
Lyla sangat terkejut dengan apa yang Morgan lakukan. Dia membulatkan matanya saat Morgan memainkan lidahnya di dalam sana. Hangat memang dan juga nikmat, tapi ini tidak bisa dibiarkan!
Apa-apaan laki-laki itu!
Lyla mendorong dada Morgan dengan cukup keras sehingga mau tidak mau Morgan melepaskan Lyla.
"Apa yang kau lakukan, Tuan?" tanya Lyla seraya mengusap bibirnya yang basah. Terpancar rasa marah di dalam sorot matanya.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya sedang menciummu saja," ucap Morgan dengan santai.
"Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau menciumku?" tanya Lyla dengan marah.
"Memangnya kenapa? Apa itu tidak boleh? Itu bayaran untuk tanganku yang telah menjadi bantal kepalamu semalaman. Kau pikir tanganku tidak kesemutan, sedangkan kau enak-enak saja dan sangat nyenyak sekali tidur di atasnya?" ujar Morgan.
Lyla bertambah kesal mendengar apa yang Morgan ucapkan.
"Tapi kau tidak berhak menciumku. Bukannya kau bilang aku ini sedang dalam pengaruh alkohol?"
"Iya, memang benar kau memang mabuk semalam. Tapi, ciuman barusan sangat ampuh sekali untuk menghilangkan semut-semut yang mengg*rayangi tanganku. Lagi pula, bukankah kau ini adalah kekasihku?" kata Morgan yang membuat Lyla membulatkan matanya.
"A-apa maksudmu? Kita bukan kekasih."
"Tentu saja kau kekasihku, bukankah semalam kau mengatakan 'iya'?
Lyla terkejut dengan apa yang Morgan katakan.
"Apa maksudmu? Siapa yang mengatakan 'iya'?"
"Tentu saja kau yang mengatakannya, Nona. Apa kau tidak ingat waktu kita ada di lantai atas? Aku memintamu menjadi kekasihku, bukan?" ucap Morgan menatap Lyla dengan tatapan yang santai.
"Itu tidak masuk ke dalam hitungan. Bukankah kau mengatakan jika aku harus mengakuimu sebagai kekasih hanya di pesta itu?"
"Iya, memang benar."
"Tapi itu bukan berarti kau juga bisa menciumku sekarang ini!"
"Kenapa aku tidak bisa? Tentu saja aku bisa, karena kau masih kekasihmu. Aku bisa menciummu," ujar Morgan sambil menarik satu sudut bibirnya ke samping. Lyla tidak terima dengan apa yang Morgan katakan barusan.
'Enak sekali laki-laki ini berbuat sesuka hatinya!' batin Lyla.
"Aku hanya ingin menyapamu dengan ciuman selamat pagi, karena itu bisa membuatku semangat hari ini," ucap Morgan lagi kepada Lyla. Sekali lagi Lyla mendorong dada organ.
"Kalau begitu kita putus."
"Putus? Kenapa kau mau putus?"
"Karena yang semalam itu kita hanya berpura-pura."
"Kau tidak bisa begitu saja putus denganku, Nona,."
"Kenapa tidak bisa?"
Morgan mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga kini wajah mereka saling berdekatan.
"Karena aku tidak akan mengizinkannya," ucap Morgan kemudian pergi dari hadapan Lyla untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku tidak bisa menerimanya, Tuan. Tolong. Maafkan aku. Aku hanya wanita yang biasa yang tidak pantas bersanding denganmu, jadi aku mohon cabut kata-katamu dan putuskan aku sekarang juga!" ucapnya dengan kedua telapak tangan di depan wajah. Morgan tidak peduli, dia hanya mengangkat kedua bahunya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Lyla mendengkus kesal saat mendapati perlakuan dari Morgan tersebut. Ini tentu saja tidak bisa dibiarkan karena dia bukanlah kekasih siapa-siapa. Dia juga tidak mendapatkan pernyataan cinta dari Morgan dan juga untuk saat ini dia hanya ingin menjadi wanita yang bebas.
Lyla melangkahkan kakinya keluar dari kamar Morgan, dia tidak peduli dengan beberapa asisten yang melihatnya dengan heran karena keluar dari kamar tuannya tersebut. Langkah kaki itu lebar melangkah kasar menaiki tangga, sambil bergumam pelan sampai masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang terjadi dengan dia?" tanya seorang pelayan kepada sesama pelayan lainnya.
"Aku tidak tahu. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Atau, Tuan Muda akan marah," ucap wanita yang lain. Mereka kemudian kembali pada pekerjaannya masing-masing.
"Apa-apaan dia? Keterlaluan sekali dia berani beraninya menciumku. Apa dia tidak tahu kalau ini adalah ciuman pertamaku? Kenapa harus dia yang pertama menciumku? Aku harus membuat perhitungan padanya, aku harus meminta bayaran yang besar padanya," geram Lyla sambil menggosok giginya dengan cukup kuat. Dia bahkan tidak peduli jika ujung gosok gigi mengenai tenggorokan dan membuatnya hampir muntah, justru bagus aja kalau dia sampai muntah semoga saja dia bisa melupakan apa yang Morgan lakukan terhadapnya.
Morgan keluar dari kamar mandi setelah selesai menggunakan pakaiannya. Dia tersenyum senang sekaligus geli melihat ekspresi dari Lyla tadi. Langkahnya ringan keluar dari kamar dan duduk di meja makan yang kini telah kosong. Beberapa pelayan terheran melihat Morgan yang tersenyum seperti itu.
"Mana sarapanku?" tanya Morgan ibu Lian datang membawakan sarapan yang baru saja dia buatkan untuknya.
"Apa kabar Anda pagi ini tuan? Anda tampak sangat bahagia sekali."
"Iya, tentu saja. Hidup itu harus dinikmati. Jika tidak dinikmati, kita akan pernah bahagia," ucap Morgan membuat Ibu Lian menjadi bingung. Akan tetapi, dia menganggukkan kepalanya saja. Lebih baik mengatakan iya daripada membuat keadaan hati majikannya ini kembali menjadi buruk.
"Tolong kau panggilkan Lyla segera, aku menunggunya untuk makan," ucap Morgan meminta kepada wanita tersebut.
"Baik, Tuan. Akan saya panggilkan," ucapnya kemudian berjalan dengan langkah cepat menaiki tangga menuju kamar Lyla.
Lyla tengah memakai pakaiannya saat pintu kamar itu terdengar diketuk beberapa kali dari luar.
"Nona, apakah kau sudah selesai mandi?" tanya ibu Lian sedikit keras.
__ADS_1
"Ya, sebentar. Aku masih memakai pakaian!"
Lyla kemudian berjalan dengan cepat dan membukakan pintu tampak wanita itu tersenyum-senyum menatapnya.
"Ada apa?" tanya Lyla.
"Tuan muda menunggumu di ruang makan," ucapnya.
"Katakan saja aku tidak akan makan," ucap Lyla kemudian hendak menutup pintu. Akan tetapi, ibu Lian menahan pintu tersebut.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi semalam?" tanya wanita itu pelan. Dia melirik ke arah kanan dan kiri melihat jika mungkin saja ada pelayan lainnya yang ada di sana.
"Aku pikir tidak semalam, tapi tadi pagi. Dia membuatku jijik!" ucap Lyla dengan nada kesal.
Ibu Lian tertawa kecil mendengarnya, ternyata memang benar sikap Morgan yang tiba-tiba saja menghangat dan terlihat dengan wajah bodoh tersenyum-senyum sendiri itu karena wanita ini.
"Apakah kalian melakukannya?" tanya wanita itu dengan ingin tahu.
"Ah, lupakan saja. Pokoknya dia telah membuatku jijik. Bilang saja kepadanya, aku tidak akan sarapan. Aku marah!" ucap Lyla dengan kesal kemudian menutup pintu.
Ibu Lian tersenyum geli. Ternyata pikirannya semalam sangat salah. Lyla tidak marah, berarti Tuan Morgan tidak melakukan apa-apa terhadap gadis ini.
"Apa mungkin mereka sudah berpacaran ya?" gumamnya kemudian kembali turun ke lantai bawah.
"Mana dia? Kenapa tidak bersama denganmu?" tanya Morgan.
"Nona Lyla menolak untuk sarapan."
Morgan menjadi kesal dan menyimpan sendoknya dengan kasar di atas piring, membuat pelayan yang ada di dekatnya menoleh dengan takut termasuk Ibu Lian yang kini menundukkan kepalanya.
Tanpa banyak bicara Morgan berdiri dan melangkah ke lantai atas. Dia mengetuk pintu kamar. Lyla menyangka jika Ibu Lian yang kembali ke kamarnya.
"Sudah aku katakan aku tidak mau makan," ucap Lyla, tapi kemudian dia mengatupkan mulutnya saat melihat yang ada di depan kamarnya ternyata bukan ibu Lian.
"Kenapa kau menolak sarapan?" tanya Morgan.
Lyla menatap Morgan dengan tajam dan juga marah.
"Aku marah padamu, jadi aku tidak mau sarapan," ucap Lyla dengan ketus.
Dia hendak menutup pintu, tapi Morgan menahannya dengan kaki. Dia membuka pintu itu lebar-lebar kemudian menarik Lyla dan menaikkannya ke atas pundak seperti mengangkat karung beras.
Tentu saja Lyla terkejut akan perlakuan yang Morgan berikan kepadanya. Dia berteriak meminta diturunkan.
Morgan tidak peduli dia membawa Lyla turun ke lantai bawah.
"Hei kau! Turunkan aku sekarang juga. Kau tidak sopan memperlakukan seorang wanita," ucap Lyla yang membuatnya menjadi perhatian dari seluruh orang yang ada di sana.
"Aku meminta orang lain untuk memanggilmu sarapan dan kau tidak mau? Kau tahu aku tidak suka dibantahkan?" ujar Morgan dengan kesal.
"Aku memang tidak mau sarapan aku juga tidak mau melihatmu. Turunkan aku sekarang juga. Kau tidak berhak mengatur hidupku!" teriaknya lagi.
Morgan benar-benar tidak peduli dengan banyak mata yang melihatnya di lantai bawah. Dia menggerakkan kakinya dengan lebar sehingga lebih cepat sampai di ruang makan.
Lyla dia dudukan dengan kasar di kursi miliknya.
"Diam dan makan. Jika tidak, kau akan makan dari mulutku!"
Lila yang hendak berbicara kini mengatupkan mulutnya. Dia benar-benar tidak paham dengan laki-laki ini. Keterlaluan sekali dia mengatur hidupnya.
"Aku tidak tahu mau makan," ucap Lyla bertahan.
"Oke. Kau memaksaku."
Morgan memasukkan roti sandwich ke dalam mulutnya dan dia mendekat pada Lyla. Akan tetapi, sebelum laki-laki itu benar merealisasikan ucapannya, Lyla sudah mendorong wajah Morgan menjauh.
"Apa yang kau lakukan? Aku bisa makan sendiri," ucap Lyla dengan ketus, Morgan tersenyum dan mengunyah makanannya dengan baik dan kembali ke kursinya.
"Ternyata kau lebih senang dipaksa seperti itu. Dan kau tahu? Aku juga akan senang memaksamu," ucap Morgan sambil tertawa kecil.
Lyla menarik sandwich yang ada di tengah meja dan mulai memakannya dengan kunyahan yang kasar, sementara Morgan menatapnya dengan puas.
Apa yang terlihat di meja makan barusan membuat seorang pelayan yang ada di sana menjadi kesal.
Lyla berasal dari kalangan yang sama sepertinya, tapi kenapa nasib wanita itu sangat mujur sehingga membuat perhatian dan perlakuan Morgan menjadi seperti itu kepadanya?
"Aku sudah selesai," ucap Lyla mendorong piringnya menjauh.
"Ayo kita berangkat."
"Tidak perlu, aku akan berangkat sendiri," kata Lyla, kemudian berdiri. Begitu juga dengan Morgan, dia berjalan menyeimbangi langkah kaki Lyla.
"Kau akan berangkat denganku."
__ADS_1
"Aku tidak mau."
"Berarti aku akan dengan senang hati menarikmu ke dalam mobil dan membopongmu ke dalam kelas."
"Kenapa kau sangat menyebalkan sekali?" ucap Lyla melirik Morgan, lalu pergi dengan langkah yang kasar dan kaki yang menghentak-hentak ke lantai.
Morgan tertawa saat melihat Lyla naik kembali ke lantai atas untuk mengambil tasnya.
Di dalam mobil Lyla hanya menatap jalanan dengan datar dia sama sekali tidak ingin melirik ke arah samping di mana laki-laki itu tengah menyetir.
"Kenapa kau cemberut seperti itu?" tanya Morgan melirik Lyla.
"Kau seharusnya tahu kenapa aku seperti ini," ujar Lyla dengan ketus.
"Kau ini aneh sekali biasanya wanita lain sangat suka jika aku cium seperti ini, kenapa dengan kau? Kau tidak menyukainya?" tanya Morgan.
"Tidak. Aku benar-benar tidak menyukainya. Kau tahu, jika itu ciuman pertamaku?" ujar Lyla marah.
Morgan terkejut mendengarnya dia tidak menyangka jika wanita ini belum pernah berciuman?
"Kau bercanda!"
Lyla menolehkan kepalanya dan menatap Morgan dengan kesal.
"Terserah jika kau tidak percaya, tapi itu memang ciuman pertamaku. Kau telah mengambilnya, padahal itu akan aku serahkan pada suamiku kelak," ucap Lyla lagi.
Morgan masih melongo mendengar penuturan Lyla barusan.
"Rasanya aku tidak percaya, anak SMP saja sudah pintar berciuman."
"Tidak denganku, Tuan. Jangan samakan aku dengan mereka."
Kemudian mereka terdiam. Morgan tersenyum, merasa bangga dengan apa yang Lyla katakan barusan. Jika memang benar yang dia katakan itu adalah kebenarannya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Lyla saat melihat Morgan yang tersenyum.
"Aku hanya bangga kepada diriku sendiri, ternyata aku bisa menjadi yang pertama untukmu. Bagaimana jika nanti kita menikah? Bukankah kau tidak akan terlalu rugi kehilangan ciuman pertamamu? Secara sungguhan kau memberikannya untuk suamimu," tanya Morgan kepada Lyla.
Lyla sempat terdiam mendengar penuturan laki-laki itu, tapi kemudian dia mengelaknya.
Bagaimana mungkin Morgan serius dengan ucapannya, laki-laki ini tidak pernah serius dengan hal itu.
"Lupakan saja kau bukan tipeku, Tuan."
Morgan melirik Lyla. "Benarkah? Lalu bagaimana tipemu? Kau suka yang seperti apa? Jangan katakan padaku jika kau suka pria culun dengan kacamata tebal," ucap Morgan.
Lyla membayangkan Denis, dan memang seperti itulah laki-laki itu. Mungkin tidak culun, dia tampan hanya saja kacamatanya yang besar memang membuatnya berbeda dari yang lain.
Morgan menatap Lyla yang terdiam dan dia menebak seperti itu adanya.
"Jadi benar laki-laki yang kau sukai adalah laki-laki yang culun? Yang berkacamata tebal?" tanya Morgan tidak sabaran
"Bukan urusanmu," ucap Lyla kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tidak ingin melihat Morgan yang membuatnya merasa kesal sedari tadi.
Tidak terasa perjalanan mereka berakhir dan mobil berhenti di depan universitas. Lyla segera membuka pintu mobilnya.
"Siang nanti kau tidak perlu ke kantin Aku akan menjemputmu untuk makan siang," perintah Morgan sebelum Lyla keluar dari sana.
"Aku menolak keras."
Morgan menggelengkan kepala mendengar penolakan dari wanita keras kepala ini.
"Hei, tunggu dulu. Kau melupakan sesuatu," ucap Morgan.
"Apa?"
Morgan mengeluarkan uang yang ada di dompetnya dan menyodorkannya kepada Lyla.
"Jika ini untuk membayar ciuman tadi aku tidak mau. Itu berarti aku menjual bibirku padamu."
"Bukan. Kenapa pemikiranmu selalu seperti itu? Aku memberikan ini untukmu membeli minuman di dalam sana. Jangan sampai orang lain melihatku sebagai kakak yang tidak baik untukmu," ucap Morgan.
Lyla terdiam sejenak kemudian mengambil satu lembar dari tiga yang diberikan Morgan. "Sekarang kau menyebutkan aku adikmu berarti kau sudah memutuskan ku, kan?"
"Tentu saja tidak. Selama aku masih menginginkanmu jadi pacarku, kenapa aku harus memutuskanmu?" ucapnya sambil menatap Lyla dan menyunggingkan senyumnya sedikit.
Lyla menarik ujung bibirnya ke atas menatap jijik pada pria itu.
"Dasar kau pria keras kepala!"
Lyla menutup pintunya dengan cukup keras dan meninggalkan Morgan.
Morgan yang sedari tadi menahan tawa, tak ayal tertawa begitu keras melihat Lyla yang berjalan kasar masuk ke dalam universitas itu. Rasanya menyenangkan sekali mengganggu wanita itu.
__ADS_1
"Astaga, ya ampun. Sepertinya rahangku sakit karena terlalu banyak tertawa akhir-akhir ini," ucapnya sambil mengelus rahangnya. Dia kemudian melajukan mobilnya pergi dari sana untuk menuju ke perusahaan.