Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
161. Kembalinya Sebuah Hubungan


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan?” tanya Lyla terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Morgan. Laki-laki itu sudah berada di atas tubuhnya.


“Aku hanya sedang meluapkan rasa rinduku. Apa kau keberatan?” tanya Morgan menatap Lyla dengan senyuman manisnya. “Tenang, aku hanya ingin mencium dan tidur dengan memelukmu saja. Aku tidak akan berbuat lebih. Kau bisa mengusirku dari sini jika aku berbuat hal yang tidak kau inginkan,” ujar Morgan sebelum Lyla menjawab, kemudian tanpa meminta persetujuan Lyla lagi dia mencium kembali bibir lembut kekasihnya.


Lyla tidak menolak, nyatanya di dalam hati dia juga sangat merindukan Morgan setelah beberapa bulan dia pergi dari sisi laki-laki itu. Meski pada awalnya Morgan adalah monster mengerikan yang telah membuat kehidupannya hancur, tapi laki-laki itu telah mengubah hidupnya dan juga perasaan di dalam hatinya.


Decap suara terdengar di dalam ruangan itu dengan lembut, Morgan berada di atas tubuh Lyla dan mencoba untuk menahan keinginannya yang lebih besar lagi. Tangannya tetap terjaga di samping tubuh Lyla. Dia tetap menjaga Lyla dengan baik dan tidak akan meminta lebih padanya. Dengan hanya melihat, memeluk, dan menciumnya saja seperti ini dia sudah merasa cukup.


“Sudah, cukup!” Morgan menjauh dari tubuh yang sudah berselimut napsu itu, Lyla kecewa, menatap Morgan yang tiba-tiba saja berhenti menciumnya. “Lebih baik kita tidur saja. Jika tidak—“


“Jika tidak apa?”


Morgan terdiam, sedang merasakan hal yang membuatnya sakit kepala.


“Morgan. Kenapa? Apa yang terjadi?”


Morgan melirik Lyla dengan sebal, wanita itu tersenyum kecil dengan matanya yang menyipit. Ia yakin jika Lyla juga sudah tahu apa yang dia maksudkan tadi.


“Jangan memancingku, Lyla. Kau tidak tahu apa yang bisa aku lakukan kepadamu.” Morgan mengusap wajahnya dengan kasar.


“Aku tidak memancingmu, aku hanya bertanya saja kepadamu. Aku benar-benar tidak mengerti.” Lyla terkekeh dengan tawa yang renyah. Tangannya bergerak dengan leluasa di dada Morgan.


“Lyla, aku mohon. Jangan membuatku jadi hewan buas.” Tangan besar itu menahan pergelangan tangan Lyla.


Lyla terkekeh lagi, andai Morgan ingin memintanya, dia akan memberikannya dengan suka rela kepada Morgan, lagi pula, dia sudah menjadi miliknya. Mereka sudah pernah bersama meski dulu keadaannya berbeda.


“Tidak apa jika kau menginginkannya.”


“Aku yang tidak ingin.”


“Kenapa?” Lyla menatap mata Morgan.


“Karena aku ingin untuk selanjutnya, aku melakukannya dengan baik sebagai suamimu.”


Lyla menatap Morgan dengan tidak percaya. Detik selanjutnya dia memeluk laki-laki itu dengan perasaan yang sangat bahagia.

__ADS_1


“Apa kau sedang melamarku?” tanya Lyla dengan senang dan hampir menangis.


“Sebenarnya tidak.”


Lyla melepaskan pelukannya dan menatap sebal laki-laki itu, dia sudah sangat senang mendengarnya, tapi Morgan mematahkan hatinya.


“Sebenarnya aku ingin mengatakannya nanti, tapi jika kau memang menganggap ini sebagai lamaran untukmu, aku bisa apa?”


Lyla mencebik. “Kau menyebalkan sekali. Kenapa kau tidak bisa sedikit romantis?” ujar Lyla kesal. Morgan terkekeh dan mendekat untuk mencium bibir Lyla dengan lembut.


“Aku memang tidak bisa romantis. Kau juga tahu itu kan dari dulu?”


Lyla tertawa kecil dan mengangguk. “Iya.”


“Ayo kita tidur. Jangan harap kita akan melakukannya lagi. Aku hanya ingin melakukannya dengan baik saat kita telah resmi menjadi suami istri.”


Dua orang itu berbaring bersisian dengan saling memandang satu sama lain. Susah payah Morgan menahan dirinya untuk tidak melahap Lyla saat ini juga. Pertemuannya dengan Lyla sudah sangat lama dia tunggu, dan dia tidak akan pernah mengalihkan tatapannya ke arah lain walau sedetik pun.


“Kenapa kau terus memandangiku?”


Wajah Lyla bersemu memerah, padahal dia sudah tidak lagi memakai riasan di pipinya. Namun, wajah kemerahan itu membuat Morgan menjadi gemas dan sekali lagi mencium Lyla dengan lembut.


“Aku senang bisa bertemu lagi denganmu. Jika boleh, aku tidak ingin lagi jauh darimu. Maukah kau kembali kepadaku seperti dulu? Aku sedang menyatakan cinta padamu dan kau tidak bisa menolakku. Kau juga tidak boleh bersama dengan orang lain.” Morgan berkata dengan posesif.


Lyla menatap mata Morgan yang lembut, berbeda dengan Morgan sebelumnya yang memiliki tatapan tajam dan dingin.


“Kau memaksa sekali.”


“Jika aku tidak memaksa, apa kau akan kembali kepadaku?”


Lyla menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu. Jika kau tidak datang kemari, tentu aku tidak akan kembali padamu—“


“Jadi, kau menerima cintaku lagi?”


“Hei, aku belum selesai berbicara! Kenapa kau memotong ucapanku?” Lyla marah dengan sedikit nada merajuk.

__ADS_1


“Okay, aku akan mendengarkan. Bicaralah.”


Bukannya bicara, Lyla mendekat dan melesakkan kepalanya di dada Morgan. Dia mendengar detak jantung Morgan yang berdetak dengan sangat cepat sekali seakan sedang berlompatan di dalam sana.


“Lyla, kau membuatku geli.” Morgan hendak menjauhkan Lyla, tapi wanita itu memeluk pinggang Morgan dengan erat.


“Jangan jauh lagi dariku. Aku lelah dan aku rasanya aku tenang mendengar detak jantungmu yang sekarang.”


Hati Morgan menghangat, ucapan Lyla membuat detak jantungnya semakin kencang dan tidak bisa dia atur lagi. Dipeluknya Lyla dengan erat dan mencium puncak kepalanya lembut.


“Aku juga tidak mau jauh darimu. Sudah. Aku takut aku akan melakukan hal yang lebih. Kita tidur sekarang. Atau, pamanmu bisa mengamuk jika melihat mata Panda-mu besok.”


Lyla terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Akan tetapi, dia tidak bisa tertidur begitu saja saat ini, apa lagi ada di dalam pelukan Morgan membuat wanita muda itu menjadi senang. Rasanya dia tidak ingin melepaskan pelukannya lagi dari laki-laki itu.


“Morgan.”


“Hmm?” Morgan menatap ke bawahnya, melihat kelopak mata Lyla yang bergerak lucu.


“Apa aku ini sedang bermimpi? Kau datang setelah sekian lama. Apa aku sedang bermimpi sekarang?”


“Kenapa kau menganggap ini sebuah mimpi?”


“Entahlah, aku merasa tidak percaya melihat dan bertemu denganmu. Aku masih memikirkan kau yang terbaring sakit di rumah sakit dan tidak mengenaliku. Setiap malam aku selalu memikirkan kau, Morgan. Aku merasa aneh. Awalnya aku benci padamu, tapi perlahan hati ini menjadi rindu denganmu. Saat kau tidak mengenaliku, hatiku sakit. Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, seakan kehadiranmu sudah mengalihkan duniaku. Dan sekarang, aku takut untuk memejamkan mata. Ini seperti mimpi dan aku takut saat bangun besok, saat aku membuka mata, kau tidak ada di sisiku.”


Morgan menjepit dagu Lyla dan menarik kepala Lyla hingga menengadah, memangkas jarak dengan wanita pujaannya itu sehingga rasa hangat kembali hadir di bibir keduanya.


“Masih berpikir jika ini hanya mimpi?” tanya Morgan. Lyla membuka mata dan menatap ke kedalaman mata laki-laki itu, dia tersenyum dan akhirnya menggelengkan kepalanya. “Aku tidak hanya akan hadir di dalam mimpimu, tapi aku juga akan selalu hadir di dalam hidupmu, Sayang. Percaya kepadaku. Kau tidak akan jauh dariku, bahkan jika kau menginginkannya. Jika kau sudah masuk ke dalam duniaku, kau tidak akan bisa lari lagi dariku. Tanpa seizinku, jangan harap kau bisa pergi lagi,” bisik laki-laki itu kemudian memeluk Lyla erat dengan posesif.


Lyla senang dengan ucapan Morgan, meski dari kalimat laki-laki itu terkesan seperti seseorang yang sedang membelenggunya, nyatanya dia sangat senang dengan ucapan Morgan yang menyatakan kepemilikan atas dirinya.


“Ayo sekarang tidur, kau lelah dan butuh istirahat.”


Lyla tidak ingin tidur, tapi di dalam dekapan hangat kekasihnya, akhirnya mata dan tubuhnya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Dia terlelap setelah itu Morgan juga menyusul Lyla ke alam mimpi yang indah.


Di luar kamar, dua orang sedang memperhatikan Alex yang menempel di pintu bak cicak di dinding. Laki-laki itu bergerak gelisah dan merutuki keputusannya untuk membiarkan Morgan dan Lyla berada di dalam satu kamar yang sama.

__ADS_1


“Sial! Seharusnya aku menyuruh dia untuk tidur di dalam gudang!”


__ADS_2