
Sedikit flashback ya.
Di unversitas, Markian merasa kehilangan Lyla. Sudah hampir tiga hari wanita itu tidak tampak batang hidungnya. Markian mengira jika Lyla sakit, dia takut terjadi sesuatu pada wanita itu. Dia sudah menghubungi nomor Lyla, tapi nomor itu sudah tidak aktif lagi.
"Kau kenapa anakku?" tanya sang ayah yang melihat Markian tampak tidak berselera makan malam ini.
Markian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan temanku saja," ucap pemuda itu jujur.
"Teman? Atau, kekasih?" tanya sang ibu dengan nada menggodanya. Markian menjadi malu sendiri, dia hanya tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sama sekali.
Ya, dia memang mengakui jika dia menyukai Lyla. Perasaannya terhadap wanita itu ternyata bukan hanya teman atau adik semata. Ada rasa yang aneh saat dia tidak mendapati wanita itu di universitas. Kehilangan dan juga rasa aneh yang bisa dia sebut dengan jelas jika itu adalah rindu.
"Tidak, itu hanya teman. Salah satu teman saja," ucap Markian.
"Em, Dad. Bolehkah aku tanya sesuatu padamu?" tanya Markian.
"Hem, apa?"
"Tuan Morgan, dia memiliki sepupu, satu kelas denganku. Apa kau bisa menanyakan kepadanya kenapa dia tidak masuk lagi ke kelas beberapa hari ini? Aku hanya khawatir dia sakit," ucap Markian meminta. Nyonya Lenon tersenyum-senyum, putranya sangat peduli dengan orang lain apakah dia sedang jatuh cinta?
Sementara itu Tuan Lenon mengingat sesuatu. "Tuan Morgan mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu, apa kau tidak tahu?" tanya sang ayah.
__ADS_1
Markian terkejut mendengarnya, lebih kepada takut jika Lyla ada di dalam kecelakaan itu. Itu sebabnya dia tidak bisa dihubungi.
"Kecelakaan? Bagaimana bisa?"
Tuan Lenon menggelengkan kepalanya. Dia mendengar kabar Morgan kecelakaan bersama dengan seorang wanita di mobil itu.
"Aku tidak tahu siapa dia, tapi ada kabar yang mengatakan jika mungkin Tuan Morgan kehilangan konsentrasi karena bermain-main sambil menyetir," ucap laki-laki tua itu.
Markian menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin Lyla dan Tuan Morgan melakukan hal menjijikkan seperti itu.
"Benarkah? Aku tidak mendengar beritanya," ucap Nyonya Lenon.
"Pihak keluarga memang meminta jika kasus ini disembunyikan dari khalayak ramai, penjagaan sangat ketat di rumah sakit. Mungkin itu sebabnya sudah tidak terdengar lagi kabar tentang dia."
...*...
Keesokan harinya, Markian nekat untuk pergi ke rumah sakit. Dia ingin mencari tahu tentang kejadian itu. Apakah benar Lyla yang ada di sana atau bukan, dia tidak yakin jika Lyla dan Morgan akan melakukan hal yang dibicarakan ayahnya semalam.
"Maaf, Anda tidak bisa masuk ke area ini," ucap seseorang pada Markian saat pemuda tersebut akan masuk ke area di mana Morgan terbaring sakit.
"Aku hanya ingin menjenguk temanku saja," ucap Markian menunjuk ke arah dalam.
"Boleh tahu siapa nama temanmu?" tanya perawat yang ada di sana.
__ADS_1
"Tuan Morgan Castanov. Dia teman baikku," ucapnya.
Perawat tersebut tersenyum dan mengusir Markian dengan halus.
"Maaf, tidak ada nama Anda di daftar orang-orang yang bisa menjenguknya," ucap wanita itu lagi, tapi bukan Markian namanya jika dia mudah menyerah. Morgan menyelinap pergi saat perawat itu lengah, sampai satu ketika, Markian dihentikan oleh dua orang laki-laki berbadan tegak di hadapannya.
"Anda mau kemana? Apakah Anda tidak tahu jika ini adalah area pribadi?" tanya salah satu laki-laki itu pada Markian.
Markian tersenyum kaku, tubuh itu sangat besar jika dibanding tubuhnya yang kurang berisi.
"Aku hanya ingin pergi--" Belum juga Markian berkata, kedua tangannya sudah diangkat oleh dua orang itu dan melemparnya ke luar dari rumah sakit. Kakinya sampai tidak menapak di lantai tadi.
"Aww!" Markian mengaduh kesakitan saat tubuh bagian belakangnya menyentuh beton yang keras.
"Hei, kalian bisa dituntut dan dimasukkan ke dalam penjara karena sudah memperlakukan orang lain dengan tidak baik!" teriak Markian dengan tidak terima. Kedua laki-laki itu tidak berbicara sama sekali, mereka hanya menatap Markian dengan tatapan dingin seakan memiliki laser yang akan bisa membuat lubang di tubuhnya.
"Oke, jika aku tidak boleh masuk ke dalam sana, tapi katakan padaku apakah Tuan Morgan baik-baik saja?" tanya Markian. Dua orang itu menganggukkan kepalanya.
"Lalu wanita yang ada di dalam mobil?" tanya Markian sambil berdiri. Dua orang itu saling bertatapan sebelum menjawab dengan gelengan kepala. Markian merasa terkejut karena seperti apa yang ayahnya katakan jika mungkin saja wanita itu tidak selamat dari kejadian kecelakaan tersebut.
"Setidaknya aku boleh melihat jenazahnya?" tanya Markian keras kepala.
"Tidak ada yang diizinkan untuk ke ruangan jenazah," ucap laki-laki itu lagi.
__ADS_1