Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
237


__ADS_3

"Istirahatlah, Rachel. Kau tidak boleh memaksakan diri lagi untuk bekerja. Aku sebagai kakakmu melarangmu untuk bekerja satu minggu ini."


"Tapi, Kak. Aku tidak bisa. Pasienku menunggu--"


"Bisa. Masih banyak dokter lain yang bisa menangani pasienmu. Jika kau tidak beristirahat dengan baik, aku akan bicara kepada ayah untuk memecatmu saja."


Rachel membuang tatapannya ke arah lain, mulutnya menggerutu pelan membuat wajahnya menjadi lucu. Wajah Weston seketika menjadi merah melihat wajah Rachel yang bak anime saat merajuk.


"Kau dengar? Aku tidak akan mengampuni orang yang tidak patuh kepadaku. Mengerti?"


"Hemm. Lakukan yang kau mau. Kau dan ayah memang sama kejamnya." Rachel yang kesal, menutupkan selimut ke seluruh tubuhnya sampai ke kepala. Morgan hanya menggelengkan kepala saja.


'Hah, padahal Nona tidak pernah merajuk seperti ini.' batin Weston dengan senyuman sedikit tersungging di bibirnya. Weston berpikir, mungkin saja sikap Rachel seperti ini karena biasanya dia menjadi anak tunggal, dan kali ini dia mendapatkan perhatian seorang kakak laki-laki


"Hei, Rachel. Aku sedang berbicara kepadamu. Dengarkan kakakmu yang sedang berbicara ini! Kau adalah adik yang buruk menolak menatapku--"


"Aku mengantuk dan aku tidak mau mendengar perintahmu! Coba saja lakukan jika kau berani, dan aku akan melawan jika sampai dipecat dari sini karena kau!" teriak Rachel dari dalam selimut.


Hal yang lucu itu tidak luput dari perhatian Weston dan dia tidak ingin melewatkannya.


Morgan merasa percuma karena Rachel tidak mendengarkannya lagi. Bahkan mulutnya sudah pegal karena memberitahu Rachel yang keras kepala.


"Astaga. Aku butuh obat migrain. Ternyata aku lebih suka mengurus istriku daripada mengurus adik yang keras kepala ini. Weston, tolong kau beritahu dia yang baik. Jika dia tidak mendengarkannya kau nikahi saja! Siapa tahu jika menjadi seorang istri, dia akan menjadi anak yang baik dan penurut!" ucap Morgan, kemudian pergi tanpa melihat perubahan di wajah Weston yang sudah menjadi merah.


Mendengar kakaknya pergi, Rachel membuka selimutnya dan menatap tajam kepada Weston.


"Urusan kita masih berlanjut hingga nanti, Weston!" tunjuk Rachel kepada pria itu.


"Hah? Urusan apa?" Weston menjadi bingung."


"Seharusnya kau tidak menghubungi kakakku!"


"Aku hanya--"


Belum Weston menyelesaikan perkataannya, Rachel sudah ada di depan Weston dan menunjuk dagunya. Pandangan mereka saling bertatapan dengan kilatan amarah di mata Rachel.


"Aku tidak duka dia menjadi khawatir, Weston. Begitu juga dengan ayah. Jangan sekali lagi menghubungi mereka jika aku sedang sakit. Mengerti!" ucap Rachel tegas.


"Baiklah. Aku mengerti." Akan tetapi, di dalam hati Weston dia tidak berjanji sama sekali.


"Bagus. Aku pegang kata-katamu! Dan yang tadi ... yang Morgan katakan soal menikah. Jangan bermimpi aku akan menikah denganmu."


Rachel melihat suasana keruh di wajah Weston. "Aku ingin melajang selamanya karena aku tidak mau hidupku diatur atau menjadi beban yang lainnya. Kau mengerti?"


"Aku mengerti, Nona." Weston tersenyum, meski di dalam hati ada rasa yang aneh saat mendengar ucapan Rachel barusan.


Saat Rachel akan melangkah kembali ke ranjangnya, sesuatu mengganggu langkahnya dan dia tersandung. Weston sigap menangkap tubuh Rachel dan menjadi bantalan empuk untuk wanita itu meski punggungnya terasa sakit saat dia terhempas ke lantai.


Bruk!


"Akh!"


Weston memeluk erat Rachel. Rachel masih terkejut dengan kejadian yang tidak diduga ini.


"Ah, Weston!" seru Rachel sadar dan menyingkir dari atas tubuh Weston. Weston tampak pasrah menikmati kesakitan yang ada di punggungnya. "Maaf. Weston, kau tidak apa-apa?" tanya Rachel. Wajah Weston tampak kesakitan, tapi segera menggelengkan kepalanya meski belum beranjak dari lantai rumah sakit yang dingin.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Weston khawatir, infus milik Rachel terjatuh ke lantai dan Weston segera bergerak untuk mengambilnya.


"Aku tidak apa-apa. Maafkan aku. Aku tersandung. Apa punggungmu sakit?"


Rachel mengusap punggung Weston, khawatir dengan keadaan pria itu. Hal tersebut membuat Weston merasakan hal yang aneh lagi.

__ADS_1


"Punggungku cukup kuat untuk menopang dunia, apalagi hanya menahanmu agar tidak jatuh," ucap Weston tanpa sadar.


Rachel yang sadar jika Weston sedang menggombal menarik tangannya dan mendorong dada Weston.


"Kau bisa menopang dunia, tapi kau juga bisa meruntuhkannya dengan kata-katamu. Hentikan itu. Aku tidak akan terpengaruh dengan kata manismu, Weston!"


Weston tersadar saat mendengar ucapan skeptis dari Rachel. Rachel bangkit dan merebut kantong infus miliknya.


"Eh, maaf. Aku tidak sedang menggombal. Aku ... aku tidak sadar."


"Sadar ataupun tidak, akan ada orang lain yang terjerat dengan ucapanmu dan dia bisa saja patah hati, jadi hati-hati, Weston!" ujar Rachel, kemudian meninggalkan Weston di sana.


Weston hanya menatap Rachel yang kembali ke ranjang, tapi bukan untuk tidur, melainkan Rachel mencabut jarum infusnya sendiri.


"Nona, apa yang kau lakukan?" tanya Weston takut dan khawatir.


"Aku sudah sembuh, Weston. Bisakah antar aku ke apartemen? Aku mau tidur di rumah saja."


"Kau belum sembuh, Nona. aku tidak akan mengantarmu pulang. Ingat apa kata dokter—"


"Aku juga seorang dokter." Rachel mendekat ke pada Weston dan mencari kunci mobil di saku jas pria itu dengan berani.


"Apa yang kau lakukan, Nona? Ini tidak sopan!"


"Aku sedang mencari kunci mobilku. Milikku. Ingat?" Rachel tidak peduli, masih mencari kunci mobilnya hingga ketemu.


"Tapi kau masih sakit, Tuan akan memarahiku."


"Kau yang dimarahi, bukan aku!" Rachel menemukan kunci mobil itu di saku jas Weston. "Jadi, terserah kau akan menjawab apa jika ayah bertanya."


Rachel kemudian berjalan menjauhi Weston.


"Nona. Tunggu!"


"Hei, Nona. Kau tidak bisa seenaknya pergi. Tuan akan membunuhku!"


"Kau yang akan mati, bukan aku. Dan aku akan memberikan penghormatan terakhir di pemakamanmu nanti."


Weston tidak suka dengan ucapan Rachel tadi, dia mengejar Rachel dan menarik tangan wanita itu, menggendongnya di depan, dan membawanya kembali menuju ke kamar rawatnya.


Rachel terkejut dengan perlakuan Weston dan bergerak meronta-ronta.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku. Aku akan melaporkanmu kepada ayah dan kakakku atas perlakuan tidak menyenangkan ini!"


Weston tidak peduli dengan kata-kata yang Rachel ucapkan, termasuk kata kasar yang wanita itu keluarkan dari bibir mungilnya.


"Laporkan saja. Aku tidak peduli. Kau harus kembali ke kamar dan beristirahat dengan baik. Jika Tuan membunuhku sekalipun, aku sudah mengerjakan tugasku dengan baik!"


Weston membuka pintu, berjalan cepat dan melemparkan Rachel ke atas brankar.


"Jika kau berani kabur. Aku akan mengikatmu dan menutup mulutmu!" tunjuk Weston di depan hidung Rachel.


"Dasar bajingan! Bahkan ayah tidak pernah sekalipun memperlakukanku seperti ini!" teriak Rachel kesal. Weston hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


"Sayangnya, aku bukan ayahmu, Nona."


Weston kini duduk di kursi di hadapan Rachel dan melipat kedua tangannya di depan dada, sedangkan Rachel menatap pria itu dengan tatapan ingin membunuh.


"Tidur!" perintah Weston.


"Aku tidak mau!"

__ADS_1


"Dan aku akan meniduri mu!"


"Bajingan!"


Sekali lagi Rachel mengumpat, tapi dia berbaring dan menutup selimutnya hingga ke kepala.


"Aaakhhhhh! Weston bajingaaaannn!!!" teriakan itu menggema membuat telinga Weston sakit, tapi Weston masih tetap bertahan di dekat Rachel dan menunggu, hingga akhirnya wanita itu tertidur juga.


Weston menunggu, suasana sangat tenang dan dia menarik selimut Rachel. Melihat wajah Rachel yang tertidur membuat Weston tersenyum tanpa dia sadari.


"Apa yang membuatmu jadi wanita kasar yang seperti ini, Nona? Apa kau baik-baik saja?" gumam Weston. Rasanya melihat Rachel sekarang ini dia ingin menyelam dan mengetahui apa yang ada di dasar hati dan pikiran Rachel.


"Ekhem! Apa kau sudah puas memandang wajah putriku?" Suara seseorang terdengar membuat Weston terkejut dan seketika menolehkan kepalanya. Weston segera menyimpan selimut itu dengan benar di tubuh Rachel.


"Tuan." Tak lupa dengan kepala yang dia tundukkan saat Robinson mendekat. "Maafkan saya. Saya hanya membenarkan selimut Nona Rachel."


"Dan menatapnya sampai lima menit?"


Weston menjadi kikuk. Benarkah selama itu? Rasanya tidak juga.


Robinson tiba-tiba saja tertawa cukup keras.


"Dia pasti membuat ulah sampai-sampai kau menunggunya di sini."


Weston sudah tidak meragukan lagi tentang pernyataan Robinson. Jika Rachel cukup baik, tentu saja dia akan menunggunya di luar ruangan.


"Iya, tapi aku sudah mulai terbiasa sekarang."


Robinson tertawa lagi dan menepuk pundak Weston beberapa kali.


"Dia sedang mengalami hal yang sulit. Bisakah kau ikut menjaganya jika aku tidak bisa menjaga dia?" tanya Robinson.


"Memangnya Anda mau ke mana?"


"Tidak kemana-mana. Hanya saja, usiaku sekarang sudah bertambah tua. Aku juga akan memiliki anak di usia setua ini. Jika bukan karena kematian, mungkin aku juga akan sakit dan tidak berdaya. Bisakah aku mempercayakan dia kepadamu? Juga Morgan dan menantu serta cucuku?" tanya Robinson. Weston hanya menundukkan kepalanya saja dan di dalam hati berjanji akan menjaga semua anggota keluarga ini.


Morgan kembali ke ruangan Rachel setelah mencari kopi dingin, tidak lupa dia juga membelikan untuk Weston dan ayahnya. Tadi saat Morgan menerima telepon dari Lyla, dia bertemu dengan Robinson.


"Apa dia tidur?" tanya Morgan seraya memberikan minuman dingin itu kepada keduanya.


"Iya. Dia tidur." Robinson menerima minuman dingin itu dan menyesapnya. "Bagaimana keadaan Laura dan Tiny?"


"Baik. Dia semakin lucu dan membuat aku sering begadang."


"Haha. Memang seperti itu tugas orang tua. Nikmati saja, Morgan."


"Aku sangat menikmatinya, Ayah. Dan sekarang aku juga merindukan malaikat kecilku. Apa yang ayah lakukan tadi sampai-sampai baru datang ke rumah sakit?" tanya Morgan menyelidik kepada ayahnya.


"Tentu saja aku bersama dengan ibumu. Apa lagi? semenjak hamil dia menjadi semakin posesif."


Morgan yang sedang menyesap minumannya menjadi tersedak mendengar kabar itu. Pasalnya tidak ada yang memberitahu informasi penting tersebut.


"Hamil? Selvi hamil?" ulang Morgan tak percaya.


Robinson menolehkan kepalanya. "Apa aku belum memberitahumu?" tanya Robinson.


"Kau melupakan anakmu ini. Apa dia mual muntah? Apa dia mengidam? Katakan kepadaku jika dia ingin makanan atau apapun itu," ucap Morgan dengan antusias. Kabar bahagia ini perlu diberitahukan juga kepada istrinya.


"Dia mengidam yang lain sepertinya. Dan hanya aku yang bisa memberikannya."


Kening Morgan mengerut.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir dengan dia, Nak. Aku bisa menjaga dia dengan baik."


__ADS_2