
"Sayang! Apa kau menghindariku?" tanya Selvi marah dan melihat Robinson yang pergi ke dekat jendela.
"Tidak, Sayang. Tunggu sebentar," ucap Robinson kemudian menghubungi Rachel segera.
Saat panggilan terhubung, Selvi mendekati suaminya dan memeluknya lagi dari belakang.
"Sayang, ayo kita bersenang-senang. Kenapa kau menghindariku? Apa aku kurang seksi? Aku kurang hot?" tanya Selvi dengan suara yang sens*ual sedangkan Robinson fokus untuk berbicara dengan Rachel meskipun mendapatkan gangguan dari istrinya itu.
"Halo, Rachel."
"Iya, Ayah? Ada apa?" tanya Rachel yang bingung karena sang ayah yang menghubunginya hampir tengah malam.
"Bolehkan aku ... sshh. Aahhh."
Robinson tidak kuat, lagi-lagi tangan Rachel bermain d dalam celananya dan bergerak memijit benda keras miliknya.
Sementara itu, di ruangan Rachel terlihat kebingungan, ada apa sebenarnya dengan sang ayah? Namun, setelah mendengar suara ibunya dari belakang Robinson yang mengajak dan tampak tidak sabaran, barulah Rachel mengerti.
"Ayah, ingat untuk lakukan dengan perlahan. Jangan terlalu kencang. Okay?" tutur Rachel, tapi Robinson tidak bisa mendengarnya karena Selvi sudah menariknya ke atas tempat tidur dengan Selvi yang berada di atas.
"Halo, Ayah?"
Suara panggilan Rachel terabaikan, Robinson sudah tidak bisa lagi menahan dirinya di bawah kuasa sang istri.
__ADS_1
Robinson benar-benar dibuat tidak berdaya oleh istrinya malam ini. Nikmat memang setelah sebulan lamanya dia berpuasa, tapi gerakan Selvi yang penuh energik membuat Robinson kewalahan. Sebelum hamil saja Selvi sudah sangat bersemangat dan saat hamil pun dia lebih bersemangat lagi.
"Terima kasih, Sayang. Kau suami yang penurut," ucap Selvi dan mencium pipi suaminya. Napas Robinson masih naik turun dan terasa sesak, tapi dia mencoba untuk tersenyum.
"Lain kali, tolong jangan terlalu bersemangat seperti itu, Sayang. Besok kita harus menemui Rachel dan memeriksa bayi kita lagi," ucap Robinson masih terengah.
"Baiklah, aku akan meminta obat penguat kandungan agar kita bisa menjadi tenang."
Robinson ingin pingsan rasanya, terbayang apa yang akan terjadi esok dan seterusnya jika Selvi sangat bersemangat dalam bercinta. Tadi saja Selvi lah yang memimpin permainan.
***
Keesokan harinya, Robinson pergi ke kantor dengan tubuh yang lemas. Hari ini ada banyak hal yang harus dia lakukan.
"Untuk suamiku. Kasihan dia semalam sudah aku siksa dalam kenikmatan."
Selvi tertawa geli. Semalam dia benar-benar membuat suaminya kelelahan.
Setelah makanan itu siap, Selvi bersiap untuk pergi.
"Anda mau ke mana, Nyonya?" tanya seorang wanita tiba-tiba saja mendekat.
"Siapa kau?"
__ADS_1
"Nama saya Hana. Saya adalah orang yang Tuan perintahkan untuk menjaga Nyonya dan mengantarkan Nyonya ke mana pun Nyonya ingin pergi."
"Hah? Tapi Robinson tidak bilang ke padaku--, tunggu sebentar." Selvi kemudian menghubungi suaminya dan hal itu dibenarkan oleh Robinson.
"Aku hanya ingin memastikan kau aman dan selalu ada orang yang mengingatkanmu, Sayang." Itulah jawaban dari Robinson. Selvi tidak bisa lagi membantah, hanya menurut saja meski di dalam hatinya dia merasa sebal.
"Aku mau pergi ke perusahaan suamiku," ucap Selvi kemudian pergi mendahului wanita itu. Hana mengikuti Selvi dan membawanya masuk ke dalam mobil. Mobil hitam mewah itu pergi keluar dari mansion milik Robinson.
***
Saat baru saja kembali dari rapat penting, seseorang masuk ke dalam ruangannya.
"Robinson. Lama tidak bertemu."
Robinson yang mendengar namanya disebut menjadi terkejut dan melihat seorang wanita yang mendekat ke arahnya.
"Apa kabar, Robinson?" tanya wanita itu sambil tersenyum.
"Kau ... Ada apa kau kemari?" tanya Robinson dengan ketus.
"Aku dengar kau sudah menikah sekarang ya? Sayang sekali, aku terlambat untuk kembali padamu, Robinson."
Wanita itu duduk di hadapan Robinson.
__ADS_1