidak. Tidak ada."


Mana mungkin jika Alex akan mengatakan jika dirinya pernah mengenakan high heels dulu, saat penyamaran bersama dengan Mac dan menyusup, membuat pabrik senjata meledak karena ulah mereka.


Ah, lupakan apa yang terjadi dulu. Alex tidak ingin membahasnya dan tidak ingin sang keponakan tahu apa saja yang pernah dia lakukan di masa lalunya.


"Istirahat lah sebentar, aku akan carikan kakimu salep."

__ADS_1


"Iya, baiklah."


Alex pergi dari sana ke arah lain dan meminta seseorang membawakan plester dan salep luka untuk Lyla.


Saat Lyla sedang sibuk mengusap kakinya yang perih, seseorang datang dan menyapanya. Tentu saja Lyla terkejut dengan suara itu.


"Apakah Anda pasangan Tuan Alex?" tanya laki-laki yang Lyla sendiri tidak mengenalnya.


"Maaf, Anda siapa?" Lyla bingung, dan waspada andai laki-laki ini ingin berbuat jahat kepadanya.


"Oh, pa--, kekasihku sedang mengambilkan sesuatu untukku. Apakah Anda ada perlu dengannya?" tanya Lyla lagi.


Pria itu menarik tangannya yang sudah terulur.


"Tidak ada. Saya hanya ingin menyapa Anda saja. Saya lihat anda hanya sendirian."


"Terima kasih Tuan Herwitt, tapi aku baik-baik saja di sini."

__ADS_1


Lyla berharap jika Alex akan segera datang. Dia sudah mengambil jarak cukup jauh dari laki-laki asing itu. Semoga saja pria ini tidak nekat untuk mengganggunya.


Doa Lyla terkabul, tak lama Alex datang dengan tergesa saat menyadari jika Lyla tidak hanya sendirian saja. Dia khawatir saat melihat Lyla dan takut jika keponakannya itu tidak bisa bicara selain yang dia inginkan tadi.


"Tuan Herwit?" sapa Alex sambil tersenyum.


Tuan Herwit pun sama tersenyum, mereka saling bersalaman dan bertanya kabar. Akan tetapi, rasa kesal ada di dalam Alex terasa hingga kini.


"Apa yang membawa Tuan Herwit menemui ada di sini?" tanya Alex dengan sopan, tapi dari nadanya itu terdengar curiga.


"Oh. Maafkan saya. Saya hanya melihat nona cantik ini sendirian di sini. Maka dari itu saya bertanya seandainya nona ini membutuhkan bantuan," ujar laki-laki itu bersuara.


"Oh, terima kasih banyak atas perhatian Tuan Herwit kepada kekasih saya. Saya ucapkan terima kasih banyak karena sudah memperhatikan kepada kekasih saya. Mulai sekarang, saya yang akan ambil alih dan menemani kekasih saya," ucap Alex sekali lagi. Tidak ada senyum. di antara mereka, seakan sebelum ini keduanya adalah musuh.


Alex tiba-tiba saja mendekat dan mencium pipi Lyla, seakan ingin memberi tahu kepada pria itu kemesraan mereka. Lyla pun terkejut dan menatap tidak percaya pada pamannya itu.


"Apa kakimu masih sakit?" tanya Alex dengan nada lembut, membuat Tuan Herwit pergi meninggalkan dua orang tersebut dengan perasaan kesal.

__ADS_1


__ADS_2