Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
71. Es Krim Di Cuaca Dingin


__ADS_3

Morgan melirik Lyla yang sedari tadi tidak henti menyunggingkan senyumnya. Diam-diam dia juga tersenyum dan merasa bahagia di dalam hatinya.


"Kau senang?" tanya Morgan pada wanita itu.


"Iya, aku senang, Tuan. Aku tidak menyangka jika hari ini aku sudah resmi menjadi mahasiswa di sana," ucap Lyla dengan masih tidak percaya.


"Kau tahu, aku tidak pernah menyangka jika aku akan bisa belajar di universitas ternama seperti itu. Aku sangat senang sekali sekarang ini. Ini adalah impian yang tidak pernah ... bahkan aku tidak pernah berani memimpikannya, Tuan," ucap Lyla dengan hampir menangis, saking terharunya dia kali ini. Belajar di tempat biasa saja dia sudah senang, apalagi ini di tempat yang sangat luar biasa sekali. Ini memang impian yang tidak pernah dia bisa bayangkan sebelumnya.


"Jika kau senang seperti itu kau harus belajar dengan sangat baik. Ingat dengan janjimu, kau tidak mau kan tinggal di rumahku selama beberapa tahun sampai hutang-hutangmu lunas?" tanya Morgan yang membuat Lyla tersenyum.


"Iya, tentu saja aku tidak mau, siapa juga yang mau punya hutang dan menjadi tukang cuci piring di rumah selama beberapa tahun. Mungkin juga aku tidak akan mudah keluar dari sana hingga aku tua."


Morgan tertawa kecil mendengar Lyla yang berkata seperti itu. Dia yakin tidak ada orang yang ingin mempunyai hutang dan bekerja seumur hidupnya tanpa dibayar. Akan tetapi, kenapa rasanya sangat aneh mendengar dia berkata seperti itu? Rasanya Morgan tidak rela jika waktu itu akan datang dan Lyla pergi dari sana. Keberadaan wanita itu membuat hidupnya sekarang sedikit berbeda, dia baru sadar jika sekarang ini lebih banyak tersenyum dan tertawa saat berada di samping Lyla.


"Maka kau harus belajar dengan rajin."


"Iya, tentu saja aku akan belajar dengan sangat rajin. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan besar ini. Kau benar tuan, jika aku tidak mendengarkanmu mungkin aku tidak akan mendapatkan kesempatan ini di lain waktu. Terima kasih," ucap Lyla kemudian wanita itu mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya.


Morgan melirik Lyla dengan heran, wanita itu merasa senang tapi kenapa sekarang ini menangis?


"Bukankah kau barusan mengatakan kau senang? Kenapa menangis?" tanya Morgan.


"Aku menangis karena senang, terlalu senang sampai-sampai aku tidak sadar jika aku telah menangis, Tuan," ucap Lyla sambil mengusap air matanya. Morgan menggelengkan kepalanya merasa aneh dengan perkataan Lyla barusan.


"Aku heran dengan wanita, apakah perasaannya terlalu lembut seperti itu, sampai-sampai karena hal apapun mereka menangis?"


"Tidak semua hal. Tapi ini memang mengharukan untukku, Tuan. Aku tidak menyangka anak dari panti asuhan sepertiku bisa melanjutkan pendidikan di tempat yang sebagus itu."


Morgan tersenyum senang mendengar kalimat yang diucapkan oleh Lyla. Dia merasa aneh karena rasa senang itu tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


"Mau makan es krim? Sebagai perayaan diterimanya kau di universitas ternama," ucap Morgan yang buat Lyla tersenyum dan mengangguk dengan cepat.


"Tentu saja aku mau. Aku mau es krim dengan topping yang banyak," ucapnya bersemangat. Akan tetapi, kemudian Lyla terdiam. Dia baru menyadari sesuatu, apa mungkin memakan es krim di saat udara dingin seperti ini?


"Tuan, sekarang ini musim dingin. Sepertinya tidak terlalu tepat jika kita makan es krim," ucap Lyla yang membuat Morgan menepuk keningnya, lupa.


"Oh iya, benar. Aku lupa itu. Lalu kita akan makan apa? Apa kita akan pergi untuk makan hotpot?" tanya Morgan. Akan tetapi, Lyla menggelengkan kepalanya.


"Aku pikir tidak tepat juga kalau makan hot pot untuk merayakan hari ini. Aku ingin makan es krim saja, itu lebih tepat dan itu baru benar," ucap Lyla menganggukkan kepalanya dengan yakin. Morgan tertawa kecil mendengar ucapan Lyla barusan.


"Apa kau ingin makan es krim karena terpaksa aku mengajakmu ke sana?"

__ADS_1


"Tidak juga. Aku rasa memang hotpot kurang tepat untuk merayakan kebahagiaan di hari ini. Justru aku senang memakan es krim di udara yang dingin. Rasanya sangat senang jika bisa membekukan kepalaku," ucap Lyla sambil tertawa kecil.


"Kau ini aneh sekali! Baiklah jika memang itu yang kau inginkan. Kita akan pergi ke sana!”


Morgan kemudian melajukan kendaraannya kedai es krim yang dia lihat di perjalanan saat mereka akan pulang.


"Kau mau membungkusnya atau kita akan makan di sini?" tanya Morgan saat mereka masuk ke kedai es krim sederhana yang ada di sana. Lyla masih mengagumi tempat itu, tidak terlalu luas tapi penataan dari barang-barang yang ada di sana sangat pas menurutnya tidak terlalu berlebihan dan juga membuatnya seakan betah jika harus tinggal di sini bahkan untuk beberapa hari.


"Kau tidak mendengarku?" Morgan bertanya dengan kesal karena Lyla mengabaikannya.


"Eh, apa kau bicara sesuatu?"


"Aku bertanya, apakah kau ingin makan di sini atau kita bungkus untuk dibawa pulang?" tanya Morgan sekali lagi.


"Aku ingin memakannya di sini, bolehkah?" tanya Lyla dengan bersemangat dan penuh mengharap. Dia berpikir jika mungkin es krim itu akan meleleh saat dia membawanya pulang.


"Tentu saja boleh. Kau ingin es krim apa? Akan aku pesankan," tawar Morgan.


"Biar aku saja yang akan memesannya sendiri. Anda mau es krim rasa apa?" tanya Lyla kepada Morgan.


"Aku tidak makan es krim."


"Eh, kenapa? Apa kau alergi?"


"Ooh. Baiklah, aku akan memesannya, kau cari tempat untuk duduk," ucap Lyla menunjuk ke arah Morgan tanpa ragu-ragu lagi. Biasanya Morgan akan marah jika ada orang yang berani menunjuk ke arahnya. Akan tetapi, sekarang ini rasanya dia tidak keberatan akan hal itu.


"Oke."


Lyla kemudian berjalan menuju meja pelayan, dia menunjuk es krim yang dia inginkan. pelayan yang melihat Lyla sedikit terperangah mendengar keinginan wanita ini. Makan es krim di udara yang dingin.


"Anda yakin mau memesan es krim? Tidak mau makan yang hangat?”


"Iya, tentu saja, Nona. Aku ingin membekukan kepalaku, hehe," ucap wanita itu tanpa ragu.


"Baiklah Anda ingin memesan apa?" tanya pelayan itu lagi dengan menyunggingkan senyuman.


Morgan duduk dengan diam, menunggu kedatangan Lyla, dia melihat gadis itu yang sedang menunjuk-nunjuk ke arah tulisan yang ada di atas meja pelayan membuat Morgan mengulas senyuman tipis pada bibirnya.


"Kenapa dia sangat menggemaskan sekali?" gumamnya tanpa sadar.


Lyla telah kembali dan berjalan dengan cukup cepat menuju ke tempat Morgan berada. Dia menurunkan dua buah cup es krim di atas meja.

__ADS_1


"Kau yakin akan menghabiskan semua itu?" tunjuk Morgan ke arah dua kap tersebut.


"Tidak, aku hanya akan memakannya satu. Yang satu ini untukmu," ucap Lyla seraya menyodorkan mangkok tersebut kepada Morgan.


"Aku sudah bilang aku tidak makan es krim."


"Ayolah, Tuan. Kau terlihat sangat serius sekali akhir-akhir ini dan aku melihatmu sudah lelah, perasaanmu bisa membaik jika makan es krim coklat ini."


"Kau salah aku tidak lelah."


"Tapi, kau terlihat tidak bersemangat. Lagi pula bukankah jika merayakan sesuatu kita harus memakannya bersama-sama? Bukan perayaan namanya jika hanya aku saja yang makan sendirian." Lyla cemberut dan tidak bersemangat, dia mendorong mangkok miliknya ke tengah meja.


"Untuk apa kita datang ke sini jika aku hanya makan sendiri saja? Percuma. lebih baik kita pulang!" ucap Lyla. Morgan menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan cukup kasar. Ternyata gadis ini keras kepala juga. Dia mengambil mangkok miliknya dan bersiap mengambil sendok.


"Baiklah aku juga akan memakannya. Jangan kau cemberut seperti itu, kau seperti marmut!" tunjuk Morgan kepada Lyla, kemudian dia mulai memasukkan satu suapan kecil es krim dari sendok. Lyla yang melihat hal itu tersenyum senang, dia juga mengambil mangkok miliknya dan mulai menikmati es krim tiga rasa dengan banyak topping yang ada di mangkoknya.


"Akh! kepalaku beku!" seru Lyla saat merasakan rasa dingin di kepalanya. Wajahnya memerah, dia juga menepuk-nepuk kepala seakan hal itu bisa membuat kepalanya mencair lagi.


Morgan tertawa kecil melihat apa yang wanita itu lakukan.


"Kau itu bodoh atau bagaimana? Itu hal yang berbahaya, jangan lakukan lagi."


Lyla hanya tertawa dan kini memasukkan es krim itu sedikit demi sedikit ke dalam mulut.


Lyla berdiri dan berpindah tempat duduk di belakang Morgan untuk menghadap ke arah jendela dengan membawa mangkuk es krim miliknya di tangan.


"Aku sangat senang sekali hari ini, Tuan," ucap Lyla seraya memakan kembali es krim itu sambil menatap ke jalanan.


"Hidupku selalu pahit selama ini. Kami di panti hidup dalam kemiskinan, bergantung kepada orang lain hanya untuk mendapatkan makanan dan pakaian yang layak. Tapi sekarang ini, rasa-rasanya aku tidak perlu risau lagi untuk memikirkan hidupku. Aku berterima kasih padamu karena telah menjaminku. Aku janji setelah lulus nanti, aku akan bekerja dengan baik," ucap wanita itu dengan nada yang bersemangat. Morgan menggerakkan kursinya dan duduk seperti Lyla, kini mereka memakan es krim sambil melihat pemandangan yang ada di luaran sana. Salju kembali turun dan menghiasi aspal dengan titik-titiknya yang putih. Beberapa orang masih melintas di depan mereka tanpa memperdulikan salju itu.


"Maafkan aku soal masa depanmu. Aku tidak bisa berbuat lebih dari itu. Aku salah dan hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu, untuk mengganti rasa bersalahku meskipun jelas itu tidak seberapa dibanding dengan kerugian yang kau dapatkan. Berjuta kata maaf pun rasanya tidak akan cukup untuk menggantikan semuanya," ucap Morgan dengan lirih.


"Sudahlah, Tuan Muda, sudah aku bilang aku tidak mau apa-apa. Mungkin awalnya aku tidak bisa terima, tapi sekarang aku bisa meyakinkanmu jika aku baik-baik saja." Lyla memegang tangan Morgan dan mencoba untuk meyakinkan laki-laki itu.


"Aku baik-baik saja karena berada di dekatmu. Kukira untuk sekarang ini, itu cukup." Morgan melirik tangannya yang terasa hangat bersentuhan dengan Lyla. dia mengalihkan tatapannya pada mata wanita itu, hangat di tengah udara yang dingin seperti ini, bagaikan oase yang terdapat di tengah gurun yang tandus.


"Ayo kita makan es krim lagi. Bukankah kau harus kembali ke kantor?" ucap Lyla menyadarkan Morgan.


"Iya. Kau benar. Aku harus kembali ke kantor."


Mereka berdua menikmati es krim di kedai yang sepi dari pengunjung, sambil menatap jalanan dengan hiasan salju-salju yang turun perlahan membuat indah suasana.

__ADS_1


Morgan berhenti memakan es krimnya dan menatap kejauhan di seberang jalan. Dia mencoba untuk meyakini sesuatu, seseorang tengah berjalan dengan langkah yang cepat dengan payung merah di tangannya.


__ADS_2