
Morgan harus masuk ke dalam ruang operasi guna mengeluarkan darah beku yang ada di kepalanya akibat benturan keras saat kecelakaan itu. Lyla menunggu di depan ruangan operasi bersama dengan Selvi dan juga Gerald. Ada juga Lian bersama dengan ibunya yang menunggu di sana karena khawatir dengan keadaan tuan mudanya itu.
Semua yang ada di sana duduk diam menunggu operasi hingga selesai.
"Tuan Morgan pasti akan segera sadar, kau tenang saja, Nona," ucap Lian. Lyla menganggukkan kepalanya dan tersenyum, meski di dalam hatinya bukan itu yang dia risaukan. Dia sudah berpikir sedari kemarin tentang apa yang akan dia lakukan setelah ini, dan dia sudah mendapatkan jawabannya.
Operasi yang dilakukan oleh Morgan berjalan dengan sangat lancar. Dokter juga mengatakan jika operasi tersebut berhasil sehingga membuat semua orang yang ada di sana menghela nafasnya dengan lega.
Semua orang menunggu dan ingin menjenguk Morgan yang kini sudah dipindahkan ke ruang inap. Mereka sangat berharap sekali untuk bisa masuk ke dalam sana, tapi sayang sekali hanya keluarga dekat yang bisa masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Apa kita tidak bisa masuk ke dalam sana?” tanya Lian kepada sang ibu, ibunya hanya menggelengkan kepala
"Kita harus menunggu di sini.”
“Sayang sekali, padahal aku ingin melihat keadaan tuan muda di dalam sana," ucap Lian.
Lyla pun juga sama menginginkan hal tersebut, tapi dia sadar siapa dirinya untuk laki-laki itu.
"Nona, kenapa kau tidak masuk ke dalam sana?" tanya Lian.
Lyla hanya tersenyum saja.
"Tolong bujuk Nona Stefie, aku ingin sekali masuk," rajuk Lian kepada Lyla.
"Lebih baik kita biarkan dulu saja untuk saat ini. Tuan muda butuh waktu untuk beristirahat yang banyak agar dia segera pulih," ucap Lyla.
Akhirnya Lian tidak merengek lagi karena mendengar ucapan dari wanita itu. Saat ini memang Morgan membutuhkan waktu yang banyak untuk bisa beristirahat agar segera pulih kembali seperti biasanya.
"Aku yakin tuan muda pasti tidak akan lama akan kembali lagi ke rumah. Kenapa wanita itu sangat jahat sekali melukai Tuan Morgan seperti ini. Syukurlah sekarang dia sudah berada di alam lain aku harap dia akan mendapatkan karmanya di sana," ucap Lian dengan geram.
Lyla memang tahu jika wanita itu sangat terobsesi kepada Morgan, tapi dia tidak menyangka saja jika wanita itu malah berani sekali ingin menghabisi nyawa Morgan. Apakah mungkin itu yang ditakutkan oleh Selvi dan juga Gerald?
Pintu ruangan Morgan terbuka Selvi keluar dari dalam ruangan tersebut dan berdiri di depan Lyla.
"Kau mau masuk ke dalam sana tanya Selvi kepada Lyla. Lyla tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya
"Terima kasih, Nona."
Selvi memberikan ruang agar Lyla bisa masuk dan bertemu dengan Morgan, sementara dia hanya menunggu membiarkan wanita itu untuk berinteraksi mungkin untuk terakhir kalinya.
Melihat Lyla yang masuk ke ruangan tersebut, Gera;d menyingkir dari sana. Tanpa banyak bicara dia keluar dari ruangan itu.
Lyla kini duduk di samping Morgan dan terpaku melihat laki-laki itu tengah tertidur dengan sangat pulas. Tentu saja dia belum siuman pasca operasi beberapa jam yang lalu.
"Hai, apa kabarmu Tuan? Apakah kau sekarang baik-baik saja? Aku akan senang jika kau bangun dan kau memarahiku seperti biasa. Kau tahu aku sudah beberapa hari tidak mendengarmu marah-marah. Aku selalu kesal mendengarnya, tapi kenapa beberapa hari ini aku malah ingin sekali kau marahi?"
"Aku harap kau akan segera bangun. Apakah nanti kau akan mengenaliku? Apakah nanti setelah sadar kau akan menatapku?" tanya Lyla dengan lirih.
Rasa di dalam hatinya tidak kuat. Dia sudah berpikir dengan apa yang dia rasakan selama ini dan mungkin jawabannya dia sudah jatuh cinta kepada laki-laki ini. Padahal dulu dia hanya berjanji kepada dirinya dan juga Selvi serta Gerald hanya akan berpura-pura saja demi untuk membuat Morgan bisa melupakan Renee. Akan tetapi, seiring waktu yang mereka habiskan bersama nyatanya Lyla menjadi tidak bisa menahan hatinya.
Jika hari kemarin dia masih mengelak, tetapi hari ini dia meyakini jika dia memanglah mencintai Morgan.
"Hei, kau tahu makanan yang aku buatkan tiga hari yang lalu? Aku hanya bisa memakannya sendiri. Itu terlalu banyak untukku. Rasanya lumayan menurutku. Aku memberi nilai untuk masakanku sembilan dari angka sepuluh."
"Sayang sekali kau tidak bisa memakannya. Tanganku sudah sembuh sekarang aku juga sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Tapi mungkin untuk kedepannya nanti aku tidak tahu apakah aku bisa bersama denganmu atau tidak. Maaf karena aku telah membohongimu, Tuan,"ucap Lyla merasa bersalah.
Seharusnya dia tidak menerima tawaran yang diberikan oleh Gerald dan juga Stevie kepadanya, tapi semua ini sudah terlanjur karena dia membutuhkan uang yang sangat banyak. Pekerjaan yang dilakukannya juga terbilang mudah, tapi dia tidak memikirkan dampak akhir yang terjadi kepada dirinya. Kini hatinya yang terluka.
"Semoga kau baik-baik saja dan hatimu juga," ucap Lyla sambil mengelus tangan Morgan dengan lembut.
__ADS_1
Dia beranjak dari sana dan sekali lagi menatap wajah Morgan dengan lamat-lamat.
Tiba-tiba saja tangan Morgan bergerak membuat Lyla menjadi senang. Itu berarti sebentar lagi dia kan siuman. Dan benar saja tidak lama Morgan membuka matanya.
Lyla tersenyum senang dan segera menekan tombol yang berada di samping perangkat milik Morgan.
"Kau sudah sadar?" tanya Lyla senang.
Morgan menatap wanita yang ada di hadapannya dengan diam dia sedikit bingung dengan keadaan dirinya sekarang ini.
"Apa kau bisa mendengarku? Kau bisa bicara?" tanya Lyla lagi.
"Siapa kau?" Pelan terdengar suara Morgan berbicara.
Lyla hanya bisa diam dengan air mata yang menetes di dari matanya.
"Kau sungguh tidak ingat denganku?" tanya Lyla serasa tidak percaya. Morgan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan sangat pelan sekali.
"Siapa kau? Aku ada di mana?" ucap laki-laki itu.
"Ada apa denganku?"
Lyla menjadi sedih dengan pernyataan Morgan barusan. Dia sudah tidak bisa mengenali siapa-siapa itu artinya dia harus pergi dari kehidupan Morgan.
"Aku akan memanggil seseorang di luar, sepertinya aku salah masuk kamar," ucap Lyla. Lebih baik mengalah saja dia harus melepaskan Morgan mulai detik ini.
Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan tersebut segera mendekat ke arah Morgan dia meminta Lyla untuk keluar dari ruangan ini.
Selvi yang melihat Lyla keluar dari ruangan itu segera bertanya kepadanya. "Ada apa? Apa yang terjadi di dalam sana?" tanya Selvi. Begitu juga dengan yang lainnya memberondong Lyla dengan pertanyaan.
"Tuan Morgan sudah menggerakkan tangannya. Dia sudah bangun," ucap Lyla yang membuat yang lainnya merasa senang. Akan tetapi, hal itu tidak membuat Lyla menjadi bahagia.
Antara senang dan tidak dia senang karena Morgan sudah bisa bangun, tapi dia tidak senang karena Morgan tidak mengenalinya.
"Jadi apa dia mengenalmu?" tanya Gerald.
Lyla menggelengkan kepalanya.
"Aku turut prihatin, karena inilah yang terbaik untuk dia," ucapnya. Lyla hanya bisa mengganggukan kepalanya.
"Sesuai dengan perjanjian, akan ku kabari nanti setelah aku mentransfernya ke rekeningmu."
Lyla hanya mengangguk lesu.
Dia memutuskan untuk pergi ke luar dan menenangkan dirinya.
Di dalam pertemuan pasti ada perpisahan begitu juga dengan dia dan juga Morgan. Semua ada awal dan juga ada akhir. Jika pun mereka masih berjodoh pasti mereka akan bersama lagi apapun rintangannya.
Lyla berdiam di sebuah taman di rumah sakit itu, dia menatap bulan yang bersinar dengan sangat indah di atas sana, tapi keindahan itu tidaklah untuknya. Keindahan itu hanya untuk orang-orang yang berbahagia. Sinar bulan yang temaram mengiringi masa-masa sedihnya.
Bolehkah dia menolak untuk tidak pergi dari sana? Lyla sudah mendapatkan semuanya dan dia tidak boleh rakus ingin mendapatkan yang lebih dari porsinya.
Sebentar lagi musim semi akan datang, aku tidak akan bisa ikut denganmu untuk pergi ke peternakan, gumam Lyla dengan pelan.
Dia merasa sedih karena Morgan juga mungkin akan lupa dengan janjinya itu, apalagi musim masih panas masih lama. Dia juga merasa jika Morgan mungkin tidak akan mengingatnya sampai waktu itu.
Lian sedari tadi mengikuti Lyla yang pergi dari ruangan itu. Dia melihat wajah Lyla yang sedih dan ingin menghiburnya. Pelan dia berjalan dan duduk di samping wanita itu.
"Hai, kak kau jangan bersedih, aku yakin Tuan Morgan akan segera pulih dan juga akan ingat denganmu. Aku pun sama tadi dia tidak mengenali kami," ucap Lian.
Lyla menganggukkan kepalanya. Jika mungkin Morgan hanya melupakannya saja dia tidak masalah, tapi dia juga harus pergi dari hadapan Morgan itu yang membuatnya sedih.
__ADS_1
"Ya, aku yakin lambat laun dia pasti akan kembali lagi ingatannya seperti dulu."
"Apa kau tidak pulang bersama dengan ibumu?" tanya Lylakepada Lian. Lian menggelengkan kepalanya.
"Tidak aku ingin menemanimu saja di sini. Tidak apa-apa kan atau kau ingin sendirian?" tanya Lian dia juga tidak boleh sembarangan saja mengambil keputusan dan mungkin saja Lyla merasa tidak nyaman karena ada dirinya.
"Bukankah kau besok harus sekolah?" tanya Lyla
"Ya benar, tapi aku akan mengambil satu hari libur saja. Lagi pula di sekolah juga tidak ada kegiatan yang penting. Aku lebih khawatir dengan keadaan tuan muda," ucap gadis itu terdengar sedih.
"Kau tidak boleh seperti itu, tuan muda nanti akan marah," ucap Lyla.
Lian mengerucutkan bibirnya.
"Apa tidak boleh aku di sini sehari semalam saja untuk menunggunya? Aku khawatir dengan keadaan Tuan mudah," ucap gadis itu keras kepala.
"Kau mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada menunggunya di sini, pulanglah ke rumah dan beristirahat besok kau harus belajar. Tuan muda juga pasti akan senang jika kau pergi ke sekolah daripada menunggunya di sini."
Lian menganggukan kepala. Benar apa yang dikatakan Lyla jika mungkin kesempatan tidak akan datang dua kali. Dia tidak bisa membuat Morgan kecewa padanya.
"Baiklah aku akan pulang. Kau tidak apa-apa di sini sendirian?"
"Aku oke," ucap wanita itu.
Lian segera kembali meskipun dia merasa tidak enak untuk meninggalkan Lyla di sana sendirian.
Lylamasih bertahan di taman dan duduk sendirian saja di sana. Dia melihat-lihat ponselnya yang terdapat gambar dirinya dan juga Morgan yang diambil di beberapa kesempatan saat mereka bersama. Tiba-tiba saja dia merasa rindu dengan laki-laki itu, terutama karena dia ternyata adalah laki-laki yang cerewet.
Satu jam lamanya Lyla masih duduk di sana. Dia masih enggan untuk beranjak dan mengabaikan beberapa orang yang menyuruhnya untuk kembali ke dalam rumah sakit untuk menghindari udara dingin.
Tiba-tiba saja lelah melihat sepasang sepatu yang berdiri di hadapannya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat Selvi di sana.
"Bisakah kita bicara?" tanya Selvi meminta Lyla. Lyla segera mengikuti wanita cantik itu dan pergi ke kantin yang ada di rumah sakit tersebut.
"Kau pasti akan menyuruhku pergi juga, kan?" tanya Lyla sebelum Selvi berbicara. Lyla menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wanita itu.
Selvi menghela napasnya dan menatap Lyla.
"Ya, tugasmu sudah selesai. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepadamu karena kau sudah membantu kami selama ini."
Selvi mengeluarkan selembar cek yang sudah dia siapkan di dalam tasnya dan menyodorkan benda tersebut ke dekat Lyla.
"Aku sudah mendapatkannya kemarin," ucap Lyla menolak menerima uang yang diberikan Selvi.
"Ini berbeda dari yang kemarin. Ini hadiah dariku. Ambillah dan pakai untuk kebutuhanmu," ucap Selvi.
"Aku tahu kau sangat membutuhkannya untuk renovasi panti asuhan, kau juga membutuhkannya untuk mengobati adik-adikmu yang ada di panti. Kau sangat mulia sekali ingin membantu mereka dan aku sangat salut padamu.”
Lyla masih menundukkan kepalanya dia ingin sekali menolak untuk pergi akan tetapi dia harus melakukan itu untuk kebaikan dirinya dan juga Morgan.
"Morgan akan baik-baik saja dengan kami," ucap wanita itu lagi sambil tersenyum. Lyla bisa apa selain menuruti apa kata wanita itu, toh dia juga bersama dengan Morgan karena ada maunya.
Kejadian nahas di malam itu memang bukan rekayasa, pun dengan saat dia menggores tangannya. Itu memang benar yang dia alami. Shock karena dia harus kehilangan keperawanannya oleh Morgan juga dengan upaya bunuh diri yang dia lakukan, tapi uang telah membutakannya. uang adalah segalanya yang ada di dunia ini, dan dia tidak bisa menolak pesonanya.
"Ambillah, itu untuk kau mencari orang tuamu. Apa kau sudah menemukan titik terang di mana keberadaan keluargamu?" tanya Slevi, Lyla menggelengkan kepalanya.
"Aku belum tahu. Sulit untukku mencari keberadaan mereka."
Selvi merasa sedih dengan apa yang Lyla katakan, dia berdoa supaya Lyla bisa segera menemukan ayah dan ibunya.
"Jika itu tidak cukup untuk mencari mereka, kau boleh menghubungiku," ucap Selvi seraya mengelus tangan Lyla dengan lembut. Lyla mengangguk saja. Apa yang bisa dia lakukan selain setuju dengan apa yang wanita itu katakan?
__ADS_1
Dia ada di dalam dilema sekarang ini. Dia juga sudah terlanjur mempermainkan Morgan. Sekarang bukankah ini waktu yang tepat untuk pergi? Lagi pula Morgan juga tidak mengenali dirinya lagi, dia tidak ingat jika mereka telah bersama. Bukankah itu bagus? Dia tidak akan merasa bersalah karena laki-laki itu bahkan tidak pernah tahu jika dia pernah ada di sampingnya.