
Sementara Gerald terus mencari, Lyla sedang berada di sebuah halte bis. Dia masih menunggu, seharusnya bis terakhir akan datang sekitar lima menit lagi. Beruntung dia berjalan dengan cepat dan sampai di halte ini.
Duduk hanya sendirian membuat Lila sedikit takut sebenarnya, apalagi waktu semakin beranjak naik, udara juga semakin dingin. Dia hanya duduk dan menggoyangkan kakinya maju dan mundur, mengusir rasa dingin yang menghampirinya. Udara menjelang musim dingin sedikit membuat darahnya beku.
"Huftt ...." Lyla menggosokkan kedua telapak tangannya di depan dada dan kemudian menempelkannya di pipi.
"Hangat," ucap Lyla sambil tersenyum senang. Dia kembali melihat ke arah jalanan berharap jika bis segera datang dan dia bisa pergi dari sini secepatnya. Akan tetapi, hingga lewat dari lima belas menit bis yang dia tunggu tidak juga datang.
"Nona apa kau sedang menunggu bis?" Seorang wanita tua tengah mengambil botol plastik bertanya kepada Lila.
"Iya, benar. Aku sedang menunggu bis."
"Sudah lama tidak ada bis yang lewat ke sini di jam seperti ini."
"Hah?" Lyla melongo mendengar penuturan dari wanita tua itu.
"Itu belum mereka ganti. Banyak orang yang sama sepertimu menunggu bis di jam terakhir," ucapnya sambil menunjuk ke papan yang berada di belakang Lila, di mana terdapat jadwal keberangkatan.
"Huh, orang-orang zaman sekarang sangat malas sekali bekerja. Mereka tidak bertanggung jawab dengan pekerjaan mereka pegang," ucap wanita tua itu dengan kesal, sambil berkorban kesal wanita itu pergi meninggalkan Lila.
Lila terdiam, sekali lagi melihat ke arah jalanan yang sudah sepi. Mungkin memang benar jika bis tidak akan lewat ke halte ini. Maka dari itu dia kemudian berdiri dan memilih untuk melanjutkan langkah kakinya.
"Tak apa. Setidaknya aku bebas dan tidak ada yang mengaturku sekarang ini," ucap Lyla mencoba untuk tersenyum dan melangkah lebih jauh lagi.
***
Di kediaman Morgan, laki-laki itu tidak bisa tertidur, mengingat kembali perlakuan Gerald terhadapnya. Dia tertawa dengan decihan sebal.
"Ternyata Gerald menyukai gadis yang seperti itu. Heh, apa bagusnya dia? Wanita kampung!" gumam Morgan dengan kesal. Gara-gara wanita itu Gerald sampai berani memukulnya.
'Awas saja Kau, Gerald. Aku pasti akan membalasmu tiga kali dari ini!' pikir Morgan.
Dia bangkit dari pembaringannya, mengambil jaket dan rokok yang selalu ada di dalam laci nakas.
"Tuan, apakah Anda akan pergi?" tanya Lian saat Morgan berjalan menuju ke pintu utama, sedari tadi dia menunggu kembalinya Lyla, tapi hingga lebih dari satu jam, dia tidak melihat mobil Gerald kembali dengan membawa Lyla bersamanya.
"Ya." Morgan menjawab dengan singkat. "Apakah ada masalah?" tanya Morgan, tidak biasanya asisten yang paling muda ini bertanya kepadanya.
__ADS_1
"Anu ...." Lian menghentikan ucapannya, sedikit ragu karena dia mengenal Morgan adalah laki-laki yang sangat dingin dan kaku.
"Katakan. Aku tidak punya banyak waktu."
"Apakah Tuan Gerald sudah menemukan Nona Lyla?" tanya Lian dengan takut. "Maaf jika saya bertanya, saya tidak bisa menghubungi Tuan Gerald. Saya juga khawatir dengan keadaan Nona Lyla. Tangannya sakit sedari siang tadi."
Morgan menghentikan gerakan tangannya, menatap gadis muda itu dengan lekat.
"Salahnya, dia tidak bisa menjaga tangannya dengan baik."
Morgan hendak melangkah lagi, tapi Lian menahan tangannya dengan berani.
"Sebenarnya, tadi siang kami mendapatkan masalah sewaktu berbelanja hingga membuat tangannya sakit."
"Lalu, apakah itu jadi masalahku sekarang?" tanya Morgan tidak peduli, menatap tangan Lian yang ada di sana.
Cepat Lian melepaskan tangan Morgan. "Bukan, tapi ... tadi aku sempat mendengar Anda bicara dengan Tuan Gerald waktu di kamar." Lian cepat menundukkan kepala saat melihat tatapan dari Morgan yang tajam menatapnya.
"Apa kau tahu hukuman untuk orang yang suka menguping?"
"Berhenti untuk mengatakan omong kosong. Apa untungnya buatmu?"
"Tidak ada, tapi aku hanya ingin mengatakan saja apa yang harus Tuan tahu. Tangan Nona Lyla sakit karena seseorang ingin menipu kami tadi siang. Dia hanya mempertahankan kalung miliknya sehingga tangannya sakit lagi, dan tadi ... Tuan Gerald hanya ingin membantunya saja," ucap Lian mencoba menjelaskan.
"Sudah aku bilang, itu bukan urusanku."
Morgan kemudian pergi dari hadapan Lian yang kini berdecak kesal diabaikan oleh laki-laki itu.
"Huh, dasar Tuan Muda keras kepala! Awas saja kau, aku sumpahi kau akan kalah dengan urusan hati untuk yang kedua kali!" decak kesal Lian menatap punggung Morgan yang kini semakin menjauh.
Mobil hitam mewah itu kini melaju meninggalkan rumah mewah itu. Kemana lagi Morgan akan pergi jika tidak mencari kesenangan yang lain. Persetan dengan sakit lambungnya, dia hanya ingin menenangkan diri sekarang ini.
Jalanan macet, tidak biasanya di jam sekarang ini lalu lintas sangat padat sekali. Morgan hanya mengetuk-ketukkan jarinya pada kemudi dan menunggu kendaraan yang ada di depannya maju meski perlahan.
"Sial! Maju lah!" kesal Morgan.
Sekitar lima menit, kendaraan yang ada di depannya tidak juga maju barang sesenti pun. Suara klakson sudah terdengar riuh dari belakang sana dan juga umpatan dari beberapa pengendara yang mengumpat dengan kata-kata kasar.
__ADS_1
Morgan menurunkan kaca jendela mobilnya, seseorang yang ada di depannya dia panggil hanya dengan satu gerakan tangan. Beberapa pemuda pejalan kaki mendekat ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Morgan.
"Ada seorang wanita muda yang tertabrak saat menyeberang, mungkin dia buta soal lalu lintas. Haha!" tawanya kemudian diikuti oleh tawa beberapa orang yang lainnya.
"Iya, sepertinya begitu. Jelek sekali dia, aku pikir dia itu gadis dari desa dan tidak bisa membaca rambu lalu lintas. Lihatlah penampilannya tadi, tidak modis sama sekali!" Tawa itu kembali terdengar riuh di antara empat pemuda tadi.
"Bung, apa kau punya rokok?" tanya seseorang yang lain dengan napas beraroma alkohol.
Morgan mengeluarkan sebungkus rokok miliknya yang bahkan belum dia buka sama sekali.
"Ooh, seleramu tinggi sekali. Apa kau orang kaya?" tanya pemuda itu lagi sambil membolak-balikkan rokok dengan merk terkenal dan memiliki harga yang mahal.
"Ya, tentu saja."
"Bolehkah kami minta uang?"
"Tidak."
"Kau pelit sekali."
"Kalian bekerjalah jika ingini mendapatkan uang," ucap Morgan.
Mendengarnya mengatakan hal itu, pemuda tadi tidak terima. Dia emosi dan hampir saja melayangkan tinjuan kepada Morgan, tapi segera ditahan oleh temannya hingga laki-laki itu hanya bisa melayangkan tinjuan di udara kosong saja.
"Hei, jangan berbuat ulah. Dia sepertinya bukan orang yang biasa. Kita bisa dalam masalah jika macam-macam padanya," ucap laki-laki yang menahan tangan temannya itu. Mereka lalu pergi dari hadapan Morgan.
Morgan tertawa dan mengucapkan kata ejekan pada keempat pemuda tadi. Bisa-bisanya mereka hanya meminta tanpa mau berusaha.
...****************...
...Minta dukungan dong, minimal jempol atuh...
...🥺...
^^^Eh, like dan komen juga ding🤭^^^
__ADS_1