Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
74. Rencana Musim Panas


__ADS_3

Gerald pergi dari depan kamar Morgan dengan langkah yang kesal. Dia benar-benar tidak mengerti dengan laki-laki itu, sepertinya Lyla sudah mengubahnya. Dia memang sangat senang jika Morgan telah berubah dan melupakan Renee, tapi tidak dengan kewajibannya yang lain.


Lian baru saja pulang dari sekolah, dia melihat Gerald dengan wajahnya yang kesal, pergi ke arah dapur.


"Ada apa dengan dia?" tanya Lian pada dirinya sendiri. Dia merasa aneh karena akhir-akhir ini Gerald sering sekali kesal.


Gerald pergi ke dapur dan mengambil air minum dan menghabiskannya dengan sekali tarikan napas.


"Tuan, kau harus minum dengan hati-hati kau bisa tersedak!" Lian berbicara membuat Gerald terkejut dan tersedak karena Lian. Minuman yang ada di mulutnya sampai tersembur membasahi wajah gadis kecil itu.


"Uhuk!" Tenggorokan laki-laki itu terasa sakit. Dia menjadi kesal karena Lian mengagetkannya.


"Ah, Tuan!" teriak Lian dengan marah, dia merasa kesal karena wajahnya yang basah. "Apa yang kau lakukan?" ujarnya sambil mengelap wajahnya dengan telapak tangan.


Gerald terkejut dan tidak menyangka jika Lian akan melakukan itu.


"Ewww, ini sangat menjijikkan sekali!" ujar Lian sambil melihat tangannya yang basah. Sementara Gerald menatap gadis itu tidak peduli, dia merasa kesal dan juga tidak suka akan kelakuan Lian tadi.


"Salahmu sendiri. Apa kau tidak bisa jika tidak mengagetkanku?" tanya Gerald kesal.


"Aku tidak mengagetkanmu, Tuan. Aku hanya mengingatkan kepadamu jika kau harusnya minum dengan pelan dan hati-hati, kau bisa tersedak. Kenapa kamu menyemburku?" tanya Lian dengan kesal. Lian maju dan mengambil sapu tangan yang tampak di saku baju Gerald dan mengelap wajahnya dengan kain kecil tersebut. Sontak Gerald terkejut dan hendak merebut sapu tangan miliknya.


"Hei, itu punyaku." Baru saja Gerald akan meraihnya, tapi Lian sudah menggunakan benda itu untuk mengeringkan wajahnya.


Lian sadar dengan perilakunya yang tidak sopan, kebiasaan bersama dengan teman-temannya seharusnya tidak dia bawa ke dalam rumah ini. "Eh, maaf. Aku refleks," ucap Lian, kemudian mengembalikan benda tersebut kepada Gerald. "Aku kembalikan, aku rasa lipstikku tidak menempel di sana." Lian tersenyum dengan malu.


Gerald mundur satu langkah, dia juga merasa jijik dengan benda yang kotor itu. "Kau sudah mengotorinya. Kembalikan jika sudah kau cuci," ucap Gerald. Dia hendak melangkah, tapi sebelum itu berkata sekali lagi pada Lian.


"Ingat untuk memakai pewangi pakaian di sana," tunjuk Gerald pada barang miliknya dan kemudian pergi dari sana.

__ADS_1


Lian cemberut ditinggalkan seperti itu oleh Gerald. "Padahal ini juga tidak apa-apa, ini kan air yang dia sembur juga. Aku rasa tidak kotor," ucap Lian sambil mendekatkan sapu tangan tersebut ke dekat hidungnya.


"Tidak bau juga sih. Dasar orang kaya, bagaimana caranya agar tidak bau mulut, ya?" gumam Lian kemudian pergi dari dapur untuk menuju ke kamarnya.


Gerald membuka jasnya dan memutuskan untuk mandi. Niat hati pulang ke rumah ingin menjemput Morgan, sepertinya sepupunya itu tidak akan mau melakukannya.


"Ah, apakah aku harus membiarkannya senang-senang hari ini? Awas saja jika aku sedang cuti dia mengganggu hariku!" ucap Gerald kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


...*...


Morgan hampir selesai menghabiskan makanannya, dia tersenyum senang sementara Lyla kini cemberut dan terus menyuapi Morgan bak anak kecil. Apa lagi wajahnya terasa panas karena dia melihat Morgan yang hanya tertutup dengan selimut saja, entah apakah laki-laki itu memakai penutup kain lain atau tidak.


"Hei, Tuan. Kau ini sudah dewasa. Tidak bisakah kau makan sendiri?" tanya Lyla kesal. Sedari tadi Morgan sibuk dengan game-nya sehingga dia seringkali menunggu laki-laki itu untuk menghabiskan makanan di mulutnya.


"Kau tidak lihat aku sedang sibuk?" ucap Morgan tidak peduli, dia masih saja sibuk dengan game yang ada di tangannya.


"Kau bisa memainkan game nanti setelah menghabiskan makanan ini."


"Kau ini sudah dewasa, apa tidak ada game lain selain game beternak?" tanya Lyla lagi. Morgan kini persis seperti adik pantinya yang suka membuat ulah.


"Ada banyak, tapi aku suka game ini. Aku suka melihat pohon dan air. Aku juga suka dengan hewan," ucapnya.


"Lalu kenapa kau tidak memelihara anjing atau kucing? Atau kau beternak sapi dan ayam saja seperti di game itu?"


"Aku punya di desa. Ada beberapa sapi di sana, aku dengar beberapa sapi sudah melahirkan anak. Sekarang sapiku bertambah banyak," ucap Morgan bangga.


"Benarkah?"


"He-em. Di sana juga ada ayam dan kuda. Musim panas nanti aku ingin pergi ke sana. Apa kau mau ikut?" tanya Morgan.

__ADS_1


Lyla yang mendengar itu merasa senang dan rasanya tidak percaya dengan ucapan Morgan. "Kau serius memiliki semua itu?"


"Iya, aku serius." Morgan menghentikan permainannya, membuka galeri dan memperlihatkan beberapa gambar dirinya yang berada di peternakan sapi, gambarnya saat memberi makan ayam, dan juga menunggangi kuda.


"Aku juga mendokumentasikannya untuk kenang-kenangan. Kau harus lihat betapa hebatnya aku saat menunggangi kuda," ucap Morgan berucap seperti anak kecil yang sedang pamer. Lyla tertawa kecil mendengarnya, dia sampai menutup mulutnya.


"Kenapa kau tertawa? Apa kau tidak percaya?" tanya Morgan saat melihat Lyla tidak berhenti tertawa.


"Tidak, Tuan. Aku percaya."


"Lalu kenapa kau tertawa seperti itu?" Tatap Morgan dengan tidak suka.


"Aku hanya sedang merasa senang saja denganmu."


"Heh?" Morgan mengerutkan keningnya, bingung.


"Aku hanya senang sekarang kau bisa bicara panjang lebar seperti ini. Tidak seperti saat aku baru mengenalmu, kau lebih banyak mengekspresikan dirimu dengan kata-kata maupun tindakan, Tuan," ucap Lyla masih sambil tertawa. Morgan terdiam dan memikirkan apa yang Lyla katakan barusan, memang benar sekarang ini dia bisa lebih terbuka daripada dulu.


"Ayo makan lagi. Sisa tiga suapan lagi," ucap Lyla memberikan satu suapan besar pada bayi besar yang kini tersenyum malu.


"Iya, benar. Sepertinya bertemu denganmu membuatku berubah sedikit Lyla," ucap Morgan. Dia membuka mulutnya dengan lebar dan menerima beberapa suapan terakhir itu dengan baik sehingga semua yang ada di piringnya habis tak bersisa.


Lyla senang sekali saat makanan yang ada di dalam piringnya telah habis, dia membereskan piring dan gelas itu ke atas nampan untuk dibawa ke dapur.


"Lyla," panggil Morgan.


"Iya?"


"Saat musim panas nanti, kau mau ikut berkuda bersama denganku?"

__ADS_1


Lyla merasa senang dengan ajakan Morgan, tapi dia menggelengkan kepalanya membuat Morgan kecewa. "Aku mau, tapi tidak dengan berkuda. Aku tidak bisa," ucap Lyla.


Morgan yang sempat kecewa kini menarik senyuman senang. "Aku akan mengajarimu bagaimana caranya berkuda."


__ADS_2