Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
129. Tahanan Rumah


__ADS_3

Semua yang terjadi akhir-akhir ini membuat Lyla tidak tenang, semakin banyak saja yang terluka setiap harinya. Sementara Tuan Raymond tetap tidak mau menjawab semua pertanyaannya.


"Ah, aku bosan!" ucap Lyla sambil menatap langit-langit kamar.


Tidak ada yang bisa dia lakukan di dalam sini, kerjaannya hanya berbaring dan menonton acara tv saja. Tidak ada pelayan wanita, yang ada hanya laki-laki yang mengerjakan tugas rumah dan juga memasak. Tentu saja hal itu membuat Lyla enggan untuk banyak bicara dengan mereka, apalagi orang-orang yang ada di sana takut pada Raymond dan sangat patuh dengan perintah laki-laki itu.


"Kapan aku bisa keluar dari sini? Aku ingin pulang, aku rindu ibu panti dan adik-adik," gumam Lyla pelan sambil menatap ponselnya yang kini menampilkan beberapa foto di panti asuhan yang dia unduh dari lama facebook miliknya. Dia terus menggulirkan ke kanan, hingga akhirnya terlihatlah gambar beberapa orang di sana. Lian bersama dengan ibunya, gerald, Selvi, dan juga ... Morgan!


"Apa kau rindu aku?" tanya Lyla sambil mengelus layar tepat di wajah Morgan, seakan berharap jika gambar itu menjawab pertanyaannya.


"Hei, kau. Jika aku bilang aku mencintaimu, apa kau akan menjawab kau juga mencintaiku?" tanyanya lagi. Lyla tersenyum malu dan menggelengkan kepalanya.


"Apa yang aku pikirkan? Sewaktu bersama saja dia menjadikanku kekasih karena di pesta itu. Oh, ya. Bukankah aku dan dia belum resmi putus? Berarti, aku masih menjadi kekasihnya, kan?" ucap Lyla riang, tapi setelah itu dia menjadi sedih karena perjanjian yang dia lakukan dengan Selvi dan juga Gerald.


Suara tembakan terdengar beruntun di luaran sana membuat Lyla terkejut dan bangun dari pembaringannya. Lyla segera mengambil kardigannya dan segera berlari ke arah jendela. Di luaran sana tampak beberapa mobil masuk dan menembaki mansion tersebut.


Lyla menundukkan kepalanya, tatkala sebuah tembakan menyasar membuat kaca jendela kamarnya pecah.


“Nona! Nona tolong buka pintunya!” Ketuk pintu terdengar dari luar kamarnya. “Kita harus segera keluar dari sini sekarang juga!”


Lyla segera berlari dengan menunduk, sedikit sakit pada pipinya, terasa perih. Saat dia usap ternyata ada sedikit darah mengucur dari sana.


“Nona, kau tidak apa-apa?” tanya seorang laki-laki yang Lyla tahu dia adalah asisten koki di rumah itu saat Lyla terlihat membukakan pintu. Suara tembakan semakin keras dan semakin banyak di luar. Bahkan, suara teriakan orang-orang sudah terdengar di dalam rumah.


“Aku tidak apa-apa. Apa yang ter–”


Laki-laki tersebut mendorong Lyla masuk kembali ke dalam kamar membuat Lyla terkejut dan hampir saja terjengkang. Pintu dia tutup dengan cepat dan segera menguncinya.


“Sshhttt,” ucap pria tersebut menempelkan telunjuknya di depan bibir. Lyla menatap heran padanya dengan penuh tanda tanya.


“Apa yang telah terjadi?” tanya Lyla dengan suara yang gemetar ketakutan.


“Musuh telah masuk ke dalam mansion, dan kau ada di dalam bahaya. Aku akan membawamu pergi secepat mungkin,” ucap laki-laki itu.


Sebelum Lyla bisa bicara dan bertanya, dia sudah menarik tangan Lyla dan menuju ke lemari. Lyla tidak mengerti ada apa di dalam sana. Pria tersebut membuka lemari dan menyibak pakaian-pakaian yang ada di sana. Dia mencari-cari sebuah tombol dan akhirnya dinding belakang lemari terdengar bergerak. Lyla membulatkan matanya, tak menyangka jika di belakang lemari ada sebuah ruangan yang cukup luas jika dia lihat.


“Ayo masuk,” ucap pria itu kembali menarik tangan Lyla untuk masuk ke sana. Lyla terkejut dan terpana, dia tidak tahu sama sekali dengan adanya ruangan ini.


“Aku akan membawamu pergi lewat halaman belakang mansion. Musuh tidak akan tahu kita pergi dari sana,” ucapnya. Lyla hanya mengangguk mengerti, kemudian mengikuti langkah laki-laki itu masuk ke dalam lift yang hanya muat untuk empat orang saja.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka menginginkan aku? Apa orang-orang itu adalah utusan keluargaku?” tanya Lyla. Namun, laki-laki itu menggelengkan kepalanya.


“Bukan, tapi mereka adalah musuh yang mengincarmu. Ada cerita jika dendam keluarga Fernandez masih ada hingga sekarang dan mereka tengah mengincar keturunan Gregory.


Lyla semakin bingung dengan cerita tentang keluarganya, dia tak habis pikir kenapa mereka menargetkan dirinya hanya untuk balas dendam. Kenapa mereka harus susah payah mencarinya? Kenapa mereka harus mengincarnya? Apakah sebenarnya ….


Lyla berhenti berpikir sebentar. Dia tengah menarik kesimpulan dan dia mendapatkan pencerahan sedikit. Mungkin, hanya sebatas mungkin. Apakah sebenarnya keluarganya masih mencarinya? Menginginkkanya?


Tidak mungkin kan mereka menginginkanku jika keluargaku tidak peduli? pikir Lyla.


Kedua orang itu turun dari lift dan segera bergegas pergi menuju ke sebuah pintu kecil. Saat pintu itu terbuka, tampak sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir bebas di sana, di depannya terdapat sebuah hutan yang lebat, tepat di dekat sungai yang membawa Lyla kemari malam itu.

__ADS_1


“Ayo masuk, Nona.” Laki-laki itu membuka pintu mobil dan menyuruh Lyla masuk ke dalam sana. Tembakan terdengar dengan sangat kencang, juga dengan teriakan dan orang-orang yang berlarian menuju ke arahnya.


Laki-laki itu menyalakan mobil dan segera menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil segera melesat berlari meninggalkan mansion menyusuri hutan yang sangat rimbun.


Perasaan Lyla campur aduk sekarang ini, dia telah banyak melihat mayat dan juga peristiwa yang terjadi di rumah itu selama beberapa hari ini.


“Tuan,” panggil Lyla saat mereka meninggalkan mansion itu, suasana di depan tampak gelap karena hari sudah mulai beranjak malam.


“Iya, apa kau butuh sesuatu?” tanyanya.


“Oh, tidak. Aku hanya ingin bertanya sesuatu saja.”


“Katakan.”


“Jika orang lain menginginkan aku, apakah mungkin jika keluargaku sebenarnya masih peduli padaku?” tanya Lyla pelan. Besar harapan jika laki-laki itu mengatakan iya. Lyla menatapnya dan menunggu jawaban darinya.


“Iya, mereka menginginkanmu kembali semenjak lama, Louisa!”


Lyla bingung, siapa yang laki-laki ini panggil dengan nama Louisa?


Saat Lyla akan bertanya, ada seseorang yang bersembunyi di kursi belakang membekap mulut Lyla dengan sapu tangan. Mata Lyla membulat terkejut, dia meraih tangan besar itu dan ingin menyingkirkannya, tapi sangat sulit sekali karena tenaganya yang sangat besar. Laki-laki yang ada di sampingnya tidak membantunya sama sekali, dia hanya menyunggingkan senyuman aneh dan tak peduli.


“Tidurlah, Sayang. Dan kau akan ikut bersama denganku.” Suara laki-laki itu terdengar saat sebelum Lyla tak berdaya dan tak bisa bertahan lagi untuk tetap terjaga.


...***...


Lyla terbangun di sebuah ruangan, rasanya seperti dejavu. Dia juga pernah seperti ini keadaannya beberapa bulan yang lalu. Akan tetapi, kali ini dia tidak tahu di mana dirinya sekarang ini.


Lemas tubuhnya, matanya masih mengantuk, efek obat tidur yang dia dapatkan tadi sangat kuat. Perlahan dan sedikit oleng Lyla bangkit dan mendekat ke arah pintu. Terkunci.


“Keluarkan aku sekarang juga. Tolong. Siapa kalian? Kenapa kalian menculikku?” tanya Lyla, tak ada suara seorang pun di luar sana yang menyahut. Lyla menjadi takut. Akankah kejadian yang lalu terulang lagi?


Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, menyapu ke segala arah. Jendela besar terdapat di sana. Segera Lyla pergi dan menyingkirkan tirai putih yang ada di hadapannya. Di luar tampak bagian bangunan itu yang sangat megah. Bahkan, lebih megah dari mansion tempatnya kemarin.


“Di mana aku?” gumam Lyla menatap para penjaga yang jumlahnya lebih dari sepuluh, sebiah ATV melewati di bawahnya membawa dua orang yang ada di atasnya. Pakaian hitam persis seperti yang dipakai oleh bawahan Gerald.


“Ah, ponselku!” seru Lyla saat dia mengingat sesuatu. Segera Lyla mencarui ponselnya di saku pakaian. Akan tetapi, dia tidak menemukannya di sana.


“Astaga! Di mana ponselku?” gumam Lyla bingung. Dia sangat yakin sekali jika tadi saat masuk ke dalam lift telah dia masukkan ke dalam saku pakaiannya. Selain itu, Lyla juga mencarinya di kasur tempatnya tadi tertidur. Tetap saja benda pipih itu tidak dia temukan di sana.


“Apa mereka mengambilnya?”


Lyla mencoba untuk berpikir, dia harus berbuat sesuatu sekarang ini. Setidaknya untuk berjaga-jaga jika ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu.


Lyla pergi ke dekat pintu, menempelkan telinganya di sana, mencoba untuk mendengarkan suara yang ada di luaran. Tidak terdengar apa-apa, kemudian dia bergegas untuk mengambil guci yang ada di dekat pintu tersebut dan memecahkannya.


Suaranya pelan, tapi membuat dada Lyla berdebar dengan cukup kencang. Dia takut jika apa yang dia lakukan membuat seseornag masuk ke dalam sana.


“Jika orang-orang itu baik kenapa aku harus dibius? Aku harus bisa menjaga diriku sendiri,” gumam Lyla pelan. Dia mengambil potongan guci yang kecil, tapi cukup untuk bisa dia genggam. Beruntung kardigan yang dia pakai ada saku di bagian samping, bisa untuknya menyimpan pecahan guci tersebut.


Di ruangan yang lain, seseorang tersenyum geli melihat apa yang wanita itu lakukan di sana. Dia hanya diam dan tidak mengalihkan tatapannya dari layar yang ada di depannya.

__ADS_1


“Ternyata dia sedang berjaga-jaga. Bagus sekali,” ucap laki-laki itu sambil menggelengkan kepala. Seorang yang berdiri di sampingnya hanya melirik saja, entah apa yang tuannya itu suka dari wanita tersebut, bahkan cantik saja tidak.


Hari sudah beranjak sore, Lyla sedari tadi hanya duduk dan menunggu saja di sana. Dia sudah memprediksikan jika di rumah ini pasti ada banyak sekali penjaga mengingat jika tadi di luar saja mondar mandir ke sana kemari para lelaki berbadan tegap.


Perutnya sakit, terasa perih. Jelas saja karena Lyla belum mendapatkan makanan dari tadi pagi. Dia ingat semalam hanya makan sedikit saja, dan ini sudah akan menjelang malam hari.


Pintu ruangan diketuk dari luar, Lyla terkesiap dan segera memasukkan tangannya ke dalam kardigan. Jika harus terluka juga tidak apa, yang terpenting dia harus membela diri. Jangan sampai kejadian yang dulu terulang lagi.


Pintu ruangan tidak lagi diketuk, tapi terdengar bunyi anak kunci yang berputar dua kali, menandakan jika pintu itu ada yang membukanya dari luar. Keringat dingin keluar dari kening Lyla, dia harus bersiap untuk menghadapi apa yang ada di depan nanti.


Pintu terbuka, dua orang wanita datang, masing-masing dengan membawa nampan di tangannya.


“Selamat malam, Nona,” sapa seorang wanita dengan senyuman di bibirnya. Sedikit lega melihat jika yang masuk ke dalam sana adalah seorang wanita. Langkah kakinya pelan masuk ke dalam sana dan menghampiri Lyla.


“Makan malam Anda, Nona,” ucap wanita muda itu menyimpan nampan makanan di atas nakas. Wangi aromanya tercium membuat perut Lyla berbunyi nyaring.


“Anda bisa membersihkan diri Anda. Tuan ingin bertemu dengan Anda, Nona.” Satu wanita yang lain menyimpan nampan dengan pakaian berwarna hitam di atas tempat tidur Lyla.


“Si-siapa kalian? Siapa tuan kalian?” tanya Lyla, tapi dua wanita itu tidak ada yang menjawabnya sama sekali. Mereka hanya menundukkan tubuhnya sedikit, kemudian menarik dirinya dari kamar tersebut. Pintu kembali tertutup, tapi Lyla tidak mendengar jika mereka menguncinya lagi. Apakah artinya dia bukan tawanan?


Wangi aroma makanan tercium di hidungnya, perutnya kini meronta-ronta ingin diisi. Akan tetapi, Lyla tidak menyentuhnya sama sekali. Takut jika di dalam sana ada sesuatu yang bisa membuatnya mati atau pingsan sekali lagi dan bisa saja jika dia nanti berakhir di tempat yang mengerikan.


Lyla menatap pakaian yang ada di depannya. Dia menatapnya dengan tanpa minat, cantik memang gaun itu, tapi untuk apa dia diberikan gaun seperti itu?


Dia bergidik ngeri, bayangan yang ada di kepalanya tiba-tiba saja menggambarkan hal lain.


"Gila saja aku disuruh pakai gaun seperti ini," gumam Lyla sambil menyingkirkan gaun itu menjauh.


Sekali lagi Lyla melirik makanan yang ada di depannya, menelan ludahnya dengan kasar. Sulit sekali.


"Tahan, tahan. Kau juga pernah hampir tiga hari tidak makan," ucapnya sambil mengelus perutnya yang kini berbunyi nyaring. Ya, di saat dulu keadaan di panti sangat sulit, dia lebih memilih memberikan jatah makannya untuk adik panti.


Laki-laki yang ada di ruangan lain tersenyum, dia terus memperhatikan tingkah laku Lyla yang hanya duduk atau berbaring sambil mengelus perutnya.


Dasar wanita bodoh, apakah dia pikir makanan itu ada racunnya? gumam Alex menatap Lyla yang sedang berguling-guling di kasur.


Lyla tak tahan dengan perutnya, dia bangkit dan berjalan ke kamar mandi.


Mau kemana dia? tanya Alex di dalam hatinya. Matanya tak mau melepaskan Lyla sedikitpun. Sang asisten melirik heran atasannya. Dia tidak mengira jika sang atasan bisa duduk diam selama seharian penuh hanya untuk memperhatikan wanita itu.


Apakah wanita itu spesial?


*


"Lebih baik aku minum air kran saja," gumam Lyla, kemudian membuka kran air dari wastafel. Lyla minum dari sana hingga puas, hingga perutnya kini terisi penuh. Setidaknya dia tidak lagi kelaparan untuk sekarang ini.


"Astaga! Apa yang harus aku lakukan?" gumam Lyla sedih, dia duduk di lantai dan melipat kedua tangannya di atas lutut. Lyla menelungkupkan kepalanya di sana, menitikkan air mata.


*


Alex masih memperhatikan, bahkan di dalam kamar mandi juga ada CCTV yang telah dia pasang sebelumnya. Kamar itu memang besar, tapi siapa saja yang ada di sana seakan-akan menjadi tahanan karena dia tidak bisa mendapatkan privasi sama sekali.

__ADS_1


"Kenapa dia hanya diam saja?" ucap Alex lirih, hampir sepuluh menit lamanya dia melihat Lyla hanya duduk di sana.


"Apakah perlu aku bawa dia ke luar?" tanya asistennya. Alex tidak menjawab, hanya mengangkat tangannya. Laki-laki itu menundukkan kepala dan kembali berdiri di samping Alex.


__ADS_2