Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
216


__ADS_3

Lima bulan berlalu setelah pernikahan, Alex dan Jane menjadi semakin dekat saja. Jane melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan sangat baik, menyiapkan makanan dan menyiapkan segala sesuatunya untuk Alex di rumah, sedangkan Alex fokus bekerja untuk menafkahi Jane sebagai istrinya. Akan tetapi, meski hubungan mereka semakin membaik, tapi dua orang itu masih melakukan peranannya sebagai pengantin yang tanpa melibatkan perasaan. Jane sadar diri jika pernikahan mereka adalah hal yang tidak terduga dan dia sudah siap andai Alex akan melepaskannya.


"Aku pulang, Jane!" teriak Alex saat masuk dan tidak mendapati Jane yang biasanya menunggu di ruang tamu. Alex merasa aneh dan mencari keberadaan Jane di rumahnya. "Jane? Apa kau sudah tidur?" teriak Alex lagi. Dasi yang mencekik dia longgarkan.


“Apa dia sudah tidur? Tidak biasanya,” gumam Alex, tapi tidak memungkinkan juga jika Jane sudah tidur mengingat ini sudah hampir jam sepuluh malam.


Setelah tidak mendapati Jane di ruang tamu dan ruang tv, Alex hendak masuk ke kamarnya, tapi tidak sengaja dia melihat lampu di dapur masih menyala. Biasanya lampu dapur di jam seperti ini sudah dipadamkan oleh para pelayan.


Saat Alex telah sampai di ambang pintu dapur, Alex melihat Jane yang tertidur di atas meja makan dengan kedua tangan yang bertumpu sebagai alas kepalanya. Di meja itu ada berbagai makanan yang sudah dingin. Wajah Jane tampak sangat lelah sekali dan Alex kasihan kepada Jane. Dia enggan untuk membangunkan Jane, tapi jika membiarkan Jane tidur di meja juga akan lebih kasihan lagi.


“Jane. Bangunlah. Kau harus pindah ke kamarmu,” ucap Alex sambil menggoyangkan bahu istrinya. “Jane,” panggil Alex sekali lagi.


Jane yang mendengar suara Alex terbangun dan mengerjapkan matanya, bibirnya tersenyum senang saat melihat wanita itu.


“Kau sudah pulang?” Jane mengusap wajahnya, takut ada sesuatu yang aneh di sana.


“Aku baru saja pulang. Kenapa kau tidur di sini? Apa kau sedang menungguku?” tatap Alex pada masakan yang dia yakin jika itu Jane yang membuatnya.


“Ah, iya.”


“Jane, aku sudah bilang kan kalau kau tidak perlu menungguku pulang bekerja? Jika kau sudah mengantuk pergilah ke kamar dan tidur.” Alex mengingatkan kembali apa yang sering dia kataka kepada Jane.


“Ah, iya. Maafkan aku. Apa kau sudah makan malam? Aku kira kau akan pulang cepat, makanya aku menunggumu tadi, tapi ternyata aku malah tertidur di sini,” ucap Jane kemudian bangkit dari duduknya. Kepalanya sedikit pusing akibat efek tidur barusan, padahal tadi dia sudah berusaha untuk menahan kantuknya. “Aku akan memanaskannya untukmu makan.”


“Tidak perlu, Jane. Kau sudah lelah. Sebaiknya kau tidur saja. Aku lupa mengabarimu, aku tadi makan malam bersama seorang kolega.”


Senyum Jane memudar. Dia sudah bersusah payah untuk membuatkan masakan sepesial untuk Alex.


“Oh, begitu ya. Ya sudah. Kau pergi saja ke kamar, aku sudah menyiapkan piyamamu. Aku akan siapkan air hangat untukmu.”


“Tidak perlu, Jane.” Akan tetapi, Jane sudah pergi ke kamar mereka. Dua orang itu memang masih tidur satu kamar hingga sekarang dan masih satu kasur karena Tuan Pierre memasukkan mata-mata ke dalam rumah itu untuk memantau keduanya.


Seseorang masuk ke dalam dapur hendak mematikan lampu saat melihat Alex ada di sana. “Anda sudah kembali, Tuan.” Wanita itu menundukkan kepalanya. Seorang pelayan yang ditugaskan si kakek tua untuk memantau mereka.


Wanita itu melihat makanan yang masih utuh di atas meja makan bundar tersebut. “Apakah Nona belum menghangatkan makanan ini? Biar aku bantu hangatkan.” Tanpa menunggu kata-kata dari Alex, wanita itu kemudian mengambil makanan tersebut satu persatu dan akan dia hangatkan di dalam microwave. Saat Alex hendak melangkah keluar dari dapur itu, terdengar pelayan wanita itu berucap, “Nona Jane pasti lelah sudah memasak semua ini. Oh ya, Tuan. Ngomong-omong selamat ulang tahun untukmu. Pantas saja Nona Jane sangat bersemangat sekali hari ini.” Pelayan itu tersenyum saat mengambil mangkuk terakhir yang ada di atas meja. Alex sampai terdiam mendengar ucapan dari wanita itu.


‘Astaga. Apakah Jane menungguku untuk makan malam bersama?’


Alex segera pergi ke kamarnya dan melihat Jane yang baru keluar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


“Air hangat sudah aku siapkan. Kau butuh handuk kecil?” tanya Jane menutupi rasa sedihnya. Sudah pasti jika makanan yang dia buat tidak akan dimakan karena Alex sudah makan di luar.


Namun, tanpa Jane duga saat Alex kemudian berkata, “Jane, perutku masih lapar, tadi aku tidak terlalu banyak makan di sana. Bisakah kau menemaniku makan malam ini?”


“Hah? Makan?” Jane malah melongo.


“Iya. Makan malam kali ini aku tidak terlalu nyaman karena rekanku terus mengajakku berbicara sehingga aku tidak bisa puas makan di sana. Aku masih lapar dan aku tidak mau nanti malam kau tidak bisa tidur karena mendengar perutku yang keroncongan.” Alex tertawa kecil sambil mengelus perutnya, padahal dia cukup kenyang malam ini. Semua yang dia katakan barusan adalah kebohongan. Melihat wajah sedih Jane membuat Alex tidak tega. Jane sudah bersusah payah membuatkannya makan malam, dan rasanya dia kejam jika tidak memakan makanan tersebut.


Jane tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Iya, kau mandilah dulu. Aku akan memanaskan makanannya.”


Jane setengah berlari kembali ke arah dapur, tapi dia menemukan pelayan yang dikirim kakeknya sudah menata makanan itu kembali ke atas meja. “Apakah Anda mau makan malam? Aku sudah memanaskan semuanya."


Jane tersenyum senang. “Terima kasih, Sue.” Panggilan pendek Jane untuk Suzzane.


“Aku bantu menyiapkan semuanya.” Akan tetapi, Jane menolak bantuan dari Suzzane dan memintanya untuk beristirahat saja. Sue pergi dari dapur dan membiarkan apa yang Jane perintahkan.


Dengan hati yang riang, Jane menata piring dan yang lainnya di atas meja sehingga Alex turun ke dapur dan duduk di kursi yang dia tarik barusan.


“Kau memasaknya sendirian lagi?” tanya Alex yang sudah tahu akan kegemaran Jane mengeksekusi bahan makanan di dapur.


“Iya. Aku bosan. Jadi, aku pikir aku akan memasak saja.” Jane memberikan sedikit nasi untuk Alex dan memberikan lauknya serta.


“Apakah kau akan mengizinkanku bekerja?” tanya Jane berharap.


“Ya, tentu saja aku tidak bisa melarangmu untuk itu. Kau berhak memutuskan apa yang kau inginkan. Jika kau ingin bekerja di perusahaan, aku akan mencari posisi yang nyaman untukmu.”


“Ah, tidak perlu, Alex. Aku tidak akan ke perusahaan dan aku bisa membuat kacau di sana. Aku akan mencari informasi kepada temanku. Mungkin saja mereka memiliki informasi di mana tempat yang tengah membutuhkan kaaryawan.”


Di tengah makannya, Alex melirik ke pada Jane. “Bekerja lagi sebagai pelayan restoran?”


Jane mengangguk dengan ragu. “Iya,” jawabnya lesu.


“Aku ragu kakek akan mengizinkanmu memiliki pekerjaan itu. Apakah kau benar tidak mau di perusahaan? Kakek sudah menyiapkan satu untukmu.”


“Aku tidak bisa, Alex. Kau tahu kan bagaimana kehidupanku dulu? Aku bahkan tidak lulus kuliah karena harus bekerja.”


Alex menyimpan sendoknya dan tidak Jane duga pria itu menyentuh tangannya di atas meja. "Kau juga bisa memimpin sebuah perusahaan. Aku yang akan membantumu. Lagi pula, perusahaan yang kakek berikan untuk aku kelola adalah bagianmu, Jane. Aku hanya menjalankannya saja sampai kau siap untuk menjalankannya sendiri,” ucap Alex.


Jane benar-benar tidak mau memegang perusahaan, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan di sana, tidak mengerti tentang bisnis dan sebagainya.

__ADS_1


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Alex melihat Jane yang hanya diam saja. Jane segera menggelengkan kepalanya.


“Aku hanya belum siap untuk hidupku yang beruntung ini. Ini terlalu mendadak untukku. Oh ya. Aku punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar,” ucap Jane kemudian meninggalkan Alex di sana. Jane membuka kulkas dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana dan membawanya ke hadapan Alex. sebuah kue ulang tahun yang tadi dia buat sendiri. “Happy Birthday, Alex!” seru Jane.


Alex memang sudah tidak kaget lagi seharusnya, tapi dia terdiam karena tidak menyangka jika Jane membuatkannya surprise dengan sebuah kue. Dia kira hanya masakan tadi saja.


“Selamat ulang tahun, Alex. Maaf jika mungkin ini tidak terlalu bagus. Aku baru belajar membuatnya tadi," ucap Jane seraya memberikan kue tersebut ke depan Alex. Jane tersenyum dan menunggu Alex meniupnya.


“Kau membuat dirimu repot, Jane.”


“Tidak masalah. Ini sebagai rasa terima kasihku kepadamu karena sudah baik selama aku di sini,” ucap Jane. “Ayo tiup, sebelumnya kau harus berdoa terlebih dahulu.”


“Apa yang harus aku ucapkan di dalam doaku?” Alex malah bertanya.


"Sesuatu yang kau inginkan. Sesuatu untuk kebaikanmu di masa depan nanti," ucap Jane.


Alex menutup kedua matanya, mengucapkan keinginannya di dalam hati kemudian meniup lilin yang menyala itu.


"Kau bisa memotong kuenya." Jane menyimpan kue tersebut di depan Alex dan memberikan pisau kecil kepadanya. Alex senang, dia memotong kue tersebut dan menyodorkannya di depan mulut Jane.


"Potongan pertama aku berikan untukmu."


Jane tersanjung dengan pemberian Alex dan menerimanya. "Terima kasih, Alex. Ini untukmu juga." Sama seperti Alex, Jane juga memberikan potongan kedua kue tersebut ke mulut Alex.


"Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena kau telah membuatkan kejutan yang manis ini untukku. Kuenya manis. Aku suka."


Jane sangat senang sekali dengan apa yang Alex katakan, dia menyukai kuenya padahal ini baru pertama kali untuknya membuat kue dan menghiasnya meski hanya sekedar gambar sederhana dan nama Alex saja.


"Apa yang kau sebutkan di dalam doamu?" Jane tidak bisa tidak penasaran dengan doa yang Alex minta.


"Kau ingin tahu?"


"Iya."


"Aku meminta untuk diberikan seseorang yang akan mencintaiku apa adanya."


Senyum Jane sempat pudar, tapi kemudian dia memasang senyuman yang lebih lebar lagi daripada tadi.


"Semoga saja, Alex. Aku yakin seseorang akan datang dan menghiasi harimu dengan indah."

__ADS_1


Lain dengan senyumannya, di dalam hati Jane tiba-tiba saja terasa ada yang mencubit, terasa sakit.


__ADS_2