
Morgan terbuai dan menikmati permainan yang Lyla bawakan sehingga dia lupa daratan. Rasa bibir Lyla yang manis dan juga lembut serta hangat membuat dia tidak sadar dengan di mana mereka berada. Hingga akhirnya Morgan disadarkan saat mendengar suara klakson yang terdengar di belakangnya.
Morgan membuka mata, dia melihat bibir Lyla yang sudah basah olehnya. Tatapan Lyla juga lembut dan seakan menuntut lebih.
"Tuan, kenapa kau menyudahi ciuman ini? Apa aku tidak ahli?" tanya Lyla pada Morgan.
Morgan menjadi canggung dengan Lyla. Ini tidak bisa dibiarkan. Sungguh sial rasanya.
Kenapa aku bisa terbuai seperti ini? gumam laki-laki itu dengan menyesal. Akan tetapi, dia laki-laki, disodorkan ikan asin siapa yang tidak mau?
"Kita harus pergi dari sini," ucap Morgan, kemudian menyalakan mobilnya dan pergi dari sana dengan kecepatan sedang.
"Tuan, bisakah kau berhenti sebentar? Ayo kita bermain-main sedikit," ucap Lyla seraya menarik dasi Morgan hingga laki-laki itu tercekik.
Morgan melirik Lyla dengan kesal. Wanita ini ternyata jika mabuk bisa berubah seperti ini rupanya.
"Lyla, hentikan!" ucap Morgan.
"Hentikan? Justru kau yang harus menghentikan laju mobil ini. Ayolah, Tuan Muda. Aku merasa panas di sini," ucap Lyla tidak tahan. Efek alkohol bagi tubuhnya ternyata sangat dahsyat reaksinya.
Morgan tidak mendengarkan Lyla, mana mau dia berhenti di tengah jalan. Apa yang akan wanita ini lakukan nanti? Bercinta di dalam mobil? Pikir Morgan. Morgan menggelengkan kepalanya, menyingkirkan pemikiran yang anehnya itu dari dalam otaknya.
Kesal dengan perlakuan Lyla, Morgan menarik dasinya dan membiarkan Lyla bermain-main dengan benda itu.
"Eh, kau membuka dasimu, lalu sebentar lagi kau akan membuka apa?" tanya Lyla sambil tertawa terkekeh. Morgan memicingkan matanya dan menatap Lyla dengan aneh. Sungguh wanita ini berubah seratus delapan puluh derajat, dan dia rasa ini mengerikan.
"Hei, dengarkan aku."
"Hem? Apa?" tanya Lyla.
"Kau mabuk. Lain kali jika kau mengambil minuman kau harus bertanya dulu pada yang lain minuman apa itu," ucap Morgan.
Lyla tidak menjawab membuat Morgan mengalihkan tatapannya kepada wanita itu, ternyata Lyla sedang memainkan dasinya di atas mulutnya, menjepitnya di antara mulut bagian atas dan ujung hidungnya.
__ADS_1
"Astaga. Dia tidak mendengarkanku," gumam Morgan mulai kesal.
Lyla membuka sabuk pengamannya dan melompat bak kangguru dan kini menatap Morgan dari samping, bak anak kucing dengan matanya yang besar wanita itu menatap Morgan seakan sedang menunggu untuk diberi makan.
"Sedang apa kau?"
"Kau tampan sekali, Tuan. Apa kau operasi plastik? Di bagian mana? Hidung? Mulut? Dahi? Atau mata?" tanya Lyla seraya mengelus semua bagian yang dia sebutkan tadi. Morgan merasa risih akan perlakuan Lyla barusan.
"Hei duduk. Ini bahaya. Jangan menggangguku!" ucap Morgan kesal.
"Aku tidak mengganggu. Aku hanya bertanya saja apa kah kau operasi plastik sehingga mendapatkan wajah yang sempurna seperti ini?" tanya Lyla lagi, kali ini dia memainkan dagu Morgan dengan beraninya, membuat konsentrasi laki-laki itu dalam menyetir menjadi buyar.
"Astaga. Aku tidak operasi plastik. Tidak ada bagianku yang dioperasi, Kau tahu!" ujar Morgan kesal.
"Benarkah? Hem. Rasanya aku tidak percaya!"
Bukan hanya mengganggu Morgan saja dari samping, tapi Lyla juga beralih dan mendudukkan dirinya di pangkuan Morgan dengan menghadap ke belakang sehingga kini dua orang itu saling berhadapan satu sama lain. Tangan Lyla kini melingkar di leher Morgan.
"Astaga! Kau ... ini bahaya, Lyla. Menyingkir dari pangkuanku!" ucap Morgan, Lyla menggelengkan kepalanya dan menggerakkan tubuhnya. Morgan semakin terkejut karena Lyla duduk di bagian tepat yang menonjol membuat dirinya ingin berontak sekarang juga.
Morgan tidak bisa melihat jalanan di depan sana sehingga dia memutuskan untuk mengurangi laju kendaraannya dan berhenti di bahu jalan.
"Lyla!" panggil Morgan dengan tegas.
"Hem?" ujar Lyla malas.
"Kembali ke kursimu."
"Tidak mau. Sudah aku bilang kan aku tidak bisa duduk. Aku akan jatuh. Kau tahu kita ada di mana sekarang? Kita ada di awan, jika aku jatuh aku, akan remuk. Dan kau tahu jika aku remuk dan mati? Kau tidak akan bisa memainkan peranan kekasih lagi denganku," ucap Lyla. Morgan tidak mengerti apa yang Lyla katakan ini. Dia hanya bisannya meracau tidak jelas.
Morgan menarik tangan Lyla, Lyla hanya menurut saja dan duduk dengan tegak seraya saling menatap.
"Kau tampan. Apa aku boleh menciummu sekali lagi?" tanya Lyla tanpa malu.
__ADS_1
"Tidak." Morgan merasa malu dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Kenapa tidak? Oh, aku tahu. Apa kau sudah kembali bersama dengan wanita itu? Emm ... siapa dia? Aku lupa nama dia. Kau balikan dengan mantanmu? OOhhh! Kau CLBK?" seru Lyla berlagak terkejut.
Morgan hanya diam saja, dia merasa tidak perlu menjawab perkataan wanita mabuk ini.
"Kau tidak mau menjawabku?" tanya Lyla.
"Untuk apa aku menjawabmu?" ucap Morgan.
Lyla menarik dagu Morgan dan mengecupnya tanpa *****4*. Morgan sukses membulatkan mata mendapatkan perlakuan seperti itu dari Lyla.
"Apa yang---"
"Tidak menjawabku, hukumanmu satu ciuman." Lyla menunjuk ujung hidung Morgan dengan beraninya.
Rasanya harga diri Morgan tengah dipermainkan sekarang ini. Mana ada dia dicium wanita duluan? Dan lagi apa ini? Permainan macam apa ini?
"Katakan padaku. Kau kembali dengan dia?" tanya Lyla sekali lagi.
"Kalau aku menjawab iya?" ucap Morgan. Lyla mengambil dagu Morgan dan menciumnya lagi.
"Aku sudah menjawab, kenapa kau menciumku?" tanya Morgan kesal.
"Itu karena jawabanmu 'iya'," ujar Lyla.
"Jika aku menjawab tidak?"
Tatapan Lyla tajam, dia menatap Morgan tepat di kedua matanya, telapak tangan Lyla menangkup kedua pipi Morgan sehingga dia tidak bisa menolak suasana itu. Lagi-lagi Lyla mendekatkan dirinya pada Morgan dan menciumnya. Kali ini dengan sangat lembut sehingga Morgan terbuai dengan ciuman itu. Lagi.
Lyla berdecak, memutar dan memilin lidah Morgan dengan sangat lembut sekali, mengabsen semua yang ada di dalam mulut lawannya.
Baru saja Morgan menikmati ciuman tersebut, tiba-tiba saja Lyla miring ke samping dan kepalanya jatuh pada bahunya. Morgan kehilangan ciuman lembut dari Lyla dan merasakan aneh.
__ADS_1
"Kau jawab benar, satu ciuman. Kau jawab salah, satu ciuman. Kau tidak menjawab, satu ... ciuman," gumam Lyla di dalam tidurnya. Morgan terdiam, lalu tertawa kecil. Gadis ini telah menjatuhkan harga dirinya malam ini sebanyak beberapa kali.
"Jadi, itu permainanmu? Oke, aku akan ikuti permainanmu, Nona!"