
Lyla berhenti melangkah dan menatap Morgan dengan bingung. Kekasih? Apa maksudnya?
"Apakah harus seperti itu?" tanya Lyla.
"Ya. Aku tidak ingin direpotkan untuk mengurusimu karena diganggu oleh orang lain. Jadi, jika ada yang bertanya maka jawab saja kau adalah kekasihku," ucap Morgan seraya menarik Lyla untuk kembali berjalan ke lantai bawah. Lyla memutar bola matanya malas.
"Itu kan penipuan namanya," ucap Lyla enggan.
"Akan aku belikan hadiah jika kau menyetujuinya."
"Hadiah? Hadiah apa?" tanya Lyla bersemangat setelah mendengar kata hadiah.
"Apa pun yang kau inginkan."
"Jika aku menginginkan Menara Eiffel apa kau bisa memberikannya? Pindahkan ke luar jendela kamarku agar setiap aku bangun pagi atau sore aku bisa menikmati keindahannya," ucap Lyla.
"Tatap saja aku, aku juga tak kalah indah dengan Menara Eiffel!" ujar Morgan tak mau tahu. Lyla mendecih sebal mendengarnya.
"Oh, oke. Kau berdirilah di luar jendelaku saat matahari terbit dan tenggelam, tapi aku yakin aku tidak akan terlalu terpesona. Karena menurutku Menara Eiffel masih yang terbaik," ujar Lyla.
Entah mengapa Morgan menjadi kesal mendengar ucapan Lyla barusan. "Apakah kau yakin tidak akan terpesona oleh ketampananku?" tanya Morgan.
"Tampan? Maaf, tapi aku sedikit bingung dengan definisi tampan yang sesungguhnya. Bagiku kau biasa saja, Tuan."
Morgan berhenti melangkah saat mereka baru saja sampai di lantai bawah. Lyla mengatupkan mulutnya, melirik sedikit dan melihat wajah Morgan yang tiba-tiba saja kaku menatapnya.
"Eh, aku haus. Aku akan pergi untuk mengambil minum," ucap Lyla bermaksud untuk menghindar dari Morgan. Lyla segera pergi menuju ke seorang pelayan perempuan yang ada di sana dan mengambil minuman yang ditawarkan kepada tamu yang lainnya.
"Aku minta!" Tanpa menunggu lagi, Lyla segera meminum benda cair berwarna merah tersebut yang kemudian merasakan jika tenggorokannya serasa terbakar.
"Uhuk!" Lyla terbatuk karena tidak tahan dengan rasanya, sedikit aneh di mulutnya.
"Minuman apa ini?" ujar Lyla bertanya pada pelayan tersebut seraya mengembalikan gelas ke atas nampan.
__ADS_1
"Ini ...." Baru saja pelayan tersebut akan menjawab, Morgan sudah datang dan menarik tangan Lyla dari sana.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Morgan sedikit kesal.
"Eh, Tuan. Aku hanya minum saja, tapi minuman itu rasanya tidak enak sekali. Apa seperti itu rasanya minuman orang kaya, ya?" tanya Lyla heran.
"Itu minuman beralkohol. Kau tidak pernah minum itu?" tanya Morgan masih menarik tangan Lyla pergi menuju ke meja prasmanan.
"Tidak pernah, sepertinya aku juga tidak akan suka dengan minuman itu," ucap Lyla, tenggorokannya masih terasa tidak nyaman sekarang ini.
"Ya, lebih baik jangan kau minum jika tidak terbiasa."
Morgan dan Lyla menjadi pusat perhatian di pesta tersebut, apa lagi jika bukan karena ketampanan dan kecantikan dari mereka berdua. Banyak yang melirik, tapi mereka takut karena ada laki-laki dengan pengaruh besar di samping wanita itu. Mereka berpikir jika Lyla wanita spesial dari keluarga berada sehingga bisa datang bersama dengan Morgan.
Morgan sadar dengan tatapan aneh dari orang lain terhadap Lyla, membuat dia merasa sebal saja berlama-lama di sini.
"Ayo ikut denganku, kita pamitan pada Tuan Maguire," ajak Morgan.
"Ya, aku sudah tidak suka lagi berada di sini," ucap Morgan. "Cepat lah kau makan, setelah itu kita pulang," ucap Morgan saat melihat tangan Lyla yang memegang kue.
Lyla segera memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan cepat, dia juga mengambil minuman yang ada di sana dan menelannya, kali ini dia merasa aman dengan apa yang melewati tenggorokan. Tidak merasa terbakar seperti tadi.
"Morgan!" seru seseorang membuat Morgan mengalihkan tatapannya pada orang tersebut. Seorang wanita datang dan menarik tangan Morgan dan mencium pipinya kanan dan kiri.
Morgan dan Lyla sama terkejutnya, tidak menyangka dengan kedatangan wanita ini. Apa lagi Lyla merasa tidak kenal dengan wanita yang beraninya mencium pipi Morgan kanan dan kiri.
George di belakang hanya melihat pemandangan itu, sedikit patah hati saat melihat apa yang dilakukan Renee terhadap laki-laki itu.
"Hai, aku tidak menyangka jika kau akan datang ke pesta ini juga," ucap Renee setelah melepaskan Morgan darinya.
"Kau di sini?" Tanpa sadar Morgan bertanya.
"Ya, seperti yang kau lihat. Aku ada di sini." Renee dengan senyuman manis, berbicara dengan Morgan.
__ADS_1
Morgan melirik ke arah George, meski dia tahu siapa George, tapi dia tidak menyukai sepupu Renee itu.
"Dengan siapa kau datang? Kenapa kau tidak mencariku dan mengajakku ke sini?" tanya Renee dengan merajuk manja.
"Dia datang denganku," jawab Lyla dengan cepat seraya menggamit tangan Morgan.
Renee terkejut dengan wanita ini yang sangat berani sekali menarik tangan Morgan, dan lagi Morgan juga tidak bereaksi apa-apa, sedangkan dulu dia paling anti dengan wanita di dalam pesta seperti ini kecuali dengan dirinya.
"Siapa kau? Beraninya kau menyentuh Morgan!" ujar Renee berang.
"Aku kekasihnya!"
Apa? Renee membelalakkan matanya mendengar penuturan wanita ini. Cantik memang, tapi masih tetap dia yang merasa cantik dan susah payah memilih pakaian indah ini karena dia mendengar jika Morgan juga akan datang ke sana.
Apa dia ini wanita yang Theresia maksud? Gumam Renee menatap Lyla dari atas hingga ke bawah. Lyla masih tidak ada apa-apanya dengan dirinya.
"Morgan---"
"Bisa kita bicara di luar?" tanya Morgan dengan nada datar.
Renee menganggukkan kepalanya. Ada banyak hal yang juga ingin dia sampaikan pada Morgan sekarang ini. Entah apakah besok dia akan bisa bertemu lagi dengannya atau tidak. Dia hanya ingin berbicara dan menjelaskan sebab kepergiannya empat tahun lalu.
"Iya, aku akan ikut. George, tak apa aku pergi sebentar kan?" tanya Renee yang dijawab anggukkan kepala oleh laki-laki ini.
Morgan pergi dari sana, disusul oleh Renee yang mengikutinya dari belakang.
"Huh, katanya dia ingin mengajakku pulang. Kenapa dia malah pergi?" gumam Lyla tak habis pikir. Dia melihat makanan yang ada di hadapannya sangat menggiurkan, jadi dia mengambil saja beberapa sambil menunggu Morgan dan wanita itu kembali.
Lyla baru saja hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Akan tetapi, dia berhenti karena mengingat wajah wanita tadi.
"Eh, bukannya itu wanita yang ada di foto di kamar Morgan?" gumam Lyla, dia mencoba untuk mencari keberadaan wanita itu dan Morgan, tapi dia tidak menemukan dua orang itu di kejauhan sana.
"Apa itu Renee?" tanya Lyla pada George yang sedari tadi memperhatikan Lyla.
__ADS_1