Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
53. Bukan Gadis Egois


__ADS_3

Morgan semakin mendekati Lyla, dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.


Lyla yang merasa Morgan semakin mendekatinya, kini mendorong kasar kepala laki-laki itu. Terkejut karena napas hangatnya terasa di pipi. Baru dia sadar jika dia tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki kecuali adik-adiknya di panti.


"Aww!" seru Morgan yang hampir saja terjatuh saat Lyla menggeserkan duduknya menjauh.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lyla dengan nada marah, hampir saja bibir laki-laki itu menyentuhnya tadi jika saja dia tidak segera menjauh.


"Eh, aku lakukan apa? Aku tidak melakukan apa-apa," ucap Morgan dengan cepat. Salah tingkah juga karena tersadar sedekat apa mereka tadi.


"Apa kau akan mengambil kesempatan lagi?" tanya Lyla menunjuk wajah Morgan.


"Tidak. Tentu saja tidak! Untuk apa aku mengambil kesempatan darimu? Hei, kau jangan terlalu pede, aku tidak mau denganmu. Kau bukan tipe ku!" ucap laki-laki itu yang terdengar kasar di telinga Lyla.


"Huh! Bukan tipe mu, tapi kau mendekatiku!"


Morgan tidak terima dengan kata 'mendekatiku' yang baru saja diucapkan oleh Lyla. "Bukannya kau yang duduk dekat denganku? Kenapa jadi aku yang mendekatimu?" protesnya.


Lyla menjadi kesal, kemudian bangkit dari duduknya dan hendak kembali ke ranjangnya. Akan tetapi, selang infusnya tersangkut ujung meja dan membuatnya terlepas. Punggung tangannya kini terasa sakit.


"Aww!" ringisnya.


Morgan terkejut mendengarnya dan segera mendekat.


"Ada apa?"


"Ini, tanganku ...."


"Astaga!" Morgan melihat jarum infus itu terlepas dari tangan Lyla dan membuatnya mengeluarkan darah sedikit. "Bagaimana bisa begini?" Dia melihat keadaan tangan Lyla dengan seksama.


"Entah lah. Tersangkut dan aku tidak tahu," ucap Lyla menahan sakit pada tangan. Morgan menyuruh Lyla untuk kembali duduk di kursi sofa yang ada di sana. Kali ini Lyla duduk di sofa tunggal.


"Biar aku lihat."


Laki-laki itu mengambil tisu di atas meja dan mengusap darah yang ada di sana. Morgan turun dan bersimpuh di dekat kaki Lyla, agar bisa melihat luka itu dengan seksama.


"Ah, aku heran. Aku hanya demam saja kenapa harus diinfus segala?" ucap Lyla bingung, biasanya dia cukup dengan meminum obat atau hanya kompres dengan air es saja. Marah yang tadi dia rasakan kepada Morgan kini hilang sudah karena perlakuan laki-laki ini.


"Dokter yang lebih tahu harus berbuat apa. Kau cukup diam dan terima saja apa yang mereka lakukan."


Tisu itu dia gunakan untuk mengusap darah yang ada di tangan Lyla. Sangat hati-hati sekali melakukannya, karena takut jika Lyla akan merasakan sakit.


"Ah! Ssshhh," desis Lyla saat Morgan menyentuh luka itu. Sedikit sakit dan linu di sana sehingga Morgan kini menyentuhnya dengan sangat pelan dan lembut sekali. Akan tetapi, Lyla masih merasakan sakit dan perih di sana.

__ADS_1


"Jangan .... jangan seperti itu. Itu sakit," ucap Lyla pelan saat Morgan membersihkan darah yang tepat berada pada bekas tusukan jarum.


Lyla bergerak pelan menahan perih.


"Tidak bisakah kau diam saja? Akan terasa sakit jika kau tidak bisa diam," gumam Morgan kesal karena wanita ini tidak bisa diam. Dia kini memperlakukan Lyla dengan lebih lembut lagi.


"Iya, begitu. Itu lebih baik." Akan tetapi, Lyla tidak bisa diam juga untuk menahan sakitnya sehingga Morgan kesal dan menekan luka itu sedikit keras dari yang tadi.


"Morgan, tidak. Jangan terlalu keras. Lakukan dengan lembut. Aww, Morgan! Kau menyebalkan. Kau membuatku sakit!" teriaknya dengan sedikit keras saat Morgan memberikan plester pada luka Lyla.


Lyla yang merasakan sakit menepuk tangan Morgan cukup keras. "Apa tidak bisa lembut sedikit?" tanya Lyla mengusap punggung tangannya yang sakit.


"Itu salahmu, kau tidak bisa diam!"


"huh, menyebalkan sekali!"


Akhirnya Lyla pergi menjauh saja, percuma jika berdebat seperti itu. Laki-laki ini bukan orang yang mudah mengalah bahkan kepada perempuan sekali pun.


Morgan merasa kesal, tidak ada kata terima kasih sama sekali dari dia yang telah ditolongnya.


"Apa kau tidak bisa mengucapkan kata terima kasih?" ucap Morgan.


Lyla baru saja duduk di ranjangnya. "Terima kasih!" ucapnya dengan ketus, membuat laki-laki itu hanya menghela napasnya dengan kasar.


Beberapa saat lamanya mereka terdiam, Lyla bosan hanya duduk saja. Jika di rumah dia sudah bisa mengerjakan suatu hal bersama dengan Lian dan yang lainnya.


"Hei, Tuan Muda!" panggil Lyla.


"Hem?" jawab Morgan tanpa mengalihkan tatapannya dari hp di tangan.


"Bisakah aku pulang ke rumah? Aku sudah baikan sekarang ini," pinta Lyla.


"Tunggu keputusan dokter."


"Untuk apa? Kau membuang uangmu untuk aku yang tidak sakit. Aku hanya demam, bisa diobati di rumah. Obat dari apotek saja sudah bisa membuatku sembuh."


"Kau tenang saja, rumah sakit ini milikku. Aku tidak perlu membayar bahkan jika kau sakit parah sekalipun!" ucapnya masih tanpa mengalihkan tatapannya dari permainan. Mendengar ucapan Morgan yang seperti itu membuat Lyla merasa kesal bukan main.


"Huh, kau ini. Laki-laki yang tidak memiliki perasaan sama sekali!" ucap Lyla, kini tatapan Morgan beralih padanya.


"He? Aku?"


"Ya, kau mendoakan aku sakit parah?" berang Lyla.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak mendoakan seperti itu, itu sebagai perumpamaan saja."


"Apa bedanya?" jawab Lyla kesal. "Hah, aku capek debat denganmu, Tuan. Kau membuatku emosi saja!"


Morgan mengabaikan ucapan Lyla, dia juga sedikit lelah dengan debat ini. Sudah sangat lama dia tidak debat dengan orang lain selain yang berhubungan dengan pekerjaannya.


"Tuan," panggil Lyla sekali lagi.


"Hem?" Jawaban itu lagi yang Lyla dengar.


"Bisakah kau menjawabku dengan baik?"


"Aku harus jawab apa?"


"Jawab lah yang sewajarnya. Kosa katamu banyak, bukan hanya 'hem' saja, kan?"


Helaan napas terdengar dari mulut Morgan. "Apa?"


"Aku mau minta sesuatu boleh tidak?"


"Uang?" tanya Morgan menatap Lyla.


"Bukan! Kau itu ... apa di dalam pikiranmu hanya uang? Aku tidak mau uang. Eh, tapi mungkin ini juga berhubungan dengan uang sih." Setelah Lyla pikir, sepertinya begitu juga. Morgan tertawa dengan decihan, siapa wanita yang tidak butuh uang?


"Di panti asuhan, ada seorang anak yang sedang sakit. Menurut dokter sih parah. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk memeriksakannya di sini? Itu juga kalau kau tidak keberatan dengan permintaanku. Aku sangat khawatir dengan keadaannya," ucap Lyla malu.


Morgan menatap Lyla, kenapa tidak meminta uang untuknya sendiri?


"Hanya itu?"


"Iya, hanya itu saja kupikir." Lyla mencoba mengingat, tapi di dalam pikirannya hanya terpikirkan itu saja. Kasihan dengan salah satu adiknya di panti asuhan, sakit dan belum mendapatkan pengobatan yang layak.


"Kau meminta untuk yang lain. Bagaimana denganmu?" tanya Morgan.


"Aku?" Lyla mencoba untuk berpikir, keningnya mengerut tampak lucu di mata Morgan.


"Aku masih belum menginginkan sesuatu. Apa yang aku dapatkan sekarang ini sudah cukup bagiku."


"Apa yang kau dapatkan sekarang ini? Sakit demam?" tanya Morgan bingung.


"Tentu saja bukan itu! Sementara aku sudah cukup dengan tinggal bersamamu. Di dekatmu ... Eh, apa sih? Maksudku, aku tinggal di rumahmu," ralat Lyla.


"Aku dapat makanan yang enak, tempat yang nyaman, juga sekarang perawatan yang baik. Apa lagi yang aku butuhkan? Aku hidup nyaman untuk dua bulan ke depan," ucap Lyla yang sukses membuat Morgan terdiam.

__ADS_1


Dasar gadis yang aneh! Kenapa dia tidak memikirkan dirinya sendiri? Malah memikirkan orang lain terlebih dahulu? gumam Morgan di dalam hati.


__ADS_2