
"Sudah. Jangan banyak bicara lagi. Istirahatlah. Besok kita bicara,” ucap Gerald membuat Lyla tersentuh dengan perhatian dari laki-laki ini. Dia memang jelas berbeda dengan Morgan, laki-laki itu bahkan tidak bertanya keadaannya, hanya bisa memaksa saja.
“Iya. Aku akan ke kamar,” ucap Lyla, tapi saat dia akan melangkah kakinya terasa sakit akibat saat di jalanan tadi dia hampir terjatuh dan menyebabkan kakinya terkilir.
Gerald menangkap tubuh limbung Lyla dengan cepat.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Gerald.
Lyla menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku hanya tidak berhati-hati. Maaf,” ucap Lyla, kemudian melepaskan diri dari Gerald dan berjalan dengan pelan ke arah kamarnya. Gerald hanya melihat Lyla yang pergi dengan langkah yang tertatih.
...***...
“Di mana kau menemukan Lyla?” tanya Gerald saat menemui Morgan di dalam kamarnya. Dia sedang berada di dekat jendela tanpa bajunya sehingga otot di perutnya terlihat dengan sangat jelas. Hawa dingin yang berembus dari luaran sana tidak dia hiraukan.
“Dia sedang menggelandang di jalanan,” jawab Morgan acuh. Gerald sedikit kesal jika mendengar jawaban yang seperti itu.
“Katakan saja dia bertemu di mana dan jangan buat aku kesal.”
Morgan tertawa mendecih sebal. “Kau sudah terpengaruh dengan dia? Sejak kapan kau peduli kepada perempuan?” tanya Morgan.
“Sejak kau membawanya ke dalam rumah ini.”
“Hah, dia bukan seleramu.”
“Iya, memang bukan. Tapi jujur saja semenjak dia ada di rumah ini, rasanya sangat menyenangkan karena aku mempunyai teman baru dan bukan teman yang kaku sepertimu.” Gerald tertawa sambil berkata seperti itu. Semakin membuat Morgan menjadi sebal.
"Iya berteman lah terus saja dengan dia dan jangan kembali lagi!" ucap Morgan pada Gerald dengan kesal.
Gerald menahan tawanya. "Apa kau cemburu?"
"Cemburu? Siapa? Aku?" Morgan menunjuk dirinya sendiri. "Tidak! Aku tidak cemburu. Siapa yang cemburu? Padamu dan dia? Kalian pasangan yang sangat hebat. Aku sangat senang sekali mendengar kalian sangat akrab. Sana. Pergilah dan mengobrol saja dengan dia. Aku tidak akan lagi melarangmu!" ucap Morgan sambil mendorong tubuh Gerald untuk keluar dari kamar itu.
Gerald tertawa keras dan meninggalkan Morgan pada akhirnya. Laki-laki dingin dan datar itu terlihat seperti bukan dia yang biasanya sama sekali.
"Aku tidak menyangka ternyata kau peduli juga dengan dia. Terima kasih karena telah membawanya kembali ke rumah ini," ucap Gerald sebelum pergi dari kamar itu.
__ADS_1
"Siapa yang peduli dengan dia? Aku tidak peduli dengan dia. Hanya saja aku menemukannya di jalanan tadi." Morgan berkata dengan kesal.
"Sudahlah. Kau menemukannya saja aku sudah sangat senang. Aku akan merasa sangat bersalah sekali jika dia tidak sampai ketemu malam ini."
"Cepat pergi dari kamarku! Kau banyak bicara sekali," usir Morgan sekali lagi.
"Apa kau sudah makan?" tanya Gerald sebelum meninggalkan Morgan di sana.
"Jangan pedulikan aku. Pedulikan saja teman barumu."
Gerald akhirnya pergi dari kamar itu.
...***...
Di kamarnya Lyla sedang terduduk dan mengurut sedikit kakinya, akibat tidak berjalan dengan hati-hati dia hampir terjatuh dan menyebabkan terkilir di sana. Tangannya juga sakit, selain karena merebut kalungnya tadi juga karena dia memukuli punggung Morgan lumayan keras.
"Hah, kenapa aku harus kembali ke rumah ini?" gumam Lyla dengan penyesalan. Padahal tadi dia sudah cukup senang bisa keluar dari rumah ini. Entah dia akan pergi ke mana pokoknya dia bisa keluar dari penjara ini.
"Ya sudahlah, besok aku akan pergi lagi. Dasar laki-laki tidak bisa lembut pada perempuan! Semoga saja dia jomlo seumur hidupnya!" doa Lyla saat mengingat perlakuan laki-laki itu yang kasar.
...***...
Semua orang sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Akan tetapi, tidak dengan seorang gadis yang kini masih berada di dalam kamarnya. Lyla masih tertidur cukup lelap, berjalan kaki semalam cukup membuat tubuhnya lelah apalagi kaki dan tangannya sangat sakit.
Gerald telah pergi sedari pagi buta, sementara Morgan masih ada di sana bersiap untuk sarapan. Keadaan di ruangan sana terlihat sepi, sehingga Morgan mengalihkan tatapannya ke segala arah.
“Apa ada yang Anda cari?” Ibu dari Lian bertanya kepada Morgan dengan sopan.
“Tidak ada,” jawab Morgan lalu kembali pada makanannya.
“Apa dia kabur lagi?” Morgan bertanya saat wanita itu hendak melangkah pergi.
“Siapa maksud Anda?” Ibu Lian masih belum paham dengan siapa yang Morgan maksud.
“Apa aku perlu menyebutkan namanya?”
__ADS_1
Mendengar itu barulah wanita tersebut mengerti siapa yang Morgan maksud.
“Oh, Nona Lyla sedang tidak enak badan. Tadi saya sudah mengeceknya ke lantai atas.”
Morgan terhenyak mendengar berita tersebut.
“Bukankah semalam dia baik-baik saja?”
“Iya. Semalam Nona Lyla memang baik-baik saja, mungkin karena pergelangan tangannya dan juga pergelangan kakinya bengkak jadi dia demam,” jawab wanita itu memberitahu keadaan Lyla kepada Morgan.
Apa karena semalam aku melemparnya? batin laki-laki itu. Bagaimana tidak, sebelumnya wanita itu baik-baik saja.
“Kenapa pergelangan kakinya bisa bengkak?” Morgan mencoba bertanya, tapi dia tidak menghentikan acara makannya.
“Nona Lyla bilang dia terkilir saat berjalan semalam.”
Laki-laki itu menghela nafasnya dengan lega saat mendengar berita tersebut.
ya tentu saja bukan karena aku. Tidak mungkin jika hanya melemparnya saja dia akan terkilir seperti itu.
“Apakah ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya wanita tersebut sekali lagi. Morgan mengangkat satu tangannya menandakan jika wanita itu boleh pergi dari sana.
Sambil menggerakkan pisaunya di atas piring, Morgan kembali berpikir. satu detik kemudian dia menghentikan gerakan tangannya dan menyimpan garpu dan pisau tersebut di atas piringnya.
Mendengar kursi yang berderit dari ruang makan membuat ibu Lian menoleh dan berlari ke arah Morgan secepat mungkin.
“Apa Anda sudah selesai sarapan?”
“Hem.”
Wanita itu dengan sigap mengambil tas kerja Morgan dan bersiap untuk mengikuti langkah kaki laki-laki tersebut. Akan tetapi, bukan ke arah pintu utama yang dituju, melainkan ke arah tangga. Ibu Lian mengerutkan keningnya, dan dia bertanya ke manakah laki-laki itu akan pergi?
“Tunggu aku di luar,” ucap Morgan saat wanita tersebut akan mengikutinya ke lantai atas.
“Baik,” ucap wanita itu dengan patuh.
__ADS_1
Morgan kemudian berjalan ke lantai atas dengan sangat santai, sementara ibu Lian masih menunggu di bawah sana dan menatap majikannya pergi ke lantai atas.
“Semoga saja tidak ada yang terjadi kepada wanita itu,” gumam ibu dari Lian sedikit takut. Tentu saja takut karena tuan muda terkadang tidak bisa ditebak.