
Theresia sangat senang sekali dan dia hampir saja menghubungi Alex untuk memberitahukan kabar bahagia ini.
"Ah, aku lupa." Theresia lupa jika Alex berada di mobil yang baru saja pergi.
"Jadi, kau sangat lapar sekarang? Pulanglah ke rumahku, aku akan memasak untukmu."
"Ibu akan memasak?"
"Iya. Tentu saja aku akan memasak. Aku akan memasak khusus untuk putriku tercinta. Apa yang kau mau makan?" tanya Theresia sambil tersenyum senang kepada putrinya.
"Aku akan makan apapun yang kau buatkan."
"Baiklah kalau begitu Kau mah ayo kita pulang. Morgan, apakah kau juga mau ikut?"
"Tentu saja aku akan ikut. Kapan lagi aku bisa mencicipi masakan ibu mertuaku?" ujar Morgan.
Dari siapa menganggukkan kepalanya kemudian menarik tangan Lyla hingga sampai ke mobilnya.
Lyla sangat senang sekali karena Morgan sudah berinteraksi dengan ibunya. Morgan sudah berbeda dengan dirinya yang dulu, dan dia menjadi lebih baik sekarang ini.
***
"Kalian tunggulah di sini, aku akan memasak sesuatu."
Theresia memerintahkan Lyla dan Morgan untuk duduk di ruang keluarga.
"Apa kau tidak perlu bantuanku, Bu?" Lyla bertanya.
"Tidak. Aku ingin melakukannya sendiri. Kau tahu bagaimana pamanmu? Aku masuk ke area dapur saja diusir olehnya. Sekarang selagi dia tidak ada, aku ingin memasak sepuasku." Theresia tertawa kecil hingga matanya menyipit. Dia sudah lama ingin memasak, tapi adik sepupunya itu selalu melarang.
"Baiklah. Aku tidak akan pernah melarangmu. Tapi berhati-hatilah dengan pisau dan benda tajam lainnya."
"Jangan khawatirkan wanita tua ini. Aku masih ingat bagaimana cara menggunakan pisau." Theresia mengabaikan ucapan putrinya kemudian mencari bahan-bahan yang ada di dalam kulkas. Beberapa maid yang ada di sana menunggu di luar area dapur sambil menatap satu sama lain. Sebenarnya mereka takut jika Alex mengetahui bahwa Theresia turun ke dapur, tapi memang dasar wanita cantik ini sangat keras kepala dan memerintahkan mereka untuk menunggu saja.
"Ayo kita tunggu di sana. Biarkan Ibu bersenang-senang di dapur," ajak Morgan.
"Iya."
Lyla mengikuti Morgan pergi dan duduk bersama dengan pria itu.
"Sayang, apa kau mengidam sesuatu?" Morgan mengelus perut istrinya yang masih rata.
"Sepertinya tidak." Lyla menggelengkan kepalanya.
"Tidak? Benarkah?"
"Hu-um." Kali ini Lyla menganggukkan kepalanya.
"Apa perlu aku tanyakan kepada ibu, bila kau ingin makan buah?"
"Tidak. Sebenarnya, aku ...."
__ADS_1
Morgan menunggu kelanjutan ucapan istrinya.
"Ya?"
Lyla memalingkan wajahnya ke arah lain, sedikit memerah di sana.
"Tidak." Senyum itu merekah indah, matanya menyipit dan mencoba untuk mengalihkan pikirannya dari hal tersebut.
"Tidak? Apa yang kau inginkan? Kenapa tidak?"
Lyla menggigit bibirnya, masih berpikir apakah wajar jika memintanya sementara mereka tidak berada di rumah.
"Tidak apa-apa. Tolong elus perutku. Itu akan membuatku nyaman."
"Hanya elusan di perut saja?" tanya Morgan dan mendapatkan jawaban anggukkan kepala dari sang istri.
"Okay." Dengan perasaan senang, dia mengelus perut Lyla dan tersenyum. Membayangkan dalam waktu beberapa bulan lagi dia akan bertemu dengan anaknya adalah hal yang membahagiakan.
"Anak kita perempuan atau laki-laki?" gumam Morgan, lebih bertanya kepada dirinya sendiri.
"Kau mau apa?"
"Apa saja aku tidak masalah."
"Bagus, memang kau tidak perlu mempermasalahkan anak pertama kita. Mau perempuan, atau laki-laki, mereka akan aku didik sama rata. Tidak akan aku pilah pilah seperti yang sering aku lihat di keluarga lain."
"Maksudnya?" Morgan malah tidak mengerti.
"Bukankah biasanya para pengusaha menginginkan anak pertama laki-laki agar mereka bisa memberikan kekuasaan kepada anaknya kelak?"
"Iya, kau benar, Morgan. Aku baru saja berpikir seperti mereka juga. Tapi, bagiku anak perempuan atau laki-laki, aku tidak akan membedakan mereka. Kelak, kau juga tidak akan membedakan putra putri kita. Kau harus berbuat adil kepada mereka." Tunjuk Lyla tepat di depan hidung Morgan.
Morgan mengambil telunjuk itu dan mengecupnya lembut. "Tentu saja, Sayang. Tentu aku akan bersikap adil pada semua anak-anak kita. Tapi, terutama aku akan mendahulukan ibunya." Kecupan singkat Morgan berikan pada Lyla di bibirnya.
"Morgan, kau harus tahu tempat!" tegur Lyla. Morgan terkekeh dan kembali mencium pipi sang istri.
"Aku selalu lupa jika ada di samping istriku tercinta. Kau membuatku lupa segalanya, Sayang."
Tangan mereka saling bertautan, Lyla merebahkan kepalanya pada bahu lebar sang suami.
"Morgan, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Andai aku ada di dalam bahaya, dan anak kita juga sama. Siapa yang akan kau selamatkan duluan?"
Kening Morgan mengerut mendengarnya. "Pertanyaan macam apa itu?"
"Hanya bertanya saja. Hanya ingin tahu jawabanmu."
"Itu tidak akan terjadi, aku akan melindungimu agar tidak mendapatkan kesulitan di masa depan."
__ADS_1
"Hei, aku tidak ingin jawaban yang itu!"
"Dan aku tetap dengan jawabanku. Suka atau tidak suka, lebih baik kau marah karena aku kurung di rumah daripada kau pergi dan membuatku khawatir."
"Jawaban yang lain, Morgan."
"Tidak ada jawaban yang lain, jika perlu aku akan memerintahkan seribu pengawal untuk menjagamu dan anak-anak kita. Masing-masing orang, seribu pengawal. Jadi, masih mau bertanya siapa yang akan aku selamatkan terlebih dahulu?" ujar Morgan sedikit kesal. Pertanyaan sang istri tidak masuk akal sekali.
"Kau mengerikan! Kau mau memenuhi kota ini dengan pengawalmu saja?"
"Yups."
"Bagaimana—"
Cup!
Lyla terdiam saat Morgan kembali mencium bibirnya. "Morgan! Kenapa kau menciumiku lagi!" teriak Lyla kali ini tidak terima. Pasalnya, ada beberapa maid di sana dan bisa jadi.melihat kelakuan mereka.
"Semenjak hamil, kau jadi terlalu banyak bicara. Melantur ke mana-mana. Bisakah kau bicara yang realistis saja? Aku lebih senang jika kau mengidam dan memintaku mencarikan sesuatu."
Lyla langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak tahu kenapa memang akhir-akhir ini banyak sekali yang dia pikirkan dan tidak bisa dia pendam di dalam hatinya. Berbicara andai dan andai, padahal dia sendiri tahu jika Morgan tidak akan lalai dalam menjaganya.
"Maaf."
"Tidak perlu minta maaf. Aku yang seharusnya mengerti dirimu. Menjadi wanita hamil memang tidak mudah, kan?"
Lyla mengangguk. Beruntung Morgan bisa sabar menghadapi dirinya.
Lyla menatap wajah Morgan yang tampan. Dia tergiur dengan bibir tebal pria itu. Namun, saat mereka saling mendekat, suara Theresia membuat keduanya saling menjauh.
"Makanan sudah siap. Maaf lama menunggu!" seru Theresia keluar dari area dapur. "Apa kalian sudah kelaparan? Maafkan aku, aku terlalu lama memasak."
Kedua orang itu menjadi salah tingkah. Lyla berdiri saat sang ibu mendekat. "Iya, aku sangat lapar sekali. Apa semuanya sudah selesai?"
"Iya. Menantu, ayo kita makan." Ajak Theresia. Morgan mengikuti dua wanita itu pergi ke ruang makan. Beberapa maid sedang membereskan meja makan dan menarik kursi untuk tiga orang tersebut.
"Kalian bisa pergi, aku ingin makan bertiga dengan anak-anakku," perintah Theresia pada maid tersebut. Semuanya menundukkan setengah badannya dan pergi dari sana.
"Aku tidak tahu apa yang kalian suka, tapi aku masak kerang hijau kesukaan ayahmu dulu. Semoga saja rasanya sesuai dengan lidah kalian," ujar Theresia.
Lyla pernah beberapa kali memakan kerang hijau buatan koki di rumah, apakah akan seenak itu?
"Ayah suka makan ini?"
"Iya. Sebenarnya, dia tidak pernah memilih makanan apa pun yang aku masak, tapi memang kerang hijau adalah favoritnya." Theresia berkata tanpa memikirkan kesedihannya lagi, sudah dua puluh tahun lebih dia ditinggalkan, dia sudah ikhlas dengan kepergian suaminya.
Lyla mencicipi masakan sang ibu, rasanya enak di lidah. Apalagi kuah sup yang sedikit merah, tapi tidak.pedas sama sekali, segar meluncur di tenggorokannya.
"Ini enak."
"Kau suka, Sayang?"
__ADS_1
"Iya, aku suka, Bu." Jika biasanya koki yang mendapatkan acungan jempol, kini Lyla akan memberikan seluruh jempol yang dia miliki untuk ibunya.
"Syukurlah jika kau suka. Makan yang banyak. Morgan, kau juga," ucap Theresia sambil menyodorkan sepiring kerang hijau tersebut.