Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
38. Kembalikan!


__ADS_3

"Baik? Apa hanya dia yang baik?" tanya Morgan dengan cukup kesal. Lyla menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Ya, dia sangat baik kepadaku. Titip, ya. Bawakan ini untuk dia. Jangan kau makan sendirian," ucap Lyla dengan senyuman manis di bibirnya.


"Kau pikir aku akan membawanya juga?" tanya Morgan kini dengan kesal.


"Oh, kau tidak mau membawanya? Oke, biar aku nanti yang akan membawanya ke kantormu. Di mana alamatnya? Aku yang akan membawanya ke sana untuk Tuan Gerald."


Morgan terhenyak mendengar penuturan Lyla.


"Kau tidak diizinkan untuk keluar dari rumah ini!"


"Kenapa?" tanya Lyla dengan wajah yang bingung.


Laki-laki itu sulit untuk menjawabnya. Dia ingin bicara, tapi tidak mungkin juga jika dia mengatakan Lyla tidak boleh bertemu dengan Gerald. Apa nanti yang akan dipikirkan gadis ini padanya?


"Pokoknya tidak boleh. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini selangkah pun. Kau hanya boleh sampai pagar depan saja. Eh, tidak. Hanya sampai teras. Jangan keluar," ucap Morgan lalu bangkit dari duduknya dan pergi dari sana."


"Hei, kau tidak akan bawa ini?" tanya Lyla menyusul Morgan sambil membawa rantang yang ada di kedua tangannya.


"Kau bawakan ke mobilku." Morgan berjalan terus menuju ke luar.


"Kedua tanganmu kosong, kau bisa membawanya sendiri," teriak Lyla protes. Akan tetapi, Morgan tidak mendengarkannya sama sekali. Dia terus berjalan meninggalkan Lyla di belakangnya. Susah payah Lyla membawa rantang itu di tangan, memang tidak berat, tapi tangan kirinya masih saja sakit.


Sampai di mobil, seorang sopir membukakan pintu untuk Morgan, dia masuk ke dalam sana dan duduk dengan santai.


"Ini, aku sudah membawakannya. Jangan lupa kau berikan satu untuk Tuan Gerald. Jangan kau makan sendiri," ucap Lyla sambil menyimpan dua rantang tersebut di atas pangkuan Morgan.


Morgan hanya menatap malas apa yang ada di atas pangkuannya.


"Sudah, jangan lupa dimakan, ya. Awas saja jika sampai pulang nanti kau tidak menghabiskannya," tunjuk Lyla tanpa takut pada wajah laki-laki itu. Morgan menyingkirkan tangan Lyla yang dekat dengan hidungnya.


"Suka-suka aku."


Morgan melihat tangan kiri Lyla barusan, tampak gendut tidak seperti tangan kanannya.


"Obati tanganmu dengan baik. Kompres dengan air hangat."


"Eh?" Lyla terkejut mendengar ucapan Morgan barusan. "Apa?"


"Tidak. Ku bilang tutup pintunya, aku akan pergi," ucap Morgan. Lyla masih terdiam, rasanya tadi dia tidak mengatakan kalimat itu.


"Apa kau tidak mendengarku? Tutup pintunya, aku akan pergi," ucap Morgan dengan kesal.


"Oh, iya." Lyla mundur satu langkah dan menutup pintu mobil tersebut.

__ADS_1


Sampai kuda besi itu pergi, Lyla masih diam di tempatnya, rasanya memang bukan kalimat itu yang dia dengar tadi. Rasanya dia mengatakan untuk mengompres tangannya, kan?


"Apa aku salah dengar?" gumam Lyla lalu mengorek ke dalam telinganya.


Morgan melihat dua rantang yang ada di sampingnya, warna pink dan juga biru muda.


'Apa aku sudah gila? Sejak kapan aku bekal makan siang?' batin Morgan mengalihkan tatapannya dari dua benda tersebut.


"Anda perhatian sekali, Tuan?," ucap sopir saat mobil yang membawa Morgan telah sampai di gerbang utama.


"Siapa yang perhatian?" tanya Morgan dengan nada yang dingin.


"Tidak ada. Maaf," ucap sopir tersebut dengan cepat saat menyadari jika tatapan Morgan terlihat menakutkan dari spion yang ada di depannya. Dia lalu kembali pada fokusnya ke jalanan yang ada di depan.


...***...


Lyla bergumam sedari dia masuk ke dalam rumah sambil memegang tangannya yang masih sakit.


"Masa aku salah dengar?" gumamnya.


"Kak Lyla, apa tanganmu sakit lagi?" tanya Lian yang sudah bersiap dengan tasnya.


"Kau akan ke sekolah?"


"Tidak pakai seragam?" tanya Lyla.


"No! Ini hari kamis, kami bebas untuk memakai pakaian yang lain," ucap Lian. Lyla hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Apa aku terlihat buruk?" tanya Lian menatap penampilannya sendiri.


"Tidak, kau cantik. Tapi ..."


"Ya? Tapi apa?" tanya Lian menunggu.


"Kau terlihat berbeda, apa kau memakai riasan di wajah?" tanya Lyla. Gadis kecil itu tersenyum malu.


"Aku pakai sedikit. Hanya sedikit. Jangan beri tahu ibu."


Lyla tertawa kecil melihat pipi Lian yang merah seperti itu.


"Aku berangkat, ya!" seru gadis itu lalu berlari dari hadapan Lyla sambil melambaikan tangannya. Lyla membalas lambaian tangan gadis kecil itu yang kini menghilang di kejauhan.


"Sekolah," gumam Lyla pelan. Rindu rasanya jika mengingat pada masa sekolah dulu. Meskipun dia pernah dibully oleh beberapa orang karena dia hanya tinggal di panti asuhan, tapi ada juga beberapa yang lain yang tidak keberatan akan hal itu.


"Ah, sudah lah. Setelah keluar dari sini aku akan mengumpulkan uang lagi untuk melanjutkan pendidikanku," ucap Lyla kemudian pergi masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


...***...


Mobil hitam mewah itu telah sampai di kantor, dengan cepat sopir membukakan pintu mobil untuk Morgan.


"Tuan, apakah dua rantang ini tidak dibawa?" tanya sang sopir saat Morgan hanya membawa tasnya saja.


"Tidak perlu," ucapnya kesal, Untuk apa membawakan rantang makanan itu untuk Gerald juga.


Enak saja! gumam Morgan di dalam hatinya.


"Lalu, apakah ini akan dibawa pulang lagi?" tanya sopir tersebut.


"Terserah kau." Morgan meninggalkan mobil tersebut untuk menuju ke lift, sementara sang sopir merasa bingung akan dia bawa ke mana rantang tersebut.


"Kasihan Nona Lyla, dia pasti akan sedih jika ini dibawa pulang," gumam sopir tersebut lalu mengeluarkan dua rantang itu dari mobilnya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari siapa tahu ada seseorang yang bisa dia berikan makanan itu, sayang sekali jika membuangnya.


"Nyonya!" Sang sopir menghentikan laju kaki seorang wanita paruh baya yang mendorong keranjang kebersihan.


"Iya? Apa kau butuh bantuan?" tanya wanita tersebut.


"Apakah Anda memiliki makan siang untuk nanti?" tanya sopir tersebut. Wanita itu menatap sang sopir dengan bingung.


"Aku jarang bekal makan siang."


"Ini. Apakah Anda mau?"


"Itu milikmu."


"Aku ada yang lain."


"Oh, terima kasih," ucap wanita itu lalu menerima rantang makanan tersebut dengan senang hati.


Sopir itu akan kembali ke mobilnya, tapi langkah kakinya terhenti saat dia melihat sang tuan muda ada di sana. Begitu juga dengan wanita tersebut, yang langsung menundukkan kepalanya saat melihat kedatangan tuan muda di perusahaan ini.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Morgan.


"Memberikan makan siang untuknya."


"Makan siangku?" tanya Morgan, melirik rantang dengan warna pink tersebut.


"Hah?" Sopir tersebut masih tampak bingung.


"Itu milikku tadi?" tanya Morgan lagi sambil menunjuk rantang yang dipegang oleh wanita itu. "Kembalikan!" ucapnya yang membuat bingung keduanya.


"Itu milikku. Kau belilah makanan lain yang ada di luar. Ini cukup untuk membeli makanan di restoran depan," ucap Morgan, lalu memberikan tiga lembar uang pecahan terbesar yang baru saja dia keluarkan dari dalam dompetnya dan ditukar dengan rantang makanan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2