Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
20. Ternyata Bisa Lemah


__ADS_3

Tengah malam, Morgan tidak bisa tidur. Dia hanya berguling ke kanan dan ke kiri sambil memegangi perutnya yang terasa perih. Dia menyesal menolak makan malam yang Gerald berikan tadi.


“Ah. Sial!“ decak Morgan. Susah payah dia bangun dan membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya, mencari obat yang selalu ada di sana. Namun, obat yang dia cari tidak ada. Hanya ada bungkus yang telah kosong dengan beberapa obat yang lain. Dia mengambil hpnya, tapi sial sekali batrenya telah habis dan dia lupa mengisi daya. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi saja ke dapur. Seingatnya ada kotak obat di sana. Mungkin saja obat yang dia cari ada.


Sambil berjalan setengah membungkuk, Morgan turun ke lantai bawah. Dia memang seharusnya tidak boleh melewatkan makan meski itu hanya sekali waktu saja.


Sampai di dapur, dia mencoba untuk mencari kotak obat, tapi tidak menemukannya dan tidak tahu di mana asisten menyimpan benda tersebut. Semua laci yang ada di sana sudah dia buka dan dia lihat, bukan kumpulan obat-obat, melainkan hanya sekumpulan barang pecah belah dan yang lainnya. Morgan kini hanya duduk saja, mencoba mensugesti dirinya sendiri agar sakit yang dia rasakan sedikit menghilang.


Di lantai atas, Lyla yang tidak bisa tidur hanya duduk diam di ujung ranjang, menatap ke arah luar di mana bulan sedang bersinar dengan sangat terang sekali sehingga bias cahayanya masuk ke dalam kamar.


Lyla sering merenung di setiap malamnya, memikirkan hidupnya yang telah hancur sekarang ini. Apa yang harus dia lakukan setelah ini? Sudah lebih dari tiga hari dia ada di sini, pastinya posisinya di toko bunga sudah digantikan dengan orang lain. Bos tidak suka dengan karyawan yang seenaknya tidak masuk tanpa alasan, sakit saja bos akan tetap mempekerjakan mereka selama kaki masih kuat untuk berdiri. Apa lagi sekarang dia sudah tidak datang beberapa hari.


Dan lagi … Denis!


Lyla menghela napasnya dengan cukup keras. Denis, laki-laki yang menyukainya dan berkata akan melamarnya. Akankah nanti saat bertemu dia mengatakan jika dia sudah tidak suci lagi? Apa yang akan Denis pikirkan jika dia mengatakan hal itu? Apakah dia akan tetap ditrima? Ataukah ditinggalkan?


Sepertinya Lyla harus pasrah. Dia tidak ingin terlalu banyak berharap. Memang benar Denis laki-laki yang baik, tapi … di tidak bisa menjaminnya setelah kejadian ini.


Perut Lyla rasanya tak nyaman, berada di ruangan ber-AC membuatnya merasa angin dingin berputar di dalam perutnya. Jadi, Lyla memutuskan untuk mengambil air hangat seperti malam-malam sebelumnya.


Lyla terpaku pada sosok yang sedang tertelungkup di atas meja makan. Dia tidak tahu itu siapa, sepertinya sedang tertidur karena tubuh itu tidak bergerak sama sekali.


Dengan langkah yang pelan, hampir tanpa suara Lyla melewatinya menuju ke dapur.

__ADS_1


“Hei, bisakah kau menolongku?“ ucap laki-laki itu saat Lyla tengah menuangkan air panas di dalam gelas. Lyla tersentak, takut mendengar suara itu. Ternyata dia adalah laki-laki brengs*k yang telah menodainya malam itu.


“Aku mohon. Tolong carikan aku obat. Lambungku sedang bermasalah,” ucap Morgan memohon tanpa mengangkat kepalanya sama sekali. Dia sangat kesakitan sehingga hanya posisi itu lah yang membuatnya sedikit bisa menahan rasa sakitnya.


Lyla masih marah, dia hendak meninggalkan laki-laki itu, tapi melihat dia tidak berdaya rasanya tak tega juga.


Satu gelas air hangat Lyla berikan terlebih dahulu kepada Morgan, kemudian dia mencari kotak obat yang dia tahu disimpan di lemari di atas kompor.


Lyla tidak tahu apa obat yang biasa dimakan oleh Morgan sehingga dia mengambil kotak tersebut dan menyimpannya di depan Morgan.


“Pilihlah sendiri. Aku tidak tahu obat apa yang kau makan,” ucap Lyla dengan nada yang dingin. Morgan hanya melirik sedikit dari balik lengannya, hanya bisa melihat tangan Lyla dari sana.


Wanita itu hendak kembali ke dalam kamar, urung mengambil air hangat yang tadi dia inginkan. Akan tetapi, baru saja satu langkah akan pergi, Morgan menahan tangan Lyla.


“Bisakah kau bantu aku kembali ke dalam kamar? Aku tidak bisa berdiri dengan baik,” ucap laki-laki itu lagi.


'Dia tidak menipuku kan?' batin Lyla. Terdengar erangan halus laki-laki itu, nyatanya hati yang ingin dia keraskan tidak dapat juga dia lakukan. Hati Lyla memang selembut sutera, dan dia terkadang membenci hatinya yang lemah.


“Aku bantu,” ucap Lyla, akhirnya kembali ke hadapan Morgan dan mencarikan obat untuknya.


Morgan menerima obat itu dan minum air hangat yang diberikan oleh Lyla.


“Terima kasih,” ucap laki-laki itu, lalu kembali menelungkupkan wajahnya di sana.

__ADS_1


“Apa kau akan tetap di sini? Jika iya, aku akan kembali ke kamar,” ujar Lyla dengan nada dingin.


Ya, dia tidak tega juga melihat orang yang sakit. Singkirkan saja pemikiran siapa dan apa yang pernah laki-laki ini lakukan kepadanya, dia hanya seseorang yang tampak lemah tak berdaya dan membutuhkan bantuan.


“Jika kau tak keberatan,” ucap laki-laki itu lalu terdiam.


Lyla mengulurkan tangannya membuat Morgan menatap heran gadis ini.


“Ayo, aku bantu.“


Dengan susah payah, Lyla mengantarkan Morgan kembali ke dalam kamarnya. Berat sekali tubuh laki-laki itu, apalagi dengan langkah kakinya yang pendek-pendek. Dapat Lyla rasakan juga bagaimana sakitnya, karena wajah laki-laki itu sangat pucat seperti mayat.


“Terima kasih,” ucap Morgan saat dia telah berhasil sampai di ranjangnya.


Lyla tidak menjawab atau pun menyahut, terlalu sakit hatinya melihat ruangan ini. Ruangan di mana malam naas itu telah terjadi.


Lyla memutuskan untuk pergi dari sana.


Kini Morgan hanya diam di ranjangnya, menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Diam-diam dia merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan.


“Ah, seharusnya dia terima saja uang yang aku berikan.“ Kesal Morgan. Jika dia wanita yang suka uang akan lebih mudah lagi baginya untuk membayar wanita itu agar dirinya tak lagi merasa bersalah.


Lyla membatalkan niatnya untuk pergi ke dalam kamar, dia teringat dengan ibu panti yang merawatnya. Ibu panti juga memiliki masalah lambung, terlihat tidak nyaman saat melihat wanita itu terlihat kesakitan.

__ADS_1


“Ah, lupakan saja. Dia sudah meminum obatnya,” ucap Lyla, tapi kemudian dia berhenti kembali saat ingat jika tadi mendengar tuan muda tidak mau makan malam karena terlanjur marah.


“Oh, haruskah aku peduli dengan dia?“ gumam Lyla kesal, tapi tak urung kembali ke dapur dan mengambil bahan untuk membuat bubur.


__ADS_2